
"Ah apa tidak merepotkan, ustadz?" tanya Umi Mutia merasa tidak enak.
"Tidak sama sekali umi, saya kan juga akan pulang jadi sekalian jalan."
"Baik kalau gitu, saya kasih alamat tempat Alia bekerja saja ya, karena jam segini biasanya dia sudah berada di toko. Terimakasih ya sebelumnya!" ucap Umi.
"Sama-sama Umi,"
Kemudian Azril pun berpamitan pulang kepada mereka dan mulai melajukan motornya ke tempat kerja Alia.
Dia sangat hafal tempat itu, Toko Roti langganan ibundanya tercinta.
Saat Azril masuk ke dalam toko roti itu, Alia sendiri yang menyambut kedatangannya.
"Selamat pagi Kak, ada yang bisa saya bantu?" ucap Alia tersenyum ramah.
"Pagi juga nona, kita ketemu lagi ini." Azril tersenyum lucu.
"Sudah pasti ketemu lagi kak, kan Bu Hajjah langganan tetap disini. Oia terimakasih banyak ya kak, sudah membantu saya waktu itu, maaf baru sempat mengucapkan terimakasih." ucap Alia dengan tulus tanpa berani memandang lawan bicaranya.
Dia benar-benar gugup berhadapan dengan pria tampan itu, jantungnya selalu berdetak tak biasa saat berhadapan dengannya.
"Sama-sama Nona, sudah kewajiban kita sesama manusia harus saling bantu." ucap Azril dan Alia pun mengangguk.
"Oia nona, apa kamu kenal dengan wanita yang bernama Mbak Alia? Soalnya ada titipan untuknya," tanya Azril.
"Sa.. Saya yang namanya Alia kak," ucap Alia semakin gugup.
"Hah! Serius? Jadi kamu yang namanya Mbak Alia?" tanya Azril yang terkejut sekaligus tak menyangka dan Alia pun mengangguk.
"Ah ternyata sudah lama tahu tapi malah baru tahu namanya," gumam Azril yang tersenyum lucu dan membuat Alia juga tersenyum lucu.
"Ini ada titipan dari Umi Mutia, beliau tidak bisa mengantarkan karena ada acara tadi. Jadi aku yang menawarkan diri untuk mengantarnya," ucap Azril sembari menyerahkan kantong plastik yang berisi mixer milik pamannya.
"Ah terimakasih banyak ya Kak! Saya sempat khawatir, saya kira jatuh di jalan, ternyata tertinggal di pondok, Alhamdulillah." ucap Alia dengan binar bahagia sembari memeluk kantong plastik itu.
"Sama-sama Mbak Alia. Oia makasih ya bubur ayamnya semalam, rasanya enak banget!" puji Azril.
Alia pun terkejut mendengar ucapan Azril, dia baru menyadari jika yang dihadapannya adalah Ustadz Azril, seorang ustadz yang selalu menjadi buah bibir dan banyak dipuji para santri baik laki-laki maupun perempuan.
"A.. Apa anda yang namanya Ustadz Azril?" Alia memastikan.
"Iya benar, aku Nazril Mohammad. Salam kenal ya Mbak Alia." ucap Azril sembari meletakkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Iya Ustadz, salam kenal juga. Saya Alia Khadijah," Alia pun melakukan hal sama dengan Azril.
"Panggil aku kakak saja seperti biasa, karena aku bukan guru kamu," Azril mengingat.
"Ah iya kak maaf." Alia menjadi salah tingkah.
"Al.. Jangan pacaran mulu! Tuh dipanggil Pak Hamid!" bisik Nita dan masih bisa didengar oleh Azril.
"Husst.. apaan sih kamu ini!" gerutu Alia.
"Kak maaf ya, saya permisi mau kembali bekerja lagi." pamit Alia dan Azril pun mengangguk tersenyum.
"Benar-benar gadis pekerja keras, dia kerja tapi masih bisa membagi waktunya untuk anak-anak di pondok pesantren. Menarik sih!" gumam Azril yang tiba-tiba kagum dengan sosok Alia.
***
Selama berhari-hari, Azril tak pernah keluar rumahnya kecuali saat bekerja saja.
