Ketika Mama Salah Pilih Menantu

Ketika Mama Salah Pilih Menantu
Penyesalan Kirana


__ADS_3

Perlahan tapi pasti wanita itu mulai menggerakan kedua matanya, pelupuk mata itu pun akhirnya terpecah. Wanita itu merasakan jika kepalanya berdenyut nyeri, ia mengangkat tangannya perlahan dan mengusap kepalanya yang ternyata sedang di perban. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekitar, ia melihat seorang lelaki sedang terlelap tidur dengan posisi duduk di kursi, lelaki itu adalah Pak Saka, dia sedang menyilangkan kedua tanganya di dada dengan kepala yang tertunduk, nampak lelah.


“Auch, sakit,” rintih Kirana ketika wanita itu bergerak dan merasakan sesuatu yang seakan memukul kepalanya dengan begitu keras. “Aku haus sekali,” kata Kirana dengan suara yang terdengar lemah. Wanita itu meneguk salivahnya sendiri ketika melihat ke arah satu gelas air mineral yang ada di atas nakas.


Kirana mengeser tubuhnya sedikit-demi sedikit agar bisa menjangkau satu gelas air mineral itu, Kirana meringis kesakitan saat merasakan tubuhnya sakit semua, jelas saja wanita itu merasa begitu kesakitan sekali karena dirinya baru beberapa jam yang lalu jatuh berguling-guling di tangga rumah suaminya.


Tanya Kirana hampir saja menyentuh gelas itu, tapi tidak disangka ternyata gelas tersebut justru malah jatuh, menimbulkan suara gaduh di dalam ruangan yang sunyi ini.


Pak Saka yang sedang terlelap tidur, lelaki ituterjingkat kaget setelah mendengarkan suara benda pecah di dalam ruangan ini. Pak Saka melihat ke arah Kirana yang sudah terbangun dan wanita itu menatapnya dengan bibir memucat.


“Maaf, saya tidak sengaja membangunkan Pak Saka,” kata Kirana dengan suara yang lirih, tapi pak Saka masih bisa mendnegarnya dengan begitu jelas.


“Kamu haus?” tanya Pak Saka dan langsung di jawab anggukkan kepala oleh Kirana.


Asisten Bakti yang sedang berdiri di depan pintu ruangan ini buru-buru masuk ketika mendnegarkan ada suara benda jatuh. Asisten Bakti melihat ke arah gelas yang sudah terburai di lantai.


“Suruh orang untuk segera membereskannya!” perintah pak Saka pada Asistennya itu.


“Baik, Tuan,” jawab Asisten Bakti kemudian kembali berlalu keluar dari ruangan ini.

__ADS_1


“Kiran, kam tunggu di sini dan jangan mencoba untuk turun dari atas ranjang, saya akan mengambil air minum untuk kamu,” kata Pak Saka dengan penuh pengertian. Sebenarnya di atas meja juga terdapat satu botol minuman kemasan yang masih tersisa setengah dalam wadahnya, tapi itu adalah minuman Pak Saka dan lelaki itu takut jika Kirana akan menolak minuman bekas darinya.


“Itu ada air,” kata Kirana menunjuk ke atas meja mengunakan pandangannya. Kirana benar-benar merasa haus sekali dan ia ingin segera membasahi tenggorokannya menggunakan air mineral guna untuk mengusir rasa haus yang semakin menyiksa.


Pak Saka menghentikan langkahnya, mellihat ke arah Kirana. “Kiran, itu adalah minuman saya,” jawab Pak Saka.


“Tidak masalah, saya haus,” jawab Kirana sembari menatap ke arah lelaki itu dengan wajah memohon. “Kecuali jika Pak Saka merasa jijik kalau berbagi minuman dengan saya,” ujar Kirana pada Pak Saka sembari menundukkan kepalanya.


