
"Wa'alaikumsalam.. kak, iya biasa lagi merajuk dia," ucap Alia tersenyum masam.
Azril segera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan menghampiri Alia.
"Sini biar aku benerin dulu," Azril mengambil motor Alia dan meletakannya di belakang mobil.
"Eh apa tidak merepotkan Kak?" Alia merasa tak enak.
"Nggak merepotkan, tenang aja! Mumpung hari juga belum gelap. Soal keahlian jangan diragukan, aku kuliah jurusan teknik mesin kok."
"Iya kak," Alia tak bisa berkata-kata karena takjub.
Pria ini benar-benar serba bisa dan sempurna, pikirnya. Dan dia semakin merasa minder pada Azril.
"Mau kemana ini tadi?" tanya Azril yang masih fokus memperbaiki motor Alia.
"Habis nganterin temen kerja kak, motornya lagi di bengkel soalnya."
"Temen kerja?" tanyanya lagi.
"Temen kerja sekaligus teman sekolah SMA dulu,"
"Oh!" jawab Azril singkat.
"Kakak sendiri habis darimana?" tanya Alia.
"Habis dari Abah, nyerahin CV-ku untuk diberikan sama kamu." jawab Azril enteng.
Sedangkan Alia menjadi tegang.
"Ah itu, apa kakak sudah membaca CV-saya?" tanya Alia ragu-ragu dengan perasaan malu.
"Sudah kok, terimakasih sudah memulainya terlebih dulu. Aku sebenarnya kaget karena baru pertama kali ini di ajak ta'aruf seorang wanita, biasanya aku yang mengajak ta'aruf duluan." jujur Azril.
Alia terdiam, dia binggung harus menanggapi apa.
Sebenarnya Azril tidak bermaksud meremehkan Alia, dia malah kagum pada gadis itu, gadis itu terbuka dan apa adanya.
Berbeda dengan Alia, dia merasa sangat malu mengajak Azril untuk ta'aruf terlebih dulu. Rasanya ingin menghilang saja ke dasar bumi, padahal sebelumnya dia juga tidak pernah pacaran, apalagi ta'aruf dengan seorang pria. Tapi jika dia tidak mencoba dan berusaha dia akan menyesal sendiri, jadi dia tidak peduli lagi hasilnya nanti, yang penting berdoa dan yakin saja.
"Bagaimanapun hasilnya nanti, aku harap tidak akan berpengaruh pada pertemanan kita ya Mbak," ujar Azril.
"Hah!" Lamunan Alia buyar seketika, " Eh iya Kak, tenang saja. Saya menerima keputusan kakak dengan lapang dada kok." ucap Alia tersenyum kaku.
"Aku belum memutuskan Mbak, sabar ya," Azril tersenyum ramah.
"I.. Iya Kak," Alia semakin gugup lalu membuang mukanya kesembarang arah.
"Sudah selesai mbak, bentar kita coba dulu."
Saat Azril mencoba motor Alia, motornya pun bisa menyala lagi dan Alia pun berbinar bahagia.
"Terimakasih ya kak!"
"Sama-sama Al,"
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Kak, udah mau adzan magrib ini."
"Iya Al, hati-hati di jalan ya! Ini kartu namaku, simpan saja jika kamu sedang butuh bantuan." ucap Azril sembari menyodorkan kartu namanya.
__ADS_1
"Baik Kak, terimakasih banyak." Alia reflek mendekap kartu itu di dadanya dan tersenyum bahagia.
Azril pun ikut tersenyum lalu mengangguk membalas ucapan Alia.
Kemudian mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing.
**
Dua minggu kemudian..
Alia tidak bertemu Azril sama sekali, bahkan dia sengaja datang di hari Minggu juga agar bisa bertemu dengan Azril, tapi nyatanya sudah dua kali Minggu Azril tidak datang mengajar anak-anak di pondok pesantren.
Saat Alia menanyakan pada Umi Mutia, dia juga tidak tahu mengenai kabar Azril. Jika untuk bertanya pada ibunda Azril, Umi Mutia juga terlalu segan.
