Khadijah Sang Bidadari Surga-ku

Khadijah Sang Bidadari Surga-ku
Bab 27. Tasyakuran


__ADS_3

Alia tiba-tiba muncul di belakang suami dan ibu mertuanya.


"Sore ibu-ibu.. Mbak-mbak, perkenalkan saya Alia, istri Bang Azril." ucap Alia tersenyum manis.


"Wah udah nikah ternyata ya! Duhh gagal nih kesempatan kita," celetuk salah satu dari wanita muda yang ada diantara mereka dengan nada bercanda.


"Sore juga Mbak Alia, salam kenal ya!" ucap ibu-ibu itu dan membalas senyumannya.


Sedangkan wanita muda yang tidak tahu malu itu menjadi kesal karena kemunculan Alia yang tiba-tiba. Dia jadi gagal mendekati si tampan Azril.


"Ayo sayang kita masuk, kan sudah mau magrib juga." ajak Alia pada sang suami.


"Iya sayang," jawab Azril mengangguk, lalu mendorong uminya untuk pulang ke rumah mereka.


"Maaf ibu-ibu, kami pamit masuk ke dalam dulu ya! Assalamualaikum.." pamit Azril pada ibu-ibu yang sedang berkumpul itu.


"Oh iya mas silahkan, Wa'alaikumsalam.."


***


Setelah menunaikan sholat Maghrib berjamaah, mereka pun makan malam bersama. Seperti biasa, Alia membantu menyuapi sang ibu mertua, sembari dia juga makan.


"Biar Umi makan sendiri, Umi banyak merepotkan kamu." ucap Umi Fatimah dengan suara tak jelas seperti biasa.


"Tidak Umi, Alia tidak merasa direpotkan, Alia malah senang bisa merawat Umi. Tolong biarkan Alia merawat umi ya? Alia tidak akan pernah membiarkan umi kesusahan." ucap Alia dengan lembut.


Mata Umi Fatimah berkaca-kaca, dia memang memiliki satu putra tapi saat berada bersama Alia dia merasa memiliki putri kandung juga, Alia sungguh memperlakukannya dengan baik.


Dia mengingat betapa jahatnya dia dulu pada sang menantu, sampai-sampai ingin menikahkan putranya dengan gadis lain hanya karena obsesinya ingin memiliki cucu.


Tapi saat ini, dia sudah tidak peduli lagi, jika menantunya tak bisa memberikannya cucu. Dia tidak perlu siapapun lagi di dunia ini, yang dia inginkan hanya Azril dan Alia bersedia bersamanya sampai malaikat maut menjemputnya nanti.


Bahkan dia berjanji pada dirinya sendiri, jika dia sembuh nanti, dia akan membahagiakan wanita yang selalu ada disisinya itu, Alia menantu kesayangannya, si gadis baik hati.


"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah.. Engkau kirimkan pada hamba malaikat cantik dan baik hati seperti Alia, sungguh hamba sangat menyesal pernah berkali-kali menyakitinya. Maafkan semua kelakuan buruk hamba padanya, Ya Allah." ucap Umi Fatimah dalam hati.


"Umi kenapa menangis?" tanya Alia sembari menghapus airmata sang ibu mertua.


Sedangkan Azril langsung menghentikan makannya.


Umi Fatimah hanya menggelengkan kepalanya tanpa bisa berkata-kata, ingin rasanya dia mengucap banyak kata maaf dan terimakasih pada Alia, tapi lidahnya begitu susah berucap karena gangguan stroke yang dideritanya.


"Ma.. Maafkan Umi Al," ucap Umi Fatimah dengan susah payah.


Sedangkan Alia menatap ibu mertuanya dengan mata berkaca-kaca, dia seolah tidak percaya ibu mertuanya meminta maaf padanya.


"Selama ini, Umi jahat sama Alia, maafkan Umi," ucapnya lagi, kini airmata umi pun kembali mengalir.


"Bagi Alia, Umi tidak pernah salah. Jika Umi marah, Alia menganggap karena umi sayang sama Alia. Jadi Umi tidak perlu meminta maaf sama Alia, Alia selalu menyayangi umi."


Alia pun meletakkan piring yang ada ditangannya lalu memeluk ibu mertuanya dengan erat, mereka sama-sama menangis sambil berpelukan.


Dia sangat bahagia sekaligus lega, semua beban di hatinya seolah hilang dalam sekejap mata, semua karena Kuasa Allah Sang Maha Membolak-balik Hati hamba-Nya.


