Khadijah Sang Bidadari Surga-ku

Khadijah Sang Bidadari Surga-ku
Bab 28. Penawaran Untuk Azril


__ADS_3

"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab mereka bersamaan.


"Bagaimana kabar anda Jeng?" tanya Umi Salamah basa-basi.


"Alhamdulillah sudah lebih baik," jawab Umi Fatimah.


Kedua orangtua Alia pamit untuk membantu Alia dan Anin bersih-bersih ke belakang.


"Saya kesini untuk mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya suami anda Jeng. Maaf waktu itu saya tidak bisa datang, karena Nabila sakit setelah pernikahannya dengan putra anda batal. Dia benar-benar bersedih dan tidak semangat hidup. Berkali-kali kami datang ke mansion kalian, tapi kata salah satu tetangga kalian, kalian sudah pindah."


"Iya tidak masalah,"


Sebenarnya Umi Fatimah sangat malas meladeni sahabatnya itu, baginya mereka sudah bukan sahabat sejak dia menyadari jika sahabatnya begitu egois.


"Tujuan saya kesini sebenarnya ingin meneruskan rencana kita yang sempat tertunda dulu, yaitu menikahkan anak-anak kita. Karena Nabila tidak mau menikah selain dengan Azril, jadi saya mohon kita lanjutkan lagi rencana ini." pinta Umi Salamah.


"Astaghfirullah Hal'adzim.." bathin Umi Fatimah.


Umi tidak habis pikir kenapa Nabila dan ibunya sangat memaksakan melanjutkan pernikahan ini, padahal Umi sudah membatalkan pernikahan mereka waktu lalu. Dia sadar jika Nabila terlalu terobsesi dengan putranya.


"Sudah saya katakan kalau Azril dan Nabila tidak akan menikah! Lagipula Azril sekarang pengangguran dan kami tidak punya apa-apa sekarang, jadi jangan memaksakan Nabila untuk hidup susah bersama kami." jawab Umi dengan susah payah, walau kata-kata Umi tidak begitu jelas tapi Nabila dan ibunya mengerti.


"Tapi saya tidak masalah dengan semua itu Umi, saya bersedia hidup susah sekalipun, asalkan saya bersama Bang Azril." jawab Nabila dengan cepat.


"Degg,"


Alia mendengar semua percakapan mereka dari balik tembok saat akan memberikan teh suguhan untuk mereka. Alia sedikit limbung dan tangannya mendadak bergetar, dia benar-benar takut jika mertuanya akan kembali menikahkan suaminya dengan putri temannya.


Umi Fatimah hanya tersenyum masam, dia tidak peduli dengan kata-kata Nabila. Dia sudah tidak ingin menyakiti menantunya lagi dengan menikahkan putranya dengan wanita lain.


"Kalau anda bersedia menikahkan putra anda dengan putri saya, saya akan memberikan saham perusahaan kami 50% untuk putra anda jadi anda tidak perlu khawatir putra anda hidup susah dan tak memiliki pekerjaan. Lagipula saya juga tahu kemampuan Azril mengurus perusahaan begitu luar biasa dan saya yakin jika perusahaan kami dipegang putra anda, pasti akan lebih maju lagi." bujuk Umi Salamah.


Lagi-lagi Alia hanya menghembuskan nafasnya panjang untuk meredakan kegelisahan hatinya.


Tiba-tiba dari belakang, Azril memegang pundak istrinya dengan lembut.


Sedangkan Alia langsung menoleh ke arahnya.


"Tunggulah disini, aku menemui mereka sebentar." bisik Azril sembari mengambil nampan yang berisi 3 cangkir teh yang ada di tangan Alia.


Alia pun mengangguk.


"Assalamualaikum.."


Azril keluar dari dalam rumah untuk menemui Nabila dan ibunya.


"Wa'alaikumsalam.." jawab mereka bersamaan.


Terlihat Nabila berbinar bahagia saat pria yang dicintainya telah muncul. Dia yakin jika Azril mendengar semua kata-kata uminya dan tertarik dengan saham 50% yang akan diberikan padanya.


"Bagaimana Nak Azril? Apa kamu bersedia menikahi putriku, apapun yang kamu inginkan saya akan penuhi, termasuk saham 50% yang akan kami berikan untukmu." ucap Umi Salamah dengan antusias saat Azril mulai duduk di sebelah Umi Fatimah.

