
Sedangkan Alia hanya terdiam karena begitu terkejut dengan ucapan sang dokter, mendadak dia menjadi wanita yang benar-benar tidak percaya diri.
"Tenang saja Tuan Azril, saya akan lakukan pengobatan yang terbaik untuk istri anda, Insyaallah jika Allah berkehendak, istri anda akan sembuh dan kalian masih bisa memiliki kesempatan untuk mendapat keturunan. Sebaiknya Nona Alia harus rutin pemeriksaan satu minggu sekali, agar saya bisa terus pantau kondisi Nona Alia."
"Baik dok, terimakasih banyak." ucap Azril.
Kemudian dokter itu pun pamit pergi untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain.
Azril pun mengajak istrinya untuk pulang, dia menggenggam istrinya yang masih terdiam dengan tatapan kosongnya.
"Sayang," panggil Azril.
"Iya Bang," Alia menampilkan senyumnya walau hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Jangan bersedih sayang! Aku akan selalu berada disisimu apapun yang terjadi, kita akan terus berusaha dan berdoa. Yakinlah dengan kekuatan doa, Allah akan memudahkan semuanya." ucap Azril menenangkan hati istrinya.
"Iya sayang, terimakasih banyak, telah berlapang dada menerima kekuranganku ini," ucap Alia dengan mata berkaca-kaca sembari menahan tangisnya.
Sekuat apapun hatinya, dia tetap saja bersedih tentang kenyataan buruk yang menimpanya, tapi dia sangat bersyukur bahwa Allah mengirimkan laki-laki yang menerimanya apa adanya.
Azril menghentikan mobilnya di pinggir jalan, kemudian memeluk istrinya karena sudah tak tahan melihat sang istri yang sudah akan menangis.
Alia pun menangis terisak-isak dipelukan sang suami, menumpahkan segala kesedihannya disana.
Azril tak berkata-kata, dia menciumi pucuk kepala istrinya bertubi-tubi dan mengelus punggung sang istri dengan lembut.
Setelah tangisan Alia reda, mereka pun kembali pulang ke Mansion.
Saat tiba di mansion, Umi Fatimah telah menunggu mereka di ruang tengah.
"Assalamualaikum.. Umi," salam keduanya.
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.."
"Sebenarnya Umi kecewa dengan hasilnya, keinginan umi untuk segera memiliki cucu dalam waktu dekat pupus sudah. Tapi yah sudahlah semua sudah terjadi." ucap Umi Fatimah dengan nada kecewa.
Umi Fatimah jelas langsung tahu berita buruk itu karena dokter kandungan itu adalah temannya.
"Degg!!"
Alia meremas ujung bajunya sembari menunduk, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ucapan sang ibu mertua membuat Alia semakin bersedih dan merasa bersalah karena mengecewakan semua orang, dia tiba-tiba merasa tak pantas bersanding dengan suaminya yang sempurna itu.
"Umi sabar ya, kita akan berusaha dan berdoa agar Alia segera sembuh dan Umi segera memiliki cucu. Allah hanya sedang menguji kekuatan cinta kami Umi, tolong umi mengerti keadaan ini!" ucap Azril menenangkan sembari memegang tangan Uminya.
"Hm, kembalilah ke kamar kalian! Umi mau pergi sebentar!"
Azril dan Alia mengangguk lalu berjalan menuju lantai atas di kamar mereka.
Dan saat berada di kamar, Azril terus menenangkan istrinya dan meyakinkan padanya bahwa semua akan baik-baik saja.
***
Di suatu sore, Pak Faruq mendatangi rumah ibunya, untuk menemui adiknya Fara. Kebetulan Nenek Hanifah sedang berada di negara Arab berkunjung ke rumah saudara-saudaranya sembari mengunjungi rumah lamanya.
__ADS_1
Dan benar saja, Fara bersama kedua saudaranya yang lain sedang duduk santai sembari ngobrol dan bercanda akrab di ruang keluarga.
"Akhirnya kita bisa hidup mewah tanpa harus susah payah bekerja, biar saja Abang kita yang bodoh dan putranya yang sombong itu yang bekerja untuk kita," ucap Fara dengan rasa penuh kemenangan.
