
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Jika kamu merasa tidak nyaman berada di dalam ruangan kamar ini bersama denganku maka aku akan keluar. Aku akan tidur di kamar kamu," kata Pak Saka pada Kirana.
"Tidak perlu, Ini adalah kamar bapak dan biarkan saya yang keluar," jawab Kirana merasa sungkan.
"Aku akan tidur di sampingmu, tapi jangan salah sangka karena aku tidak memiliki niat buruk," kata Pak Saka.
"Baiklah," jawab Kirana setuju. "Kalau boleh saya tahu apakah biasanya Pak Saka memang selalu tidur dengan posisi duduk di kursi seperti tadi?" tanya Kirana yang mulai merasa penasaran. Kirana menatap ke arah tak Saka yang saat ini sudah berbaring di sampingnya, ada dua guling sebagai jarak keduanya.
Pak Saka melipat kedua tangannya di belakang kepala menjadikannya bantal, pandangan lelaki itu menatap lurus ke plafon kamar ini. "Tentu saja aku tidur di atas ranjang, aku tadi sedang menjagamu," jawab Pak Saka jujur.
Kirana menguras senyuman tipis, kejadian tadi malam di mana ia hampir saja dilecehkan oleh Kedua lelaki sialan itu mulai melebur dari ingatannya. Saat ini yang ada di dalam benaknya hanyalah sikap lembut dan juga perhatian dari Pak Saka, andaikan saja lelaki ini adalah suaminya sudah bisa dipastikan Kirana akan sangat bahagia.
"Maaf jika saya merepotkan Pak Saka," kata Kirana. "Andaikan saja tadi saya tidak pingsan maka saya tidak akan mengganggu tidur malam anda," sambung Kirana lagi sembari melirik ke arah lelaki tampan yang ada di sampingnya.
Pak Saka tiba-tiba memiringkan tubuhnya membuat Kirana langsung membuang pandangannya ke arah lain, kedua pipi Kirana pasti sudah memerah sekarang karena ia ketahuan memperhatikan wajah tampan bosnya itu.
"Tidak perlu meminta maaf, aku pasti menjadi orang yang sangat menyesal jika sampai tidak menyelamatkanmu." Kata Pak Saka kemudian lelaki itu memejamkan kedua bola matanya.
Kirana masih melihat ke arah lain hingga beberapa saat kemudian wanita itu mulai memberanikan diri untuk menatap ke arah Pak Saka, netra Kirana memperhatikan wajah tampan tak Saka yang saat ini sedang terlelap di dalam tidurnya, sorot mata datar dan juga wajah angkuh yang biasanya menjadi ciri khas lelaki itu melebur, wajah lelaki itu terlihat damai sekali dan ia terlihat mirip seperti dewa Yunani jika tertidur seperti ini. Kirana langsung menggeleng-gelengkan kepalanya setelah menyadari apa yang ia pikirkan, tidak seharusnya ia mengagumi Pak Saka dirinya sudah memiliki suami.
__ADS_1
"Kenapa Pak Saka harus meminta maaf sedangkan lelaki yang seharusnya menjaga Saya justru sekarang sedang sibuk bermain bersama beberapa wanita di sisinya," kata Kirana dengan suara yang lirih.
Kirana membuang pandangannya ke arah lain sembari mengusap bulir bening yang tiba-tiba menetesi kedua pipinya tanpa bisa ia kendalikan. Pak Saka membuka mata, lagi itu melihat jelas kesedihan yang Kirana rasakan sekarang.
***
Pak Saka membuka kedua bola matanya, netra itu langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan kamar ini dan ia tidak mendapati sosok yang sedang ia cari. Pak Saka buru-buru menarik tubuhnya dari atas ranjang lalu melangkah menuju kamar mandi guna untuk mencari keberadaan Kirana, tapi kamar mandi ini kosong. Pak Saka berlari menuruni anak tangga rumahnya untuk mencari keberadaan Kirana Entah mengapa ia merasa gelisah sekali ketika melihat Kirana tidak ada di sampingnya.
