Khadijah Sang Bidadari Surga-ku

Khadijah Sang Bidadari Surga-ku
Bab 7. Menolong


__ADS_3

"Aku mau nginep ke rumah temen Umi," ucap Azril.


Umi Fatimah tidak melarang putranya, dia tahu Azril sedang butuh teman dan hiburan saat ini.


"Baiklah Ril, hati-hati di jalan ya! Inget jangan meleng!" Umi Fatimah memperingatkan.


"Siap Umi!" Azril mencium pipi ibunya sekilas lalu pergi.


Sore itu Azril mengendarai motor besarnya, menyusuri jalanan dan tak tahu arah tujuannya akan kemana. Dia tak ingin bersama teman-temannya lalu ditertawakan oleh mereka, dia tahu sebenarnya teman-temannya tak bermaksud menertawakannya tapi teman-temannya hanya ingin dia juga merasakan indahnya pacaran seperti apa yang dikatakan mereka.


Entahlah dia sendiri tidak tahu dan tidak pernah merasakannya. Dia hanya punya prinsip dan sampai kapanpun dia akan berpegang teguh pada prinsipnya itu. Biarkan saja orang mengatainya laki-laki kolot dan cupu, dia tidak peduli. Yang terpenting baginya dia tidak terjebak dalam kubangan dosa.


Setelah dua jam menyusuri jalanan dan sesekali mampir ke masjid, tiba-tiba hujan turun sangat deras mengguyur bumi.


Bajunya basah dan tiba-tiba tubuhnya menggigil, dia ingin berteduh tapi percuma saja karena semua sudah basah tapi untuk meneruskan pulang pun dia tak sanggup.


Lalu tiba-tiba dia teringat, jika daerah ini sangat dekat dengan pondok pesantren yang biasa dia datangi setiap minggu.


Dia pun melajukan motornya menuju pondok pesantren itu, saat telah mencapai gerbang pondok pesantren itu tiba-tiba pandangan menggelap, dia limbung dan jatuh dari motornya.


"Braaakkkk!"


"Astaghfirullah Hal'adzim.. Umi, Abah! Ada orang yang jatuh dari motor di depan gerbang!" teriak Alia dari teras pondok pesantren.


Tadinya dia bersiap untuk pulang kerumahnya tapi tiba-tiba hujan turun sangat lebat, sehingga Umi Mutia menyuruhnya untuk tinggal sebentar sampai hujan reda.


Mendengar teriakan Alia, Umi dan Abah segera berlari menyusul Alia yang sudah berlari di tengah hujan menuju gerbang untuk menolong orang yang terjatuh tadi.


"Kak, bangunlah? Apa kau tak papa?"


Alia menggoyangkan tubuh pria itu sekilas tapi dia tidak bergeming.


Abah segera mengangkat tubuh pria yang sedang pingsan itu dengan dibantu oleh para santri laki-laki.


Saat Abah melihat wajah pria yang sedang diangkatnya, dia menyadari jika pria itu adalah Ustadz Azril, salah satu guru serba bisa yang mengajari para santrinya setiap hari minggu, dari mengajar ilmu agama hingga mengajar les pelajaran umum, juga salah satu donatur terbesar di pondok pesantren. Dia adalah guru yang baik hati dan cerdas, guru favorit para santri.


"Wah.. Ustadz Azril ternyata!" celetuk salah satu santri yang ikut membantu mengangkatnya.


"Ayo cepat bawa dia ke kamar tamu!" suruh Abah.


"Baik Bah!"


Setelah selesai membawa Azril ke kamar tamu, Abah Romli menggantikan semua baju Azril yang basah dengan baju kering miliknya dan menyelimuti tubuh pria itu dengan selimut tebal.


Abah keluar kamar lagi, dan Umi Mutia menghampirinya.


"Bagaimana Abah? Apa yang terjadi?" tanya Umi Mutia dengan cemas.


Alia pun tak kalah cemasnya.


"Badannya demam dan dia belum sadar, tolong ambilkan minyak angin dan kayu putih mi! Abah akan membalurkan ke tubuhnya, dan jangan lupa obat penurun panasnya juga."


"Baik Bah,"


Umi segera pergi mencari beberapa barang yang Abah butuhkan.


"Al, apa Abah bisa minta bantuan padamu?" tanya Abah Romli.


"Boleh Bah, apa yang bisa saya bantu Abah?" tanya Alia.


"Minta tolong buatkan teh hangat dan bubur untuk Ustadz Azril," pinta Abah.


