
Alia sontak menoleh dengan tatapan cemas.
"Abang kenapa? Ada masalah apa bang?" tanya Alia dengan raut wajah yang khawatir.
"Ini masalah hati sayang, sepertinya udah lama banget ya aku nggak dimanja sama istri cantikku ini. Aku kangen banget dengerin kamu d3s4h1n nama aku sayang," goda Azril menatap nakal mata sang istri.
"Blussshh!"
Pipi Alia merona karena malu.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Abang! Ini kan di rumah sakit, lagipula Umi lagi sakit bisa-bisanya kepikiran urusan ranjang!" ucap Alia salah tingkah dan memukul pelan bahu suaminya.
Azril pun terkekeh melihat istrinya yang malu dan salah tingkah, wanita itu selalu saja membuatnya sangat gemas. Dia benar-benar tidak tahan melihat wajah cantik yang kemerahan itu, dia menangkap kedua tangan istrinya lalu mengecup b***ir sang istri dengan lembut.
"Cupp!"
Alia pun terdiam karena terkejut mendapat serangan dadakan sang suami, tapi lama-lama dia membalas ciuman sang suami dengan tak kalah agresifnya.
Jujur dia juga sangat merindukan belaian sang suami, sejak Umi Fatimah memutuskan untuk menikahkan suaminya dengan wanita lain, hubungan mereka menjadi sedikit renggang dan dingin walau Azril sendiri masih terus perhatian dan sayang padanya, tapi Alia sering menghindari suaminya, dia bahkan sering tidur duluan sebelum sang suami kembali ke kamar mereka.
Tapi kini pria yang dicintainya itu satu-satunya miliknya, dia akan menjadi istri yang baik lagi, mencurahkan segala cinta dan kasih sayangnya pada sang suami.
Lama mereka berciuman seolah mencurahkan segala rasa rindu yang begitu besar di dalam dada keduanya, hingga akhirnya Alia terpaksa melepaskan tautan mereka karena takut jika ibu mertuanya membutuhkan sesuatu.
"Bang, kasian Umi kalau tiba-tiba butuh bantuan." Alia mengingatkan suaminya.
"Iya sayang, terimakasih." Azril menyentuh pipi istrinya sekilas.
Lalu keduanya pun keluar dari kamar mandi dan melihat ternyata Umi Fatimah sudah tertidur pulas.
"Wah umi udah tidur ternyata, bagaimana kalau kita terusin lagi yang tadi sayang?" goda Azril sembari menarik turunkan alisnya.
"Dasar Abang mesum!" Alia memalingkan wajahnya karena malu.
***
Satu minggu lebih Umi Fatimah dirawat di rumah sakit, dan setiap pagi pula Alia selalu pulang ke rumah barunya untuk memasakkan untuk Ibu mertua dan sang suami. Dia bersyukur masih memiliki tempat tinggal yang nyaman untuk mereka tempati sepulang dari rumah sakit nanti.
Hari ini Umi sudah diperbolehkan dokter pulang karena kondisinya sudah lebih baik dan stabil, dokter juga menyarankan agar Umi menjalani terapi mulai minggu depan. Mulai saat ini, Umi menggunakan kursi roda untuk memudahkan Azril dan Alia mengurusnya.
Hampir 40 menit mobil Azril membelah keramaian jalan raya, akhirnya mereka pun sampai di rumah baru mereka. Azril memarkirkan mobilnya di halaman rumah barunya, rumahnya tidak terlalu besar tapi memiliki halaman luas di depan bangunan rumah itu.
Saat Umi Fatimah telah turun dibantu putra dan menantunya, dia menyapukan pandangannya ke seluruh arah, ini adalah kali pertama dia melihat rumah baru yang akan mereka tempati.
"Maaf umi, Azril tidak bisa membelikan Umi mansion besar dan mewah seperti milik kita yang dulu, tapi Azril akan berusaha membahagiakan umi setiap waktu. Azril akan berusaha mencari pekerjaan dan giat bekerja untuk membahagiakan kalian berdua," ucap Azril yang khawatir jika sang ibu tidak menyukai tempat tinggal baru mereka.
