
Saat ini Kirana dan juga Pak Saka sudah berada di dalam lift, Kirana melihat ke arah pintu lift yang tertutup harapannya untuk bisa keluar dari ruangan berbentuk kotak ini pupus sudah.
Pak Saka memperhatikan ke arah Kirana yang masih juga belum membuka suaranya, wanita itu menatap lurus ke depan membuat hati Pak Saka merasa tidak tenang.
"Kenapa Pak Saka menarik saya masuk ke dalam lift ini? Nanti jika ada pekerja lain yang melihat maka mereka akan salah paham," kata Kirana dengan menatap lurus ke depan, wanita itu berharap jikalau pintu lift ini segera terbuka agar dirinya bisa cepat-cepat keluar.
kedua bola mata Kirana berbinar setelah mengetahui jikalau pintu lebih ini mulai terbuka perlahan, seorang lelaki paruh baya hendak melangkah masuk ke dalam lift tetapi lelaki itu segera mengurungkan niatnya setelah melihat Pak Saka menatapnya penuh intimidasi.
"Saya akan naik lift sebelah saja," kata lelaki paruh baya itu sembari membungkukkan tubuhnya kemudian berlalu.
"Kiran, aku merasa jika kamu mencoba menghindari aku dan Ini semua tidak ada urusannya dengan para pekerja, hari masih terlalu pagi mereka pasti masih berada di rumah masing-masing," jelas Pak Saka.
"Apakah Pak Saka menarik tangan saya masuk ke dalam lift karena ingin bertanya hal ini?" tanya Kirana.
"Hem," jawab Pak Saka dengan teman.
"Saya tidak sedang menghindari Pak Saka. Saya tidak ingin saja mendengarkan banyak gosip di kantor ini yang mengatakan jikalau saya mencoba untuk menggoda Pak Saka," jelas Kirana. Kirana menggeser tubuhnya menjauh dari Pak Saka hal itu tentu saja membuat Pak Saka merasa tidak nyaman.
"Semalam kenapa kamu tidak datang?" tanya Pak Saka kepada Kirana.
Apakah dia menunggu kedatanganku kemarin malam? Tentu saja dia menunggu kedatanganku karena Pak Saka sendiri juga mengatakan jikalau akan menaikkan gajiku.
"Semalam saya merasa lelah jadi langsung pulang ke rumah, anda tidak perlu berpikir untuk menaikkan gaji saya." Setelah bicara pintu lift ini terbuka dan Kirana langsung memanfaatkan hal itu untuk keluar dari ruangan berbentuk kotak ini.
Pak Saka melihat ke arah punggung Kirana yang berjalan semakin menjauh, pintu lift ini tertutup kembali membuat Pak Saka merenungi apa yang Kirana katakan sebelum keluar tadi.
__ADS_1
"Apakah Kiran marah karena ucapanku? Sepertinya dia sudah emang Salah artikan ucapanku yang ingin menaikkan gajinya, apakah mungkin karena hal itu Kiran tidak datang ke rumah semalam?" tanya Pak Saka pada dirinya sendiri.
***
"Kirana kau datang pagi sekali," tegur Rossa setelah wanita itu mendudukkan tubuh di samping Kirana.
"Aku selalu tidak betah di rumah ketika lelaki itu ada," jawab Kirana tanpa mau menyebutkan nama suaminya.
"Carilah cara dan berpisah dengannya lebih awal, mungkin kau bisa meminta bantuan kepada Pak Saka," jelas Rossa memberikan pendapat. "Menurutku tak Saka memiliki perasaan kepadamu, hal itu bisa dilihat dari sorot matanya ketika matamu," sambung Rossa.
Kirana mengedarkan pandangan ke sekitar ia menghela nafas lega setelah menyadari tidak ada satupun orang yang ada di dalam ruangan ini sedang memperhatikannya. "Rossa jangan pernah mengatakan hal ini Untuk yang kesekian kali, nanti kalau ada yang mendengar maka mereka akan menjadikan aku bahan pembicaraan, kau tahu dengan sangat jelas jikalau aku masih sah menjadi istri Brian," jelas Kirana.
