
"Iya tenang aja! Aku nggak akan biarin adikku bermasalah sama laki-laki seperti kamu, tapi habis ini aku mau buat laporan ke pihak berwajib karena kamu udah memeras adikku! Agar nggak ada korban-korban lain yang akan kamu peras!" ucap Azril menatap remeh pria baju hitam itu.
"Hei bre***sek! Lo ngancem gue! Gue nggak meras adik Lo, tapi adik lo salah jadi harus tanggungjawab!" teriak pria itu tak terima.
"Aku nggak ngancem kamu, aku cuma peringatin kamu agar nggak semena-mena sama orang yang nggak berdaya! Lagipula semua orang disini juga tahu kalau motor kamu itu nggak kenapa-napa cuma baret dikit tapi lagakmu kayak udah rusak parah aja. Apa itu namanya kalau bukan pemerasan! Harusnya kamu yang tanggungjawab sepeda adikku sampai rusak begitu karena kamu tendang-tendang!" ucap Azril menatap tajam pria itu.
Azril mengambil ponselnya dan berpura-pura menghubungi salah satu temannya.
"Hallo Pak Komandan," sapa Azril sembari menempelkan ponsel ditelinganya.
"Hei tunggu tuan!" cegah pria berbaju hitam itu, tiba-tiba nyalinya menciut.
Azril memandangnya dengan tatapan tanya sembari menutup lubang speaker ponselnya.
"Tolong tutup dulu teleponnya tuan! Saya akan bertanggungjawab," ucap pria itu.
"Oke!" jawab Azril sekilas.
"Sebentar ya komandan, saya masih ada urusan sedikit nanti saya hubungi lagi!" ucap Azril yang masih berpura-pura lalu menutup ponselnya.
Azril menatap pria itu dengan angkuh sembari melipat tangannya.
"Tuan, ini uang anda saya kembalikan! Maafkan saya Tuan, saya akan memperbaiki sepeda adik anda." ucap pria itu dengan sedikit bergetar.
"Minta maaflah pada adikku jangan padaku! Lagipula aku tak menyuruhmu memperbaiki sepeda itu, aku bisa membelikannya lagi yang baru!" ucap Azril yang akan beranjak mengambil mobilnya.
"Baik Tuan, terimakasih."
Pria itu pun mendekati Omar dan meminta maaf padanya.
"Mar, Abang ambil mobil dulu ya kamu tunggu disini!"
"Baik bang,"
Azril berjalan mengambil mobil sport mewahnya.
Saat Azril mendekatkan mobilnya pada adik iparnya, pria berbaju hitam itu hanya terbenggong dan semakin segan melihat Azril yang terlihat kaya raya dan keren.
"Mar, itu sepeda kamu bagaimana? Apa mau ditinggal saja? Nanti kita bisa beli yang baru saja!" tanya Azril.
"Jangan bang, ini sepeda kenang-kenangan dari kakek terlalu sayang untuk dibuang, biar aku bawa pulang sambil jalan saja bang,"
"Jangan! Kamu titipin aja ke warga sekitar nanti biar diambil anak buahku, kamu pulang bareng aku ya!" pinta Azril.
"Baik bang,"
Omar menitipkan sepedanya yang rusak pada warga sekitar, lalu dia masuk ke dalam mobil sport kakak iparnya dengan hati bahagia luar biasa.
"Tolong jangan ganggu adik saya! Atau kamu akan tahu akibatnya!" ancam Azril pada pria itu.
"Baik tuan, maafkan saya." pria itu menunduk takut.
Azril tak menjawab, dia menutup kacanya dan berlalu pergi.
Sebenarnya sifat sombong dan semena-mena bukanlah sifat Azril yang sebenarnya, dia termasuk pria yang supel dan mudah kasihan. Tapi dia bersikap sombong seperti tadi hanya sakit hati karena adiknya sudah ditindas dan diremehkan oleh orang lain, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Alia melihat adiknya ditindas seperti itu, bisa-bisa sang istri menangisi adiknya 3 hari 3 malam.
"Bang makasih banyak ya udah bantu,"
"Sama-sama Mar, jangan sungkanlah! Kamu kan juga adikku sekarang," Azril mengingatkan.
__ADS_1
"Siap bang,"
"Kamu mau pulang ini mar?" tanya Azril.
