
"Maaf untuk apa bang? Abang sudah melakukan yang terbaik, terimakasih," jawab Alia.
Azril semakin tidak tega, dia tahu jika Alia sangat terluka dan bersedih dengan permintaan Umi-nya. Tapi dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk menolak permintaan Umi-nya tanpa harus menyakiti keduanya.
Azril menghela nafasnya panjang, dia binggung bagaimana memilih kata-kata yang tepat untuk menghibur sang istri, dia memang pernah mencintai gadis bernama Nabila itu, tapi dia tidak ingin menikahi gadis itu lagi dan telah mengubur perasaannya dalam-dalam.
"Ayo kita sholat magrib dulu bang lalu kita makan malam dan kembali ke rumah sakit lagi. Aku takut Abah dan Umi membutuhkan bantuan kita," ajak Alia dengan lembut.
"Iya sayang, terimakasih."
"Cupp!"
Azril mengecup singkat dahi sang istri, lalu pergi menggandeng sang istri untuk mencari masjid dan restoran terdekat.
Setelah menyelesaikan ibadah dan makan malamnya, Azril dan Alia kembali ke rumah sakit lagi.
Suasana keduanya sudah tidak sedih dan tegang lagi, sepanjang menuju ke rumah sakit mereka tertawa dan bercanda. Sesekali Azril mengecup tangan sang istri, dia telah mencintai wanita itu dan akan menerima apapun kekurangannya.
"Assalamualaikum.." salam Azril dan Alia saat memasuki ruangan Abah Faruq dirawat.
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab kedua orangtua Azril.
"Kalian akan menginap lagi disini?" tanya Abah Faruq.
"Iya Bah, kami akan selalu menemani Abah sampai Abah sehat kembali." Jawab azril tersenyum manis.
"Terimakasih ya Ril, Alia."
"Sama-sama Abah," jawab mereka bersamaan.
Mereka bertiga pun bercanda dan bercerita seperti biasanya bersama Abah.
Sedangkan Umi memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahukan suaminya tentang Azril yang akan menikah dengan Nabila, apapun caranya dia akan membuat suaminya menyetujui pernikahan mereka nanti.
***
Selama satu minggu, Abah dirawat intensif di rumah sakit dan semakin lama keadaannya semakin membaik. Istri, putra dan menantunya juga setia mendampinginya.
Hari ini Abah sudah diperbolehkan dokter pulang, dia sangat bahagia dan sangat merindukan mansion miliknya. Dia berharap setelah ini bisa bahagia tanpa harus memikirkan adik-adiknya yang tak pernah menghormati dan menganggapnya itu.
Dia bersyukur masih dikelilingi keluarganya yang sangat menyayanginya, bahkan istrinya tahu jika dia sakit setelah bertengkar dengan adik-adiknya tapi tidak sedikitpun sang istri bertanya ataupun membahasnya.
Azril, putranya juga sebenarnya sudah tahu jika Abah sering menggunakan uang perusahaan untuk memenuhi kebutuhan adik-adiknya tapi Azril memilih diam dan tak bertanya apapun.
Sungguh dia beruntung memiliki istri dan putra yang selalu menyayanginya dengan tulus.
"Sayang, nanti masaklah yang enak! Kita akan makan malam sama-sama untuk merayakan kesembuhan Abah," ucap Azril pada Alia.
Mereka masih dalam perjalanan ke arah Mansion mereka.
"Baiklah bang, dengan senang hati." Alia pun tersenyum manis.
__ADS_1
"Terimakasih ya anak-anakku, kalian kebahagiaan Abah," ucap Abah dengan perasaan haru.
"Sama-sama Abah," jawab keduanya.
Selang beberapa menit berlalu, kini mereka pun telah sampai di mansion.
Umi membawa Abah ke kamar mereka agar beristirahat, sedangkan Azril berpamitan untuk kembali ke kantor dan Alia berpamitan untuk mengikuti kelas memasaknya.
***
Malam harinya, mereka berempat pun makan malam bersama untuk merayakan kesembuhan Pak Faruq.
Semua masakan enak dan mewah dimasak sendiri oleh Alia dibantu oleh para pelayan.
