Khadijah Sang Bidadari Surga-ku

Khadijah Sang Bidadari Surga-ku
Bab 29. Pekerjaan Baru


__ADS_3

Selama satu minggu ini, Alia dan Azril sering pergi keluar untuk mengurusi penjualan vila mereka, sedangkan Umi Fatimah dirawat oleh salah satu pembantu lama di mansion mereka yang dulu, bernama Bi Eni.


Bi Eni seorang janda berusia 45 tahun memiliki 2 putra yang masih sekolah di kampung dan keduanya dirawat kakek neneknya. Bi Eni rutin mengiriminya uang untuk biaya sekolah mereka saat dia bekerja di mansion dulu.


Alia tak sengaja bertemu Bi Eni saat dia belanja di pasar dan mampir ke sebuah toko kelontong yang ternyata adalah tempat Bi Eni bekerja.


Waktu itu Bi Eni dimarahin oleh Bossnya karena tak sengaja memecahkan gelas kesayangan Bossnya. Dia diminta ganti rugi 2 juta saat itu juga, karena gelas itu Bossnya beli dari luar negeri.


Bi Eni meminta maaf dan menangis, jangankan uang 2 juta bahkan untuk bayar kos dua bulan saja dia tidak bisa. Dia berjanji pada Bossnya akan mencicil uang itu dengan gajinya, tapi Bossnya tetap marah dan tidak mau tahu.


Saat itu Alia yang melihat kejadian itu pun datang menghampiri Bi Eni, Alia memberikan uang 2 juta pada Boss toko itu untuk mengganti gelas yang Bi Eni pecahkan dari uang tabungannya.


Setelah semua urusan beres, Bi Eni memutuskan untuk mengundurkan diri dari toko itu, dia tidak ingin memiliki Boss kejam seperti itu dan berjanji pada Alia akan mencicil uang yang Alia keluarkan untuknya saat dia sudah menemukan pekerjaan baru.


Tapi Alia mengajaknya ke rumah barunya bersama sang suami, dia menawarkan Bi Eni untuk membantu merawat sang ibu mertua. Alia juga tidak mempermasalahkan uang 2 juta, dia memberikan uang itu ikhlas untuk Bi Eni.


Tawaran Alia sungguh disambut baik oleh Bi Eni, dia merasa sangat beruntung bertemu nona mudanya yang baik hati itu.


Dan hari itu juga Alia membantu Bi Eni beberes di kos Bi Eni untuk diajaknya pindah ke rumahnya, dia juga membayarkan tunggakan kos Bi Eni.


***


Pagi itu, setelah sarapan bersama, Alia dan Azril pamit pada Umi Fatimah untuk meninjau lokasi yang akan mereka beli untuk usaha baru mereka.


"Umi, maaf kamu harus tinggal lagi karena kami harus meninjau lokasi untuk usaha baru kami." ucap Azril sembari menggenggam tangan Uminya.


"Tidak apa-apa sayang, umi doakan semuanya lancar."


"Amin.. Ya Robbala'laminn.." ucap Azril, Alia dan Bi Eni bersamaan.


"Saya titip umi ya bi! Tolong kalau ada apa-apa segera hubungi saya!" pinta Azril pada Bi Eni.


"Baik Tuan muda, anda jangan khawatir. Saya akan menjaga nyonya besar dengan baik dan segera menghubungi anda jika terjadi sesuatu." jawab Bi Eni.


Akhirnya Azril dan Alia pun pergi dari rumah mereka menuju ke lokasi.


Azril dan Alia pun akhirnya membeli sebuah tempat bekas cafe yang sudah lama tidak digunakan. Cafe itu tidak begitu besar, tapi letaknya begitu strategis, berada di pusat kota.


Mereka mulai menata tempat itu dan mengecatnya ulang agar terlihat bersih dengan dibantu para pekerja yang mereka sewa.


"Kamu lelah sayang?" tanya Azril yang mengelap keringat yang ada di dahi istrinya dengan tissu.


Alia sedang membersihkan pintu kaca dengan penuh semangat. Cafe sekaligus toko roti ini adalah impiannya, dia sangat bahagia dan sangat bersyukur.


"Nggak sayang," Alia tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.


"Ini sudah sore sayang, ayo kita pulang! Besok kita bisa lanjutkan lagi,"


"Iya sayang," ucap Alia yang kemudian membereskan peralatan bersih-bersihnya.


Dan mereka pun kembali ke rumah mereka.


