
Sejak dari tadi Kirana terus saja melihat ke arah pintu masuk ruangan ini, tak ada tanda-tanda Pak Saka akan muncul dan itu sedikit membuat debaran jantung Kirana hampir stabil kembali. Ada perasaan kecewa ketika mengetahui jika Pak Saka pergi meninggalkannya tanpa berpamitan. Tapi kenapa ia harus merasa resah dan juga kecewa jika mengetahui akan hal ini, bukankah seharusnya Kirana merasa senang karena sudah beberapa hari yang lalu ia selalu meminta Pak Saka untuk meninggalkannya sendirian di dalam ruangan ini.
Kirana mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar, tatapannya kini tertuju ke arah sofa di mana biasanya Pak Saka berbaring untuk melepas lelah. Sekarang bayangan lelaki itu sudah tidak nampak lagi, membuat Kirana merasa ada yang hilang darinya. Ia masih berstatus istri Brian, mana boleh memiliki perasaan semacam ini untuk lelaki lain! Semakin mencba untuk menepis bayangan itu, maka Kirana semakin menderita, menimbulkan rasa tak nyaman yang begitu sulit untuk dapat dijelaskan.
Kirana mengarahkan tatapannya pada pintu ruangan ini, ia mengira jika itu Pak Saka tenyata perawat yang membawa sarapan paginya.
“Tadi aku menginginkan jika Pak Saka tidak ada di tempat ini, setelah dia tidak ada aku justru merasa gelisah,” batin Kirana pada dirinya sendiri.
“Nona Kirana, ini adalah sarapan pagi Anda, jika membutuhkan sesuatu maka silahkan pencet bel nurse call,” ujar sang perawat yang langsung di jawab anggukkan kepala oleh Kirana.
__ADS_1
“Suster,” panggil Kirana. Wanita cantik yang mengenakan baju perawat itu segera menoleh ke arah Kirana dengan mengulas sneyuman ramah.
“Ya, Nona. Ada yang perlu saya bantu?” tanya sang suster.
“Tidak jadi,” jwab Kirana sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kalau begitu saya keluar dulu, jika membutuhkansesuatu maka Anda tak perlu sungkan untuk memencet tombol nurse call,” ujar sang perawat kemudian berlalu keluar dari ruangan ini.
Selang beberapa waktu kemudian.
__ADS_1
Kirana yang mulai merasa bosan segera meraih ponselnya kemudian membuka plaform mangatoon dan segera membaca cerita-cerita yang ada di sana. Kirana menghentikan membaca novel di dalam plaform tersebut ketika melihat seseorang membuka pintu ruangan ini dan itu adalah Rossa-sahabatnya.
“Astaga Kirana, kamu nggak mengalami gagar otak kan? Atau kamu amnesia?” tanya Rossa secara berlebih-lebihan. Wanita itu berjalan mendekati Kirana kemudian mengecek setiap bagian tubuh sahabatnya, mulai dari kaki hingga jemari kaki Kirana tak luput dari pengecekan konyol itu.
“Rossa, kamu jangan berlebihan seperti ini, aku baik-baik saja dan hanya mengalami luka ringan di bagian kepala, aku sudah mengatakan itu pada kamu di telepon tadi,” kata Kirana sembari menyila kedua kakinya di atas ranjang pasien.
“Baiklah-baiklah,” jawab Rossa mengalah dan tidak mau berdebat dengan sahabatnya itu.
Rossa mulai menyadari jika ini bukan ruangan biasa, melainkan ruangan vip rumah sakit. Kirana mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan ini yang nampak begitu besar sekali, kini Rossa mengalihkan atensinya pada Kirana dan berkata.
__ADS_1
“Kirana, aku tahu jika kamu tak akan mungkin membayar ruangan ini dengan mengunakan uang lelaki sialan itu! Dan aku juga tahu jika kamu terlalu hemat hanya untuk menyewa ruangan sebesar ini,” kata Rossa dengan melihat ke arah Kirana dengan penuh selidik. “Sekarang katakan padaku, siapa orang yang sudah bermurah hati untuk membayar ruangan ini untukmu?” tanya Rossa.
Kirana hendak mengeluarkan kata-kata dusta, tapi yang tidak disangka ternyata Pak Saka membuka pintu ruangan ini begitu saja. Rossa menatap ke arah pintu dan tanpa mendapatkan jawaban dari Kirana, ia sudah tahu siapa orang yang sudah bermurah hati membayar ruangan ini.