"Terserah kau saja Kirana, aku hanya memberikan pendapat karena merasa kasihan padamu, tetapi jika kau masih bersikeras untuk bersama dengan lelaki itu maka jalanilah pernikahan itu dan jangan pernah menceritakan apapun kepadaku lagi," kata Rossa yang sudah merasa lelah menasehati Kirana yang masih juga bersikeras ingin bersama dengan lelaki sialan itu dan menunggu sampai 5 tahun ke depan sesuai apa yang telah mereka janjikan di awal pernikahan-berpisah setelah 10 tahun pernikahan.
"Kirana Kamu mau makan apa?" tanya Rossa yang kini sedang berjalan di samping Kirana.
"Aku kepingin makan bakso yang pedas, kepalaku pusing," jawab Kirana sembari melangkah keluar dari lobby utama.
"Kirana minggir lah Pak Saka akan lewat," kata seorang wanita yang berada di belakang Kirana.
Kirana dan juga Rossa buru-buru menghentikan langkahnya kemudian memberikan jalan untuk Pak Saka, Kirana mengangkat pandangannya dan ia melihat ke arah Pak Saka, lelaki itu juga melirik ke arah Kirana sembari melangkahkan kakinya keluar dari lobi utama perusahaan ini.
"Hatiku merasa sakit sekali ketika menjauhinya," batin Kirana dengan kepala yang tertunduk.
***
__ADS_1
"Apakah Pak Brian ada di dalam?" tanya Asisten Van pada orang kepercayaan Brian.
Lelaki yang sejak tadi sibuk membaca berkas di atas mejanya langsung mengangkat pandangan, asisten Brian melihat ke arah Asisten Van dengan membulatkan kedua matanya kaget. Tidak biasanya Pak Saka datang menemui seseorang terlebih dahulu dan ini tidak menggunakan janji apapun sebelumnya.
"Pak Brian ada di dalam," jawab orang kepercayaan Brian setelah beranjak berdiri dari posisi duduknya.
"Pak Saka Ingin bertemu dengannya," kata Asisten Van.
"Tapi beliau sedang sibuk," jawab orang kepercayaan Brian dengan kedua tangan yang sudah menggenggam satu sama lain. Sekali lelaki itu melirik ke arah pintu ruangan Pak Brian yang tertutup dengan rapat.
"Perlukah kita mencabut semua investasi!" ancen Asisten Van ada orang kepercayaan Brian.
"Van, kita pergi sekarang aku tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu lelaki seperti itu!" perintah Pak Saka yang memang tidak memiliki begitu banyak kesabaran.
"Tu-tuan tunggulah sebentar saya akan berbicara kepada Pak Brian terlebih dahulu," kata orang kepercayaan Brian gugup setengah mati. Lelaki itu tahu jikalau Pak Saka mencabut semua investasinya pada perusahaan ini maka sudah bisa dipastikan jika perusahaan ini tak akan bertahan lebih lama lagi.
"Hem," jawab Pak Saka.
Orang gak percayaan Brian mulai mengetuk pintu kemudian lelaki itu masuk ke dalam ruangan majikannya. Pak Saka menatap ke dalam ruangan itu karena orang kepercayaan Brian menutup pintunya hanya sebagian hingga membuat Pak Saka bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Kedua bola mata Pak Saka hampir saja keluar dari tempatnya setelah lelaki itu mengetahui apa yang sedang Brian lakukan di dalam ruangan kantornya. Pak Saka melihat dengan sangat jelas jikalau saat ini lelaki tak bermoral itu sedang mencoba dua orang wanita yang sedang duduk di atas meja kerjanya, kedua tangan Pak Saka terkepal dengan begitu kuat setelah ia mengetahui apa yang terjadi.
"Apakah Kiran juga sering melihat hal semacam ini di rumahnya? Apakah karena hal itu dia lebih memilih menghabiskan waktunya di kantor sampai tengah malam?" tanya Pak Saka pada dirinya sendiri.
Pak Saka langsung membuka pintu ruangan Brian hingga membuat semua orang yang ada di dalam sana langsung tercengang kaget.
__ADS_1