Khadijah Sang Bidadari Surga-ku

Khadijah Sang Bidadari Surga-ku
Bab 23. Wanita Baik Hati


__ADS_3

"Lalu siapa anda ini?" tanya Pak Faruq ada beberapa orang itu.


"Kami adalah pihak bank yang akan menyita mansion anda! Sudah tiga bulan berturut-turut adik anda tidak membayar cicilan pada bank kami sama sekali! Dan anda pasti tahu kan nilainya sangat besar,"


"Degg!!"


Jantung Pak Faruq tiba-tiba terasa nyeri lagi, dia sampai lupa jika waktu itu dia meminjamkan sertifikat mansionnya pada Fara untuk modal usaha sang adik, dan sekarang Fara malah tidak membayarnya sama sekali.


Sungguh dia ingin sekali berteriak marah pada sang adik tapi sialnya si pembuat masalah tidak ada di depannya, lagi-lagi harus dibodohi oleh sang adik, dia terlalu sayang pada adik-adiknya tapi mereka malah menghancurkannya.


Semua orang yang ada disana pun tak kalah terkejut terutama Azril dan Umi Fatimah. Mereka tidak menyangka Abahnya mengadaikan sertifikat mansionnya di sebuah bank tanpa sepengetahuan mereka.


Alia yang sudah berada diantara orang-orang pun juga terkejut.


Umi Fatimah begitu malu di depan keluarga besar dan keluarga Nabila.


Umi Fatimah dan Azril menghampiri Abah Faruq.


"Abah, meminjam untuk apa? Apa untuk diberikan adik Abah yang tidak tahu diri itu? Kenapa jadi kita yang diusir di rumah sendiri?" tanya Umi dengan tatapan penuh kecewa pada suaminya.


Biasanya Umi tidak pernah mengurusi apapun yang dilakukan suaminya pada ketiga adik suaminya tapi kini dia benar-benar kecewa dan marah karena suaminya sendiri yang telah mempermalukannya di depan banyak orang.


Apalagi ini menyangkut tempat tinggal mereka, bagaimana bisa suaminya meminjamkan sertifikat mansionnya tanpa sepengetahuannya? Sungguh dia kecewa luar biasa dengan sang suami.


"Ma.. Maafkan abah, Umi.."


Abah Faruq tak bisa menyangkal lagi, dia melihat sorot kecewa dan kemarahan sang istri.


Dia merasa sangat bersalah pada istri dan putranya, ditambah, sangat malu di depan banyak orang, kini tubuhnya pun mulai bergetar dan nyeri di dadanya pun semakin menjadi.


"Pak, masalah keluarga anda tolong diselesaikan sendiri! Saya hanya kasi anda waktu 1x24 jam untuk mengemasi semua barang-barang anda! Tapi jika anda tidak mau pergi juga anda, pihak berwajib yang akan turun untuk mengusir kalian." ucap pria itu dengan tegas.


"Bruuukkkk!"


Dan tiba-tiba Pak Faruq terjatuh pingsan.


Semua orang menjadi heboh, Umi Fatimah berteriak histeris dan Alia segera menghampiri sang ibu mertua untuk menenangkannya.


Azril meminta pertolongan pada beberapa orang untuk mengangkat tubuh sang ayah ke mobil.


Umi Salamah, ibu Nabila menghampiri Umi Fatimah. Dia terpaksa menghentikan langkah Umi Fatimah karena terus didesak Nabila agar berbicara pada sahabatnya itu tentang kelanjutan pernikahan putra putri mereka.


"Jeng bagaimana ini? Apa tidak bisa kita lanjutkan dulu pernikahannya, itu pak penghulunya sudah datang," ucap Umi Salamah dengan tidak tahu malunya.


"Astaghfirullah Hal'adzim.. Apa anda tidak lihat, suami saya sedang dibawa ke rumah sakit? Sahabat macam apa anda ini, bukannya bersimpati malah memikirkan kepentingan anda sendiri!" ucap Umi Fatimah menatap tajam kearah sahabat baiknya itu.


"Saya membatalkan pernikahan ini! Azril dan Nabila tidak akan pernah menikah sama sekali! Silahkan anda semua pergi dari mansion saya!" teriak Umi Fatimah dengan perasaan kecewa dan marah.


