
"Bagaimana umi tidak bersedih jika kamu seperti ini?" Nenek Hanifah masih menangis.
"Doakan saja Umi, semoga Allah memberikan kesempatan pada hambanya yang penuh dosa ini," ucap Pak Faruq yang masih bisa tersenyum lembut pada sang ibu.
Nenek Hanifah pun mengangguk lalu mengusap airmatanya.
Setelah beberapa menit berbincang, Nenek Hanifah pun keluar untuk menemui dokter. Tapi sebelumnya, dia berjanji pada sang putra akan datang setiap hari ke rumah sakit dan menemaninya.
Kini giliran Bibi Fara yang menemui sang kakak, dia yang juga akan mewakili kedua saudara yang lain untuk meminta maaf pada kakak pertamanya secara langsung. Karena Azril yang melarang kedua pamannya untuk masuk ke ruangan sang Abah.
Awalnya Abah Faruq sedikit terkejut dengan kedatangan Bibi Fara, tapi Bibi Fara lagi-lagi mengeluarkan airmatanya untuk meluluhkan hati sang kakak.
"Maafkan Fara Bang, Fara menyesal menyakiti Abang. Sekarang hidup Fara menjadi sulit tanpa Abang, Fara sadar jika Abang yang selalu baik dan menyayangi Fara dengan tulus," ucap Bibi Fara sembari menangis tersedu-sedu.
Dia juga menyampaikan permintaan maaf dari kedua saudara mereka yang lain.
"Abang kecewa pada kalian terutama padamu Fara! Abang tidak akan peduli kalian lagi! Kalian bukan adik-adik Abang, berkali-kali Abang memaafkan dan memenuhi keinginan kalian tapi yang Abang dapatkan hanya kekecewaan, sekarang pergilah!" ucap Pak Faruq yang sudah kehilangan simpati pada sang adik.
"Jangan seperti itu Bang, tolong maafkan kami! Diakui atau tidak kami tetaplah adik-adik Abang," Fara semakin menangis saat sang kakak mengusirnya pergi.
Lama Bibi Fara membujuk sang kakak agar memaafkannya tapi Abah Faruq tak juga memberikan maaf.
Abah hanya ingin memberikan pelajaran pada adik-adiknya, agar adik-adiknya menyadari kesalahan mereka.
Hingga akhirnya Abah Faruq pun terdiam saat Bibi Fara mengatakan sesuatu yang membuat dadanya kembali merasakan nyeri luar biasa.
Bibi Fara tak peduli lagi dengan kondisi kakaknya, dia pergi meninggalkan ruangan kakaknya dan mengajak ibu serta kedua saudaranya untuk pergi dari rumah sakit. Tapi Nenek Hanifah masih ingin menemani putra kesayangannya di rumah sakit.
Setelah kepergian ketiga adik Abah Faruq, Umi Fatimah masuk kembali ke ruangan sang suami dan melihat suaminya sudah tidak sadarkan diri kembali.
Dia menangis memanggil dokter dan putranya.
Tim dokter segera masuk ke dalam ruangan Abah Faruq dan berusaha maksimal untuk menolongnya.
Setelah beberapa menit berlalu, dokter akhirnya keluar dengan wajah sedihnya, dan mengatakan jika Abah Faruq telah meninggal dunia.
Umi Fatimah menangis histeris lalu pingsan dan beruntungnya Azril dengan sigap menangkap tubuh sang ibu.
Azril pun menangis begitu pula Alia dan Nenek Hanifah.
Alia berusaha tegar dan menenangkan sang nenek.
Setelah disucikan di rumah sakit oleh tim medis, jenazah Pak Faruq pun di bawa ke Mansionnya.
Para kerabat pun datang silih berganti untuk mengucapkan bela sungkawa pada Azril dan Uminya, keluarga Alia pun juga datang kesana.
***
Di mansion mewah milik Nenek Hanifah, ketiga adik Pak Faruq yang baru saja menerima kabar kematian sang kakak dari umi mereka, bukannya merasa bersedih dan bersalah atas kematian kakaknya, mereka malah terlihat bahagia.