“Aku tidak bisa membiarkan Kiran bersedih seperti ini, aku harus segera menjawab pertanyannya atau wanita itu akan salah paham nanti,” batin Pak Saka di dalam hatinya. “Kiran, saya tak akan mungkin merasa jijik, tepis pikiran itu jauh dari hati kamu,” ujar Pak Saka dan Kirana langsung menjawab dengan anggukkan kepala.


Ketika Pak Saka sedang membantu Kiran untuk minum dari sedotan, seorang petugas kebersihan masuk ke dalam ruangan ini setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


Pak Saka menaruh botol minuman itu ke atas meja, kemudian mengitari sisi ranjang ini dan berdiri di sisi kiri Kiran, lelaki itu benar-benar tidak ingin menginggalkan Kirana meskipun satu menit saja. Pak Saka bahkan belum makan apapun sejak semalam.


Kirana kembali mengingat ketika Pak Saka datang dan menolongnya, Kirana mengangkat pandangannya melihat ke arah pak Saka yang juga menatapnya. “Pak Saka, tahu dari mana jika saya dalam bahaya?” tanya Kirana dengan menatap sendu ke arah lelaki tampan itu.


“Maafkan saya Kiran,” kata Pak Saka.


“Minta maaf untuk apa?” tanya Kirana semakin tidak mengerti.

__ADS_1


“Saya menyuruh orang-orang saya untuk menaruh ruangan cctv di beberapa ruangan dan tanpa sepengetahuan kamu dan juga Brian, aku menyuruh orang untuk mengawasinya terutama ketika malam itu,” jelas Pak Saka. “Aku mungkin sudah terlalu berlebihan tapi ....” ucapan pak Saka terjeda ketika Kiran menyela kata-katanya.


“Pak Saka tak perlu meminta maaf padaku, justru aku merasa sangat beruntung sekali, andaikan saja Pak Saka tidak menaruh cctv di rumah Brian, pasti saya sudah ....” tangan pak Saka langsung terulur untuk menyentuh bibir Kirana denngan gerakan yang lembut.


Pak Saka tidak ingin mendengarkan ucapan apa yang akan Kirana katakan padanya, Kirana akan tetap baik-baik saja dan Pak Saka bisa menjamin itu.


“Kiran, jangan katakan apapun, sekarang yang terpenting kamu baik-baik saja dan tak ada cidera serius,” ujar Pak Saka.


Kirana menggangukkan kepalanya kemudian berkata, “Dimana lelaki itu?” tanya Kirana.


Di tempat Brian berada.


Brian tergeletak di atas lantai penjara dengan luka lebab di beberapa bagian tubuhnya, seorang lelaki paruh baya dengan tubuh gemuk dan juga kulit hitam mulai melangkah ke arahnya. Brian mengeser tubuhnya menjauh ketakutan ketika melihat lelaki beetubuh gemuk itu sudah mulai mengepalkan tinjunya. Para tahanan lain menatap ke arah Brian dengan dengan wajah nampak bengis.


Di dalam sel ini ada sekitar 30 tahanan dan satu persatu mendapatkan jatah untuk memukul bagian tubuh Brian, begitulah aturan di dalam ruangan ini. Siapapun yang datang paling akhir maka akan mendapatkan salam penghormatan yaitu di pukul satu kali orang satu orang dan hal itu berlangsung setiap hari hingga datanglah anggota baru lagi, kemudian mereka semua melakukan hal yang sama dengan anggota baru itu.


“Sampai kapan kalian akan melakukan ini padaku?” tanya Brian dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya.


“Sampai ada orang abru, tapi tak akan pernah ada anggota baru yang masuk ke dalam sel ini setelah kau, Pak Saka meminta kami untuk menjadikan kamu samsak, dan llelaki baik hati itu akan memebrikan kami makanan lezat selamanya.” Kata lelaki dengan tubuh gendut itu. Lelaki ini adalah orang yang paling ditakuti dan juga paling dihormati dalam sel ini.

__ADS_1


Hukuman Brian baru di mulai dan ia sudah hampir menyerah sekarang. Itu hukuman karena sudah berani mengusik orang paling berpengaruh didalam negara ini.


 


__ADS_2