Ketika Mama Salah Pilih Menantu

Ketika Mama Salah Pilih Menantu
Berbagi Peran


__ADS_3

Pak Saka merasa terkejut sekali ketika mengetahui jika salah satu pekerjanya bolos dan berada di dalam ruangan ini. Rossa buru-buru membungkukkan sedikit tubuhnya ketika mengetahui jika kini Pak Saka sudah ada di hadapannya.


“Kamu tidak berangkat kerja?” tanya Pak Saka pada Rossa. Kini lelaki itu duduk di sofa sembari menyandarkan punggungnya pada sofa dan melihat satu kakinya ke atas lutut.


“Sa-saya sudah meminta izin pada kepala bagian jika akan libur hari ini,” jawab Rossa dengan kepala yang tertunduk takut. Andaikan saja tadi Kirana bilang jika bos mereka menjaga di dalam ruangan ini maka Rossa tak akan datang ke mari dan lebih memilih untuk bekerja saja dari pada dihadapkan dengan situasi menakutkan begini.


Pak Saka adalah bos paling arogan yang pernah ada, dia bahkan selalu memecat pegawainya jika izin tanpa ada alasan yang jelas dan sekarang Rossa sedang takut jika ia akan menjadi salah satu orang yang dipecat tanpa alasan yang  jelas. Kirana selamatkan Rossa.


Pak Saka menatap ke arah Rossa sembari menyilangkan kedua tangannya di dada kemudian berkata, “Apakah kamu meminta ijin pada kepala bagian untuk menjenguk temanmu di rumah sakit?” pertanyaan yang barusan Pak Saka lontarkan lebih mirip seperti suatu teguran nyata bagi Rossa.


“Ti-tidak, Pak,” jawab Rossa yang tiba-tiba tergagap dalam bicara. Rossa mengarahkan tangannya untuk menyentuh  baju yang Kirana kenakan, wanita itu sedang memohon pada Kirana untuk membantunya berbicara dengan Pak Saka atau Rossa akan kehilangan pekerjaan sekarang juga karena lelaki angkuh seperti Pak Saka tak akan mau mendengarkan penjelasan apapun yang akan Rossa berikan, apalagi jelas ketahuan jika Rossa berbohong pada kepala bagian untuk mendapatkan izin menjenguk Kirana.

__ADS_1


“Rossa, sepertinya kamu lupa dengan aturan di perusahaan saya." Hardik Pak Saka dengan tatapan setajam elang yang sedang mengamati buruannya.


Tubuh Rossa sudah mulai gemetar, keningnya sudah dirambati oleh keringat jagung yang perlahan mulai membasahi pipinya. Kirana yang melihat ketakutan di wajah pucat sahabatnya tak bisa tinggal diam saja, ia harus membantu Rossa. Sekarang Rossa ada di dalam ruangan rumah sakit ini karena sahabatnya itu begitu mencemaskan dirinya. Ya, kirana harus membantu Rossa atau mereka berdua bisa dipecat bersama-sama. Ya, itu jauh lebih baik sepertinya.


“Pak Saka,” panggil Kirana dengan nada suara yang terdengar lembut.


Pak Saka mengalihkan atensinya pada Kirana, menatap wanita pujaan hatinya itu dengan tatapan yang teduh.


“Tadi ketika saya membuka mata, saya tidak melihat Anda di manapun, saya takut berada di rumah sakit sendirian, saya takut jika tiba-tiba Brian mengirim orang untuk melukai saya,” jelas Kirana dengan dibuat sememelas mungkin untuk membujuk Pak Saka agar percaya dengan ucapannya. “Saya menghubungi Rossa dan memintanya untuk libur bekerja, Rossa yang sudah menganggap saya seperti saudara sendiri tentu segera mengiyakan permintaan saya, saya kira jika Pak Saka tak akan mungkin kembali ke rumah sakit lagi dan jika saya tahu kalau Pak Saka akan kembali menjaga ya, pasti saya tak akan mungkin mempertaruhkan pekerjaan Rossa hanya untuk menjaga saya,” sambung Kirana panjang lebar.


“Kirana, kamu tidak salah, saya akan pasrah jika Pak Saka memecat saya.” Rossa mulai buka suara ketika Kirana mencolek tangannya.

__ADS_1


Kedua sahabat itu sedang berbagi perannya masing-masing. Sesekali membohongi orang sehebat Pak Saka dengan memanfaatkan apa yang ada tentu tak masalah. Keduanya berdoa jika mereka tak akan benar-benar di pecat. Wajah datar Pak Saka membuat Kirana dan juga Rossa tak bisa menebak apapun yang sedang lelaki itu pikirkan di dalam hatinya.


Pak Saka tidak langsung menjawab, lelaki itu sedang mencoba untuk mencerna apa yang sedan Kirana coba jelaskan padanya.


“Kiran takut sendirian di dalam ruangan ini, ia menantikan kedatanganku. Dia membutuhkan kehadiranku, aku tak boleh sampai melukai hatinya dengan memecat Rossa-dia adalah teman baik dari wanita yang aku sayani,” batin Pak Saka dengan menundukkan kepala sesaat untuk mengulas senyuman tipisnya. Kemudian kembali mengangkat wajahnya dengan ekspresi datar, kedua wanita itu tak boleh tahu jika ia sedang merasa bahagia dan juga tersentuh dengan ucapan Kiran.


Pak Saka beranjak berdiri dari posisi duduknya kemudian menatap ke arah Kiran. “Aku akan memaafkan kesalahan Rossa. Aku akan pergi ke perusahaan sekarang,” pamit Pak Saka pada Kirana. “Rossa, jangan pulang sebelum saya datang, jangan biarkan Kiran ada di dalam ruangan ini sendirian, jika kalian berdua memerlukan sesuatu maka tinggal bilang saja pada para pengawal yang berjaga di depan ruangan ini!” ujar Pak Saka dengan wajah datarnya.


“Baik, Pak Saka. Dan terima kasih atas kebaikan Anda. Saya doakan Anda dan juga Kiran berjodoh,” kata Rossa dan berhasil mendapatkan pukulan dari Kirana yang ada di sampingnya sekarang.


Kirana membulatkan kedua matanya pada Rossa, tapi sahabat laknat itu hanya bisa menyeringai puas. Rossa sudah merasa tenang setelah Pak Saka tak jadi memecatnya.

__ADS_1


Sekarang sahabat Kirana itu sedang mencoba untuk menjadi penjilat, siapa tahu dengan mendukung hubungan Kirana dan juga Pak Saka bisa membuat Rossa mendapatkan bonus tambahan. Rossa memang pandai sekali memanfaatkan keadaan.


__ADS_2