__ADS_1
Mereka juga tidak berencana datang ke pemakaman sang kakak.
"Malang sekali Abangku, punya adik-adik bre***sek seperti kita! Meninggal juga dalam keadaan tidak tenang, sungguh tragis nasib Abang," ucap Fadil berpura-pura sedih.
"Dasar drama kamu Dil! Sok-sokan sedih! Kamu kan pastinya yang lebih bahagia ditinggalkan Bang Faruq, kamu bisa bersenang-senang lagi!" cibir Fara.
"Yah kalian berdua memang ratu dan raja drama! Untung aku nggak seperti kalian yang selalu berpura-pura!" sahut Farhan.
"Memang sih kami ini pintar berakting tapi otak kami tidak sejahat Bang Farhan yang merencanakan semua ini!" cibir Fadil, sang adik.
"Hahaha!"
Mereka bertiga pun tertawa penuh kemenangan.
***
Setelah prosesi pemakaman Pak Faruq telah selesai, mansion kembali sepi.
Umi Fatimah menyendiri dan sangat bersedih di dalam kamarnya. Ditinggalkan oleh suami tercintanya adalah pukulan terberat baginya. Dia benar-benar tidak menyangka Allah mengambil suaminya secepat itu, dia terus menangis dan mengenang masa-masa indah bersama sang suami.
Azril dan Alia menemani sang nenek yang ada di lantai bawah, mereka tak lagi menangis dan berusaha ikhlas menerima takdir Yang Maha Kuasa.
"Nenek mau pergi dulu Ril, nenek mau pergi ke luar negeri untuk menenangkan hati nenek. Jagalah umi-mu jangan sampai dia bersedih lagi, berikan semangat padanya terus, nenek doakan kalian diberikan ketegaran dan kesabaran yang besar menghadapi semua ini." nasehat Nenek Hanifah.
"Amin Ya Robbala'laminn.. Baik nek, Azril dan Alia akan selalu menjaga Umi dengan baik. Nenek hati-hati dijalan ya, jangan lupa mengabari kami!" ucap Azril sebelum melepas kepergian sang nenek.
Dan akhirnya, Nenek Hanifah pun pergi menuju bandara dan bersiap ke luar negeri.
Setelah mansion kembali sepi, Azril dan Alia kembali ke kamarnya, Azril duduk di ranjangnya dan menangis dalam diamnya. Mungkin di depan orang-orang dia bisa bersikap tegar dan kuat tapi sebenarnya hatinya sangat rapuh, kehilangan Abahnya seolah dia kehilangan dunianya.
Abahnya adalah sosok pria yang sangat baik, pekerja keras dan bertanggungjawab pada keluarga, dia juga orang yang mudah merasa kasian dengan orang lain. Itulah sebabnya Abahnya sering dimanfaatkan adik-adiknya. Azril sangat menyukai sifat Abahnya dan menjadikannya panutan, tapi dia membentengi dirinya agar tidak mudah dimanfaatkan orang lain.
Tapi kini sosok itu telah pergi meninggalkannya selama-lamanya, dan menyisakan kesedihan yang mendalam di hatinya.
Alia mendekati suaminya dan memeluk tubuh suaminya dari belakang sembari menggenggam erat kedua tangan sang suami, seolah memberikan semangat dan kekuatan untuknya.
Lama mereka berpelukan, setelah keadaan hati Azril membaik, dia melepaskan pelukannya istrinya dan berbalik dan memandang wajah sang istri.
"Terimakasih sayang, kamu selalu ada disisiku, aku mencintaimu."
Azril mengecup kening sang istri.
"Aku juga mencintai Abang," Alia tersenyum manis.
Sungguh dia sangat lega dan terus berucap syukur, kini suaminya seutuhnya hanya miliknya, dia tidak harus berbagi dengan wanita lain.
Lama mereka berbaring sembari berpelukan, hingga keduanya pun terbang ke alam mimpi sama-sama.
***
__ADS_1
Tujuh hari setelah kepergian Pak Faruq, tiba-tiba ketiga adik Pak Faruq datang ke mansion kakak mereka.
