Khadijah Sang Bidadari Surga-ku

Khadijah Sang Bidadari Surga-ku
Bab 20. Permintaan Umi


__ADS_3

"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab mereka bersamaan.


Azril dan Abah Faruq terkejut dengan kedatangan Nabila dan keluarganya.


Azril bertanya-tanya bagaimana bisa gadis itu masih berani menampakkan wajahnya dan seperti tidak ada raut bersalah disana.


"Eh mari-mari sini masuk!" ajak Umi Fatimah dengan binar bahagia.


Sudah pasti Umi Fatimah yang mengijinkan mereka untuk menjenguk Abah Faruq.


Pak Syarif dan Bu Salamah berbasa-basi menanyakan kabar Pak Faruq, mereka para orangtua mengobrol begitu akrab. Azril menyapa orangtua Nabila sekilas lalu pamit untuk keluar sebentar pada mereka.


Azril memilih duduk di luar ruangan dan fokus dengan ponselnya, berada diantara orang-orang itu rasanya seperti tidak nyaman buatnya.


Dia juga tidak begitu peduli dengan keberadaan Nabila, wanita yang pernah dia cintai dan menolaknya terang-terangan.


Nabila keluar menyusul Azril keluar ruangan dan melihat Azril sedang duduk di bangku panjang yang ada di depan ruangan Pak Faruq dirawat. Dia memilih ikut duduk di bangku panjang itu dan tak jauh dari Azril duduk.


Sedangkan Azril masih saja cuek, dan tak menganggap Nabila ada.


"Gimana kabarmu Bang?" tanya Nabila mengawali percakapan mereka.


"Alhamdulillah aku sangat baik," jawab Azril datar.


"Aku dengar Abang sudah menikah ya? Maaf aku nggak bisa datang karena harus meneruskan studiku terlebih dulu," ucap Nabila basa-basi.


"Hm, nggak masalah. Iya aku udah nikah." jawab Azril singkat.


"Aku.. Aku minta maaf waktu itu harus membatalkan pertunangan kita bang, aku sangat menyesal menyia-nyiakan pemuda baik seperti Abang," ucap Nabila dengan mata berkaca-kaca.


"Lupakan saja! Mungkin kita memang nggak berjodoh, dan Itu sudah sangat lama, aku bahkan sendiri sudah lupa!" ucap Azril masih fokus dengan ponselnya.


Hati Nabila begitu sakit mendengar ucapan Azril, tapi dia yakin jika Azril masih mencintainya.


"Tapi selama beberapa bulan ini, aku memikirkan abang, aku baru sadar kalau aku menyukai Abang." ucap Nabila tanpa basa-basi.


"Hah? Apa maksudmu berkata seperti itu? Bukannya dulu kamu meninggalkan pertunangan kita karena menyukai seseorang? Kenapa sekarang jadi menyukaiku?" Azril sungguh heran.


"A.. Aku baru sadar kalau lelaki yang aku sukai bukan tipe laki-laki yang setia, dia pergi meninggalkanku demi wanita lain. Dan disitulah aku baru sadar jika sifatnya dengan sifat Abang sangat jauh berbeda, Abang seribu kali lebih baik darinya dan aku mulai menyukai Abang." Nabila mengakui.


"Astaga Bila!" Azril tersenyum kesal bercampur lucu, "Ceritamu benar-benar tidak berpengaruh untukku, simpan saja untukmu sendiri, soal perasaanmu lebih baik kamu kubur saja dalam-dalam dan mulai carilah laki-laki baik yang mau mendampingimu." ucap Azril sedikit muak.


"Tapi aku maunya Abang yang jadi suami aku!" ucap Nabila tak tahu malunya.


"Kamu sadar nggak aku udah punya istri? Sebaiknya kamu mencari orang lain aja,"


"Aku tahu Abang punya istri tapi aku mau kok jadi istri kedua Abang, karena aku yakin jika Abang masih mencintaiku, Abang tidak akan mudah melupakanku," ucap Nabila dengan yakin.


"Hah! Percaya diri sekali kamu!" Azril tersenyum mencibir.

