
"Yakin bibi mau tau?" tanya Azril sembari memandang bibinya dengan tatapan meremehkan.
Yang tidak mereka tahu, jika semua CCTV di perusahaan dilengkapi dengan audio, jadi, bisa merekam detail semua pembicaraan siapapun yang ada di perusahaan.
Terlihat Azril membuka ponselnya, lalu memutar video rekaman CCTV mengenai bibinya yang telah disimpan.
Terdengar dari sana suara bibi Fara, merajuk pada kakaknya untuk meminta uang dengan alasan membeli barang yang dia inginkan dan ingin membelikan anaknya motor, laptop dan keperluan yang lain.
Tiba-tiba Bibi Fara berkeringat dingin dan wajahnya ketakutan, ingin sekali dia membuka mulutnya untuk menghentikan Azril, tapi melihat tatapan tajam suaminya dia hanya bisa pasrah.
"Tit!" terdengar Azril mematikan video rekaman itu.
Bibi Fara pun bisa sedikit bernafas sejenak.
"Bagaimana bibi? Apa harus aku putar seluruh videonya agar kamu percaya padaku?" ucap Azril dengan senyuman yang menyebalkan.
Bibi Fara hanya terdiam lalu menunduk.
"Sekarang pergilah kalian semua dari rumahku! Jangan pernah mengemis pada Abahku lagi! Saya tidak butuh saudara-saudara parasit seperti kalian!" ucap Azril mengusir seluruh keluarganya yang menyebalkan itu.
Tapi saat Nenek Hanifah juga akan pergi, Azril memegang lembut tangan neneknya.
"Nenek, aku mohon jangan pergi dulu!" pinta Azril dengan tatapan mengiba dan Nenek Hanifah pun mengangguk.
"Umi ayo kita pulang!" ajak Fara yang tiba-tiba kembali ke dalam mansion Abah Faruq, karena dia baru ingat jika masih ada ibunya disana.
"Kembalilah dulu Fara! Aku akan tinggal sebentar," ucap Nenek Hanifah.
"Tapi Umi!"
"Pergilah!"
"Ck!" Bibi Fara menghentakkan kakinya lalu pergi dari sana.
Kini hanya tinggal Nenek Hanifah yang ada di kediaman Abah Faruq, Azril menuntun neneknya untuk duduk di sofa empuk miliknya.
Sedangkan Abah Faruq dan Umi Fatimah hanya terdiam sembari melihat apa yang akan dilakukan putranya.
"Nenek maafkan Azril Nek, Azril sudah berdosa dan tidak sopan pada putra putri nenek, maafkan Azril Nek. Tapi saya mohon jangan membenci Abah dan Umi saya, nek!" Azril menangis sembari memeluk kaki neneknya.
Nenek Hanifah pun meneteskan airmatanya, hatinya seolah seperti diiris belati tak kasat mata, terasa sakit dan sangat pedih. Belum kering luka cucunya ditinggalkan oleh calon tunangannya, tapi kedua paman dan bibinya malah menambah luka lebih banyak dihati pemuda baik itu.
"Azril, cucuku sayang! Bangunlah nak, jangan seperti ini!" Nenek Hanifah memegang kepala cucunya agar menatap kearahnya.
Kedua orangtua Azril pun ikut meneteskan airmatanya.
__ADS_1
Azril pun bangun dan menghapus airmatanya, dan dia memandang lembut wajah sang nenek.
"Ril, jauh dari dalam lubuk hati nenek yang terdalam, nenek tidak pernah membenci kalian. Nenek sangat menyayangi kalian, nenek akui pendirian nenek lemah, nenek gampang dihasut agar membenci kalian. Nenek kira Abahmu selama ini tidak memperdulikan adik-adiknya karena kehadiran kalian, tapi nyatanya Abahmu masih sangat peduli dan menyayangi adik-adiknya, bahkan kesalahan mereka pun dia tutupi. Nenek sangat bangga pada Abah dan Umi-mu yang dengan lapang dada menghadapi adik-adiknya yang selalu membuat masalah."