__ADS_1
Dia tidak trauma juga belum ingin mencari calon istri lagi, padahal tak jarang beberapa relasi Abahnya ingin menjodohkan putri mereka dengan Azril, tapi Azril tidak begitu menanggapi mereka. Dia hanya lelah jika harus merasakan patah hati lagi, lebih baik dia sendiri saja dan memasrahkan kepada Sang Maha Kuasa.
"Ril, Umi minta tolong bisa?" tanya Umi Fatimah.
"Iya bisa Umi,"
"Tolong antarkan amplop ini pada Umi Mutia sekarang, karena besok siang ada acara pengajian rutinan di pondok, tapi Umi tidak bisa hadir karena Umi harus ke Bandung menghadiri acara haul kakekmu. Jadi kamu saja yang mengantarkan kasana!"
"Baik Umi,"
Azril pun berangkat dengan mobilnya menuju ke pondok pesantren Abah Romli.
Saat dia sampai ditempat tujuan, dia tidak langsung masuk ke dalam, dia hanya berdiri di halaman tepat di samping mobilnya sembari melihat Alia yang sedang mengajari anak-anak belajar bersama, di teras pondok pesantren.
Gadis cantik dan sederhana itu tiba-tiba mengusik hatinya yang telah membeku. Menurutnya, pembawaan Alia begitu menyenangkan bahkan anak-anak terlihat sangat nyaman berbicara dan bercanda dengannya.
"Assalamualaikum Nak Azril.. " sapa Abah yang tiba-tiba muncul dari belakang Azril.
Dia pun terkejut lalu menoleh ke belakang, "Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. Abah," jawab Azril tersenyum kikuk.
Sedangkan Alia yang baru menyadari Azril datang seketika menjadi lebih kalem, dia menjadi salah tingkah dan mendadak mati gaya.
"Kak Alia, kami sudah laper! Apa masakan dan kue kakak sudah matang?" tanya salah satu santri yang ada di hadapannya.
"Iya Kak Alia, kami sudah lapar. Kamu rindu masakan kakak." ucap anak-anak dengan polosnya.
"Eh bentar, aku liat dulu ya ke dapur. Kasian sekali sih udah laper, sabar ya sayang!" Alia mencubit pelan lalu pergi ke dapur untuk mengecek semua masakannya.
Kini Abah dan Azril duduk di kursi yang ada di halaman, mereka menikmati suasana malam sembari melihat bintang-bintang yang bertaburan di atas langit, begitu sangat indah dan menenangkan hati, pikir keduanya.
"Bagaimana Nak Azril? Apa sudah menemukan calon istri lagi?" tanya Abah.
"Iya Nak, Abah mengerti. Yang penting tidak trauma saja, karena jatuh bangun dalam hidup itu biasa, kita diuji agar iman kita semakin kuat dan terus mengingat Allah SWT." ucap Abah dengan bijak dan Azril pun mengangguk.
"Abah doakan, semoga kamu segera menemukan jodohmu Nak,"
"Amin Ya Robbala'laminn.. terimakasih Abah."
"Kalau ada wanita yang ingin mengajakmu ta'aruf, apa kamu mau, nak?" tanya Abah.
"Saya bersedia Abah, saya anggap sebagai ikhtiar saya."
Dan Abah pun mengangguk dan tersenyum.
Lalu setelah itu mereka pun makan malam bersama para santri laki-laki.
Sedangkan Umi Mutia dan Alia makan malam bersama santri wanita.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Azril menemui Umi Mutia dan menyampaikan Amanah dari ibundanya lalu pamit pulang kepada Abah dan Umi.
Alia sendiri juga kebetulan akan pulang juga dan karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam, Azril menawarkan untuk mengantarnya pulang.
"Mbak Alia, jika mau pulang bareng aku aja, soalnya kan udah malem ini, takut ada bahaya di jalan." ajaknya.
"Hehehe saya sudah biasa Kak, maaf saya harus menolak, lebih baik saya pulang sendiri saja kak biar tidak merepotkan."
"Tidak merepotkan kok mbak, nanti biar motornya di bawa anak buahku dan mengikuti kita dari belakang,"
Umi dan Abah hanya senyum-senyum melihat interaksi mereka berdua tanpa ingin memotong pembicaraan mereka.