Umi Fatimah bukannya tidak bertanggungjawab dengan acara ini, sebenarnya pernikahan ini atas permintaan dan bujukan dari Nabila dan ibunya sendiri. Awalnya Umi Fatimah menolak karena dia sendiri membenci poligami, tapi karena sahabatnya itu terus membujuknya dan merayu hingga mengatakan jika Azril dan Nabila masih mencintai, akhirnya Umi Fatimah pun lama-lama luluh. Karena dia sendiri pada dasarnya tidak menyukai sang menantu jadi dia gampang untuk termakan bujukan mereka.


Umi Salamah pun menjadi segan dan merasa tak enak melihat kemarahan sahabatnya, dia menyalahkan putrinya, karena ketidaksabaran putrinya membuat hubungan persahabatan mereka menjadi hancur.


Sedangkan Alia tersenyum kelegaan dalam hatinya, bolehkan dia bahagia saat ini mendengar pernikahan suaminya gagal?

__ADS_1


"Alhamdulillah Ya Allah Engkau mendengarkan doa hamba, dan sekarang hamba berdoa tolong beri kesembuhan untuk abah Ya Rabb.. Amin Ya Robbala'laminn.." doa Alia dalam hatinya.


Umi Fatimah segera berjalan menuju mobilnya untuk mengejar suami dan putranya yang sudah menuju ke rumah sakit, tanpa dia sadari dia mengenggam erat tangan Alia.


"Umi, jangan khawatir Abah pasti akan baik-baik saja," Alia tersenyum memandang lembut sang ibu mertua.


Saat Umi Fatimah menyadari jika tangannya tengah menggenggam tangan sang menantu, dia buru-buru melepaskan genggamannya.


"Ah maaf, terimakasih Al."


Alia pun mengangguk.


Sedangkan Umi Fatimah pun membuang wajahnya ke arah jendela, sungguh dia malu mendapatkan simpati dari menantu yang telah disakitinya itu.


Dia berfikir jika benar apa yang dikatakan para pelayannya, jika Alia memang wanita yang baik hati, dari sorot matanya tidak ada tersimpan dendam dan benci padanya padahal selama ini dia tidak pernah menganggapnya ada.


Dia tiba-tiba merasa sangat bersalah pada menantunya itu, kenapa disaat sang menantu bersedih karena kenyataan buruk yang menimpanya, bukannya dia simpati dan mendukung sang menantu, dia malah semakin menyakiti hatinya dengan menikahkan sang putra dan putri sahabatnya.


Dia sadar jika mungkin ini adalah teguran keras dari Allah agar dia menyadari jika wanita yang selalu diabaikannya itu selama ini selalu ada untuk keluarganya, dia yang selalu bersusah payah memasak makanan yang sehat dan bergizi untuk dia, putra dan sang suami.


Wanita itu juga tidak pernah protes saat dia suruh-suruh, bahkan dengan patuh selalu mengantarkannya untuk cek kesehatan ke rumah sakit tiap bulannya.


Ingin sekali dia mengatakan maaf pada sang menantu, tapi lidahnya terasa kelu untuk berucap, dan akhirnya dia memilih untuk diam.


Setelah beberapa menit berlalu akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit.


Azril dan semuanya menunggu di ruang UGD dengan perasaan yang cemas luar biasa.


Selang beberapa menit berlalu akhirnya dokter keluar dari ruang UGD.


Dan semuanya hanya bisa bersedih, Umi Fatimah pun menangis tersedu-sedu memeluk sang putra.


"Umi sabar, kita berdoa ya sama Allah semoga Allah berikan kesembuhan pada Abah." Azril menenangkan ibunya.


Dan akhirnya mereka pun menginap lagi di rumah sakit untuk memantau terus kondisi Pak Faruq.


***


Keesokan harinya, Pak Faruq sudah sadarkan diri, dia terus memanggil nama istri dan putranya.


Umi Fatimah pun masuk dengan memakai baju khusus rumah sakit dan menyapa sang suami.


"Assalamualaikum Abah,"


"Wa.. Wa'alaikumsalam.. Umi," jawab Pak Faruq dengan suara terbata-bata.


"Apa Abah sudah lebih baik?" tanya Umi dan Abah pun balas mengangguk.


"Alhamdulillah Bah, umi senang Abah sudah lebih baik. Abah harus semangat sembuh ya! Kami sangat menyayangi Abah." ucap Umi dengan lembut.