__ADS_1


"Asal kamu tahu aku tidak akan melakukan poligami, jadi jangan berharap menjadi istri keduaku!"


"Ril," panggil Umi Fatimah, dia menghampiri mereka, disusul dengan Umi Salamah.


"Iya umi, apa umi butuh bantuan?" tanya Azril.


"Nggak Ril," Umi Fatimah dan Umi Salamah duduk di tengah-tengah diantara Azril dan Nabila.


"Kau tahu istrimu kan susah punya keturunan, padahal Umi dan Abah ingin segera memiliki cucu, jika Abah tahu berita buruk ini pasti Abah akan semakin sedih dan kondisinya drop lagi. Kenapa tidak kamu pertimbangkan saja menjadikan Nabila istri keduamu? Dia bersedia kok di poligami, siapa tahu setelah kalian menikah kalian akan cepat mendapatkan keturunan," saran Umi Fatimah.


Umi Fatimah tidak tahu jika Nabila meninggalkan putranya karena laki-laki lain, yang dia ketahui dari cerita Nabila, jika waktu pembatalan pertunangan itu dia beralasan karena belum siap dan masih ingin menyelesaikan pendidikan S2-nya, jadi itu yang membuat Umi Fatimah ingin mendekatkan Azril dan Nabila kembali. Karena baginya Nabila adalah menantu idaman, cantik, Sholeha dan berpendidikan tinggi. Jika berdampingan dengan putranya begitu sangat pas dan serasi pikirnya.


"Degg!!"


Jantung Alia terasa berhenti berdetak saat sang ibu mertua meminta putranya untuk melakukan poligami, bahkan tanpa meminta izin darinya terlebih dulu.


Sebenarnya Alia sudah datang ke rumah sakit sejak awal perbincangan Azril dan Nabila, tapi dia memilih bersembunyi karena penasaran apa yang akan dibicarakan suami dan sang mantan tunangan.


"Astaghfirullah Hal'adzim Umi, kami kan baru menikah belum juga ada dua tahun, seharusnya Umi bisa bersabar sedikit bukannya menyuruh Azril menikah lagi," keluh Azril.


"Aku nggak mau menikah lagi umi, aku maunya Alia satu-satunya yang menjadi istriku," tolak Azril tanpa peduli Nabila yang kini sudah mengeluarkan airmatanya.


"Apa kamu mau umi dan abah meninggal sebelum menimang cucu?"


Umi Salamah dan Nabila memilih diam untuk mendengarkan perdebatan ibu dan anak itu.


"Dulu kamu kekeh menikahi Alia dan umi setuju walaupun sebenarnya umi tidak setuju, jadi sekarang giliran kamu harus mematuhi ucapan umi! Umi maunya kamu menikahi Nabila juga Ril, karena dari segi apapun kamu sudah memenuhi syarat untuk melakukan poligami apalagi istrimu sudah divonis dokter susah memiliki keturunan, lalu apalagi yang kamu ragukan?" ucap Umi Fatimah tak mau kalah.


"Degg!!"


Lagi-lagi ucapan ibu mertuanya membuat hati Alia begitu sangat perih, dia kira dia sudah mulai diterima oleh ibu mertuanya, tapi nyatanya Umi Fatimah masih tak menginginkannya dan malah menyuruh putranya untuk poligami.


"Ya Allah kuatkan hati hamba, aku tahu engkau selalu bersamaku Ya Rabb," bathin Alia yang menangis dalam diam.


Ingin sekali dia pergi dari sana karena sudah tak kuat lagi, tapi dia ingin tahu reaksi suaminya.


"Sejak kapan umi lebih percaya ucapan dokter daripada keajaiban Allah? Aku akan bersabar untuk istriku umi, tolong jangan memaksaku," pinta Azril.


"Apa kamu mau jadi anak durhaka Ril? Beraninya kamu menentang umi!"


"Bukan begitu umi, permintaan umi itu sungguh tak masuk akal, aku bukan pria yang bisa berhubungan dengan dua wanita, lagipula Alia juga tidak akan mengijinkan. Tolong umi mengertilah!"


Alia tahu jika Azril sudah lama mencintai mantan tunangannya itu, dari diary milik suaminya yang tak sengaja dia temukan lalu dia baca.


