
Alia dan Azril telah sampai di basecamp awal, mereka akan bersiap pulang ke rumah mereka masing-masing.
Setelah melalui beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di mansion utama milik Pak Faruq.
"Assalamualaikum Umi.." ucap Azril dan Alia bersamaan saat melihat Umi Fatimah duduk bersantai di teras.
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.."
"Abah kemana Umi? Tumben weekend begini Umi duduk sendirian?" tanya Azril.
"Umi juga nggak tahu Ril, keluar bentar katanya nggak tau kemana."
Azril merasa heran karena tak biasanya Abahnya tidak memberitahukan kepada Uminya kemana dia akan keluar.
"Ya sudah kami naik ke atas dulu ya Umi," pamit Azril.
"Hm," Umi Fatimah menjawab sekilas, hari itu dia tiba-tiba merasa hidupnya sangat sepi, suaminya pergi entah kemana dan putranya sekarang banyak menghabiskan dengan sang istri. Tiba-tiba dia menginginkan seorang cucu agar rumahnya dipenuhi suara tawa dan tangis bayi.
Azril dan Alia telah masuk ke kamar mereka.
"Apa kakak ingin aku siapkan air untuk mandi?" tanya Alia.
"Boleh sayang,"
Saat Alia sudah menyelesaikan menyiapkan air hangat untuk suaminya dia menghampiri sang suami lagi.
"Airnya sudah siap kak," ucap Alia.
"Hm, terimakasih sayang." ucap Azril dan Alia pun tersenyum mengangguk.
"Aaahh!" Alia berteriak terkejut karena tubuhnya sudah melayang ke udara.
"Ada apa kak?" Alia gugup karena sang suami menggedongnya.
"Ayo kita mandi sama-sama sayang!" Azril tersenyum jahil lalu membawa tubuh istrinya masuk ke kamar mandi.
Wajah Alia bersemu merah, selama ini dia hanya mengagumi suaminya dalam diam tapi kini pria itu sangat hobi sekali membuatnya berbunga-bunga dan salah tingkah. Dia sangat bersyukur, usahanya untuk membuat suaminya jatuh cinta telah berhasil.
Dan akhirnya, mereka pun mengulangi lagi olahraga panas yang semalam mereka lakukan, di kamar mandi juga di ranjang favorit mereka.
Azril memperlakukan Alia dengan sangat lembut dan membuat istrinya berkali-kali terbang ke awang-awang.
Dan diakhir kegiatan mereka, Azril pun terus berucap kata cinta pada sang istri hingga membuat istrinya menangis bahagia.
"Aku sangat mencintaimu istriku, panggil aku 'Abang sayang' ya cintaku!" pinta Azril sembari menghapus airmata bahagia sang istri.
"Iya Abang sayang, aku juga sangat mencintai Abang,"
Dan mereka pun tertidur dengan berpelukan.
***
Tak terasa pernikahan Azril dan Alia sudah hampir 1 tahun, semakin hari hubungan mereka semakin harmonis.
Azril selalu memanjakan istrinya dan sering mengajaknya liburan berkeliling dunia.
Abah Faruq juga masih diam-diam mengurusi ketiga adiknya, dia hanya tidak tega jika adik-adiknya mengalami kesusahan. Terutama adik perempuannya satu-satunya Fara, dia masih merasa bersalah karena perceraian Fara.
__ADS_1
Sedangkan Umi Fatimah sendiri tidak tahu tentang adik-adik Abah Faruq yang masih terus meminta uang pada kakaknya. Dia juga masih saja bersikap dingin pada Alia, entah dia hanya merasa kecewa saja dia tidak bisa mendapatkan menantu yang istimewa yang sepadan dengan putranya. Dia merasa Alia hanya gadis biasa yang tidak memiliki keistimewaan, apalagi sampai sekarang menantunya itu belum juga memberikan cucu, dia semakin bersikap dingin pada Alia.
Pagi itu seperti biasanya, sebelum Azril berangkat ke kantornya dan Alia mengikut kelas masaknya, mereka sarapan bersama Umi Fatimah sedangkan Abah Faruq masih berada diluar kota.
