Khadijah Sang Bidadari Surga-ku

Khadijah Sang Bidadari Surga-ku
Bab 10. Terimakasih


__ADS_3

"Lho Alia, ada perlu apa mencariku Al?" tanya Umi Fatimah saat menghampiri Alia yang sedang duduk di ruang tamunya, Abah Faruq juga berjalan beriringan bersamanya.


Seketika Alia semakin tegang, dia kira hanya Umi Fatimah saja yang menemuinya ternyata Abah Faruq pun ikut bersamanya, walau sebenarnya itu yang dia harapkan juga, agar keduanya tahu akan maksud kedatangannya.


"Assalamualaikum.. Bu Hajjah.. Pak Haji.." sapa Alia.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab mereka bersamaan.


"Saya ingin berbicara serius dengan Bu Hajjah, ini tentang saya dan putra anda, Kak Azril." ucap Alia basa-basi.


"Ada apa dengan putraku dan kamu? Apa dia melakukan hal yang buruk padamu?" ucap Umi Fatimah dengan nada khawatir.


Sedangkan Pak Faruq hanya duduk dengan tenang sembari mendengarkan dua wanita itu.


"Bu.. bukan Bu Hajjah, putra anda sama sekali tidak pernah berbuat buruk sama saya. Dia sangat baik sekali malahan,"


"Lalu?" Umi Fatimah mengernyitkan dahinya.


"Saya datang kemari ingin melamar putra anda,"


"Apa?!" Umi Fatimah berteriak terkejut.


Abah Faruq pun sama terkejutnya tapi kemudian dia mengulum senyumnya, tiba-tiba dia kagum dengan gadis yang ada dihadapannya ini. Dia benar-benar berani melamar seorang pemuda seperti putranya, sungguh gadis yang luar biasa, pikirnya.


"Lancang sekali kamu melamar putraku Al!" ucap Umi Fatimah dengan nada sinisnya.


Nyali Alia pun semakin menciut mendengar Umi Fatimah yang menunjukkan ketidaksukaannya.


"Ma.. Mafkan saya Bu Hajjah, sebelumnya saya telah mengajak putra anda untuk ta'aruf tapi dia belum memberikan jawaban untuk saya, jadi saya ingin mendapatkan jawaban yang pasti dengan melamarnya langsung di depan anda juga Pak Haji."


"Astaghfirullah Hal'adzim.." Umi Fatimah benar-benar tidak menyangka jika gadis pramuniaga toko itu benar-benar melamar sang putra kesayangangan.


"Apa kelebihanmu hingga berani melamar putraku yang tampan dan sholeh?" tanya Umi Fatimah.


"Sa.. Saya tidak memiliki kelebihan apapun Bu Hajjah, saya hanya gadis biasa dari keluarga sederhana. Ayah saya hanya seorang penjual bakso keliling dan pendidikan saya hanyalah lulusan SMA, tapi dengan segenap hati saya akan berusaha membuat putra anda selalu bahagia, mencintai dan menjaganya dalam kondisi apapun sampai akhir hidup saya." Alia mengutarakan isi hatinya.


Dan tak disangka Azril ternyata telah tiba di mansionnya, sejak Alia mengutarakan maksud kedatangannya pada Umi dan Abahnya. Dia mendengarkan semua ucapan Alia dan Umi-nya dari balik pintu dan terus mengulum senyumnya.


Hatinya menghangat seketika, walau dia belum mencintai gadis sederhana dan cantik itu tapi sedikit demi sedikit dia bisa mencairkan hatinya yang telah membeku.

__ADS_1


"Kalau sadar kamu hanyalah gadis biasa yang tak memiliki kelebihan apapun, apa kamu tidak takut ditolak oleh putraku? Jika kamu ingin mengetahui jawaban kami, sudah pasti jawaban kami sebagai orangtua, akan menolak lamaran kamu karena kami ingin putra kesayangan kami mendapatkan istri yang terbaik demi kebahagiaannya." ucap Umi dengan gamblang menolak lamaran gadis itu.


Alia terdiam menahan rasa sakitnya, sebelumnya dia tahu jika dia akan ditolak, bahkan ibu dan bapaknya juga mengingatkan dia agar mengurungkan niatnya untuk melamar pria sekelas Azril karena bagi orangtua Alia, Azril dan putrinya berbeda jauh status sosialnya tapi Alia kekeh dengan keinginannya. Berbeda dengan Umi Mutia yang selalu mendukungnya, apapun yang dia lakukan.


"Saya tahu dan sadar diri jika saya akan ditolak oleh anda dan putra anda, tapi apa salahnya jika saya ingin mengutarakan niat baik saya, karena jodoh itu ditangan Allah. Yang penting saya sudah berusaha dan berdoa," Alia tersenyum manis walau hatinya sedang tidak baik-baik saja, "Baik Bu Hajjah dan Pak Haji, terimakasih banyak atas jawaban dan waktu anda untuk saya. Saya pamit undur diri," ucap Alia akan berdiri dari tempat duduknya.


"Tunggu! Jangan pergi dulu," seru Azril yang muncul dari balik pintu.


Alia terkejut sekaligus tegang melihat Azril yang tiba-tiba datang, dia sangat malu berhadapan dengan pria itu secara langsung jika dalam situasi serius seperti ini. Dia menundukkan kepalanya dan duduk kembali ke tempat duduknya.


