Ketika Mama Salah Pilih Menantu

Ketika Mama Salah Pilih Menantu
Mendatangi Brian


__ADS_3

Brian dan juga dua wanita yang sedang bermain dengannya langsung menghentikan ritual erotis mereka setelah melihat keberadaan Pak Saka dan juga Asisten Van yang menyerbu masuk ke dalam ruangan ini.


Pak Saka membuang pandangannya ke arah lain membiarkan Brian dan juga dua wanita itu untuk mengenakan setiap helai kain yang sempat terlepas dari tubuh keduanya. Darah Pak Saka mendidih sekarang rahangnya mulai mengetap seakan ia siap mengoyak tubuh lelaki sialan itu.


Kirana adalah wanita baik-baik tetapi Brian dengan tega justru melakukan hal semacam ini bersama para wanita malam. Di dalam hati tak Saka semakin bertekad ingin memiliki Kirana setelah mengetahui jika wanita yang sudah menghuni relung hatinya itu diperlakukan tidak adil oleh suaminya sendiri.


"Pergilah nanti aku akan mentransfer uang kalian," kata Brian kepada kedua wanita yang sempat menemaninya bermain.


"Maafkan saya Pak Brian," kata orang kepercayaan Brian dengan menunjukkan kepala.


"Keluarlah!" Perintah Brian pada orang kepercayaannya.


Di dalam ruangan ini hanya ada Brian, Pak Saka dan juga Asisten Van. Brian buru-buru melangkah menghampiri Pak Saka dengan senyuman canggungnya, Brian dengan tidak tahu malu mengulurkan tangannya di hadapan Pak Saka yang kini menatapnya dengan wajah datar.


"Maaf jikalau anda melihat hal yang tidak terduga," kata Brian. Di dalam hati lelaki itu mengumpati kebodohannya sendiri karena tanpa sengaja membiarkan kalau tanya itu melihat hal memalukan yang sedang ia lakukan bersama para wanita itu.


"Apakah kau ingin aku menjabat tanganmu?" tanya Pak Saka dan dengan bodoh Bryan menganggukkan kepalanya. "Aku tidak mau memegang tanganmu yang kotor itu, pasti tanganmu sudah bergerilya kemana-mana," hardik Pak Saka dengan terang-terangan.

__ADS_1


Bryan menggenggam tangannya sendiri dengan tersenyum canggung. "Maafkan saya, bagaimana jika sekarang kita duduk di sofa," kata Brian pada Pak Saka.


Pak Saka menatap ke arah sofa dan di sana terdapat bercak basah membuat lelaki itu menarik salah satu alisnya. "Sofa itu pasti sudah kotor akibat perbuatan kalian sebelum aku masuk ke dalam ruangan ini," kata Pak Saka secara terang-terangan. Pak Saka memang seorang lelaki sempurna dan juga kaya raya, tetapi dia tak pernah satu kali pun bermain dengan seorang wanita. Pak Saka lebih memilih bermain solo daripada harus melakukan hal kotor seperti itu bersama dengan banyak wanita.


"Maafkan saya Pak Saka, jikalau tadi anda berbicara untuk datang lebih awal maka saya akan membereskan semuanya dan mungkin akan mengganti semua perabotan yang ada di dalam ruangan ini untuk membuat Pak Saka merasa nyaman, untuk hari pertama Pak Saka mengunjungi perusahaan saya lebih dulu dan ini membuat saya merasa sangat senang sekali," kata Brian sembari tersenyum manis. sesungguhnya di dalam hati lelaki itu sedang mengumpati kedatangan Pak Brian yang sudah mengganggu kesenangannya bersama dengan kedua wanita itu.


"Kau sudah memiliki seorang Istri tetapi kenapa masih bermain dengan mereka? Apakah kau tidak merasa kasihan kepada Kirana?" tanya Pak Saka. Pak Saka menekan suaranya ketika menyebutkan nama Kirana.


"Pak Saka juga seorang lelaki, kita tak bisa hanya bercumbu dengan satu orang saja meskipun itu adalah istri kita," kata Brian mencoba untuk menyamakan Pak Saka dengannya.


