Ketika Mama Salah Pilih Menantu

Ketika Mama Salah Pilih Menantu
Sikap Diam Kiran


__ADS_3

Semua orang melihat ke arah Kirana yang sekarang sedang berdiri di samping Rossa. Kirana memutar kedua bola matanya malas setelah mengetahui jika semua orang kini sedang memperhatikan ke arahnya.


"Kirana, lo kasih pelet apa ke Pak Saka sampai dia membantu kamu?” tanya Rossa sembari mengikuti langkah Kirana masuk ke dalam perusahaan.


“Kamu itu ngomong apa sih. Aku tidak melakukan apapun, itu semua karena kamu tadi mendorong aku,” gerutu Kirana sembari menatap ke arah Rossa dengan wajah nampak masam. "jika saja tadi Pak Saka tidak membantu aku maka sudah bisa dipastikan kalau aku akan jatuh dengan posisi memalukan di depan lobby utama perusahaan ini. dan mungkin sampai seumur hidup semua pekerja yang ada di perusahaan ini akan mengingat momen memalukan itu," kata Kirana sembari memutar bola matanya malas ketika melihat ekspresi polos yang sekarang sedang ditunjukkan oleh Rossa padanya.


“Aku memang sengaja tadi mendorong kamu, supaya di peluk Pak Saka,” kata Rossa iseng. sebenarnya Rossa tidak sengaja melakukannya dia hanya berpura-pura saja mengatakan semua itu kepada Kirana.


“Jaga mulut kamu itu, nanti aku dikira sedang menggoda Pak Saka,” kata Kiana.


Rossa melihat semua pekerja yang ada di dalam ruangan ini memperhatikan ke arah Kirana dengan tatapan penuh selidik, Rossa memutar kedua bola matanya jengah melihat tatapan semua orang kepada sahabatnya itu dan hal ini semua karena tingkahnya tadi.


“Sudah buruan sana pergi ke ruangan Pak Saka dari pada Pak Saka nanti bakal cari kamu ke sini,” sindir Rossa dengan cengengesan. Rossa dengan sengaja berbicara lantang supaya semua orang yang ada di dalam ruangan ini mendengar perkataannya dan benar saja para wanita langsung saling menatap satu sama lain setelah mendengar ucapannya. Rossa merasa puas sekali ketika melihat wajah mereka yang nampak kebingungan.


Kirana malas sekali menangapi candaan sahabatnya itu dan ia memilih untuk pergi ke ruangan Pak Saka. Sekarang Kirana sudah berdiri di depan Ruangan Pak Saka. Kirana mengetuk pintu bercat coklat yang ada di hadapannya, setelah mendengarkan sahutan dari dalam ruangan itu Kirana langsung membuka handel pintu kemudian masuk ke dalamnya.


Kirana melihat ke arah Pak Saka yang kini berjalan ke arahnya. Kirana berhenti di tengah-tengah ruangan ini dengan kepala yang tertunduk. Kirana sempat melihat ke arah manik mata Pak Saka yang menatapnya tajam sekali. Ketika membantunya di lobby utama tadi, Bos-nya ini juga melihatnya dengan tajam seperti orang yang sedang marah.


“Pak Saka, saya minta maaf karena, saya sungguh tidak sengaja jatuh ketika Anda lewat,” kata Kirana. Kirana mengira jika Pak Saka pasti marah padanya dan karena sebab itulah lelaki tersebut memanggilnya ke dalam ruangan ini.


“Kiran, saya tidak marah pada kamu,” kata Pak Saka setelah lelaki itu menghentikan langkah kakinya di depan Kirana.

__ADS_1


Kirana mengangkat pandangannya, jantungnya kembali berdetak tidak stabil ketika ada di dekat Pak Saka. Manik matanya menatap ke arah lelaki itu dengan penuh damba.


“Jika Pak Saka tidak marah pada saya, lalu kenapa saya dipanggil ke ruangan ini?” tanya Kirana polos. dengan jantung yang berdetak kencang Kirana memberanikan diri menatap ke arah tak Saka yang menjulang tinggi di hadapannya. tinggi lelaki itu sekitar 180 cm sedangkan tinggi Kirana hanya 160 cm.


