
Mendengar bisikan sang suami, sontak Alia terkejut, dia menoleh sekilas ke arah suaminya, dan wajahnya pun bersemu merah dan tersenyum malu.
"Terimakasih Kak!" ucap Alia yang kemudian memalingkan wajahnya ke sembarang arah, dia tak terbiasa memandang mata seorang laki-laki dengan jangka waktu yang lama.
Dia bahagia dan hatinya berbunga-bunga, suaminya memuji kecantikannya.
Setelah acara resepsi pernikahan telah selesai, mereka pun bermalam di sebuah hotel berbintang lima.
Alia sangat gugup, dia duduk di pinggir ranjang dengan masih memakai baju pengantinnya. Tak bisa dipungkiri jika pikirannya melayang kemana-mana, dia takut menghadapi malam pertamanya bersama sang suami.
Walau dia sempat membaca artikel di google jika malam pertama itu sakit sekaligus juga nikmat luar biasa. Tapi tetap saja dia takut dan sangat gugup, entah membayangkannya saja dia merasa ngeri sendiri.
Sedangkan sang suami sudah berada di kamar mandi untuk berganti baju dan membersihkan dirinya.
"Ceklek!"
Azril membuka pintu kamar mandi dan telah berpakaian lengkap.
"Apa kamu tidak berganti baju Al?" tanya Azril.
"Ah iya kak, aku ke kamar mandi sekarang." Alia pun menyambar baju gantinya lalu segera ke kamar mandi tanpa memandang wajah sang suami lagi.
"Blamm!"
Saking gugupnya dia menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
"Astaga! Gadis itu! Mengagetkanku saja!" gumam Azril.
"Ah dia istriku bukan orang lain lagi," Azril mengulum senyumnya.
Dia bahagia akhirnya dia sudah menikah, walau dia belum mencintai istrinya tapi dia nyaman bersama gadis itu. Senyum dan kebaikannya begitu tulus ke setiap orang.
Saat Alia telah menyelesaikan mandinya dan berganti baju, dia duduk lagi di samping ranjangnya di sebelah sang suami. Sedangkan Azril sedang sibuk memainkan ponselnya sembari berbaring.
"Tidurlah Al, jangan duduk saja! Kamu pasti sangat capek kan?" Azril pun membuka suaranya.
"Ah iya kak, saya tidur sekarang." Alia pun berbaring membelakangi suaminya.
Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan sebagai seorang istri, dia hanya sadar diri, jika bukan dia yang diinginkan suaminya tapi dia yang menginginkan suaminya.
"Al!" panggil Azril.
"I.. Iya kak.." Alia pun menghadap ke arah suaminya yang sedang tidur terlentang di sampingnya.
"Maaf jika saat ini aku belum bisa menjalankan kewajibanku sebagai suami yang sesungguhnya, aku hanya belum siap. Dulu aku berjanji pada diriku sendiri jika aku akan menyerah hati dan tubuhku hanya untuk wanita yang benar-benar aku cintai," ucap Azril yang menerawang, memandang lampu-lampu kristal yang indah diatas kepalanya.
Dan ucapan Azril melukai hati Alia, dia mengira jika Azril masih mencintai gadis lain yang pernah dibicarakan ibu mertuanya.
"Tidak perlu minta maaf kak, saya bisa mengerti. Saya yang harusnya minta maaf, tidak seharusnya saya berada di antara kalian." ucap Alia tersenyum semanis mungkin untuk menyembunyikan rasa sakitnya.
"Kalian?" Azril menoleh pada istrinya dan Alia pun mengangguk.
"Sepertinya kamu sudah salah paham Al, saat ini aku sudah tidak mencintai siapapun dan aku menerimamu sebagai istri bukan karena terpaksa tapi karena hatiku yang menginginkan kamu. Hmm.. Tapi maaf jika aku belum bisa mencintai kamu," Azril mengakuinya.
Alia mengangguk sembari tersenyum lagi.
Hatinya lega, setidaknya perkiraannya salah.
"Tapi maukah kamu bersabar menunggu sampai aku benar-benar jatuh cinta padamu? Aku akan berusaha tidak menyakitimu walau belum ada perasaan cinta disini," ucap Azril sembari menunjuk ke arah dadanya.
"Saya mau kak, saya akan selalu sabar menunggu kakak." Alia mengangguk dengan mata berkaca-kaca
Dia sangat bersyukur suaminya sangat dewasa dan sabar, padahal dia tahu suaminya sama sekali tak mencintainya tapi pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.
"Terimakasih ya Al," Azril terhipnotis dengan binar mata sang istri dan reflek menyentuh pipi istrinya sekilas.
__ADS_1
Sedangkan Alia yang mendapat sentuhan pun tiba-tiba terdiam tak bergerak, jantungnya terasa mau loncat dan wajahnya lagi-lagi bersemu merah.