"Hahaha," Fadil dan Farhan tertawa terbahak-bahak.
"Kamu memang aktris paling jenius dan berbakat Fara, menjual kesedihanmu dan memanfaatkan kebodohan Abang kita untuk kebahagiaan kita, kami jadi nggak harus susah payah bekerja lagi." timpal Fadil.
Saking asiknya berbincang mereka tidak menyadari jika sang kakak yang tengah mereka bicarakan telah berada di balik tembok sekat antara ruang tamu dan ruang keluarga.
"Plok.. Plok.. Plok!"
Pak Faruq muncul sembari menepuk tangannya dengan wajah yang dibuat setenang mungkin padahal dia sangat marah dan kecewa luar biasa. Dia sering mencuri-curi waktu demi adik-adiknya tapi nyatanya adik-adiknya hanya menganggapnya mesin pencetak uang.
"Ba.. Bang Faruq! Sejak kapan Abang datang?" tanya Fara gelagapan.
Ketiganya menjadi salah tingkah karena kebusukan mereka telah ketahuan sang kakak.
"Aku akui jika aku memang bodoh karena terlalu percaya dan menyayangi kalian, tapi kenyataannya kalian hanya memanfaatkan kakakmu ini." ucap Pak Faruq dengan wajah datarnya, dan ketiga adiknya hanya bisa menunduk merutuki kebodohan mereka.
"Aku sangat sangat kecewa pada kalian, terutama padamu Fara. Padahal aku menyayangi kalian lebih dari aku menyayangi istri dan putraku, tapi apa balasan kalian? Lagi-lagi aku hanya dibohongi dan dimanfaatkan oleh kalian. Mulai detik ini, aku tidak akan pernah menganggap kalian ada lagi! Dan jangan pernah menemuiku lagi!"
"Maafkan aku bang, aku.."
Ucapan Fara tertahan saat Pak Faruq menyelanya.
"Jangan beralasan macam-macam lagi Fara, aku sangat tahu jika kamu wanita yang pintar berbohong dan tukang selingkuh! Aku bertemu Andre beberapa hari yang lalu dan dia sudah menjelaskan semuanya!" ucap Pak Faruq menatap tajam sang adik.
Sedangkan Fara semakin mati kutu dan tak bisa mengelak lagi.
Pak Faruq berjalan pergi, sembari menahan dadanya yang terasa sangat nyeri kembali.
"Bang! Bang Faruq.. Maafkan kami Bang!"
Ketiganya mengejar sang kakak dengan mata berkaca-kaca tapi Pak Faruq menepis tangan mereka dan segera masuk mobilnya.
"Ayo jalan!" ucap Pak Faruq pada supirnya, lalu mereka pun pergi jauh meninggalkan Mansion Nenek Hanifah.
"Bre***sek! Kenapa berantakan begini sih! Kalau Bang Faruq nggak ngasi uang kita lagi, dari mana kita uang untuk berfoya-foya lagi!" umpat Fara dengan kesalnya, dia menghapus airmata palsunya.
"Semua gara-gara kamu Fara! Harusnya kamu bisa bicara sama Andre agar tidak mengatakan apapun pada Bang Faruq! Sekarang jadi begini kan!" ucap Fadil tak kalah kesal.
"Kenapa jadi nyalahin aku sih! Ini semua juga gara-gara kalian yang tadi tiba-tiba mulai bicarain Bang Faruq! Bang Faruq jadi dengar semua kan!" Fara melipat tangannya dengan kesal.
"Dasar Andre bre***sek! Awas ya kamu ndre! Dasar laki-laki banci, bisanya cuma ngadu sama bang Faruq aja!" umpat Fara.
Sementara di mobil Pak Faruq sudah jatuh pingsan, asisten dan supirnya segera membawanya ke rumah sakit tempat dokter pribadinya bertugas.
Dokter segera menangani Pak Faruq dan asistennya segera menghubungkan Umi Fatimah dan Azril.
Saat mendapat telepon dari asisten Pak Faruq, baik Umi Fatimah maupun Azril sangat terkejut dan panik. Mereka segera menuju ke rumah sakit bersama Alia juga.