Dia menghapus airmatanya dan akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri mereka.


"Saya akan mengijikan Bang Azril menikah lagi, jika Bang Azril juga menginginkannya." ucap Alia yang kini sudah berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk.


Dia menampilkan senyuman termanisnya di depan mereka, walau saat ini hatinya seolah seperti berteriak menangis.

__ADS_1


Nabila tersenyum kemenangan dalam hatinya.


"Al, apa kamu dengar semua?" Azril terkejut melihat kehadiran Alia yang tiba-tiba muncul.


Alia mengangguk tersenyum.


"Apa kamu sadar dengan ucapanmu Al? Poligami itu sangat berat, aku sendiri tidak ingin dan merasa tidak mampu menjalankannya, tapi kenapa kamu malah mengijinkanku?"


"Aku tahu Abang, makanya aku bilang, jika Abang mau, aku akan mengijinkan, apalagi aku ini bukanlah istri yang sempurna." ucap Alia menahan semua perih hati dan airmatanya.


"Baguslah kalau kamu sadar," celetuk Umi Fatimah.


"Umi, tolong." Azril memperingati ibunya agar tidak menyakiti sang istri.


Sedangkan Alia, hanya bisa menahan agar airmatanya tak keluar, rasanya dia ingin segera pergi dari sana.


"Apalagi Ril? Istri kamu aja udah setuju, jadi, umi mau kamu dan Nabila menikah dua minggu lagi, kalau kamu mau umi masih bernafas, kamu harus menurut!" ancam Umi Fatimah.


"Astaghfirullah Hal'adzim Umi," geram Azril sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


Sedangkan Alia mengelus punggung suaminya untuk menenangkannya.


Azril menoleh pada istrinya dengan tatapan sedih bercampur binggung dan kesal.


Lalu Alia hanya membalas tatapan suaminya dengan senyuman dan anggukan saja.


"Baiklah aku akan menikahi Nabila, tapi jika Nabila tak kunjung memberikan aku keturunan, aku yang mundur dari pernikahan konyol ini!" ucap Azril dengan kesal.


Dia pergi dari sana sembari menarik tangan istrinya agar ikut bersamanya.


Sedangkan Umi Fatimah, Nabila dan Umi Salamah tersenyum penuh kelegaan.


Umi Fatimah sangat bahagia bisa berbesanan dengan sahabatnya itu. Walaupun dia sendiri tidak tahu apa Nabila bisa memberikan cucu atau tidak, tapi yang terpenting baginya saat ini putranya sudah setuju untuk melakukan poligami.


Azril masuk ke dalam mobilnya, begitu pula dengan Alia yang mengikuti sang suami.


Keduanya hanya terdiam tanpa bisa berkata-kata, kejadian beberapa menit lalu benar-benar membuat keduanya terkejut dan sedih.


Jujur, Azril sudah melupakan cintanya pada Nabila dan mulai mencintai istrinya, tapi kenapa gadis itu malah muncul lagi dan mengacaukan kebahagiaan saat ini, sungguh dia ingin lari saja dari rumah dan membawa istrinya pergi jauh.


Tapi lagi-lagi keinginan itu hanya ada diangan saja, karena dia sangat mencintai orangtuanya dan tidak mungkin meninggalkan mereka begitu saja.


Berbeda dengan Alia, dia mengira jika sang suami masih mencintai sang mantan tunangan, dia akan mencoba ikhlas jika suaminya menikahi wanita itu walau sebenarnya hatinya sangat sakit dan tak rela tapi dia lakukan demi kebahagiaan suaminya.


Tiba-tiba dia menyalahkan dirinya sendiri, jika dia tidak melamar Azril dan datang dihidup pria itu, mungkin saat ini sang suami sudah menikah dengan gadis yang dicintainya bukan gadis biasa sepertinya.


Tak terasa mobil Azril telah sampai di sebuah pantai, dia mengajak Alia turun dan menikmati sunset sore itu.


"Maafkan aku Al.." ucap Azril dengan pandangan mata masih ke depan dan memandang indahnya sunset di pantai.

__ADS_1


__ADS_2