Ketika Mama Salah Pilih Menantu

Ketika Mama Salah Pilih Menantu
Tuduhan Brian


__ADS_3

Saat ini Kirana dan juga Pak Saka sudah ada di dalam mobil, lelaki itu mengemudikan mobilnya menuju kediaman Kirana. Kirana baru saja mengaktifkan ponselnya beberapa menit yang lalu dan rentetan telepon tak terjawab dan juga pesan dari Bryan memenuhi ponselnya. 


Lelaki yang selama ini tidak pernah peduli padanya tiba-tiba saja menanyakan keberadaannya, pasti karena para pengawal yang ada di kediaman suaminya itu melaporkan jikalau dirinya semalam tidak pulang ke rumah, Kirana benar-benar begitu malas sekali harus pulang ke rumah saat ia mengetahui jikalau suaminya itu telah kembali dari urusan kerjanya jauh lebih awal.


Pak Saka terus saja memperhatikan Kirana yang sejak dari tadi menatap keluar jendela, beberapa kali wanita cantik itu menghela nafas berat seakan sedang memikirkan sesuatu hal yang tidak Pak Saka ketahui.


"Kirana," panggil Pak Saka sembari menoleh ke arah Kirana sekilas kemudian lelaki itu kembali memfokuskan pandangannya ke arah jalanan.


Kirana mengalihkan atensinya dari jendela mobil ini menatap ke arah Pak Saka. "Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Kirana.


"Apakah luka di kakimu masih terasa sakit? Perlukah kita pergi ke dokter untuk memeriksanya lagi?" tanya Pak Saka dengan penuh perhatian. Pak Saka kembali menoleh ke arah Kirana yang kini menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu pergi ke dokter," jawab Kirana. "Tapi bisakah jika Bapak memutar balik mobil ini dan biarkan saya masuk bekerja," sambung Kirana lagi.


"Kamu sedang sakit, beristirahatlah di rumah selama beberapa hari." Perkataan Pak Saka bukan seperti suatu permohonan tetapi lebih mirip seperti sebuah perintah yang tidak bisa dibantah.

__ADS_1


Kirana menundukkan kepalanya. "Baiklah jika begitu," jawab Kirana.


Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya mobil yang tak Saka kemudian sampai juga di depan kediaman Kirana tinggal. Pagar yang menjulang tinggi segera terbuka ketika mobil itu terhenti di depan gerbang, suaminya pasti sudah mengetahui jikalau semalam Kirana menginap di rumah Pak Saka. 


Kirana menoleh ke arah Pak Saka dengan memaksakan senyuman di bibirnya, "Terima kasih karena Bapak sudah mengantarkan saya dan maafkan saya jikalau sempat merepotkan Bapak," kata Kirana. "Ada apa denganku, kenapa aku seperti tidak ingin turun dari mobil ini aku bahkan tidak ingin berpisah darinya," batin Kirana bingung dengan apa yang ia rasakan sekarang.


"Kiran, bolehkah saya memanggilmu seperti itu?" tanya Pak Saka meminta izin kepada sang empunya nama. Kirana menjawab dengan anggukan kepala. "Kamu tidak perlu berterima kasih karena aku senang membantumu, mulai dari sekarang jangan pernah ragu jika memerlukan bantuanku," kata Pak Saka dengan mengulas senyuman tipisnya.


Jantung Kirana berdetak semakin kencang ketika ia mengetahui jikalau Pak Saka tersenyum padanya, sorot mata lelaki itu terlihat begitu teduh membuat Kirana merasakan seperti sedang dilindungi olehnya. Kirana tidak tahu apakah mungkin Pak Saka merasakan hal yang sama atau justru sebaliknya, mungkinkah lelaki itu hanya merasa kasihan padanya? Untuk apa Kirana memikirkan semua itu karena dirinya sudah memiliki suami meskipun pernikahan ini hanya ada di atas kertas, tetapi tetap Brian adalah suaminya mereka menikah sah di mata hukum dan juga agama.