"Apa yang terjadi Gani?" tanya Umi Fatimah pada asisten pribadi suaminya.
__ADS_1
Gani masih muda, umurnya di atas Azril 2 tahun.
"Tuan besar datang ke mansion Nyonya Hanifah dan bertengkar dengan adik-adiknya, Nyonya besar. Saya sendiri tidak tahu apa penyebab pertengkaran mereka, karena saya hanya menunggu di mobil." ucap Gani merasa bersalah karena tidak ikut ke dalam mansion itu untuk mencegah pertengkaran Tuan besarnya.
"Astaghfirullah Hal'adzim.." ucap Umi dan Azril bersamaan.
"Kenapa lagi sih Abah menemui mereka! Sudah tahu adik-adiknya itu hanya benalu masih saja dipedulikan!" ucap Azril kesal.
Alia mengelus punggung suaminya, dia memberikan kode dengan tatapannya agar suaminya tidak marah-marah saat seperti ini.
"Sudahlah Ril, sekarang lebih baik kita berdoa semoga Abahmu segera melewati masa kritisnya," ucap Umi Fatimah.
"Baik umi,"
Selang hampir satu jam berlalu akhirnya dokter dan tim medis keluar dari ruangan Pak Faruq, dokter itu mengatakan jika Pak Faruq telah melewati masa kritisnya tapi dia masih harus dirawat lebih intensif dulu.
Sontak semua menjadi lega, walaupun Pak Faruq belum sadar setidaknya keadaannya telah stabil dan sudah melewati masa kritisnya.
Mereka memandang Pak Faruq yang lemah dan tak berdaya dari balik jendela kaca kamarnya.
Umi Fatimah menangis tersedu-sedu melihat keadaan suaminya yang seperti itu.
Azril yang tak pernah menangis pun akhirnya meneteskan airmatanya.
Alia berusaha tak menangis di depan suaminya padahal dia sendiri sangat bersedih, dia menghapus airmata sang suami dan memeluk suaminya dengan erat sembari mengelus punggung pria tinggi besar itu.
Baru kali ini Alia melihat suaminya menangis, rasanya hati begitu perih seperti diiris pisau tak kasat mata.
***
Keesokan paginya, Pak Faruq terlihat mengerjapkan matanya, dia telah bangun dari tidur panjangnya.
Umi Fatimah yang menungguinya semalam dari luar ruangan bergantian dengan putra dan menantunya, segera memanggil dokter dan tim medis.
Mereka menyewa salah satu ruangan VVIP dan bergantian istirahat disana.
Setelah dokter dan timnya memeriksa kondisi Pak Faruq, dokter itu mengatakan jika Pak Faruq bisa dipindahkan ke ruang perawatan karena kondisinya semakin stabil.
Dan semuanya pun terharu karena bahagia.
Umi Fatimah masuk ke ruangan ICU untuk menemui suaminya dan memberikan semangat padanya.
Pak Faruq pun akhirnya bisa tersenyum bahagia, sungguh dia merasa beruntung memiliki istri yang selalu setia dan mencintainya begitu tulus.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Pak Faruq telah dipindahkan ke ruangan perawatan dengan ditemani sang istri tercintanya.
Azril dan Alia juga masuk ke dalam ruangan perawatan Pak Faruq, mereka menyapa dan menanyakan kabar pria yang mereka sayangi itu.
Dan Pak Faruq mengatakan sudah merasa lebih baik dan sangat bersyukur masih diberikan Allah kesempatan berada ditengah-tengah mereka.
Sore harinya Alia pun kembali ke Mansion sejenak untuk mengambil beberapa pakaian ganti suaminya dan dirinya diantarkan supir pribadi mereka.
Sedangkan pakaian umi dan abah sudah diantarkan kepala ART setelah Pak Faruq dipindahkan tadi.
__ADS_1
Setelah kepergian Alia, tak disangka Nabila dan kedua orangtuanya datang untuk menjenguknya Pak Faruq.
"Assalamualaikum.." ucap Nabila dan kedua pria bersamaan.