
Dennis mengeluarkan sebuah sertifikat dan menyodorkan pada Pak Amir.
"Apa ini Nak Dennis?" tanya Pak Amir tak mengerti.
"Itu sertifikat kepemilikan ruko, Pak Amir. Ruko itu letaknya di seberang jalan tempat anda jualan biasanya, Tuan Azril membelinya agar anda tidak harus mendorong gerobak kesana saat berjualan nanti,"
Dennis memperlihatkan beberapa foto ruko yang telah dibeli Azril untuk sang ayah mertua.
"Alhamdulillah.. Ya Allah," lagi-lagi Bu Siti dan kedua anaknya pun berucap syukur.
"Tapi Nak Dennis, pemberian ini terlalu banyak untuk kami, saya tidak bisa menerimanya nak." Pak Amir merasa tak enak.
"Jangan merasa sungkan Pak Amir, menantu anda memang sangat dermawan, jangankan untuk keluarganya untuk orang lain saja dia sangat ringan tangan. Jadi saya mohon anda terima semuanya, agar saya juga tidak dimarahi oleh menantu anda."
"MasyaAllah, memang menantu ayah baik sekali, terimakasih atas semua rejeki ini Ya Allah," ucap Pak Amir penuh syukur dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah nak, saya terima ya semuanya. Terimakasih banyak atas bantuan nak Dennis." ucap Pak Amir dengan tulus.
"Sama-sama Pak Amir, ini sudah menjadi tugas saya. Oia mari saya antarkan melihat ruko baru anda."
Dennis mengajak Pak Amir, Bu Siti serta kedua anak mereka untuk melihat ruko baru milik Pak Amir mengendarai mobil milik Dennis, dan anak buahnya yang lain sebagian ada yang berjaga dirumah dan sebagian ada yang ikut dengan mereka.
Setelah tiba di ruko baru itu, Pak Amir takjub dengan banner besar yang bertuliskan nama baksonya terpampang di depan. Pak Amir masuk ke dalam dan melihat Ruko bercat putih yang besar dan luas itu dengan berbinar bahagia, karena Ruko ternyata itu telah siap di tempati. Disana ada tempat istirahat, kamar mandi dan mushalla kecil di dalamnya untuk memudahkan pelanggannya. Terlihat meja dan kursi juga telah tertata rapi memenuhi ruko itu.
"Tolong sampaikan ucapan terimakasih saya pada menantu saya, nanti saya juga akan menghubunginya secara pribadi." ucap Pak Amir pada Dennis.
"Baik Pak Amir, nanti biar saya sampaikan."
Setelah puas melihat ruko baru Pak Amir, mereka pun kembali ke rumah Pak Amir lagi.
Pak Amir melanjutkan memasak bakso seperti biasa tapi hari ini bakso akan dibagikan gratis untuk semua sebagai syukuran atas ruko baru miliknya.
Sedangkan Dennis kembali ke perusahaan Azril lagi.
Setelah Dennis pergi, Pak Amir meminta Anindita untuk menyambungkan teleponnya pada Alia sang putri sulung untuk mengucapkan terimakasihnya secara langsung pada menantu dan putrinya.
***
"Sayang kenapa nggak bilang?" Alia menatap suaminya yang sedang mengemudi.
Hari ini Alia tidak ada kelas memasak, dia akan berkunjung ke ruko baru ayahnya untuk ikut merasakan kebahagiaan keluarganya.
Dia juga mengundang semua anak-anak pesantren yang dijemput oleh bus besar milik Azril, untuk makan bersama merayakan tasyakuran ruko baru sang ayah.
Sedangkan Azril akan ikut makan sejenak bersama anak-anak pesantren didikannya sebelum dia berangkat ke kantornya, rasanya dia ingin ikut sampai acara selesai tapi dia ada meeting penting yang tidak bisa ia tinggalkan hari ini.
"Kalau aku bilang duluan, pasti kamu akan menolak rencanaku sayang, jadi biarkan saja aku membahagiakan keluargamu yang kini sudah menjadi keluargaku." ucap Azril tersenyum manis pada istrinya.