"Assalamualaikum Umi.. Abah!"


Azril menyalami kedua orangtuanya.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." balas mereka bersamaan sembari menyambut uluran tangan sang putra.


"Sejak kapan kamu datang Ril?" tanya Abah Faruq.


"Sejak tadi bah, dan saya mendengarkan semua perbincangan Alia dan Umi," ucap Azril yang kemudian duduk di samping Abah dan Uminya.


Sebelum dia mengatakan sesuatu, dia melirik Alia sekilas, kemudian memandang kedua orangtuanya dengan serius.


Ucapan Azril membuat Umi Fatimah terkejut, berbeda dengan Abah Faruq yang mengangguk sembari tersenyum bangga pada putranya.


Abah Faruq bisa merasakan jika Alia adalah gadis yang baik dan tulus, dia yakin jika suatu saat ketulusan dan kebaikannya akan membuat putranya jatuh cinta.


Sedangkan Alia mengangkat wajahnya sekilas, ingin melihat apa pria itu serius dengan ucapannya atau hanya bercanda, dan benar saja dia melihat keseriusan di wajah tampan pria Sholeh itu.


"Apa kamu serius dengan ucapanmu Ril?" tanya Umi Fatimah dengan tatapan heran.


"Saya serius Umi dan saya sudah yakin akan menjadikannya sebagai istri saya. Saya mohon berikan kami restu Umi.. Abah.."


"Astaghfirullah Hal'adzim.. Umi tahu lho kamu tidak menyukai gadis itu kan? Tapi kamu mencintai gadis lain, lalu bagaimana mungkin kamu menikahi gadis yang tidak kamu cintai Ril?"


Ucapan Umi Fatimah seolah seperti menampar kesadaran Alia, dia baru tahu jika Azril telah mencintai wanita lain. Lalu bagaimana bisa pria itu mengatakan akan menerima lamarannya padahal hati Azril bukan untuknya.


"Umi, saya mohon jangan membahas masa lalu, yang bahkan saya sudah melupakannya. Yang saya minta hanya restu Abah dan Umi." pinta Azril, "Dan mengenai bagaimana perasaan saya seperti apa kepada Alia, biarkan saja semua mengalir begitu saja. Saya yakin jika dia adalah gadis yang baik dan tulus, jika memang kami berjodoh semua akan dimudahkan oleh Allah SWT." ucap Azril penuh keyakinan.


"Aku merestui kalian nak," akhirnya Abah Faruq memberikan jawabannya.

__ADS_1


"Tapi Bah!" sela Umi Fatimah.


"Biarkan saja Umi, kita cukup dukung saja keputusan putra kita, toh mereka kan yang menjalani."


Umi Fatimah hanya terdiam tak ingin berdebat panjang dengan sang suami walau hatinya belum menerima keputusan sang putra.


"Terimakasih Abah," ucap Azril.


"Nak Alia!" panggil Abah.


"Iya, Pak Haji," jawab Alia menoleh sekilas ke arah calon mertuanya,


"Katakan pada orangtuamu jika Sabtu depan kami akan datang kesana dan melamarmu secara langsung kepada kedua orangtuamu."


"Baik Pak Haji, terimakasih." Alia tersenyum manis, "Kalau begitu saya pamit pulang dulu Pak Haji.. Bu Hajjah.. Dan Kak Azril.. Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.."


Alia pun meninggalkan kediaman Azril dengan hati yang berbunga-bunga. Dia terus berucap syukur pada Allah SWT, karena doanya telah terkabul. Laki-laki pujaannya itu telah menerimanya sebagai calon istrinya, sungguh keajaiban pikirnya.


Saat telah sampai rumahnya, Alia mengatakan pada kedua orangtuanya jika lamarannya telah diterima dan orangtua Azril akan datang melamarnya secara resmi di depan mereka.


Seketika Ibu dan Ayah Alia sangat bahagia dan merasa sangat bersyukur, mereka benar-benar tidak menyangka keajaiban Tuhan telah hadir dalam kehidupan mereka. Putrinya akan menikah dengan pria tampan dan sholeh yang berasal dari keluarga kaya.


**


Di Kediaman Azril, Umi Fatimah masih mendiami sang putra sebagai bentuk protesnya pada sang putra dan sang suami yang tidak mendukung keputusannya.


"Umi, apa Umi masih marah sama Azril?" tanya Azril memegang tangan ibunya.


"Ril, pikirkan baik-baik keputusanmu! Pernikahan itu bukan permainan, jika kamu bosan kamu bisa pergi begitu saja! Bagaimana kamu bisa yakin untuk menikahinya sedangkan kamu saja tidak mencintainya?" ucap Umi Fatimah.


"Saya tahu jika pernikahan itu sakral, Umi.


Selama beberapa hari belakangan saya menjalani sholat istikharah, dan ternyata Alia adalah jawabannya, itulah kenapa saya yakin ingin menjadikannya istri. Saya juga yakin seiring berjalannya waktu, kami akan bisa saling mencintai, Umi." ungkap Azril


"Baiklah kalau itu keputusanmu Ril, Umi akan mendukungmu kalau ini yang membuatmu merasa bahagia."


"Terimakasih banyak Umi," Azril memeluk bahu ibunya penuh sayang dan Bu Fatimah pun mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2