"Ril, kapan kamu ngasi mama cucu? Rumah kita semakin sepi karena kamu dan Abahmu sama-sama sibuk," ucap Umi Fatimah tanpa basa-basi, setelah mereka menyelesaikan makan mereka.
Alia tiba-tiba menjadi tegang, tapi Azril bersikap tenang.
"Umi, pernikahan kami kan baru berjalan satu tahun, Allah hanya belum memberi amanah saja untuk kami, Umi sabar ya!" ucap Azril dengan lembut.
"Ya kamu berusaha donk Ril, jangan diem aja. Sekarang kalian harus ke dokter dan mulai melakukan program hamil! Nanti biar umi menghubungi salah satu teman umi yang seorang dokter kandungan, kalau dia sudah memberikan jadwal pemeriksaan kalian berdua harus datang padanya." suruh Umi.
"Baik umi," ucap keduanya bersamaan.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, seperti biasa Azril dan Alia pun berangkat bersama-sama, Azril pergi ke kantornya dan Alia pergi ke kelas memasaknya.
Selama di perjalanan, Alia hanya terdiam memikirkan ucapan sang mertua, dia menjadi gelisah karena tak kunjung memberikan cucu pada mertuanya, dia takut semakin lama ibu mertuanya semakin tak suka padanya.
"Sayang!" panggil Azril.
"Iya Bang," Alia menoleh pada suaminya.
"Jangan pikirkan ucapan Umi ya! Umi hanya merasa kesepian saja akhir-akhir ini karena aku dan Abah terlalu sibuk dengan pekerjaan. Mungkin jika pekerjaanku dan Abah sudah sedikit longgar, aku akan bilang Abah untuk mengajak Umi liburan bersama."
"Iya bang,"
"Yang penting kita terus berusaha dan berdoa ya sayang, semoga secepatnya Allah memberikan kita amanah," doa Azril.
"Amin Ya Robbala'laminn.."
Mereka pun terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Iya, boleh sayang!" Azril tersenyum manis.
"Ah.. Terimakasih suamiku sayang! Aku sangat mencintaimu!" ucap Alia berbinar bahagia sembari memeluk lengan suaminya.
"Apa perlu aku suruh Dennis untuk anter kamu ke rumah ayah?" tanya Azril.
"Tidak perlu Abang sayang, nanti aku naik taksi online aja."
"Baiklah sayang, yang terpenting selalu hati-hati ya! Kemanapun kamu berada dan selalu mengabariku!"
"Siap Pak Ustadzku sayang!" goda Alia tersenyum jahil.
"Wahh sejak kapan istriku pintar menggodaku! Awas saja ya kalau di rumah nanti, nggak akan aku biarkan kamu tidur nyenyak sayang!" ucap Azril sembari menatap istrinya dengan buas.
"Isshhh! Dasar Pak Ustadz mesum!" ucap Alia berpura-pura kesal dan mendorong pelan bahu suaminya, sedangkan Azril hanya terkekeh.
***
Siang harinya sekitar pukul 1 siang, setelah mengikuti kelas cooking dan baking, Alia bertandang ke rumah orangtuanya.
Dia memasuki halaman rumah yang dia tinggali sejak kecil, sungguh dia selalu rindu suasana rumahnya.
Anindita sang adik, berhamburan memeluk Alia saat melihat sang kakak datang berkunjung.
"Kak Alia, aku kangen kak!"
__ADS_1
Anin memeluk kakaknya dengan manja.
"Kakak juga kangen kamu nin! Eh ibu sama Omar mana?" tanya Alia.
"Ibu di dalam kak, kalau Omar seperti biasa kak, pasti lagi bantu Ayah jualan." jawab Anin.
"Hm,"
Alia dan Anin pun masuk ke dalam rumah mereka dan menghampiri sang ibu yang sedang berada di dapur.
Ibu Siti menyambut putri sulungnya dengan bahagia, mereka juga saling meluapkan rasa rindu mereka dan saling berbagi cerita.