***


Hampir dua minggu berlalu.. Alia dan Azril mempersiapkan tempat usaha baru mereka agar segera bisa dibuka. Saat persiapan sudah mencapai 90%, mereka mempromosikan Cafe mereka dengan gencar di sosial media maupun menyebar selebaran di sekitar jalan raya dekat Cafe mereka.


Umi Fatimah pun sangat bahagia melihat putra dan menantunya yang kompak dan begitu semangat, dia sangat mendukung keduanya.


Hingga hari pembukaan Cafe dan Toko Roti itu pun telah tiba, Alia dan Azril memberikan diskon 20% untuk semua menu mereka kepada para pelanggan baru.


Di hari pertama pembukaan, Cafe mereka begitu ramai. Alia sibuk di dapur di bantu suami, Bi Eni juga para karyawannya.


Karyawan mereka masih sedikit hanya ada 6 orang, dua orang di dapur, dua orang waiters, satu orang penjaga etalase roti dan satu orang kasir.

__ADS_1


Azril juga membantu karyawannya mondar-mandir mengantarkan pesanan pelanggan.


Saat keluarga Alia datang pun mereka juga membantu Alia dengan kompak.


Omar membantu mencatat pesanan dan mengantarkan pesanan para pelanggan


Anin, dan ibunya membantu Alia di dapur, sedangkan Ayah membantu karyawan Alia yang sedang mengambilkan beberapa roti pesanan pelanggan di etalase.


"Ini ibu kenapa malah ikut di dapur sih?" protes Alia, "Harusnya ibu di depan aja sambil santai-santai menikmati suasana cafe bukannya malah disini."


"Nggak apa-apa Al, kan Cafe lagi rame biar lebih cepat ibu bantu, ibu nggak keberatan kok sayang." ucap Ibu.


"Tapi ibu nggak boleh capek ya! Ibu kerjain yang gampang-gampang aja!" pinta Alia.


"Iya sayangku,"


Umi Fatimah pun duduk di samping meja kasir sembari melihat pelanggan yang datang pergi silih berganti. Dia juga melihat keluarga Alia dan putranya begitu kompak, ingin rasanya dia ikut membantu mereka, tapi apalah daya dia masih belum bisa apa-apa.


Banyak pelanggan yang memuji masakan dan roti buatan Alia, Umi Fatimah sangat bangga dengan kelebihan sang menantu.


"Ini baru awal, semoga putra dan menantuku diberikan lancar rizkinya dan maju terus usahanya." doa Umi Fatimah.


"Amin.. Ya Robbala'laminn.." Gita si petugas kasir pun mengamini ucapan Ibu dari Bossnya.


"Terimakasih ya nak!" ucap Umi tersenyum pada Gita.


"Sama-sama nyonya,"


Saat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Cafe pun tutup telah tutup.


Alia bersama suami dan ibu mertuanya kembali ke rumah begitu juga keluarganya yang kembali ke rumah mereka.


Hari ini Alia sangat puas, dia mengira Cafe ini tidak akan terlalu ramai tapi ternyata lebih ramai dari yang dia bayangkan. Dia pun semakin bersemangat menambahkan menu-menu baru pada masakan dan roti buatannya.


***


Cafe Alia sudah lumayan ramai, disamping karena harganya yang bisa di jangkau semua kalangan, semua masakan, kue maupun roti buatan Alia sangat banyak diminati pelanggan.


Hari itu, Azril menerima telpon dari seseorang yang ternyata adalah Staff dari sebuah perusahaan ternama.


Orang itu mengabarkan jika Azril diterima di perusahaan milik Bossnya sebagai kepala divisi produksi.


Azril sangat senang lamaran kerjanya diterima, dia segera mencari istrinya di dapur dan mengabarkan kabar bahagia itu.


"Sayang, aku diterima kerja. Mulai besok aku bisa bekerja sayang!" ucap Azril pada istrinya dengan binar bahagia.


"Alhamdulillah Ya Allah.. Selamat ya sayang!" Alia memeluk suaminya.


Sebenarnya Alia tidak ingin suaminya bekerja pada orang lain, dia menyarankan untuk membuka usaha kecil-kecilan sendiri dengan uang tabungan mereka yang tersisa, tapi Azril tidak ingin memulainya dengan setengah-setengah, dia merasa masih memerlukan banyak modal untuk usaha impiannya, yaitu dibidang otomotif.


"Terimakasih ya sayang!" Azril menggusap kepala istrinya dengan lembut, ingin sekali dia mencium dahi istrinya tapi sayangnya dua karyawan berada di dapur.


Dua karyawan wanita itu hanya cengir-cengir melihat keromantisan pasangan Bossnya itu.