Pak Saka menaruh kedua tangannya bersedekap angkuh di dada dengan wajah yang terangkat penuh intimidasi. "Pak Brian jangan pernah samakan saya dengan Anda, Saya hanya akan melakukan hubungan itu bersama dengan istri saya," kata Pak Saka menekankan kata istri pada lelaki tak bermoral yang ada di depannya.


"Pak Saka datang ke kantor ini pasti bukan untuk berniat mengunjungi saya, jika saya boleh tahu kenapa Pak Saka datang?" tanya Brian.


"Ceraikan Kirana! jangan menyiksanya dengan kelakuanmu yang tak bermoral itu lebih lama lagi. Dia adalah wanita baik-baik dan tidak seharusnya kau perlakukan seperti ini." Pak Saka sudah tidak perduli dengan wibawanya lagi, iya ingin membuat Kirana berpisah dengan suaminya, Pak Saka ingin memiliki Kirana dan juga menjaga wanita malam itu.


Tatapan Brian mulai menajam setelah mendengar Pak Saka berbicara seperti itu. "Pak Saka tidak bisa mencampuri urusan kami, ini adalah urusan pribadi kami dan tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis yang sedang kita jalani," kata Brian pada Pak Saka.

__ADS_1


"Brian aku tahu masalah apa yang sedang kalian hadapi dan aku sudah menyelidiki semuanya. Aku melakukan semua ini karena kasihan kepada Kiran, jika kau melepaskannya maka aku akan memberikan sejumlah uang untukmu supaya tetap bisa memiliki perusahaan ini meskipun Kiran berpisah denganmu kurang dari 10 tahun perjanjian awal kalian," kata Pak Saka secara terang-terangan. tak Saka selalu to the point dalam berbicara tanpa perduli jikalau lawannya itu merasa terganggu ataupun tersinggung.


Sorot mata Brian mulai menajam, hatinya merasa tidak rela setelah mendengar Pak Saka menyebut nama kecil istrinya dengan panggilan Kiran dan bukan Kirana.


"Pak Saka, saya akan memikirkannya lagi," jawab Brian mencoba menekan amarahnya. Jika saja tidak mengingat Pak Saka adalah investor terbesar di perusahaannya sekarang sudah bisa dipastikan jikalau Brian akan menendang keluar lelaki itu dari ruangannya secara tidak hormat.


Tanpa mengucap satu patah pun Pak Saka melangkah keluar dari ruangan terkutuk ini. Pak Saka memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana setelah mengenakan kacamata hitam di wajahnya, lelaki itu mencoba untuk menyembunyikan amarahnya dari semua orang di balik wajahnya yang datar.


Semua wanita yang ada di perusahaan ini menatap ke arah Pak Saka dengan penuh domba, ini untuk kali pertama Pak Saka datang ke perusahaan Brian, perusahaan Brian tidak terlalu besar jauh di bawah perusahaan milik Pak Saka.


"Akan aku hancurkan perusahaan ini ketika kau menolak untuk meninggalkannya." Pak Saka berjanji pada dirinya sendiri ketika ia sudah mendudukkan tubuhnya di dalam mobil.


"Perlukah saya memberikan peringatan untuknya?" tanya Asisten Van.


"Biarkan dia memikirkan apa yang aku katakan! Jika masih tidak ada jawaban maka hancurkan saja tempat ini!" perintah Pak Saka.


Asisten Van menatap ke arah belakang dari kaca spionnya kemudian memberanikan diri untuk membuka suara. "Pak Saka sebelumnya saya minta maaf, tapi jika sampai kita menghancurkan perusahaan milik Pak Brian ketika Nona Kirana masih sah menjadi istrinya maka saya takut jikalau lelaki itu akan semakin menyiksa Nona Kirana." kata Asistennya Van menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya.

__ADS_1


Pak Saka terdiam tidak membuka suara, netral lelaki itu menatap keluar jendela dengan sorot mata terlihat misterius di balik kacamatanya.


__ADS_2