__ADS_1


"Sebelumnya saya minta maaf Bu Salamah, bukannya saya sombong karena menolak tawaran berharga anda, tapi kebahagiaan istri saya lebih penting dari semua yang anda tawarkan pada saya. Saya sangat mencintai istri saya dan tidak akan pernah menduakannya dengan Nabila maupun wanita lain sampai kapanpun. Dulu saya bersedia menerima rencana kalian karena permintaan Umi saya, bukan keinginan saya sendiri, jadi saya mohon jangan pernah membahas lagi masalah yang sudah berlalu itu." ucap Azril dengan tegas.


"Deg!!"


Seketika hati Nabila hancur, Azril terang-terangan menolaknya.


Sedangkan Alia yang mendengarkan ucapan suaminya pun akhirnya bisa bernafas dengan lega, dia bersyukur suaminya ternyata mencintainya begitu tulus tanpa peduli kemewahan yang akan ditawarkan oleh keluarga Nabila.


"Tapi Bang, aku masih mencintai Abang. Aku tahu Abang juga masih mencintaiku kan? Sejak kuliah Abang sudah mencintaiku jadi tidak mungkin Abang bisa melupakan secepat itu," kekeh Nabila.


"Itu hanya perasaanmu saja Nabila! Sudah lama, sejak kamu memilih mengejar pria lain, aku sudah melupakan kamu. Jadi jangan mengharapkan seseorang yang sudah beristri lagi, karena diluar sana masih banyak pria single yang bersedia menikah denganmu." ucap Azril dengan dingin.


Nabila terdiam tak bisa berkata-kata karena malu.


Sedangkan Umi Fatimah dan Umi Salamah terkejut mendengar ucapan Azril, keduanya baru sadar jika Nabila membatalkan pertunangan mereka waktu dulu karena mengejar pria lain bukan karena Nabila belum siap.


Mendadak Umi Fatimah menjadi ilfeel dengan gadis itu, dia merasa kasian pada putranya yang pernah dicampakkan gadis itu demi pria lain.


"Maaf kalau tidak ada kepentingan lagi, saya pamit istirahat di dalam. Assalamualaikum.." ucap Umi Fatimah pada kedua wanita didepannya.


"Wa'alaikumsalam.."


"Kalau begitu kami juga sekalian pamit pulang Jeng," ucap ibu Nabila pada sahabatnya.


Umi Fatimah pun hanya balas mengangguk.


"Ayo Ril kita masuk!" ajaknya pada sang putra.


Azril mendorong kursi roda ibunya untuk masuk ke dalam rumah dan mengantarkan Uminya beristirahat di kamar.


Sementara di dalam dapur, Ibu dan Ayah yang tak sengaja mendengar perbincangan umi Azril dengan tamunya, jadi tahu jika anaknya sempat akan dipoligami oleh sang suami. Mereka menjadi sedih memikirkan nasib anaknya, bisa jadi hal itu akan terulang lagi dan benar-benar terjadi.


"Kenapa tidak cerita pada kami tentang masalah ini nak? Jangan kau simpan kesedihanmu sendiri! Masih ada kami yang selalu bersamamu," ucap Bu Siti memandang haru pada putri sulungnya.


"Tidak ibu, aku tidak apa-apa, lagipula Bang Azril dan gadis itu tidak jadi menikah, Bang Azril dari awal memang tidak menginginkannya." Alia tersenyum menatap kedua orangtuanya.


"Tapi semua itu bisa saja terjadi lagi Al, ibu nggak bisa bayangin kalau kamu dimadu, sudah pasti ibu akan merasakan sakit hati juga! Jangan karena alasan anak dia menghalalkan segala cara untuk menikah lagi," ucap Bu Siti yang tak bisa menyembunyikan rasa kekesalannya.


"Ba.. Bagaimana ibu tahu?" Alia menjadi tegang.


"Orang seperti mereka jelas membutuhkan seorang pewaris dari darah daging mereka sendiri, tapi tidak bisakah mereka bersabar untuk menunggu? Karena sejatinya anak itu adalah anugerah dari Sang Maha Kuasa, jadi kita semua tidak tahu kapan anugerah itu datang."


Bu Siti tidak tahu jika rahim Alia bermasalah, dia memang tidak menceritakan pada keluarganya agar tidak menjadi beban pikiran mereka.


"Sudahlah ibu tidak apa-apa, lagipula aku kan tidak jadi dipoligami, ibu jangan terlalu memikirkannya lagi karena masalah itu sudah berlalu." Alia menggenggam kedua tangan ibunya untuk meredam kekesalan ibunya.