"Iya nenek,"
"Jangan ragukan kasih sayang nenek lagi padamu cucuku, nenek sangat menyayangimu sama seperti cucu nenek yang lain." ucap Nenek Hanifah mengelus lembut pipi cucunya.
"Terimakasih Nek, Azril juga sangat menyayangi nenek." Azril menciumi punggung tangan neneknya berkali-kali.
Lalu, Nenek Hanifah memandang lembut pada putra dan menantunya yang sedang meneteskan airmata, lalu melambaikan tangannya pada mereka.
"Kemarilah kalian berdua!" panggil Nenek Hanifah lalu keduanya pun mengangguk dan duduk dihadapan wanita tua itu.
Azril bergeser dan duduk di samping neneknya.
"Faruq," panggil Nenek Hanifah.
"Iya Umi," jawab Abah Faruq.
"Maafkan Umi tidak bisa bersikap tegas pada adik-adikmu, mereka selalu membuat masalah dan salah jalan, ketika Umi mencoba mengingat, mereka tak pernah memperdulikan ucapan Umi."
Nenek Hanifah menggenggam tangan putranya.
"Aku mengijikanmu untuk berbuat tegas pada adik-adikmu Faruq, biarkan saja jika mereka tak memiliki apapun! Biar mereka tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang tak memiliki apa-apa, bukan bisanya hanya meminta padamu saja, biarkan mereka berusaha sendiri dan bertanggungjawab atas dirinya dan keluarganya. Bahkan Umi tidak tahu bagaimana keadaan perusahaan peninggalan Abahmu sekarang, sepertinya sudah terancam gulung tikar, tapi selama ini Umi tidak lagi peduli, biar saja mereka menuai hasil yang selama ini mereka tanam." ucap Nenek Hanifah dengan perasaan kesalnya.
"Sudah tidak apa-apa Umi, biarkan saja! sekarang Umi jangan pikirkan lagi, biar saya yang mengurusnya. Umi tinggal saja bersama kami, kami juga tidak akan pernah menghalangi jika mereka ingin menemui Umi disini." pinta Abah Faruq.
"Tapi Umi tidak bisa meninggalkan rumah peninggalan Abahmu nak, rumah itu yang membuat Umi selalu bisa tersenyum karena mengenang semua memori indah kita dulu. Umi akan tinggal bersama kalian, tapi tidak bisa lama ya!"
"Baik Umi, senyamannya Umi saja ingin tinggal dimana, tapi rumah kami selalu terbuka buat Umi." ucap Abah Faruq.
"Terimakasih nak,"
Nenek Hanifah mengelus pipi putranya sekilas dan kemudian beralih menggenggam tangan Umi Fatimah.
"Menantuku sayang," panggil Nenek Hanifah dengan lembut.
"Iya Umi,"
"Maafkan atas semua kesalahan Umi, maafkan jika ada kata-kataku dan adik-adikmu yang menyakiti hatimu, sungguh kami ini tidak tahu diri, kamu sudah baik kepada kami tapi hanya keburukan saja yang kamu terima dari kami. Umi sadar dulu sempat menolakmu dan membencimu, maafkan Umi nak Umi hanya khilaf dan mudah dihasut. Maukah kamu memaafkan wanita tua ini?" ucap Nenek Hanifah sembari meneteskan airmatanya kembali.
Sedangkan Umi Fatimah pun hanya bisa mengangguk sembari menangis mendengar ibu mertuanya meminta maaf secara langsung padanya, jauh dari lubuk hatinya dia sudah memaafkan wanita yang sudah melahirkan suaminya itu. Daridulu dia selalu menyayangi Nenek Hanifah layaknya ibunya sendiri, dia tahu jika Nenek Hanifah sudah lama menerimanya tapi karena hasutan adik-adik iparnya, sering kali ibu mertuanya itu ikut membencinya lagi.
"Bagaimana nak? Apa kamu mau memaafkan Umi?" tanya Nenek Hanifah lagi.