"Tidak nak, ini sudah lebih dari cukup buat Umi, makasih banyak ya putra kesayangan umi. Kamu benar-benar anak yang berbakti, umi selalu bangga padamu sayang." ucap Umi dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama umi, umi tidak harus mengatakan terimakasih padaku, Umi adalah segalanya dan yang terpenting bagiku, ayo kita masuk umi! Biar Azril tunjukkan kamar baru Umi," ajak Azril dan Umi Fatimah pun mengangguk tersenyum.
__ADS_1
Setelah mengantarkan Uminya beristirahat di kamar barunya, Azril pun kembali ke kamar bersama sang istri.
Alia menata semua bajunya dan baju suaminya.
Sedangkan Azril mulai membuat lamaran kerja yang akan dikirimkan di beberapa perusahaan swasta.
Dia terlihat memangku dagunya diatas meja dengan satu tangannya dengan tatapan menerawang ke arah luar jendela. Sesuatu sedang menganggu pikirannya, dan sudah pasti itu adalah masalah keuangan.
Tabungan hanya tersisa 1/4 dari sebelumnya, dia takut jika sisa tabungannya tidak cukup untuk pengobatan sang ibu. Dia berfikir keras bagaimana bisa mendapatkan uang yang banyak dengan cepat, dia hanya ingin pengobatan yang terbaik untuk sang ibu agar bisa pulih seperti sedia kala.
Alia yang merasakan kegelisahan sang suami pun mendekati suaminya.
"Apa yang mengganggu pikiran anda Pak Ustadz ganteng?" goda Alia yang tersenyum di depan sang suami.
Godaan Alia pun membuyarkan lamunannya, dia menatap sang istri dan membalas senyumannya.
"Nggak ada apa-apa sayang," Azril berpura-pura baik-baik saja.
Tanpa banyak bicara Alia pun duduk di pangkuan suaminya, dia mengecup bi**r suaminya dengan lembut dan agresif.
Sedangkan Azril yang telah lama tidak mendapatkan sentuhan dari sang istri sontak membalas c***man itu tak kalah panasnya.
"Hmpphh.. Hentikan sayang!" Alia menjauhkan wajahnya, "Kita belum menutup jendelanya, takut kalau tiba-tiba ada yang liat dari luar." ucap Alia mengingatkan sang suami.
"Oke sayang, karena kamu sudah membangunkan harimau yang sedang lapar, jangan harap kamu bisa terlepas dari harimau ini! Aku akan memakanmu sampai habis!" Azril tersenyum nakal.
"Dasar kucing penggoda! Awas kamu ya!"
Azril pun menutup jendelanya lalu berlari kecil ke arah ranjangnya dan masuk ke dalam selimut bersama sang istri.
Tanpa banyak bicara lagi dia menyerang istrinya tanpa ampun, membuka pakaian istrinya dan menyentuhnya dengan lembut tanpa melewatkan se-inci pun dari t**uh istrinya.
Hingga akhirnya keduanya pun menyatu dan terbang ke awang-awang bersama, meluapkan perasaan cinta dan rindu mereka yang beberapa minggu sempat tertahan.
Setelah keduanya menyelesaikan pemenuhan nafkah batin sampai berkali-kali dan merasa sama-sama kelelahan, akhirnya Azril dan Alia pun pun berbaring dengan posisi sama-sama terlentang, tapi lagi-lagi pandangan Azril menerawang ke atas.
"Apa abang menganggapku istri?" tanya Alia memiringkan tubuhnya dan menatap intens sang suami.
Sedangkan Azril pun menoleh dengan cepat ke arah istrinya, "Itu sudah pasti sayang, kenapa meragukan itu?"
"Kalau begitu ceritakan, apa yang membuat beban pikiran Abang? Kita sudah berjanji kan, kita harus saling terbuka sayang!" Alia mendesak suaminya.
"Oke sayang, aku ceritakan tapi kamu cukup dengerin aja ya, jangan menjadi beban pikiran kamu!"
"Mana bisa sayang? Apa yang jadi bebanmu juga menjadi bebanku, kita pikul semuanya sama-sama sayang." protes Alia.
"Astaga, istriku yang polos ini semakin lama semakin cerewet aja ya! Cukup katakan 'iya' saja sayang, biar hatiku tenang."
"Iya sayang iya.. Ayo cepat ceritakan!" Alia makin tidak sabar.