"Di mana wanita yang datang bersamaku semalam?" tanya Pak Saka pada salah satu asisten rumah tangganya.
"Mbak Kirana sedang berjalan-jalan di halaman rumah ini bersama dengan ...." Belum selesai asisten rumah tangga itu menjelaskan tetapi Pak Saka sudah berlari keluar dari rumahnya menuju halaman rumah.
"Dia itu benar-benar tidak bisa dibilangi, jelas-jelas semalam aku mengatakan jikalau dia tidak boleh berjalan-jalan dahulu karena kakinya masih sakit," gerutu Pak Saka sembari terus berlari menuju halaman rumahnya.
Kirana menatap ke arah Pak Saka yang sekarang berdiri menatapnya dari ambang pintu rumah ini. Kirana melambaikan tangannya ke arah Pak Saka dengan mengulas senyuman manis. Pak Saka berjalan perlahan menghampiri Kirana dengan membalas senyuman itu.
"Saka ..." Panggil Mamanya.
Setelah berada di dekat wanita yang telah melahirkannya itu Pak Saka langsung memeluk tubuh mamanya kemudian mengecup salah satu pipi wanita yang telah melahirkannya itu dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Mama," kata Pak Saka sembari menangkup wajah rentah yang ada di hadapannya.
"Mama ingin beristirahat, bicaralah dengan putriku," kata moelen sembari menggenggam jemari tangan Kirana.
"Bawa Mama masuk ke kamarnya dan nanti akan ada dokter yang memeriksanya!" Perintah Pak Saka kepada asisten rumah tangganya.
"Baik Pak," jawab asisten rumah tangga itu.
Pak Saka duduk di samping Kirana yang saat ini masih memperhatikan ke arah Mama Pak Saka.
"Maaf jika saya lancang tadi berkeliling rumah ketika bapak sedang tidur, tidak sengaja saya mendengar suara teriakan dari salah satu kamar dan saya pun membukanya, Saya melihat Mama Pak Saka nampak ketakutan sekali dan saya berusaha untuk menghiburnya kemudian mengajaknya berjalan-jalan di halaman rumah ini," jelas Kirana kepada Pak Saka.
Pak Saka melihat ke arah salah satu kaki Kirana yang kembali mengeluarkan cairan warna merah karena pasti wanita ini memaksakan dirinya untuk mengajak mamanya berjalan-jalan tanpa memperdulikan kondisinya sendiri.
"Ayo masuk akan aku obati kakimu," kata Pak Saka berjongkok di samping Kirana dan bersiap untuk menggendong wanita itu tetapi Kirana mendorongnya perlahan sembari menggelengkan kepalanya.
"Pak Saka belum menjawab ucapan saya," kata Kirana.
Pak Saka kembali mendudukkan tubuhnya di samping Kirana. "Semenjak mendiang Papaku meninggal, Mamaku seakan memiliki dunianya sendiri bahkan dia tidak pernah mau keluar dari dalam kamarnya, bisa dibilang semenjak 15 tahun yang lalu beliau terus saja nutup dirinya dari dunia luar bahkan dia sangat jarang sekali berbicara, tetapi untuk kali pertama aku melihatnya tersenyum manis dan memanggil namaku," cerita Pak Saka panjang lebar.
__ADS_1
Pak Saka mengangkat wajahnya ke arah langit mencoba untuk menahan bulir bening yang sudah siap jatuh di kedua pipinya. Wanita yang telah melahirkannya itu adalah kelemahan terbesarnya, Saka akan menjadi sosok yang lain ketika berada di samping mamanya dan untuk kali pertama Kirana mengetahui akan kesedihan lelaki ini, lelaki yang selama ini selalu ia anggap angkuh dan juga tidak memiliki hati ternyata justru adalah lelaki yang sangat baik sekali.
"Ya Tuhan, perasaan semacam apa yang sedang menyelimuti hatiku sekarang? Apakah aku mulai mencintainya? Tapi ini cinta yang salah" batin Kirana.