
Hari ke dua di rumah sakit.
Kirana terbangun di tengah malam, Kirana mengucek kedua matanya, mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Pak Saka tidur dengan posisi berbaring di atas ranjang, kedua kaki lelaki itu naik ke pinggiran sofa dengan satu tangan yang ia gunakan menutupi matanya, seakan menghalangi matanya terkena cahaya lampu secara langsung.
Kirana harus turun dari atas ranjang tanpa menimbulkan suara karena takut membangunkan Pak Saka. Suara ranjang rumah sakit ini seakan bernyanyi didalam kesunyian ruangan, Kirana menghentikan niatnya untuk menjejakkan kaki di lantai rumah sakit ini, Kirana menoleh ke arah Pak Saka yang ternyata masih tidur dengan posisi yang sama, Kiran mengusap dadanya seakan merasa lega karena tidak membangunkan Pak Saka. Kiran mulai turun dari ranjang.
“Dia pasti terbangun jika suaranya sekeras ini,” batin Kirana di dalam hatinya setelah mendengarkan suara ranjang yang begitu keras membelai keheningan malam.
“Kiran, kamu mau ke mana?” tanya Pak Saka seraya beranjak berdiri.
__ADS_1
Kiran menoleh ke arah Pak Saka. Wanita itu dengan sangat mudah bisa melihat ke arah netra Pak Saka yang memerah, menandakan jika rasa kantuk masih menggelayuti kedua manik mata lelaki itu, tapi Pak Saka berusaha untuk tetap terjaga dan menghampiri Kirana.
“Pak Saka tidur saja lagi, saya hanya ingin pergi ke kamar mandi,” ujar Kirana. “maaf jika saya sempat membangunkan Pak Saka,” sambungnya lagi.
“Mari saya bantu,” ujar Pak Saka yang tak mau menangapi ucapan Kirana barusan.
“Kiran, jika kamu tak mengijinkan aku untuk membantu, itu sungguh akan membuat saya merasa gelisah, jadi saya mohon kamu tak mengatakan hah yang sama untuk kedua kalinya.” Pak Saka menatap ke arah Kiran dengan sorot mata nampak ingin melindungi dan juga menjaga wanita di sampingnya sepenuh hati. Kirana mana sanggup menyakiti Pak Saka yang selama ini sudah bersikap begitu baik padanya-ralat sangat baik sekali.
***
__ADS_1
Kirana membuka matanya setelah mendengarkan jika ponselnya berdering. Kirana melihat layar ponselnya yang tertera nama Rossa. Kirana tak langsung mengangkat telepon dari sahabatnya itu dan ia lebih dahulu mengedarkan pandangan ke sekitar melihat jika Pak Saka sudah tak ada di dalam ruangan ini. Kiran kembali melihat ke arah ponselnya, mengarahkan tangannya mengeser tombol warna hijau.
“Kirana kamu sudah berada di rumah sakit hari ketiga sekarang dan kamu tak menghubungi aku, bahkan kamu juga tak mengatakan jika lelaki sialan itu mencoba untuk membunuh kamu. Oh ... Tuhan, demi apapun aku ingin mencekik kamu karena merasa kesal, aku baru mengetahui semua ini dari surat kabar dan juga media.” Suara Rossa yang sedang marah karena Kirana tak menceritakan apapun mengenai kejadian malam itu, Kirana hanya bisa tertawa geli saat mengingat bagaimana ekspresi wajah sahabatnya itu sekarang.
“Kondisiku baik-baik saja, kamu tidak perlu merasa cemas,” kata Kirana am sambungan telepon.
“Aku tidak mau dengar apapun sebelum melihat kondisi kamu secara langsung, hari ini aku akan libur bekerja dan aku akan menemani kamu, bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu jika sahabatku menginap di rumah sakit selama berhari-hari,” kata Rossa memarahi dirinya sendiri dalam sambungan telepon.
“Kamu tidak perlu data ....” belum selesai Kirana melanjutkan ucapannya sambungan telepon itu sudah terputus begitu saja. “Rossa tak boleh mengetahui jika Pak Saka menjagaku,” batin Kirana.
__ADS_1