Ketika Mama Salah Pilih Menantu

Ketika Mama Salah Pilih Menantu
Diambang Kebangrutan


__ADS_3

Brian membanting apapun yang ada di dalam ruangan meeting itu, bahkan meja yang ada di sana juga tak luput dari amukannya hingga membuat serpihan kaca meja di dalam ruangan meeting ini terburai kemana-mana. Brian begitu marah sekali hingga umpatan-umpatan kasar lolos dari bibirnya dengan begitu saja tanpa ada jeda, lelaki itu begitu marah karena asisten handalnya dengan begitu mudah memilih majikan yang baru tepat di depan matanya sendiri. 


"Sudah tak terhitung jumlahnya, aku mengatakan untuk memecat kamu, Bakti. Tapi tidak satu kali pun terpikirkan olehmu mengundurkan diri untuk menjadi orang kepercayaanku, tapi sekarang kau pergi begitu saja meninggalkan pekerjaan ini," teriak Brian sembari melempar kursi yang ada di dalam ruangan meeting ini ke sembarang arah. “Sudah berapa kali aku mencoba untuk memecat asisten bodoh itu! Tapi ia selalu saja tidak perduli dan kembali bekerja, tapi sekarang berani sekali Bakti melakukan hal ini dan ia memilih majikan yang lain tepat di depan mataku sendiri,” teriak Brian yang sudah mulai kehilangan wibawa ataupun kewarasannya.


Lelaki itu seakan mulai gila setelah mengetahui jika semua investor mencoba untuk menarik investasi mereka dari perusahaan ini, Brian tidak siap untuk jatuh miskin. Lelaki itu merapikan penampilannya, menyisir rambutnya mengunakan tangan kemudian segera melangkah keluar dari ruangan ini.


Semua petugas kebersihan sudah menunggu di luar ruangan meeting sejak dari tadi, mereka kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan meeting itu setelah mengetahui jika Pak Brian keluar dari sana. Para petugas kebersihan itu saling membicarakan sikap majikan mereka yang benar-benar sudah keterlaluan.


“Sepertinya Pak brian sedang mendapatkan karma,” ujar salah satu wanita paruh baya sembari membenarkan letak kursi yang sempat jungkir balik di lantai.

__ADS_1


“Dia memang pantas mendapatkan semua kehancuran ini, suruh siapa tempat kerja kok dipakai mesum terus, dia juga membawa para wanita ****** masuk ke dalam perusahaan ini dan selalu bergonta-ganti, aku sungguh merasa kasihan sekali pada Nona Kirana yang bernasib tidak beruntun karena memiliki suami yang kelakuannya tak bermoral begitu,” sahut para petugas kebersihan itu.


***


Setelah memastikan jika mama Moelen terlelap di dalam tidurnya, Kirana segera melangkah keluar dari rumah ini, Kirana sudah memastikan jika Pak Saka tidak ada di dalam jangkauannya. Kirana buru-buru membuka pintu mobilnya, tapi tidak di sangka aad tangan yang tiba—tiba memegangi lengannya dengan begitu erat, kemudian tangan lelaki itu yang lain menutup pintu mobil Kirana dan menyandarkan punggungnya di sana. Kirana dan juga Pak Saka kini saling berhadapan satu sama lain.


“Kirana, kenapa kamu selalu berusaha menghindari aku?” tanya pak Saka.


“Kiran, aku minta maaf jika pernah membuat kamu sakit hati dan kamu menghindari aku, sungguh tak pernah satu kali pun ada niat di hati ini untuk menyakiti kamu,” ujar Pak Saka dengan manik mata yang terlihat begitu tulus sekali.

__ADS_1


Kirana menatap netra Pak Saka yang memancarkan keteduhan, bagaimana mungkin Kirana tidak jatuh cinta setiap kali Pak Saka selalu memperlakukannya dengan penuh hormat dan juga selalu ingin menjaganya.


“Saya tidak marah dan sekarang saya ahrus pulang,” kata Kirana kepada Pak Saka.


Kirana memegang lengan tangan Pak Saka mencoba untuk menggeser posisi lelaki itu yang kini menghalanginya masuk ke dalam mobil. Pak saka tidak beranjak dari posisinya, lelaki itu masih melihat ke arah Kirana.


“Kiraan, menginap lah di rumah ini semalam, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu,” ujar Pak Saka.


“Ada apa?” tanya Kirana.

__ADS_1


 


__ADS_2