Alia pun semakin gelisah dan berfikir jika Azril memang sengaja menghindarinya dan menolaknya secara halus. Dia tahu jika pada akhirnya hasilnya akan begini, dia pasti akan ditolak dan patah hati. Tapi tidak bisa dipungkiri jika dia sangat berharap bisa memiliki pria Sholeh itu, walau harapannya hanya 1% saja.
Di setiap sepertiga malamnya, dia menangis pada Allah, dia meminta pada Allah agar hatinya bisa tegar dan ikhlas menerima segala kenyataan pahit. Dia memasrahkan dirinya pada Allah, mengikuti kemanapun takdir akan membawanya. Tapi satu hal yang dia yakini, jika memang dia tidak berjodoh dengan Azril, Allah pasti akan siapkan jodoh yang lebih baik untuknya.
Di suatu siang, di Toko Roti Pak Hamid, Alia bekerja seperti biasa.
"Al, tolong kamu antarkan kue tart ke alamat ini ya, karena customer kita yang satu ini pemilik salah satu restoran terkenal, jaga kuenya! Jangan sampai cacat sedikitpun, jadi yang paling aman kamu naik grab aja," perintah Paman Hamid.
"Siap paman! Saya akan jaga kue ini dengan segenap jiwa dan raga saya!" ucap Alia seolah akan pergi ke tempat berbahaya.
"Elah drama mulu kamu Al! Berangkat sana!"
"Hehehe, iya paman!"
Alia pun segera melesat pergi menuju alamat restoran yang diberikan pamannya.
Setelah sampai di Restoran mewah itu, Alia segera menemui pegawai restoran dan memberikan pesanan Bossnya.
Saat akan keluar dari restoran mewah itu, mata Alia menangkap sosok pria yang selama ini menganggu pikirannya, pria yang sangat dia rindukan.
"Oh jadi karena wanita itu ya Kak Azril menghindariku, jadi seperti ini ya rasanya patah hati itu." Hati Alia mendadak terasa sesak dan perih, "Ya Allah kenapa rasanya sakit banget, terlalu sakit melihat dia bersama orang lain," gumam Alia dengan mata berkaca-kaca.
Dia pun segera keluar dari restoran mewah itu karena tak sanggup melihat pria yang dicintainya duduk dan akrab dengan wanita lain.
Sedangkan Azril yang tak sengaja melihat Alia keluar restoran, lalu segera mengejar gadis itu dengan senyuman yang terus mengembang. Entah kenapa rasanya dia sangat senang bertemu gadis itu lagi.
Alia berdiri di bawah pohon yang ada di pinggir jalan sembari menunggu grab pesanannya datang, hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ingin rasanya dia terbang agar dia cepat sampai ke tempat kerjanya lalu menangis puas di kamar mandi yang ada disana.
"Assalamualaikum.. Mbak Alia,"
Suara Azril tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
"Wa.. W'alaikumsalam.. Kak," Alia pun terkejut.
"Bagaimana kabarmu Mbak?" tanya Azril tersenyum manis, dia menatap gadis itu penuh kerinduan.
"Alhamdulillah baik kak, kakak sendiri bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah aku juga baik, maaf dua minggu belakang ini aku tidak mengabarimu dan kita tidak bisa bertemu, karena aku harus mengunjungi beberapa kota untuk meninjau pabrik baru yang akan di bangun."
"Iya kak, tidak apa-apa saya bisa mengerti kok."
"Eh bagaimana kabar pondok pesantren?" tanya Azril.
"Alhamdulillah semua baik-baik saja kak, semua yang disana merindukan kakak." jawab Alia.
__ADS_1
"Alhamdulillah aku senang jika semuanya baik-baik saja. Insyallah jika pekerjaanku sudah longgar aku akan datang ke pondok lagi, aku juga rindu dengan Abah, Umi dan para santri." ungkap Azril.
"Iya kak, eh aku balik dulu ya kak! Grabnya sudah datang," pamit Alia.
"Tunggu!" Azril reflek memegang lengan Alia untuk mencegahnya pergi.
Alia pun reflek melihat lengannya yang sedang di pegang oleh Azril, walau tidak menyentuh kulit secara langsung tapi mampu membuat jantung keduanya berdetak tak karuan.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Maaf mbak aku nggak sengaja!" Azril segera menjauhkan tangannya dari lengan Alia saat menyadarinya.