"Enggak bang, aku mau ke tempat ayah jualan, tempatnya di depan sekolahan SMP dan bersebelahan dengan area pabrik yang tak jauh dari sini, mau bantu ayah jualan." jawab Omar.
"Memangnya kamu tiap hari bantu ayah jualan?" tanya Azril.
"Iya bang, tiap pulang sekolah. Tapi ini tadi aku ada les tambahan mendadak jadi baru bisa bantuin ayah jam segini. Makanya tadi aku terburu-buru sampai nabrak orang karena rem sepedaku juga rusak bang, aku takut ayah kerepotan sendirian."
Azril mendadak iba pada adik iparnya, biasanya pemuda seusianya sudah merengek meminta sepeda motor tapi Omar sangat sederhana dan pengertian pada orangtuanya. Mendadak dia menjadi kagum pada sosok Omar yang apa adanya.
Setelah mobilnya sampai, dia juga melihat Ayah mertuanya benar-benar kerepotan melayani beberapa pembeli sendirian sembari mencuci mangkok-mangkok yang kotor sendirian.
Azril membayangkan bagaimana beratnya sang ayah mertua setiap hari harus mendorong gerobak bakso yang berat dan besar itu, lagi-lagi hatinya mendadak sedih. Disaat dia dan istrinya bisa makan enak, tidur enak, semua bisa mereka beli dengan mudah, tapi disisi lain keluarga istrinya begitu hidup dengan kesederhanaan.
Kenapa Alia selama ini tidak cerita padanya tentang keluarganya?
Apa dia yang terlalu fokus dengan kehidupan pribadinya dan pekerjaannya sehingga tidak memperhatikan keluarga istrinya?
Ah dia baru sadar, jika istrinya itu memang sederhana. Bahkan kartu debit yang dia kasih hanya berkurang 1/4-nya saja dari setiap bulan yang dia beri. Sungguh dia beruntung bersama wanita yang baik dan sederhana itu.
Dia juga berjanji pada dirinya akan sering-sering mengunjungi keluarga istrinya, karena selama ini dia hanya sebentar-sebentar saja kesana tanpa tahu kehidupan mereka yang sebenarnya.
"Assalamualaikum.. Ayah," sapa Omar dan Azril bersamaan.
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." balas Pak Amir dengan berbinar bahagia saat putra dan sang menantu tiba-tiba datang dan mencium tangannya.
"Maaf ayah, Omar tadi ada les tambahan mendadak, jadi baru sempat kesini!" ucap Omar merasa bersalah, dia segera menuju ke cucian mangkok dan gelas yang sudah menumpuk.
"Nggak apa-apa mar, ayah bisa kok sendiri."
"Saya dari kantor ayah, mau jemput istri saya. Dia sudah di rumah dari siang tadi."
"Ya sudah, Nak Azril ke rumah dulu saja, biar ayah dan Omar bentar lagi menyusul. Alhamdulillah dagangan ayah hampir habis padahal masih jam segini,"
"Alhamdulillah Ayah, tidak apa-apa saya bantuin disini bentar ayah. Kan bentar lagi udah habis." Azril bersikeras ingin membantu.
"Ya sudah kalau Nak Azril tidak capek, ayah juga tidak masalah."
"Tidak ayah, Azril tidak capek kok."
Azril segera menghampiri Omar dan membantu Omar mencucikan mangkok-mangkok kotor yang ada di bak cucian.
"Bang, jangan bilang sama orang rumah ya kalau aku tadi jatuh dan nabrak orang, nanti soal sepeda biar aku cari alasan sendiri aja." bisik Omar pada sang kakak ipar.
"Oke bro!" jawab Azril, dan keduanya pun terkekeh sembari membayangkan wajah ketakutan pria baju hitam tadi.
Tak cukup waktu lama, hanya satu jam saja dagangan Pak Amir sudah habis, karena keberadaan duo tampan Azril dan Omar yang selalu tersenyum pada para pelanggan yang membeli, jadi beberapa ibu-ibu membeli karena hanya mencari perhatian pada keduanya.
Mereka bertiga pun akhirnya pulang mengendarai mobil sport milik Azril dengan sedikit paksaan, karena ayah yang sudah terlihat kecapekan kekeh ingin pulang mendorong gerobaknya sendiri.
Bagi Pak Amir itu sudah biasa dan tidak berat karena sudah puluhan tahun, sedangan Azril tidak tega melihat ayah mertuanya harus mendorong gerobak itu sendiri.
