Ketika Mama Salah Pilih Menantu

Ketika Mama Salah Pilih Menantu
Kirana Celaka


__ADS_3

Kirana tidak bisa menghindar hingga tubuhnya jatuh berguling-guling di anak tangga rumah ini dengan begitu menyakitkan. Kirana mengarahkan tangannya memegangi kepala, ia merasakan sakit yang teramat sangat di bagian kepalanya yang sobek dan mengeluarkan cairan kemerahan yang begitu pekat sekali. Kirana sudah tergeletak di anak tangga rumah ini.


“Aku tidak bisa mati seperti ini,” ujar Kirana mencoba untuk memberikan kekuatan pada dirinya sendiri agar tidak jatuh dalam lembah penderitaan yang begitu besar.


Kirana beranjak berdiri kemudian berlari sekuat tenaga menuju pintu utama rumah ini, kaki Kirana terasa begitu sakit hingga ia tak bisa bergerak dengan cepat seperti biasanya. Kirana menoleh ke arah Brian yang menyeringai bagaikan malaikat pencabut nyawa.


“Aku akan membunuh kamu Kirana, Karena kamu aku mendapatkan kesialan! Aku sungguh merasa tidak beruntung sekali karena menikah dengan kamu, kedua orangtuaku begitu bodoh karena menjodohkan aku dengan kamu.” Brian terus saja mengatakan hal buruk pada Kirana, Tapi Kirana tak satu kali pun menyahuti perkataan Brian karena wanita itu lebih memilih untuk tetap fokus keluar dari rumah terkutuk ini.


“Tolong ... siapapun tolong aku,” kata Kirana mencoba untuk meminta bantuan para orang lain. Kirana sudah mengedarkan pandangannya ke sekitar, tapi ia tak kunjung melihat para pelayan yang biasanya masih bekerja di jam seperti ini.

__ADS_1


Kirana menoleh ke arah Brian yang sekarang semakin dekat dengannya. Brian menyeringai puas melihat wajah Kirana yang memucat dan dihiasi oleh cairan merah pekat.


“Percuma saja kamu mencoba untuk meminta bantuan, karena aku sudah menyuruh semua pelayan untuk pulang e rumah mereka selama beberapa hari ke depan,” kata Brian dengan suara yang terdengar begitu menakutkan bagi Kirana. “Dan selama itu juga aku akan menyiksa kamu Kirana, sebelum akhirnya aku putuskan untuk membunuh kamu,” ujar Brian dengan penuh ancaman.


“Brian, apa salahku padamu? Kenapa kamu selalu memperlakukan aku dengan sangat buruk sekali semenjak kita menikah,” kata Kirana sembari terus melangkah keluar dari rumah ini.


“Mama, mungkin ini waktunya bagi Kiran, untuk menemui Mama,” ujar Kiran pasrah pada keadaan ini.


Kirana mengigit bibir bagian bawahnya ketika ia merasakan Brian menendang tubuhnya dengan begitu keras sekali, membuat tubuh Kirana bergeser dari posisinya semula. Kirana membuka mata, ia melihat Brian mengeluarkan sebilah pisau, pisau itu mungkin terlihat kecil, tetapi memiliki ujung yang begitu runcing. Kirana meringis kesakitan, tubuhnya seakan mati rasa ketika membayangkan benda runcing itu mengiyakan bagian tubuhnya.

__ADS_1


“Brian, cukup,” kata Kirana dengan suara yang terdengar lemah.


“Cukup? Aku bahkan baru saja memulai permainan ini,” ujar Brian dengan wajah sikopatnya. “Semua kesialan ini terjadi karena kamu, karena aku menikahi wanita pembawa sial seperti kamu.” Brian tak pernah mau menyalahkan dirinya sendiri dan lelaki itu justru lebih suka mengkambinghitamkan orang lain akan setiap masalah yang sedang dirinya buat.


“Kamu yang bersama dengan wanita lain, tapi kenapa aku yang disalahkan, itu semua kesalahan kamu, sadarlah Brian,” ujar Kirana dengan nafas yang sudah tersengal-sengal. Kirana menyesal karena tidak menggubris ucapan pak Saka sebelumnya, tapi menyesal juga semua sudah tak ada gunanya karena ini telah terjadi.


Brian semakin murka setelah mendengarkan ucapan Kirana, rahangnya mengeras. “Sepertinya aku lebih memilih membunuh kamu saja, mulut kamu itu sudah lancang Kirana.” Bentak Brian dan lelaki itu segera mengarahkan pisau tajam itu pada tubuh Kirana dan


 

__ADS_1


__ADS_2