"Tidak apa-apa kak," Alia tersenyum manis.
"Biar aku antar ke toko ya?" tawar Azril.
"Tapi saya sudah terlanjur pesan grab kak, maaf ya!"
Kemudian Azril memberikan dua lembar uang seratus ribuan pada bapak grab itu dan membatalkan pesanan Alia.
"Eh kak, kenapa dibatalkan?"
"Yang penting aku sudah mengganti kerugian beliau, biar beliau bisa mencari penumpang lagi. Baiklah sekarang kamu nggak bisa nolak lagi buat aku anter, anggap saja ini untuk menebus kesalahanku yang tak memberimu kabar sama sekali dua minggu ini,"
Ucapan Azril seketika membuat Alia berbunga-bunga, dia heran kenapa pria itu merasa bersalah saat tidak memberikannya kabar, padahal mereka bukan calon tunangan atau pasangan suami istri.
"Eh lalu calon Kak Azril tadi bagaimana? Masa mau ditinggal begitu saja?" ucap Alia yang baru mengingat jika Azril sedang bersama wanita yang dia kira calon istrinya dan mengingat itu dia tidak bersemangat lagi.
"Bukan, dia bukan calon istriku Al. Dia hanya staff-ku, aku tidak hanya datang dengannya tapi dengan dua laki-laki lagi, jadi biarkan saja mereka kembali sendiri, kami tadi bawa dua mobil kok." Azril menjelaskan.
Dan seketika membuat hati Alia menjadi sangat lega, dia berfikir masih ada harapan untuk maju selangkah lagi, dia akan mencoba dan memastikan semuanya dengan jelas, jadi apapun hasilnya nanti dia akan terima dengan lapang dada.
Dan akhirnya, Alia pun diantar Azril kembali tempat kerjanya dan setelahnya Azril kembali bekerja lagi.
**
Pada hari Jum'atnya Azril pun berkunjung ke pondok pesantren, dan lagi-lagi tidak melihat Alia disana.
Azril pun memberanikan diri menanyakan keberadaan Alia pada Umi Mutia, dan Umi mengatakan jika Alia sedang sakit dan tidak bisa datang hari ini. Umi juga mengatakan jika anak-anak kecewa karena tidak ada kue dan masakan Alia. Sedangkan Umi sendiri tidak begitu pandai memasak apalagi membuat kue.
Dan pada akhirnya, Azril memesankan makanan dan kue untuk dimakan bersama Abah, Umi, dan Para santri.
Mereka sangat bahagia dan berterimakasih pada Ustadz idola mereka.
Dan malamnya Azril pun kembali dengan perasaan yang sedikit kecewa.
Setelah kepergian Azril, Umi Mutia segera menghubungi Alia yang sedang berbaring lemah di ranjang kamarnya.
Umi mengatakan jika Azril mencarinya, jadi Umi memberikan semangat pada Alia agar lekas sembuh dan bertemu Azril lagi.
Sedangkan Alia pun tersenyum bahagia, walaupun dia tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan pria itu padanya, tapi dia senang pria itu menanyakan keberadaannya.
**
Pada Hari Minggu Sore..
Alia datang ke rumah Azril, dia ingin bertemu dengan Bu Hajjah Fatimah dan Pak Haji Faruq secara pribadi. Dan ini kali pertamanya dia bertandang ke rumah seorang laki-laki. Ada perasaan takut, malu, canggung dan lain-lain, seolah berkumpul jadi satu di dalam dadanya.
"Assalamualaikum.." Alia mengucapkan salam saat masuk ke pintu utama dan seorang pelayan menghampirinya.
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. Apa perlu apa nona?" tanya pelayan itu
__ADS_1
"Hmm.. Saya ingin bertemu Bu Hajjah Fatimah, apa beliau ada di rumah?" tanya Alia dengan ragu-ragu.
"Ada, silahkan anda duduk nona. Biar saya panggilkan." ucap sang pelayan dan Alia pun mengangguk lalu duduk di sofa mewah yang ada di mansion besar itu.