"Aduh malah makin nggak enak sih saya kak, maaf ya kak saya pulang sendiri aja! saya permisi pulang duluan." pamit Alia dan kemudian pamit juga kepada Umi dan Abah.
__ADS_1
Lalu dia segera melajukan motornya dan keluar dari pondok pesantren.
Azril yang akan pulang ke rumahnya dicegah oleh Abah, karena Abah ingin berbicara dengannya secara pribadi.
"Saya ingin bicara sebentar saja nak, jangan pulang dulu."
"Baik Abah," Azril pun duduk saat Abah dan Umi duduk kembali.
"Alia ingin mengajakmu ta'aruf, apakah kamu bersedia nak?" tanya Abah tanpa basa-basi lagi.
"A.. Alia Bah?" Azril kaget sekaligus memastikan.
"Iya benar, kamu sudah tahu kan orangnya? Menurut Abah dia adalah gadis yang baik dan pekerja keras, dia memang bukan gadis dari kalangan berada tapi dia adalah gadis yang paling tulus bagi kami. Tadi nya kami ingin menjadikannya menantu tapi sayangnya dia lebih tertarik padamu nak. Tapi jika dalam ta'aruf nanti tidak ada kecocokan di hatimu, kalian bisa berteman baik seperti biasa."
"Baik Abah,"
"Oia ini CV milik Alia, kamu bisa membaca semuanya disini, bagaimana tentang dia secara detailnya. Jika kamu juga berkenan memberikan CV-mu padanya, titipkan saja pada Abah atau Umi."
"Baik Bah terimakasih,"
Beberapa menit berlalu, Azril pun pergi meninggalkan pondok pesantren, dengan perasaan binggung. Dia tidak tahu harus sedih, senang atau biasa saja, saat ada gadis yang ingin mengajaknya ta'aruf karena jujur dia sendiri tidak memiliki perasaan apapun pada gadis itu, bahkan mereka saja baru bertemu beberapa kali saja.
**
Tiga hari berikutnya, Azril datang lagi ke pondok pesantren, menyerahkan CV-nya pada Abah untuk diberikan pada Alia.
Saat dia baru masuk ke dalam pondok pesantren, dia terlihat menyapukan pandangan ke semua arah seolah mencari sesuatu.
"Sedang mencari Mbak Alia ya Pak Ustad?" goda Fahri, si santri kepercayaan Abah.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Bisa nggak salam dulu Fahri, membuat orang jantungan aja kamu ini!" gerutu Azril yang terkejut.
"Hehehe, maaf Pak Ustadz! Assalamualaikum.. Ustadz Azril," sapa Fahri dengan cengengesan.
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. Jangan cengengesan kamu!"
"Canda Pak Ustadz! Tumben sih serius amat? Amat aja jarang suka serius lho," goda Fahri lagi.
"Ck! Candaan kamu garing Fahri!" gerutunya lagi dan Fahri hanya terkekeh, "Eh Abah mana?"
"Cari Abah apa Mbak Alia?" goda Fahri lagi.
"Tau ah gelap!"
Azril pun pergi mencari Abah sendiri.
Setelah dia memberikan CV-nya pada Abah, dia pun pamit pergi. Tadinya dia berharap bisa melihat Alia, tapi ternyata hari ini adalah hari Senin, jadi bukan jadwal Alia ke pondok pesantren.
Dia memang belum menyukai gadis itu tapi entah kenapa dia ingin bertemu dengan gadis itu lagi, senyuman tulusnya pada anak-anak membuat hatinya begitu tenang.
Saat di perjalanan pulang, tiba-tiba Azril melihat sosok yang sangat ingin ditemuinya tadi.
Lagi-lagi gadis itu menuntut motor matic-nya yang sepertinya mogok lagi.
"Tin.. Tin!" Azril membunyikan klakson mobilnya lalu membuka kaca jendelanya
"Assalamualaikum Mbak Alia.. Mogok lagi, mbak?" teriak Azril dari dalam mobilnya.
Alia sangat mengenali suara itu, walaupun wajahnya belum jelas terlihat.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Duh malunya aku! Kenapa ketemu pas mogok begini sih? Mana lagi kucel banget lagi," gumam Alia dalam hatinya.
__ADS_1