Dan akhirnya gerobak Pak Amir didorong oleh dua anak buah Azril menuju rumahnya.
***
Di kediaman Pak Amir, Alia yang melihat mobil suaminya datang, sontak berlari kecil menuju halaman depan. Sungguh dia sangat bahagia melihat sang suami menjemputnya.
__ADS_1
Lalu dia menghentikan langkahnya saat adik dan sang ayah juga keluar dari dalam mobil suaminya.
"Assalamualaikum.." ucap ketiga pria itu.
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab Alia.
"Loh kok Bang Azril sama ayah dan Omar?" tanya Alia penasaran.
"Tadi Nak Azril bantuin ayah jualan bakso Al," ucap Pak Amir.
Alia mencium tangan ayahnya dan mengacak rambut adiknya sekilas.
"Masyaallah.. CEO tampanku mau jualan bakso juga ternyata! Bikin makin kagum aja sih!" puji Alia tersenyum manis dengan gaya manja.
"Dasar kakak bucin!" cibir Omar dan memilih masuk bersama sang ayah.
"Iri tanda tak mampu, Wek!" Alia menjulurkan lidahnya di belakang sang adik yang sudah berjalan masuk.
"Keren kan aku sayang! Bisa jualan bakso!" ucap Azril menaik-turunkan alisnya.
"Keren banget Abang sayang!" Alia tersenyum sembari mengangkat dua ibu jarinya di depan sang suami.
"Pantesan tadi di chat nggak bales, ternyata lagi bantu ayah,"
"Iya sayang, yang beli banyak jadi nggak sempet bales. Maaf ya sayang!" Azril memegang pipi sang istri dengan lembut.
"Nggak apa-apa sayang, yuk kita makan. Aku sama ibu udah masak enak lho!"
Alia menggandeng suaminya dan masuk ke dalam rumah untuk makan bersama keluarganya.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka bersama dan berbincang-bincang lama, akhirnya pukul 8 malam, Azril dan Alia pamit untuk pulang kerumahnya dan berjanji akan berkunjung lagi di lain hari.
***
Pagi-pagi sekali pukul 6 pagi, seorang laki-laki datang ke rumah Pak Amir.
"Assalamualaikum Pak Amir dan Bu Siti," ucap pria tampan berjas rapi itu.
"Wa'alaikumsalam.. maaf anda siapa ya?" tanya Pak Amir menatapnya heran.
"Perkenalkan nama saya Dennis, saya Asisten Tuan Muda Nazril Mohammad, menantu anda." Dennis memperkenalkan diri.
"Oh mari silahkan masuk anak muda," ajak Pak Amir.
"Sebentar Pak,"
Dennis terlihat menyuruh beberapa anak buahnya untuk menurunkan dua motor matic keluaran terbaru dari atas mobil pickup besar yang ada di luar halaman Pak Amir.
Dua motor N-max berwarna hitam dan putih, terparkir indah di halaman rumah Pak Amir.
Sedangkan Anin dan Omar hanya mengagumi motor matic berbody besar itu dalam hatinya.
"Mohon diterima ya Pak Amir, ini motor buat Mbak Anin dan Mas Omar untuk pergi ke sekolah dari Boss Nazril." ucap Dennis sembari menyerahkan kunci motor beserta kelengkapan dokumen motor itu.
"Alhamdulillah Ya Allah.." seru Omar dan Anin dalam hati mereka.
Mereka sangat bahagia kakak iparnya membelikan motor yang selama ini mereka idam-idamkan, bahkan untuk bermimpi memilikinya saja mereka tak berani, tapi kini motor itu menjadi milik mereka. Sungguh mereka terus mengucapkan syukur dalam hatinya.
"Tapi Nak Dennis, ini terlalu mewah buat kami. Kami merasa tidak pantas menggunakan barang mewah itu," ucap Pak Amir yang ingin mengembalikan kunci serta dokumen motor itu.
__ADS_1
"Tidak Pak Amir, Boss kami seorang konglomerat bagaimana bisa dia membiarkan anda semua yang sudah menjadi keluarganya hidup kesusahan. Jadi anda terima saja hadiah kecil ini." Dennis menolak tangan Pak Amir yang tersodor di depannya dengan sopan, "Oia ada satu lagi yang ingin saya tunjukkan pada anda Pak," ucap Dennis lagi.