"Baik Bah segera saya buatkan,"


Alia pun segera pergi ke dapur, untuk membuatkan bubur dan teh hangat untuk Azril.


Sedangkan Abah dengan di bantu satu santri kepercayaan Abah, berusaha membuat Azril lekas sadar.

__ADS_1


Hingga setelah 10 menit berlalu, Azril pun sadar dari pingsannya.


Dia membuka matanya perlahan dan melihat Abah bersama seorang santri yang juga dikenalnya.


"A.. Abah Romli.. Assalamualaikum Abah.." Azril yang menyadari di depannya adalah sang pemilik yayasan, lalu segera bangun dari posisinya yang sedang berbaring.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. Sudah Nak Azril jangan bangun dulu! Berbaring saja tidak apa-apa!" ucap Abah yang mencegah Azril yang akan berdiri.


"Baik Abah,"


"Badanmu sangat demam nak, minumlah obat dan teh hangat ini agar panasnya lekas turun!" perintah Abah.


"Baik Bah,"


Azril pun meminum obat yang Abah Romli berikan, lalu menaruh gelasnya di atas nakas kembali.


Tiba-tiba rasa sakit dan perih menyerang perutnya, seolah seperti diremas-remas dari dalam, dan terdengar geraman lirih dari bibirnya.


"Ada apa Nak Azril?" tanya Abah.


"Perut saya terasa perih sekali bah," jawab Azril.


"Astaghfirullah Hal'adzim.. Apa perlu saya panggilkan dokter nak? Tapi malam-malam begini apalagi sedang hujan lebat di luar, jarang ada dokter yang mau disuruh datang kesini." Abah menjadi binggung sekaligus panik.


"Sudah tidak apa-apa Bah, anda jangan khawatir, nanti juga reda sendiri."


"Memangnya kapan Nak Azril terakhir makan?" tanya Abah lagi.


Azril sedikit berfikir, dia baru ingat jika dari pagi dia tidak makan sama sekali saking gugup dengan acara pertunangan yang berakhir gagal itu.


"Semalam, saya terakhir makan bah," Azril merasa tak enak.


"Astaghfirullah Hal'adzim.. Pantas saja perutnya sakit! Sebentar ya nak, Abah liat dulu, kali saja bubur untukmu sudah siap." ucap Abah yang meninggalkan Azril di kamar tamu bersama santrinya.


"Baik Bah,"


"Alhamdulillah sudah lebih baik. Terimakasih ya udah bantuin," ucap Azril dengan tulus.


"Sama-sama Ustadz, saya cuma bantuin angkat aja kok. Tadi Mbak Alia yang tahu dari awal ustadz jatuh dari motor, dia berteriak memanggil Abah dan Umi," ucap santri itu.


"Mbak Alia? Siapa mbak Alia?" tanya Azril penasaran.


Entah dia merasa tak asing dengan nama itu.


"Oh itu, Mbak Alia yang sering datang kesini setiap Selasa dan Jumat untuk memasakkan untuk kami semua, dia cantik dan sangat baik ustadz. Dia sayang sekali sama adik-adik santri disini." puji santri itu.


"Kamu seperti suka ya sama Mbak Alia?" goda Azril.


"Ah tidak ustadz, saya hanya kagum saja. Dia sudah seperti kakak kami sendiri," ucap santri itu sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ehemm!" Abah berdehem saat masuk ke kamar Azril kembali.


"Abah," ucap kedua pria itu sembari mengangguk ke arah Abah sekilas.


"Mari makanlah bubur ayam ini dulu nak! Agar perutnya segera terisi dan tidak sakit lagi," suruh Abah.


"Baik Bah,"


Azril pun memakan bubur ayam itu, bubur itu terasa sangat enak dilidahnya gurih dan asinnya pun sangat pas. Kuah bening bubur itu menyegarkan di tenggorokannya, entah kenapa dia merasa seperti tidak makan beberapa hari. Dia makan sangat lahap hingga tak perlu waktu lama menghabiskan bubur itu.


Rasanya Azril ingin minta tambah tapi dia malu mengatakannya.


"Bagaimana nak? Apa perutnya sudah lebih baik?" tanya Abah.


"Alhamdulillah sudah bah,"


"Kalau begitu beristirahatlah nak, jika butuh apa-apa panggil Abah ya!"

__ADS_1


"Baik Bah, terimakasih banyak. Maaf jadi merepotkan Abah," ucap Azril merasa tak enak.


"Tidak apa-apa, anggap saja ini rumah kamu juga," ucap Abah dan Azril pun mengangguk.