Umi Fatimah mengakui kehebatan Alia dalam hatinya, tapi itu tidak juga membuatnya menjadi suka pada sang menantu. Dia hanya makan dalam diam sembari merasakan kelezatan makanan yang dihidangkan di meja.
Berbeda dengan Azril dan Pak Faruq yang terus memuji kelezatan masakan Alia.
Bahkan Pak Faruq ingin membukakan restoran dan toko bakery untuk sang menantu kesayangan.
"Bagaimana Al? Apa kamu ingin Abah membukakan restoran untukmu besok?" tanya Pak Faruq dengan antusias.
"Saya belum percaya diri dengan hasil masakan dan roti saya Abah, saya rasa ilmu saya belum mumpuni, saya harus belajar lebih banyak lagi." ucap Alia malu-malu.
"Tapi Abah sangat menyukai hasil masakan dan roti buatanmu Al, sama enaknya seperti restoran langganan Abah. Abah rasa kamu sudah mahir," puji Pak Faruq.
"Maaf Abah saya rasa, istri saya belum siap untuk membangun usaha di bidang kuliner Bah, nanti saja nunggu dia benar-benar siap dan sudah percaya diri dengan kemampuannya," sela Azril.
"Terimakasih Abah," Alia mengangguk tersenyum.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, kini mereka tengah duduk bersantai di ruang keluarga.
Azril dan Abah nampak serius membicarakan pekerjaan, Alia duduk disamping suaminya menyimak pembicaraan keduanya dan sesekali berbalas chat dengan teman-teman kerjanya dulu.
Umi Fatimah sendiri sedang menonton serial drama favoritnya, dia juga duduk di samping sang suami.
"Bah, Umi mau ngomong tapi Abah jangan terkejut ya?" ucap Umi Fatimah ragu-ragu.
"Baik sayang, aku dengarkan." jawab Abah sembari memandang mata sang istri.
"Satu minggu lagi, Azril dan Nabila akan menikah. Abah setuju kan?" tanya Umi dengan perasaan gelisah, dia takut sang suami menentang keinginannya.
"Putramu akan menikah lagi dengan gadis itu? Gadis itu yang sudah meninggalkan putra kita, kenapa umi masih menerimanya?" tanya Abah yang sedikit terkejut.
"Tapi ini keinginan Azril juga Bah, dan Alia pun menyetujui pernikahan ini. Azril dan Nabila sepertinya masih saling memiliki perasaan Abah," ucap Umi sedikit berbohong.
Dia hanya tidak ingin sang suami tahu jika menantu pertama mereka susah memiliki keturunan, dia mencari alasan lain agar suaminya tidak tahu kenyataan buruk itu.
"Apa benar yang dikatakan Umi-mu Ril? Apa kamu masih mencintai wanita lain selain istrimu?" tanya Abah kini memandang putra kesayangannya.
Azril menjadi tegang, dia binggung harus menjawab apa. Jika dia bilang tidak lagi mencintai Nabila pasti Uminya akan marah karena pernikahannya dengan gadis itu otomatis akan gagal, dan bisa saja Uminya berbuat nekad.
__ADS_1
Tapi jika dia mengatakan masih mencintai Nabila dia akan melukai perasaan istrinya, padahal kenyataannya dihatinya sudah tidak ada nama Nabila sama sekali.
"Be.. Benar Abah, saya masih memiliki perasaan pada gadis itu, saya yang meminta pernikahan ini dan Alia menyetujuinya." ucap Azril dengan terpaksa.
"Ya Allah lemah sekali aku ini, kenapa aku malah bilang begitu? Harusnya aku bisa menolak keinginan umi, tapi kalau umi menyakiti dirinya sendiri bagaimana? Ya Allah aku mohon bantuanlah hamba, hamba tidak ingin menikah dengan orang lain lagi, cukup satu saja." doa Azril dalam hati.
Sedangkan raut wajah Alia tiba-tiba menjadi muram, saat mengetahui perasaan suaminya yang sebenarnya. Dia kira apa yang diucapkan suaminya itu benar adanya, hatinya begitu sangat sakit seperti ditusuk pisau tak kasat mata.