__ADS_1
"Tapi apa nggak terlalu berlebihan bang, semua yang abang berikan itu banyak sekali sayang!" mata Alia berkaca-kaca, sungguh dia sangat beruntung memiliki suami sebaik Azril.
"Nggak berlebihan sayang, yang aku berikan tidak ada apa-apanya dengan yang aku dapatkan! Mereka memberikan putri kesayangannya untuk menemaniku seumur hidupku padahal merekalah yang merawat kamu selama ini. Jadi yang aku berikan tidak sebanding dengan dirimu yang istimewa dihatiku,"
Mendengar ucapan manis sang suami, Alia pun berhambur ke pelukan sang suami dan airmatanya pun sudah tak bisa dibendung lagi.
"Terimakasih suamiku sayang, terimakasih sudah tulus menyayangiku dan keluargaku," ucap Alia yang masih menangis dipelukan suaminya.
"Sama-sama sayang, aku sangat mencintaimu!" Azril menciumi pucuk kepala istrinya bertubi-tubi.
"Oia, kata Umi, besok jadwal kita menemui dokter kandungan temannya. Apa kamu sudah siap ke dokter sayang?" tanya Azril dengan lembut.
Alia terdiam lalu mendadak menjadi tegang, dia takut jika hasilnya akan mengecewakan suami dan mertuanya.
"Kalau kamu belum siap, lain kali saja kita.."
"Aku siap sayang, lebih cepat akan lebih baik bukan?" Alia menutupi kegugupannya dengan tersenyum.
"Hm, baiklah sayang! Aku akan selalu berada di sisimu," ucap Azril memegang tangan istrinya dan Alia pun mengangguk.
***
Di sebuah restoran mewah di pusat Kota S, Pak Faruq terlihat bersama asistennya, mereka baru saja bertemu dengan klien Pak Faruq.
Tak disangka, dia melihat sang mantan adik iparnya sedang duduk bersama seorang wanita cantik sedang makan di restoran mewah itu.
"Andre!" panggil Pak Faruq pada sang mantan adik ipar.
Kemudian dia memberikan kode pada wanita cantik di sampingnya agar pergi dari sana, karena dia merasa jika kakak iparnya ingin berbicara serius padanya.
Asisten Pak Faruq pun juga memilih untuk menjauh dan mencari meja lainnya.
"Bagaimana kabarnya bang?" tanya Andre basa-basi.
"Alhamdulillah baik ndre, kamu sendiri bagaimana kabarnya? Kenapa tidak pernah mengunjungi dan memperhatikan anak-anakmu?" tanya Pak Faruq.
"Alhamdulillah aku juga baik bang. Kata siapa aku nggak pernah mengunjungi dan memperhatikan anak-anakku bang? Pasti Fara kan yang bilang seperti itu?"
Pak Faruq mengangguk, "Abang juga nggak nyangka kalau kamu menceraikan adikku hanya karena masalah di mansionku tempo hari, aku kira kamu pria yang bijak ternyata aku salah." ucap Pak Faruq dengan nada kecewa.
Andre benar-benar terkejut mendengar ucapan mantan kakak iparnya, Fara, mantan istrinya benar-benar tidak pernah berubah, mudah memutar balikkan fakta dan sangat manipulatif.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Sifat adik Bang Faruq masih sama saja ternyata, suka menjelek-jelekanku, aku kira dia sudah berubah setelah dia mengatakan menyesal dan ingin kembali padaku. Tapi nyatanya dia masih sama," ucap Andre tersenyum lucu.
"Apa maksudmu ndre? Aku kok makin nggak ngerti!" timpal Pak Faruq.
"Setiap dua minggu sekali aku selalu mengunjungi putra dan putriku bang, dan setiap bulan aku mengirimkan uang yang bisa dibilang lebih dari cukup untuk kebutuhan mereka. Dan sepertinya Abang belum tahu, jika aku dan Fara bercerai bukan karena kejadian di mansion Abang waktu lalu, tapi karena Fara telah berselingkuh di belakangku beberapa bulan sebelum kami bercerai." ucap Andre bicara fakta.