Abah pun keluar kamar tamu, tapi beberapa menit berikutnya dia kembali ke kamar Azril untuk membawakan satu porsi bubur ayam lagi.


"Ini aku bawakan lagi untukmu nak, Abah tahu kamu masih lapar, makanlah lagi jangan sungkan!" ucap Abah menaruh bubur itu di meja yang ada di samping ranjang Azril.


"Baik Bah, terimakasih." Azril pun tersenyum bahagia.


**


Keesokan paginya, Azril sudah sehat lagi. Dia ikut sholat subuh berjamaah bersama Abah Romli dan para santri.


Setelah Abah Romli selesai memberikan kajian kepada semua santrinya, dia mengajak Azril duduk bersama di ruang tamunya. Abah bisa merasakan jika Azril sedang memiliki masalah saat ini.


"Ceritakan pada Abah, nak! Apa yang membuatmu menjadi gelisah dan bersedih?" tanya Abah.


"A.. Abah tahu saya sedang tidak baik-baik saja?" Azril begitu heran kenapa Abah Romli tahu jika dia sedang memiliki masalah.


"Iya, terlihat dari raut wajahmu yang gelisah dan tatapan yang penuh kesedihan itu. Ceritalah nak! Agar beban di hatimu sedikit berkurang," pinta Abah dan Azril pun mengangguk.


Kemudian dia menceritakan semua yang terjadi padanya kemarin pada Abah.


"Bersabarlah nak! Serahkan semua kepada Allah Sang Pemilik Alam Semesta, yakinlah kelak Allah akan berikan jodoh yang lebih baik untukmu, seseorang yang menerima kamu apa adanya, yang menerima kamu disaat lapang maupun sempitmu. Tapi janganlah lelah untuk tetap berusaha dan berdoa!" ucap Abah dengan bijak.


"Amin Ya Robbala'laminn.. terimakasih atas nasehat anda Bah, terimakasih sudah banyak membantu saya." ucap Azril dengan tulus.


"Abah tidak melakukan apapun nak, semua kebaikan yang kamu terima adalah buah dari kebaikan dan ketulusan kamu selama ini."


Azril pun tersenyum mengangguk.


"Ayo kita sarapan sama-sama!" ajak Abah.


"Baik Bah,"


Dan kini Azril duduk di meja makan bersama Abah Romli dan Umi Mutia.


Melihat Azril yang sedang duduk bersama mereka, Abah dan Umi jadi teringat akan putra semata wayangnya.


Putra Abah dan Umi berusia 22 tahun, saat ini dia sedang menempuh pendidikan di Malaysia jalur beasiswa.


Umi Mutia mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya dan Azril.


"Terimakasih Umi," ucap Azril tersenyum manis saat umi memberikan piring yang berisi nasi dan lauk padanya.


"Sama-sama Ustadz Azril, makan yang banyak ya! Anggap saja dirumah sendiri!"


"Baik Umi, Terimakasih juga sudah dibuatkan bubur semalam, rasanya sangat enak umi." puji Azril.


"Oh bubur itu! Bukan saya yang buat ustadz, tapi Alia. Salah satu santri saya juga relawan untuk anak-anak disini." ucap Umi Mutia.


"Oh begitu! Hm, biar nanti saya ucapkan terimakasih secara langsung saja padanya umi,"


Umi Mutia mengangguk dan mereka pun melanjutkan sarapan mereka.


Selang beberapa menit setelah menyelesaikan sarapan mereka, Umi Mutia pun kembali ke dapur untuk membereskan semua piring-piring yang telah terpakai. Sedangkan Azril bersiap untuk pulang ke rumahnya lagi.


Umi melihat mixer milik Alia ketinggalan, Umi ingat jika mixer itu sebenarnya bukan milik Alia tapi milik pamannya yang dia pinjam untuk membuatkan anak-anak kue saat berada disini.


"Bah, ada barang Alia yang ketinggalan. Apa Abah bisa mengantarkan Umi?" tanya Umi pada suaminya.


"Tidak bisa sekarang Umi, kita kan ada undangan pengajian di rumah Haji Ridwan." Abah mengingatkan.


"Astaghfirullah Hal'adzim.. Umi kok sampai lupa ya bah, lalu ini bagaimana?" tanya Umi sembari memegang mixer ditangannya.


"Biar saya yang antarkan saja Umi, sekalian saya pulang juga." ucap Azril yang baru keluar dari kamar tamu.

__ADS_1


__ADS_2