"Abah tahu kamu memiliki cukup syarat untuk melakukannya. Tapi apa alasan kamu ingin menduakan istrimu Ril? Kamu harus memiliki alasan yang kuat untuk poligami, walau Alia sudah setuju tapi kita tidak tahu seperti apa di dalam hatinya. Jika dia tidak ikhlas kamu yang akan berdosa," nasehat Abah.
Azril tegang lagi, dia tidak tahu harus menjawab apa, dia sendiri tidak memiliki keinginan untuk poligami. Mana mungkin dia bilang Abah kalau semua ini keinginan Umi-nya.
"Abah, sudahlah Abah.. kita restui saja keinginan mereka. Yang penting kan Alia setuju dan tidak merasa keberatan, bukan begitu Al?" tanya Umi memandang Alia.
"I.. Iya Umi.. Abah.. Saya ikhlas dan tidak keberatan dengan pernikahan kedua Bang Azril," ucap Alia berpura-pura tersenyum.
"Apa Abah mau nanti tiba-tiba Azril berhubungan dengan Nabila di belakang istrinya? Kan malah jadi dosa Bah, lebih baik kita restui dan doakan saja semoga mereka bertiga rukun." ucap Umi membujuk suaminya.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi kesepakatan kalian, Abah akan merestui. Abah cuma berpesan jangan menyakiti hati istrimu dan kamu harus bersikap adil pada mereka, Ril!" ucap Abah pada sang putra.
"Baik Abah,"
"Dan buat kamu Al, kamu juga anak Abah, jika suamimu menyakitimu dan berbuat tidak adil padamu, tolong katakan pada Abah. Abah akan menjagamu dan melindungimu." ucap Abah menatap sendu mata sang menantu.
"Baik Abah, terimakasih banyak." Alia tersenyum manis.
Abah dan Umi pun kembali ke kamar mereka karena waktu telah menunjukkan pukul 9 malam.
Abah sekarang lebih sering mengantuk karena pengaruh obat.
Alia pun juga kembali ke kamarnya, sedangkan Azril pamit pada istrinya akan menyelesaikan sedikit pekerjaannya di ruang kerja pribadinya.
Saat telah sampai di kamar, Alia segera ke kamar mandi, dia menangis tersedu-sedu. Belum juga kering airmatanya karena hal buruk yang menimpanya, kini sebentar lagi dia harus berbagi suami dengan wanita lain.
Beberapa pertanyaan muncul dibenaknya. Apakah dia sanggup menjalani semua ini? Apakah hatinya bisa ikhlas? Bahkan saat suaminya dilirik perempuan lain saja dia sangat cemburu dan tak ikhlas, lalu bagaimana jika suaminya benar-benar tidur dengan istri keduanya nanti? Apakah dia bisa menghadapi itu? Dia terus menangis hingga airmatanya tak sanggup keluar lagi.
Dia melakukan semua ini demi kebahagiaan suaminya, mungkin jika suaminya tak mencintainya lagi dia akan mundur perlahan dan membiarkan mereka hidup bahagia.
Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur, sungguh dia tidak sanggup berfikir lebih banyak lagi, hati dan pikirannya sudah terlalu lelah.
"Ya Allah Sang Maha Membolak-balik Hati, hamba tahu ini semua adalah takdir yang engkau tuliskan untuk kami, jika memang takdir hamba harus dipoligami hamba akan menerima semuanya dengan ikhlas Ya Rabb. Tapi hamba mohon berikan hamba ketenangan hati dan kesabaran menghadapi semua ini," doa Alia dalam hati.
Dia pun akhirnya tertidur dengan airmata yang mengering di pipinya.
Pukul 12 malam, Azril baru masuk ke kamarnya karena tadi dia ketiduran di ruang kerjanya, dia mendapati sang istri yang sudah tertidur dengan lelap.
Dia juga tahu Alia baru saja menangis dan memandang teduh wajah sang istri lalu menyelimuti tubuh istrinya.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku harus menyakitimu. Aku nggak bisa berbuat apapun untuk mencegah keinginan Umi-ku." gumam Azril dengan lirih.
Dia tidak segera tidur tapi dia pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat malamnya.
__ADS_1