__ADS_1
"Iya Umi, Demi Allah saya sudah lama memaafkan Umi, saya sangat menyayangi Umi seperti ibu kandung saya sendiri." ucap Umi Fatimah dengan berderai airmata.
Dan didetik berikutnya, Nenek Hanifah memeluk dan menciumi menantunya penuh sayang.
"Terimakasih banyak nak, terimakasih telah memaafkan Umi. Umi juga sangat menyayangimu," ucap Nenek Hanifah yang masih memeluk menantunya.
Kini keluarga Abah Faruq pun bisa akur kembali dengan sang ibu, Azril dan Abahnya pun tersenyum dengan kelegaan.
Lalu Azril pun pamit ke kamarnya pada ketiga orang yang masih berbincang itu.
"Ceklek!"
Azril membuka pintu kamarnya, melepaskan jas yang bertengger di tubuhnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.
Dia menatap ke atas langit-langit kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu, dia memikirkan lagi acara pertunangan yang telah gagal. Dia sangat kecewa dan terluka, bayangannya untuk menikahi gadis pujaan hatinya telah sirna.
Lalu saat dia akan mengambil ponsel di sakunya, dia teringat akan surat yang Nabila tulis untuknya, dia mengambil surat itu di saku celana lalu membacanya.
To : Nazril Mohammad
Assalamualaikum.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh..
Bang Azril, sebelumnya aku minta maaf sudah membuatmu kecewa karena meninggalkanmu di hari pertunangan kita.
Sebenarnya dari awal, aku tidak menyetujui perjodohan ini, tapi Abahku memaksaku agar menerima pinangan orangtua Abang.
Dari cerita umiku, umi abang tahu jika abang telah menyukaiku sejak kita menempuh pendidikan di universitas kita dulu, lalu umi abang mencari alamatku dan menemui orangtuaku. Tapi tidak disangka ternyata Umi kita dulu adalah sepasang sahabat karib, umiku sebenarnya ingin menolak pinangan dari umi abang, karena beliau tahu jika aku menolak perjodohan ini.
Tapi Abahku memaksa agar aku menerima Abang, karena bagi Abah, Abang adalah sosok pemuda Sholeh dan hampir sempurna dalam segi apapun, dan aku sendiri pun mengakui itu.
Tadinya aku sudah berusaha mulai membuka hati untuk Abang, tapi nyatanya aku tetap nggak bisa menyukai Abang. Abang pasti tahu jika cinta itu buta, dia tidak memandang fisik, maupun materi.
Maafkan aku bang, aku nggak bisa membohongi hatiku sendiri. Aku sudah menyukai seseorang, orang yang ada di negeri jauh, itulah alasan kenapa aku ingin kuliah disana dan menolak Abang, karena hatiku sudah tertambat pada orang lain sejak dulu, sejak kita masih satu kampus.
Maafkan aku, aku doakan Abang mendapatkan jodoh yang lebih baik dariku bang. Sekali lagi maafkan aku, Abang adalah pria yang baik dan tulus. Terimakasih untuk semuanya bang.
From : Nabila Adzkia Syarif
Seketika airmata Azril luruh tak tertahan lagi, hatinya hancur berkeping-keping seolah seperti dihantam godam tak kasat mata. Begitu sakit luar biasa, Nabila yang dia kira memiliki perasaan yang sama dengannya nyatanya tak mencintainya sama sekali.
Dia benar-benar pria menyedihkan, dua kali dia ditolak orang yang sama, dua kali pula dia patah hati. Dulu mungkin tidak sesakit ini karena dia mengira jika Nabila memang belum siap berumahtangga tapi sekarang semuanya jelas, Nabila mengakui jika tidak menyukainya sama sekali.
Azril segera mengambil jaketnya dan akan pergi keluar untuk menenangkan hatinya yang sangat kacau.
"Mau kemana Ril?" tanya Umi Fatimah saat Azril berjalan turun dari lantai atas.
__ADS_1