__ADS_1
"Sebenarnya ini hanya masalah uang sayang, tabunganku sudah menipis, aku takut tabunganku nggak cukup untuk pengobatan Umi kedepannya. Apalagi aku belum bekerja dan belum ada pemasukan lagi, aku hanya ingin Umi mendapatkan pengobatan yang terbaik dan sembuh seperti sedia kala." ucap Azril yang kemudian menghembuskan nafasnya panjang.
"Abang jangan khawatir, kita kan masih punya vila, kita jual aja vila yang Abang belikan waktu itu."
"Jangan sayang! Jangan jual vila itu," sela Azril dengan cepat.
"Lha kenapa sayang? Kan uang penjualannya nanti, kita bisa pakai untuk pengobatan Umi dan kita bisa memulai usaha kecil-kecilan tanpa abang harus pergi mencari pekerjaan di luar." saran Alia.
"Tapi sayang, vila itu kan sudah menjadi milik kamu. Aku sudah berikan buat kamu, bagaimana mungkin aku mau mengambilnya kembali. Itu sudah bukan hakku,"
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Sejak kapan abang memisahkan harta milikku dan milik abang, semua yang aku miliki juga milik abang! Apalagi semua ini juga dari abang," protes Alia.
"Aku mohon jual saja vila itu sayang, kita lebih membutuhkan uang untuk pengobatan Umi daripada sebuah vila mewah yang tidak terlalu berguna untuk kita saat ini."
Azril terdiam dan berfikir sejenak, pantang sebenarnya baginya mengambil apa yang sudah dia berikan, tapi istrinya memaksanya, apalagi dia juga benar-benar membutuhkan banyak uang saat ini.
"Tunjukkan pada adik-adik Abah, jika dengan kemampuan yang abang miliki, abang juga bisa berdiri sendiri dan sukses nantinya tanpa bantuan dari mereka." Alia memotivasi suaminya.
Azril pun kagum dengan pemikiran Alia, bagaimana bisa wanita itu sangat mengerti keinginannya, padahal Azril sendiri sudah tidak pernah membahas adik-adik abahnya yang tidak tahu diri itu.
"Baiklah sayang, aku akan bangkit dan menunjukkan pada semua orang jika kita bisa lebih sukses dari sebelumnya. Maafkan aku jika terpaksa harus menjual vila kamu sayang," Azril mengelus pipi istrinya dengan lembut.
"Tidak masalah sayang, vila itu juga milikmu tidak usah merasa tak enak. Aku akan selalu berada disampingmu untuk mendukungmu sayang," Alia tersenyum manis dan menciumi tangan suaminya.
"Terimakasih sayangku, aku sangat beruntung memilikimu. Aku mencintaimu istriku,"
"Sama-sama sayang. Aku juga mencintaimu suamiku."
Keduanya pun akhirnya mandi bersama tanpa ada adegan yang menyenangkan kembali, karena mengingat Alia harus memasak makan malam untuk mereka.
Sembari menunggu Alia memasak, Azril mengajak Umi-nya jalan-jalan di depan rumah sekalian berkenalan dengan para tetangga dekat rumahnya.
Beberapa ibu-ibu dan anak-anak muda di kampung itu begitu takjub melihat Azril yang tampan bak pangeran dari Dubai, apalagi mereka melihat Azril begitu sangat menyayangi sang ibu. Benar-benar tipe pria sempurna pikir mereka.
"Selamat sore ibu-ibu.. Mbak-mbak.." Azril menyapa mereka.
"Selamat sore juga mas,"
"Wah mas ini tetangga baru ya? Yang tinggal di depan itu kan, rumah cat putih?" tanya salah satu ibu-ibu disana.
"Benar Bu saya tinggal di rumah bercat putih itu Saya Azril dan ini Umi saya Umi Fatimah, salam kenal ya Bu." ucap Azril dengan ramah, Umi pun juga ikut tersenyum sembari mengangguk pada mereka.
"Salam kenal juga ya Mas Azril, Bu Fatimah.. Semoga betah tinggal di kampung ini," ucap mereka.
"Amin Ya Robbala'laminn.. Terimakasih Bu."
"Eh Mas Azril masih single nggak? Boleh donk daftar jadi calon menantu Uminya kalo benar masih single." ucap salah satu wanita muda dengan tidak tahu malunya.
"Eheemmm!!"
__ADS_1