"Assalamualaikum kakak iparku tersayang.." salam Fara berpura-pura manis.
"Wa'alaikumsalam.. Ada apa kalian datang kesini lagi? Apa kalian belum puas membuat suamiku meninggal? Mau buat masalah apa lagi kalian!" seru Umi Fatimah dengan kesalnya.
"Astaga.. Kenapa sejak ditinggal Abang kami, kakak ipar jadi sensitif? Kasian ya nggak ada yang bisa melindungi kakak ipar lagi," cibir Fara.
"Siapa bilang umi-ku tidak ada yang melindungi! Masih ada aku disini!" ucap Azril turun bersama Alia dari lantai atas dan dia menatap tajam ketiga adik almarhum Abahnya.
"Cihh si bocah sombong lagi, liat aja, kalau kita menghancurkan hidupnya, apa dia masih bisa bersikap sombong seperti biasanya!" cibir Fadil.
Fara dan Farhan pun tersenyum senang.
"Mau apa kalian kesini?" Azril tak peduli ancaman mereka dan malah balik bertanya.
"Kami ingin mengusir kalian dari mansion dan perusahaan milik Abang kami!" ucap Fadil dengan sombongnya.
"Tapi kalau kalian masih ingin tinggal di mansion ini dan takut hidup kesusahan di luar, lebih baik kalian bekerja pada kami aja! Kami hanya kasian kalau kalian kelaparan di jalanan," cibir Fara lagi.
"Cihh.. Tidak sudi aku mengemis pada kalian! Apa hak kalian mengusir kami dari mansion dan perusahaan milik Abahku! Semua harta milik Abah, milik kami dan bukan hak kalian!"
"Tapi modal Abahmu membangun perusahaan itu dari harta warisan keluarga kami! Jadi kami sangat berhak memiliki harta Abang kami!" ucap Fadil tak mau kalah.
"Cihh.. Dasar tak tahu malu! Harta warisan dari keluarga kalian itu tak seberapa, selama ini aku dan Abah yang berjuang membesarkan perusahaan bukan kalian!" seru Azril yang mulai kesal.
"Lihatlah bocah sombong! Ini adalah surat pemindahan harta warisan Abah kamu pada kami. Abah kamu secara sadar menandatangani surat ini!"
"Degg!!"
Jantung Umi Fatimah terasa seperti berhenti berdetak sejenak, dia tidak menyangka suaminya berbuat sejauh itu, kenapa pria yang sangat dia cintai itu, sama sekali tidak memikirkan nasibnya dan putra mereka. Bak sebuah pepatah, 'sudah jatuh tertimpa tangga', begitu pikirkannya.
Badannya limbung dan sedikit terhuyung, beruntung Alia menangkap tubuhnya dan memeluk dengan erat.
Farhan memberikan salinan surat warisan itu pada Azril.
Saat Azril membaca isinya, tertulis disana jika Abah Faruq meninggal, semua hartanya, perusahaan dan mansion akan diberikan pada ketiga adiknya.
Azril meremas salinan surat itu dengan amarah luar biasa, jujur dia sangat kecewa dengan Abahnya, dia berfikir kenapa dengan mudah Abahnya memberikan semua hasil kerja keras mereka pada adik-adiknya yang tidak tahu diri itu.
Dua pengacara dan satu notaris suruhan ketiga adik Pak Faruq pun masuk kedalam mansion.
"Ini adalah tim pengacara dan notaris yang kami tunjuk sebagai saksi dan lembaga resmi yang mengurus pemindahan harta Abah kamu pada kami, bahkan mereka juga melihat sendiri Abahmu menandatangani surat warisan itu!" ucap Farhan tersenyum penuh kemenangan.
Azril terdiam tak bisa berkata-kata, yang dia rasakan hanya amarah dan kekecewaan saja.
"Saya beri waktu kalian 1x 24 jam, kalian harus segera membereskan baju-baju kalian! Dan pergi dari mansion kami!" seru Fadil dengan sombongnya.
Dan tiba-tiba..
__ADS_1
"Bruuukkk!"
"Umi!"