Dia menahan airmatanya agar tidak jatuh di depan sang suami.


"Ma..Maafkan abah, Umi! Abah mengecewakan umi."

__ADS_1


"Sudah Abah jangan dibahas lagi, putra kesayangan kita sudah menyelesaikan semuanya dan mansion masih menjadi milik kita." ucap Umi menenangkan hati suaminya.


Abah Faruq pun mengangguk dan mulai meneteskan airmatanya, lagi-lagi dia merasa sangat beruntung memiliki putra dan istri yang selalu setia menemaninya dan memaafkan segala kesalahannya, "Terimakasih umi,"


"Sama-sama Bah. Tolong Abah jangan memikirkan apapun dulu ya, Abah harus sembuh dulu!"


Abah Faruq pun mengangguk lagi, lama-lama dia pun tertidur lagi karena pengaruh obat dari dokter.


Sore harinya, Nenek Hanifah bersama ketiga putranya yang selalu membuat masalah itu, datang menjenguk Pak Faruq.


Sedangkan Azril mengepalkan tangannya dengan kuat saat melihat tiga biang kerok itu datang, dia benar-benar enggan memandang wajah memuakkan kedua paman dan bibinya.


Alia yang menyadari raut kemarahan sang suami, segera menenangkannya. Dia memandang mata sang suami sembari mengelus punggung suaminya dengan lembut.


"Assalamualaikum.." salam Nenek Hanifah dan mendekat pada cucu dan menantunya.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. " jawab mereka bersamaan.


Azril, Alia dan Umi Fatimah menyalami Nenek Hanifah saja.


"Bagaimana kabar Umi?" tanya Umi Fatimah pada sang ibu mertua.


"Alhamdulillah umi sehat nak,"


"Untuk apalagi kalian kesini! Apa kalian ingin membuat abahku semakin sakit?" ucap Azril memandang tajam ke arah paman dan bibinya yang berada di belakang sang nenek.


"Dasar bocah sombong! Bukannya


menyalami kami, kamu malah bersikap tak sopan!" gerutu Paman Fadil.


Sedangkan Bibi Fara mencengkeram kuat lengan adiknya, agar Paman Fadil tidak menyulut pertengkaran.


"Kalian bukan paman dan bibi yang pantas aku hormati! Karena ulah kalian, dua kali abahku jadi masuk rumah sakit!" ucap Azril dengan kesal.


"Maafkan kami Ril, kami tidak bermaksud untuk membuat Abahmu sakit, kami kesini untuk meminta maaf secara langsung pada Bang Faruq. Kami menyesal berkali-kali menyakitinya, terutama aku yang sudah mengecewakan kakakku," ucap Bibi Fara yang menangis tersedu-sedu.


"Sudahlah Ril, biarkan mereka meminta maaf. Semoga dengan kejadian ini, paman dan bibimu bisa sadar lagi jika Abahmu itu adalah kakak yang baik dan sangat berharga." nasehat Nenek Hanifah.


"Baiklah nek,"


Azril pun akhirnya mengalah, dia membiarkan paman dan bibinya menjenguk sang Abah.


Awalnya Nenek Hanifah yang masuk untuk menemui putranya langsung.


Dia memandang sedih tubuh lemah dengan banyak alat terpasang disana. Dia menangis dalam diam tanpa berkedip memandang putra sulungnya.


Pak Faruq yang menyadari keberadaan seseorang di ruangannya, tiba-tiba pun terbangun.


"Umi, maafkan Faruq mi."


"Tidak nak, kamu tidak melakukan kesalahan apapun, Umi bangga padamu Faruq. Kamu sesabar itu menghadapi adik-adikmu yang kurang ajar, umi yang seharusnya minta maaf, karena umi tidak bisa mendidik mereka dengan benar hingga membebankan kamu seperti ini." ucap Nenek Hanifah yang menangis tersedu-sedu .


Dia tidak tahan lagi melihat penderita putra sulungnya, putranya itu telah melakukan banyak hal untuk adik-adiknya tapi nyatanya hanya keburukan saja yang dia dapat, sedangkan dia sendiri tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah itu. Dia terus merutuki dirinya sendiri dalam hati.

__ADS_1


"Tidak umi, umi jangan menyalahkan diri anda sendiri! Aku mohon umi jangan bersedih lagi,"


__ADS_2