"Kalau Alia tidak bahagia, ikutlah pulang bersama kami, ayah tidak mau melihat putri ayah bersedih lagi." akhirnya Ayah pun bersuara, dia merasa kasian dengan penderitaan putrinya.


Dulu Alia harus mengubur keinginannya untuk kuliah hanya demi membiayai sekolah adik-adiknya, dia menjadi kuat dan dewasa sebelum waktunya. Dan sekarang setelah menikah dia masih harus menghadapi cobaan yang lebih berat lagi, Pak Amir tidak bisa melihat putrinya harus menanggung kesedihannya sendiri.


Tiba-tiba Azril muncul karena dia tak sengaja mendengar perbincangan istri dan kedua mertuanya.

__ADS_1


"Maafkan saya ayah!"


Azril berlutut di depan Ayah Alia.


"Hei apa yang kau lakukan sayang!" Alia pun reflek ikut berlutut di samping suaminya dan memegang lengannya.


Sedangkan Pak Amir bersikap tenang.


"Maafkan saya jika saya sudah menyakiti putri anda, tapi saya mohon jangan bawa istri saya pulang ayah, saya sangat mencintainya." ucap Azril dengan masih berlutut dan menundukkan kepalanya.


"Kalau kamu mencintainya kenapa kamu tega akan menduakannya? Mungkin Alia terlihat setuju karena besarnya rasa cintanya padamu tapi apakah kamu tahu bagaimana rasa sakit yang dirasakannya? Dia mencoba tersenyum dan bahagia demi kebahagiaan kamu." ucap Ayah yang begitu tahu sifat putrinya.


"Tapi ayah, saat ini Alia sangat bahagia hidup bersama Bang Azril, Alia tidak mau pulang bersama ayah." ucap Alia memandang teduh wajah ayahnya dengan tatapan memohon.


"Ayah hanya tidak mau kamu disakiti dan tindas nak, kita memang orang nggak punya tapi kita berhak bahagia dan masih memiliki harga diri."


"Maafkan saya ayah, saya berjanji hal itu tidak akan pernah terjadi lagi, saya akan membahagiakan putri anda dan mencintainya sepenuh hati. Saya menyesal pernah menyakitinya."


Ayah terdiam dan berfikir sejenak, dia juga melihat raut keseriusan Azril mengatakan itu.


"Baiklah, kali ini ayah tidak akan membawa putri ayah, tapi harus kamu ingat jika kamu menyakitinya ayah tidak akan segan lagi untuk membawanya pergi jauh darimu." ucap Pak Amir dengan tegas.


"Baik Ayah, terimakasih banyak."


"Berdirilah!"


Azril pun mengangguk lalu berdiri.


Lalu setelah membereskan semuanya barang-barang bawaannya ke mobil, keluarga Alia pun pamit pulang dari rumahnya.


Tadinya Pak Amir dan Bu Siti akan pamit juga pada Umi Fatimah, tapi Umi Fatimah sudah tertidur pulas.


***


Setelah kepergian keluarganya, Alia dan Azril pun masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Alia melepas hijabnya dan mengerai rambut coklatnya yang panjangnya dan indah itu, lalu meloloskan gamisnya dan akan berganti dengan baju daster.


Sedangkan Azril sudah bertelanjang dada dan berbaring di ranjangnya, tapi saat melihat tubuh istrinya yang hanya memakai dal**** saja tiba-tiba g41r4h-nya muncul.


Saat Alia berjalan menuju lemari akan mengambil daster miliknya, tiba-tiba suaminya memeluknya dari belakang dan menciumi punggung juga leher putihnya bertubi-tubi.


"Akh! Sayang!" Alia tanpa sadar mend***h karena merasakan bibir suaminya menelusuri semua bagian belakang tubuhnya.


"Jangan berfikir untuk pergi dariku sayang! Kau tahu aku sangat mencintaimu sampai kapanpun!" bisik Azril di telinga sang istri, lalu dia melanjutkan aksinya lagi.


"Tidak sayang! Sshhh.. Akh!"


Alia semakin meng3r**9 saat sang suami mulai mengulum buah cerry miliknya dengan sangat rakus.


Lalu setelah itu, tanpa sadar keduanya pun sudah tak memakai sehelai benangpun dan pindah ke ranjang favorit mereka untuk menunaikan pemenuhan nafkah batin keduanya, merasakan kenikmatan duniawi bersama-sama.

__ADS_1


Azril membuat istrinya terbang berkali-kali, seolah menunjukkan pada istrinya jika dia hanya mencintai wanita itu, hanya wanita di hatinya bukan wanita lain.


__ADS_2