Sedangkan Azril merasa sangat terharu melihat ibu dan istrinya akhirnya bisa akur dan dia yakin jika ibunya sudah benar-benar menerima sang istri.


Setelah tangisan keduanya reda, Alia menghapus airmata ibu mertuanya dan Umi Fatimah pun balas menghapus airmata Alia dengan satu tangannya yang masih berfungsi dengan baik.

__ADS_1


"Terimakasih Al, umi juga sayang Alia." ucap Umi Fatimah dengan binar bahagia.


"Setelah ini Umi harus berjanji jika umi tidak akan bersedih dan menangis lagi ya? Alia dan Bang Azril akan berusaha membahagiakan Umi," ucap Alia dengan tulus.


Dan Umi Fatimah pun hanya bisa mengangguk patuh.


Setelah menyelesaikan makan malam mereka, dan saling ngobrol ringan bersama, mereka pun kembali ke kamar mereka masing-masing. Azril dan Alia mengantarkan Umi Fatimah dulu ke kamarnya lalu kembali kamar mereka.


Azril dan Alia pun cepat tertidur pulas karena aktivitas siang mereka yang begitu melelahkan.


***


Di mansion lama milik Pak Faruq, ketiga adiknya sedang mengadakan pesta, mereka mengundang teman-teman mereka tanpa mengundang anak-anak dan para istri mereka.


Terlihat Farhan dan Fadil menenggak minuman keras sembari memangku wanita sewaan mereka yang cantik nan s*xy.


Hari itu mereka benar-benar bersenang-senang, menghamburkan uang perusahaan untuk mengadakan party besar-besaran.


Kelakuan Fara pun juga semakin parah, dia sering menyewa beberapa g***** untuk memuaskan kebutuhan batinnya.


Dia bangga sekarang menjadi janda yang cantik dan kaya raya berkat harta peninggalan sang kakak.


Kini mansion itu menjadi sarang kemaksiatan, ketiga manusia tidak tahu diri itu. Bahkan anak-anak dan istri mereka juga tidak tahu kelakuan buruk suami-suami mereka.


"Apa kalian tau mantan kakak ipar kita mengalami stroke?" tanya Fara pada kedua saudara laki-lakinya, dia sedikit mabuk.


"Waah sejak kapan? Kenapa aku nggak tahu berita penting itu?" tanya Fadil yang terkejut sekaligus senang.


"Sepertinya sejak kedatangan kita dua minggu lalu, dia kaget karena kembali miskin seperti dulu. Rasain kamu bocah sombong! Udah miskin eh sekarang maknya malah sakit parah, itulah akibatnya kalau berani melawan kita! Seenaknya aja mau nikmatin harta Bang Faruq sendirian, nggak tahu diri banget dia!" cibir Fara dengan sombongnya.


"Dasar paman dan bibi yang bre***sek dan kejam kalian!" umpat Farhan menertawakan kedua adiknya.


Ketiganya pun terkekeh bersama, menertawakan nasib Azril dan Uminya.


***


Pagi itu, keluarga Alia datang berkunjung. Mereka membawa bakso satu panci besar dan banyak kotak makanan juga snack untuk tasyakuran kepindahan sang putri tercinta.


Alia yang tahu rencana keluarganya, dia tidak terkejut dengan kedatangan mereka, sedangkan Azril dan Umi Fatimah terkejut keluarga Alia membawa banyak makanan.


Alia menjelaskan singkat tujuan kedatangan keluarganya ke rumah baru mereka pada Umi Fatimah dan Azril.


Dan seketika Umi Fatimah merasa sangat bersyukur memiliki besan yang sangat baik dan tulus.


"Pantas Alia menjadi gadis yang sangat baik, keluarganya juga begitu baik dan tulus, tapi sayangnya selama ini aku menutup mata untuk mereka." gumam Umi Fatimah yang lagi-lagi merasa menyesal.


"Assalamualaikum.." salam keluarga Alia.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.."


Azril dan Alia mencium tangan ayah dan ibu.


"Bagaimana kabar anda Bu Fatimah? Anda terlihat sangat sehat dan segar, semoga Allah segera memberikan kesembuhan untuk anda." doa Bu Siti dengan tulus.


"Amin.. Ya Robbala'laminn.." semua pun mengamini doa tulus Bu Siti.