Keesokan paginya, sebelum Alia berangkat ke Cafe, dia mempersiapkan segala keperluan suaminya yang akan berangkat bekerja.


Dia memilihkan setelan jas juga memakaikan dasi untuk suaminya.


"Wow tampan sekali sayang!" puji Alia saat selesai merapikan dasi suaminya.


"Terimakasih sayang, setiap hari suamimu ya begini tidak ada perubahan. Kamu saja yang terlalu memuji,"


"Tapi selalu tampan kok buatku, mau pakai baju apapun." pujinya lagi.

__ADS_1


"Hm, kalau tampan begini apa kamu nggak takut aku dilirik perempuan lain?" goda Azril.


"Aku percaya kok sama Abang, seorang suami yang Sholeh akan menjaga pandangannya dari perempuan lain."


"Amin.. Insyaallah sayang, aku niat bekerja untukmu dan keluarga kita bukan niat yang lain."


"Iya sayang, aku percaya kok."


Alia pun mengangguk tersenyum dan memeluk suaminya seolah enggan melepaskannya.


Selama berbulan-bulan ini mereka selalu bersama-sama kemanapun itu, sekarang dia harus berpisah beberapa jam dengan suaminya, walaupun belum terbiasa tapi mau tidak mau dia harus siap kalau suatu saat mereka akan jarang bertemu dan sama-sama sibuk.


Dan mereka pun akhirnya sarapan bersama dengan Umi Fatimah dan Bi Eni seperti biasa, sebelum Azril berangkat kerja.


***


Beberapa menit kemudian, Azril pun telah sampai di perusahaan tempatnya bekerja.


Dia melangkahkan kakinya dengan ringan ke perusahaan itu


Beberapa karyawan wanita memandangnya dengan tatapan mendamba.


Sosok tinggi besar dengan wajah bak pangeran Dubai itu sungguh membuat segar mata mereka yang tadinya masih mengantuk.


Mereka melemparkan pandangan pada Azril sembari tersenyum.


Azril pun membalas senyuman mereka sekilas.


Saat dia menanyakan pada seorang Resepsionis, Resepsionis itu mengatakan jika Azril sedang ditunggu oleh owner perusahaan itu di atas.


Dan Azril pun naik ke ata melalui lift karyawan menuju ke ruang owner perusahaan.


"Selamat siang nona, apa saya bisa bertemu dengan owner perusahaan?" tanya Azril pada salah satu sekretaris perusahaan itu.


Sekretaris itu hanya bisa mengangguk tanpa bisa mengalihkan pandangannya pada wajah tampan Azril.


"Astaga! Tampan sekali, dia ini manusia apa malaikat coba?" gumam sekretaris itu dalam hatinya.


Lalu setelah selesai menelpon Bossnya, si sekretaris itu pun mengantarkan Azril ke ruang Bossnya.


"Tok! Tok!"


"Masuk!" jawab seorang perempuan dari dalam.


Azril dan si sekretaris itu pun masuk.


"Bu Keysha, ini kepala divisi baru yang akan bekerja di perusahaan anda."


Terlihat pemilik perusahaan sedang berdiri di depan jendela ruangannya dan menikmati pemandangan yang ada di luar gedung. Rambutnya coklat tergerai panjang tertiup angin semilir, baju kerjanya terlihat mewah, elegan dan se**sy. Wajahnya juga sangat cantik dan menawan, usianya sekitar 30 tahun.


"Hm, kamu boleh pergi!" ucap wanita bernama Keysha itu, dia menoleh ke arah Azril dan memandang sekilas pria itu.


"Selamat pagi Bu," sapa Azril.


"Selamat pagi juga Pak Azril, silahkan duduk dulu!"


Keysha duduk di kursi kebesarannya dan Azril duduk di depannya.


Mereka berbincang basa-basi sebentar mengenai pekerjaan Azril maupun pengalamannya yang lain. Sebenarnya orang baru seperti Azril tidak bisa langsung menjadi kepala divisi karena Keysha belum mengetahui secara nyata kinerja Azril, tapi wanita itu memberikan kesempatan Azril selama 3 bulan.


Jika dalam 3 bulan bulan kinerja Azril bagus, Keysha tidak akan menurunkan jabatannya.


"Selamat bergabung di perusahaan saya, semoga anda tidak mengecewakan saya Pak Azril." ucap Keysha yang mengulurkan tangannya di depan Azril.

__ADS_1


"Terimakasih sudah memberikan kesempatan Bu, saya juga berharap tidak akan mengecewakan kesempatan yang anda berikan." ucap Azril tersenyum manis sembari membalas uluran tangan Keysha.


__ADS_2