__ADS_1
Andre pun menunjukkan video Fara yang terlihat mesra dengan seorang laki-laki di sebuah cafe dan dia juga menunjukkan beberapa screenshot dari chat mesra Fara dan kekasihnya.
"Deg!"
Bukti dan ucapan Andre seolah membuka mata hati Pak Faruq, dia baru sadar jika selama ini adik-adiknya begitu tega memanfaatkannya, padahal dia begitu tulus menyayangi mereka. Dia benar-benar sangat kecewa telah dibohongi dan diperas oleh adik-adiknya.
"Astaghfirullah Hal'adzim.." gumam Pak Faruq sembari memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri luar biasa.
"Kenapa bang?" tanya Andre dengan cemas.
"Tidak apa-apa, jangan khawatirkan aku! Maafkan aku selama ini telah berprasangka buruk padamu ndre, Abang hanya berpesan seburuk apapun mantan istrimu padamu tapi tolong jangan pernah membenci dan menelantarkan anak-anakmu!" pinta Pak Faruq.
"Abang jangan khawatirkan itu, aku akan terus menyayangi anak-anakku bang walau apapun yang terjadi. Aku juga minta maaf pada Abang, jika selama menjadi suami Fara, aku tidak bisa mengajarinya menjadi istri yang baik, saya doakan suatu hari nanti Fara bisa berubah." doa Andre.
"Amin Ya Robbala'laminn.. Terimakasih ndre, Abang juga doakan semoga kelak kamu mendapatkan kebahagiaanmu,"
"Amin Ya Robbala'laminn.. Terimakasih doanya bang,"
Pak Faruq mengangguk, lalu beberapa menit kemudian dia pamit pergi meninggalkan restoran mewah itu pada sang mantan adik ipar.
***
Keesokan paginya, Azril memutuskan untuk tidak ke kantornya. Dia dan Istrinya ke dokter kandungan untuk pemeriksaan dan berencana untuk program kehamilan.
Dokter teman dari sang Umi, mulai melakukan test dan pemeriksaan pada Azril dan istrinya.
Alia tegang, tapi dia menyembunyikan kegugupannya di depan sang suami.
Sedangkan Azril dengan setia menemani Alia menunggu hasil pemeriksaan mereka berdua, duduk di ruang tunggu sembari menggenggam tangan istrinya. Dia tahu raut kegelisahan istrinya, sebisanya dia mencoba menenangkannya.
Saat dokter wanita itu keluar dari ruangannya sembari membawa map hasil pemeriksaan, Alia dan Azril berjalan menghampirinya.
"Bagaimana hasilnya Bu Dokter?" tanya Alia tak sabar.
Dokter Rossa teman Umi Fatimah terlihat membenarkan kacamatanya sejenak untuk menghalau kegelisahannya.
"Dari hasil pemeriksaan Tuan Azril, tidak ada masalah dan kualitas sp*** juga sangat baik." ucap Dokter Rossa.
Sontak Alia dan Azril pun berucap syukur.
Dokter Rossa menghela nafasnya panjang sebelum melanjutkannya ucapannya.
"Dan untuk Nyonya Alia, maaf saya harus mengatakan ini," Dokter Rossa menghentikan ucapannya.
Sedangkan Alia dan Azril langsung tahu jika berita berikutnya tidak akan menyenangkan bagi keduanya.
Alia mencoba menguatkan hatinya sendiri sebelum mendengar kemungkinan buruk yang terjadi.
__ADS_1
"Nona Alia menderita Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau sindrom polikistik ovarium adalah gangguan keseimbangan hormon pada wanita. Beberapa wanita dengan penderita PCOS ini, dapat memiliki periode menstruasi yang tidak teratur, berkepanjangan, atau kelebihan hormon androgen (hormon yang banyak pada laki-laki) jadi itu yang menyebabkan nona susah hamil."
"Apa istri saya masih bisa sembuh dok?" tanya Azril dengan raut cemas.