
Pak Saka menceritakan apa yang terjadi di perusahaan Brian hingga semua investor yang masih memihak perusahaan itu mengundurkan diri dengan sendirinya.
Kirana menarik nafas dalam, dadanya merasa begitu sesak sekali hingga membuat wanita itu merasa begitu kesulitan untuk bernafas. Hati yang sudah hancur itu semakin tak berbentuk lagi, bagaimana mungkin Brian bisa melakukan hal memalukan seperti itu tepat sebelum meeting dimulai, Kirana hanya mengira jika suaminya akan melakukan tindakan memalukan itu ketika ada di rumah, tapi siapa sangka jika Brian melakukannya di manapun, sungguh memalukan sekali.
Kirana mengerjap-ngerjapkan manik matanya, mencoba untuk mengusir semua kesedihan yang singgah di hatinya saat ini, Kirana tak bisa membiarkan Pak Saka mengetahui kehancurannya. Wanita itu mengulas senyuman tipis, kemudian menggangukkan kepala dan berkata,
“Pak Saka tidak perlu mencemaskan saya, saya sudah terbiasa dengan semua itu,” kata Kirana mencoba tetap terlihat baik-baik saja.
“Kiran, saya tidak ingin melihatnya menyakiti kamu lagi, bisakah jika kamu tetap berada di rumah ini sampai menunggu Brian tenang,” ujar Pak Saka. Lelaki yang selama ini dikenal angkuh dan juga arogan itu menjatuhkan wibawanya di depan Kirana.
__ADS_1
Kirana merasa sangat bahagia sekali, tapi ia tetap tak bisa menghianati brian meskipun lelaki itu telah menyakiti hatinya dan juga sudah membuatnya hancur seperti ini. Tapi sedkitpun Kirana tak pernah berpikir melakukan balas dendam pada Brian.
Kirana melepaskan tangan Pak Saka darinya kemudian mengulas senyuman dusta satu kali lagi. “Pak Saka, saya akan menyelesaikan semuanya tanpa ada campur tangan Anda, tapi saya berjanji jika sudah tidak bisa menahan hidup bersama dengannya, maka saya akan meminta bantuan Anda untuk memisahkan kami,” ujar Kirana yang masih bersikeras dengan keputusannya itu.
“Hati-hati Kiran,” kata Pak Saka.
***
Kirana turun dari dalam mobil, ia menarik nafas dalam lalu menghembsukannya dari mulut. Setelah merasa jauh lebih tenang barulah Kirana memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Kirana mengedarkan pandangannya ke sekitar dan tidka melihat sosok Brian dimanapun, Kiran sudah melangkah sampai ke ruangan tengah rumah ini, tapi ia masih tidak menemukan keberadaan Brian.
__ADS_1
“Mungkin dia tak ada di rumah, bersama para wanita itu mungkin,” batin Kirana sembari menaiki anak tangga rumah ini untuk menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Kirana melangkah masuk ke dalam pintu kamarnya, ia begitu terkejut sekali ketika melihat jika seluruh kamar ini sudah porak-poranda bagaikan habis diterjang oleh tornado. Kirana mengedarkan pandangannya ke sekitar, ia melangkah mundur ketika melihat sosok Brian yang sedang menatapnya tajam, lelaki itu berdiri di depan pintu kamar mandi, menatap Kirana dengan mata yang sudah menajam sempurna.
“Brian,” kata Kirana dengan suara yang bergetar.
Brian tidak menjawab lelaki itu melangkah menghampiri Kirana. Kirana merasa begitu takut sekali saat melihat wajah Brian sudah memerah karena pengaruh alkohol yang suaminya konsumsi. Kirana berlari menuruni anak tangga rumah ini dan Brian mengejarnya.
“Mati saja kau ******!” kata Brian sembari mendorong tubuh Kirana dari anak tangga.
__ADS_1