"Bapak hati-hati berangkat bekerja Saya akan turun sekarang dan sekali lagi terima kasih," Kata Kirana.


"Sepertinya kamu sudah berani padaku," kata Brian setelah lelaki itu berdiri di hadapan Kirana.


"Apa maksudmu Brian?" tanya Kirana. Kirana tidak bisa memundurkan langkahnya lagi karena saat ini Bryan sudah memegangi tangannya-ralat lelaki itu bukannya sedang memegangi tangannya tetapi sedang mencengkeram kedua tangannya dengan begitu kuat hingga membuat Kirana meringis kesakitan.

__ADS_1


"Kamu jangan pura-pura tidak tahu! Dasar wanita murahan. Semalam Kamu tidak pulang dan kau malah pulang pagi hari dengan diantarkan seorang lelaki," maki Brian seenak jidatnya.


 Sepertinya lelaki itu tidak berkaca pada dirinya sendiri setiap malam iya selalu bergonta ganti wanita dan membawanya ke dalam rumah tetapi,  tidak satu kali pun Kirana membuka suaranya. Ketika Kirana tidak pulang semalam dan ia diantarkan oleh seorang lelaki suaminya itu langsung memakinya secara membabi buta seperti orang yang tidak berpendidikan.


"Selama ini aku tidak pernah mengurusi kehidupanmu mau kau bawa 10 orang wanita ke dalam rumah ini setiap malam aku pun tak pernah peduli," kata Kirana yang sudah mulai habis kesabaran menghadapi tingkah suaminya. "Jangan pernah samakan aku denganmu ataupun wanita-wanita jalan itu! Apakah kau tahu semalam aku tidak pulang karena ...." Perkataan Kirana dipotong oleh Brian begitu saja.


"Jadi sekarang kau ingin membalas perlakuanku? Sejak dari awal aku sudah tahu jikalau kamu menikah denganku hanya karena mengetahui diriku memiliki begitu banyak harta, bagiku kamu sama saja seperti para wanita yang aku bawa ke rumah ini setiap malam! Aku bahkan tak perlu menyentuhmu sama sekali karena aku sudah tahu jikalau kau sudah tidak suci." Tanpa ada belas kasih Brian mengatakan hal-hal buruk kepada istrinya, lagi itu bahkan tidak peduli jikalau sekarang orang yang ada di dalam mobil itu sedang memperhatikan ke arah mereka.


Kirana merasakan kedua manik matanya mulai memanas beberapa detik kemudian bulir-bulir air mata mulai berjatuhan di kedua pipinya. Kirana mungkin memang miskin tetapi ia memiliki harga diri, tangan Kirana terangkat ke udara kemudian menampar pipi Brian hingga membuat wajah lelaki itu menoleh dengan paksa.


"Jangan pernah samakan aku dengan mereka Brian! Semenjak aku menikah denganmu sepeser pun aku tak pernah meminta uangmu bahkan aku mencukupi kehidupanku sendiri dari uangku bekerja," kata Kirana dengan suara yang terdengar parau karena lidahnya bergetar ketika bicara menahan rasa sakit yang teramat sangat di hatinya.


Brian menatap ke arah Kirana. Kedua bola matanya membulat penuh dengan satu tangan yang memegangi pipinya, pipi putihnya membekas tamparan sang istri. Bryan tidak bisa membiarkan dirinya diinjak-injak oleh wanita miskin yang ada di hadapannya sekarang.


"Kau harus menerima akibatnya." Sembur Brian. 

__ADS_1


Brian langsung menjambahkan rambut Kirana kemudian menyeret wanita itu jauh dari gerbang rumah, Kirana berontak dengan kaki yang terpincang-pincang karena masih terasa sakit, Kirana tidak bisa melepaskan tangan Brian dari rambutnya hingga ia pun terjatuh, biar masih tidak mau melepaskan rambut Kirana yang masih tergenggam kasar di dalam tangannya lelaki itu pun menyeret Kirana menuju halaman rumah hingga suara seorang lelaki mulai menghentikan langkah Brian.


"Hentikan!" 


__ADS_2