Pukul 3 sore Azril bersiap akan pergi, sejak pagi dia lebih fokus dengan pekerjaannya tanpa mau diganggu karena ingin segera menyelesaikan pekerjaannya lebih awal hari itu, dia ingin segera menjemput istrinya ke rumah sang mertua.
Saat dia melewati jalan-jalan perkampungan menuju rumah sang mertua, tak disangka ada sebuah keributan di tengah jalan.
Dia menghentikan mobilnya, membuka kaca mobilnya dan bertanya pada warga sekitar tentang keributan yang terjadi.
"Maaf kalau boleh tahu, itu ada keributan apa ya pak?" tanyanya.
"Oh itu, ada anak SMA membawa sepeda federal yang tak sengaja menabrak motor pria berbaju hitam itu," jawab pria paruh baya yang ada disebelah Azril.
Saat beberapa orang terlihat pergi, Azril sempat melihat siluet tubuh pemuda berseragam sekolah SMA yang sedang dimarahi oleh seorang pria berbaju hitam itu, pelajar itu seperti tak asing baginya.
Beberapa orang tidak berani membela pelajar itu padahal mereka tahu pelajar SMA itu tidak bersalah.
"Lo tahu nggak, motor gue ini mahal! Lo bahkan nggak bisa beli yang beginian! Bisa-bisanya ya lo nabrak motor gue pake sepeda butut lo, mata lo itu dimana sih! Sekarang gue nggak mau tahu! Lo harus bikin motor gue mulus lagi!" teriak Pria berbaju hitam dengan amarah luar biasa.
Dia menendang sepeda pelajar itu berkali-kali karena kesal.
Padahal motor itu hanya baret sedikit saja, tidak sampai pecah tapi pria itu sangat marah dan bersikeras meminta ganti rugi.
Sedangkan pelajar itu hanya bisa pasrah sepeda federal tua kesayangannya sudah dirusak pria itu.
"Maaf bang, rem saya memang rusak dan saya juga terburu-buru. Lagipula Abang sudah tahu kalau jalan tikungan harusnya Abang kan liat-liat dulu sebelum nyebrang bukan asal jalan aja,"
"Eh dasar lo ya anak miskin nggak tau diri! Udah salah malah nyalah-nyalahi gue, gue nggak mau tahu ya! Sekarang ganti servis motor gue 500 ribu sekarang! Atau gue laporin Lo ke polisi!" ancam pria baju hitam itu.
"Tapi bang kalau uang sebanyak itu saya nggak punya bang, bolehkah saya cicil pake uang saku saya bang?" tanya pelajar itu dengan perasaan takut dan cemas.
Sebenarnya dia tidak takut pada pemuda itu, karena dia merasa benar tapi sayangnya tidak ada yang mau membelanya jadi seolah-olah semua orang disana memojokkannya. Dia hanya takut masalah ini didengar ayah dan ibunya, dia tidak tega jika uang hasil jerih payah sang ayah berjualan bakso seharian, harus diberikan pada pria tidak tahu diri itu.
"Enak aja lo mau nyicil! Nggak adalah nyicil-nyicil! Minta sono lo sama nyokap bokap lo atau penjara menanti lo!" ancamnya lagi.
"Biar aku yang bayar servis motor kamu!" ucap Azril yang muncul di belakang pelajar SMA itu.
"Bang Azril!" Omar berbinar bahagia.
"Alhamdulillah Ya Allah, terimakasih telah Engkau kirimkan malaikat penyelamat untuk hamba Ya Rabb," ucap Omar dalam hati.
"Omar kamu nggak apa-apa?" tanya Azril memandang lembut wajah adik iparnya.
"Alhamdulillah nggak apa-apa bang," ucap Omar tersenyum bahagia.
Azril mengangguk kemudian dia mengambil dompetnya dan memberikan uang 500 ribu pada pria berbaju hitam itu.
"Ini buat servis motor kamu yang ditabrak adikku!" ucap Azril menyerahkan uang 500 ribu pada pria itu.
__ADS_1
"Nah gini donk! Begini kan enak nggak harus marah-marah dulu, jaga itu adik lo jangan sampai bikin gara-gara lagi sama gue di jalan!" ucap si pria dengan sombongnya.