“Saya ingin tahu apakah semalam lelaki itu memukul kamu?” tanya Pak Saka. Kali ini netra lelaki itu memperhatikan wajah Kirana, tidak ada luka lebam di wajah cantik itu dan Pak Saka langsung menghela nafas lega.


“Semalam dia marah pada saya, dia menduga jika saya yang meminta pada Anda untuk menjauhkan semua rekan bisnisnya,” jelas Kirana. “Saya mengancamnya balik dan saya kini tahu kelemahannya,” kata Kirana.


“Apa kelemahannya?” tanya Pak Saka.


“Dia takut jika saya meninggalkannya,” jawab Kirana.


“Apakah kamu tak akan pernah meninggalkannya?” tanya Pak Saka sembari berjalan mendekati Kirana. “Ada apa denganku? kenapa aku begitu peduli tentang perpisahannya dengan lelaki itu?” tanya Pak Saka pada dirinya sendiri dengan menghentikan langkah kakinya.


"Aku akan menekannya supaya dia lekas melepaskanmu." Pak Saka berbicara dengan rahang yang terlihat mengetat seakan menunjukkan emosinya.


"Saya tidak ingin Pak Saka terlibat dalam masalah saya, saya sudah berterima kasih karena Anda membantu saya beberapa kali," kata Kirana. Ia harus menjauhi Pak Saka, semakin ia dekat dengan Pak Saka maka cinta itu akan semakin bermekaran bagaikan bunga yang sudah mencapai musimnya.


"Saya tidak bisa membiarkan kamu hidup dengan lelaki seperti itu," jelas Pak Saka.


"Mungkin ini sudah takdir saya dan hanya kurang 5 tahun lagi maka semua penderitaan ini akan berakhir," jelas Kirana.

__ADS_1


"5 tahun adalah waktu yang lama Kiran, lelaki itu bisa saja menyiksamu bahkan ia akan menghancurkan mentalmu selama 5 tahun kedepan dan aku tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada ...." perkataan Pak Saka menggantung di udara. Beruntung sekali lelaki itu bisa menghentikan tutur katanya sebelum ia mengutarakan perasaan cintanya kepada wanita yang sudah bersuami ini.


Kirana masih terdiam menyimak ucapan Pak Saka yang terhenti, lelaki itu tidak kunjung menyambung ucapannya membuat Kirana tahu kalau Pak Saka tak akan melanjutkan tutur katanya.


"Saya akan kembali bekerja dan jika tidak ada sesuatu hal yang ingin Pak Saka tanyakan lagi maka saya akan keluar sekarang," kata Kirana kepada Pak Saka.


"Kembalilah bekerja," kata Pak Saka.


Kirana membalikan tubuhnya melangkah menuju pintu ruangan ini, tapi langkahnya terhenti kemudian ia memutar tubuhnya kembali menghadap ke arah Pak Saka yang ternyata masih menatapnya.


"Sepulang bekerja apakah saya boleh datang ke rumah Anda?" tanya Kirana. wanita itu melihat ke arah salah satu alis Pak Saka yang terangkat seakan bingung dengan kata-katanya. "jangan berpikir macam-macam. Saya hanya ingin bertemu dengan Mama," sambung Kirana yang tidak ingin Pak Saka salah paham padanya.


"Tentu saja kau boleh datang kapanpun untuk menemuinya dan Mama pasti akan senang melihat kedatanganmu." Pak Saka mengulas senyuman manisnya membuat jantung Kirana semakin berdetak tak karuan.


"Saya akan menyelesaikan semua pekerjaan saya lebih awal sehingga bisa menggunakan waktu lembur itu untuk menemani Mama," kali ini Kirana ikut tersenyum ke arah Pak Saka.


"Saya akan membayar gajimu dua kali lipat," ujar Pak Saka.


Kirana tidak menjawab ia memutar tubuhnya lalu melangkah keluar dari ruangan ini membuat Pak Saka kebingungan mengartikan sikap diam Kirana barusan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2