"Alhamdulillah sudah lebih baik Bu Siti, terimakasih doa anda Bu. Mari silahkan masuk Bu Siti, Pak Amir!" ucap Umi Fatimah dengan susah payah.

__ADS_1


Pak Amir dan Bu Siti pun mengangguk dan masuk ke dalam rumah baru mereka.


Sedangkan Alia dan Azril membantu Anin dan Omar menurunkan semua makanan ke dalam rumah mereka.


"Kenapa tidak cerita sayang? Kan aku jadi nggak enak sama ayah dan ibu karena merepotkan mereka," bisik Azril pada istrinya.


"Nggak merepotkan sama sekali sayang, tenang aja! Lagipula ini kan juga kemauan ayah dan ibu jadi biarkan mereka melakukannya, agar hati mereka bahagia." bisik Alia.


"Iya deh sayang, nanti biar aku mengucapkan terimakasih langsung pada mereka."


Alia pun mengangguk tanda setuju.


Setelah semua makanan sudah tersusun rapi di dalam rumah, Alia dan Anin pergi dari rumah ke rumah mengundang para ibu-ibu satu RT untuk datang ke rumahnya.


Sedangkan Azril dan Omar terlihat ngobrol santai di teras rumahnya.


"Bagaimana kabarmu Mar?" tanya Azril pada adik iparnya.


"Alhamdulillah baik bang. Berkat motor dari Abang, lumayan nih kalau malem bisa narik ojek buat tambahan uang jajan dan SPP sekolah." ucap Omar tersenyum senang.


"Ya tapi jangan sibuk cari uang terus mar, kamu kan juga harus fokus belajar! Beberapa bulan lagi kan udah naik ke kelas 3, biar Bang Azril aja yang bayarin sekolah kamu, kamu cukup belajar dan bantu ayah jualan aja."


"Iya Bang, Omar akan kurangin keluar malam. Lagipula ayah sudah bayarin semua sekolahku kok, cuma aku aja yang bandel padahal ayah udah ngelarang narik ojek. Udah ketagihan dapet uang sendiri bang," ucap Omar cengengesan sembari menggaruk kepalanya.


"Dasar mata duitan kamu mar!" cibir Azril.


"Bukan mata duitan bang, tapi realistis kata orang-orang jaman now!"


Keduanya pun terkekeh bersama.


"Nih bapak-bapak ngerumpiin apa sih? Bentar lagi tamu undangan buat ibu-ibu dateng lho, awas kalian berdua jangan di depan! Nanti ibu-ibu nggak fokus ngaji malah fokus ngeliatin kalian berdua!" ucap Alia mengingatkan.


"Si Omar mah malah kesenangan ketemu sama ibu-ibu rempong! Sejak dapet motor baru dari Bang Azril dia makin narsis kak, suka mondar-mandir cari perhatian sama ciwi-ciwi!" cibir Anin.


"Isshhh.. Dasar si tukang fitnah!" balas Omar kesal.


"Aku nggak fitnah mar, tapi ngomong realita!" Anin tak mau kalah.


"Eh udah-udah! Kalian ini selalu aja kayak Tom dan Jerry! Yuk kita masuk ke dalam bantuan ayah ma ibu yang lagi di dapur nyiapin suguhan buat para tamu nanti!" ajak Alia pada semuanya.


Semua pun mengangguk dan mengikuti Alia dari belakang, menuju ke dapur.


Ibu dan Ayahnya terlihat sangat sibuk, menata mie dan sayuran di mangkok, sedangkan Umi Fatimah hanya bisa melihat tanpa bisa membantu.


Alia dan Anin mulai menata beberapa kue dan buah yang akan disuguhkan pada tamu undangan.


Sedangkan Omar dan Azril mengeluarkan semua sofa dan membentangkan karpet besar untuk tempat duduk para tamu undangan.


***


Beberapa jam berlalu, akhirnya acara tasyakuran kepindahan Alia pun telah selesai.


Para pria muda sibuk membersihkan bekas kemasan air minum dan makanan sisa yang berserakan di atas karpet. sedangkan para wanita muda sibuk mencuci piring-piring kotor.


Sedangkan Umi Fatimah dan besannya duduk bersantai di sofa yang di taruh Azril dan Omar di teras depan rumah.


Tiba-tiba seseorang yang dikenalnya datang berkunjung.

__ADS_1


"Assalamualaikum Jeng.." salam Umi Salamah, sahabat baiknya.


Sudah pasti dia datang bersama Nabila, sang putri tercinta.


__ADS_2