Azril yang menyadari wajah sang istri menghangat, sontak melepaskan tangannya.
"Ah.. Maaf." Azril salah tingkah.
"Tidak masalah kak,"
"Ayo kita tidur sekarang!"
"Baik Kak,"
Akhirnya mereka pun tidur dengan posisi saling membelakangi.
Malam pertama mereka memang gagal, tapi Alia merasa lega karena suaminya mulai belajar mencintainya, dan Azril pun juga bahagia karena hari-harinya nanti akan terisi oleh bidadari cantik yang akan menemaninya sepanjang hari.
Mereka hanyut dalam pikiran mereka masing-masing hingga mereka pun sama-sama terbang ke alam mimpi.
**
Keesokan paginya, Alia pun terbangun, dia mulai membuka matanya dan Azril pun juga membuka matanya. Mereka baru menyadari jika saat ini posisi mereka sedang berpelukan.
"Aarrrrghhhhh!"
Mereka reflek berteriak karena tidak terbiasa tidur dengan orang asing.
"Astaghfirullah Hal'adzim.." keduanya pun beristighfar dan saling menjauhkan tubuh mereka masing-masing.
"Maaf kak, aku tidak sengaja memeluk kakak saat tidur." ucap Alia merasa tak enak.
"Pantas saja semalam rasanya hangat dan nyaman banget, yang ku peluk ternyata guling hidup," gumam Alia lirih tanpa sadar dan membuat Azril pun menahan tawanya.
"Aku bersedia kok Al jadi guling hidupmu tiap hari, supaya kamu merasa hangat dan nyaman!" goda Azril.
"Ka.. Kakak dengar apa yang saya katakan? Perasaan tadi saya ngomongnya dalam hati deh,"
"Dalam hati apanya, orang aku dengar kok!" Azril tersenyum lucu.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Maaf saya mandi duluan kak!" Alia pun berlari ke arah kamar mandi agar tidak semakin malu dihadapan suaminya.
"MasyaAllah istriku! Kenapa dia tiba-tiba jadi menggemaskan sih!" gumam Azril yang tertawa melihat tingkah polos sang istri, padahal dia sendiri pun masih sering gugup juga didepan istrinya.
"Duh Alia, malu-maluin banget sih kamu nih!" gerutu Alia dalam kamar mandi sembari memukul-mukul pelan kepalanya.
Setelah mereka telah selesai bersiap dan sarapan di hotel, mereka pun pulang menuju mansion utama Azril.
"Apa kamu ingi mengunjungi suatu tempat Al? Mumpung hari masih siang, lebih baik memanfaatkan waktu libur dengan baik," tanya Azril pada sang istri.
"Apa kakak masih merasa capek?" Alia malah balik bertanya.
"Enggak kok, udah seger lagi nih. Ayo katakan kamu ingin kemana?"
"Saya ingin jalan-jalan ke puncak kak, pasti bagus banget kalau lihat hamparan gunung yang hijau dan menghirup udara pegunungan yang sejuk." ucap Alia antusias.
"Okelah, ayo kita berangkat sekarang! Kamu udah bawa baju ganti kan?"
"Udah kok kak, semua keperluan saya sudah jadi satu di koper yang saya bawa kemarin."
Dan akhirnya mereka pun berangkat ke daerah puncak dan hanya dalam waktu beberapa jam saja mereka pun telah sampai disana, dan menyewa salah satu villa disana.
Alia melihat pemandangan indah dari balkon kamarnya, hamparan gunung hijau, taman bunga yang indah dan kolam renang yang terlihat begitu segar.
Dia sangat takjub, sungguh kini keinginan datang ke puncak bersama orang yang dia cintai pun telah terkabul, dia terus berucap syukur pada Tuhan dalam hatinya.
"Apa kau suka tempat ini Al?" tanya Azril yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar mereka.
__ADS_1
"Suka kak, indah banget! Terimakasih sudah mengajak saya kesini,"
Alia tersenyum manis dengan background pegunungan indah di belakangnya, sungguh seperti seorang dewi yang turun dari langit.
Dan pemandangan indah itu pun berhasil membuat hati Azril bergemuruh.
Tiba-tiba dia mengambil ponselnya lalu menelpon asistennya, Dennis.
"Assalamualaikum, ada apa Boss?" jawab Dennis dari seberang telpon.
"Wa'alaikumsalam.. Villa yang kau pesankan tadi, tolong katakan pada pemiliknya jika aku akan membelinya mulai hari ini!" perintah Azril dengan entengnya.
Sontak Alia terkejut dan memandang ke arah suaminya kembali.
"Astaga Boss! Anda serius?" Dennis pun terkejut.
"Kapan aku tidak berbicara serius tentang urusan properti Dennis! Oia.. Jangan lupa panggil notaris pribadiku dan langsung balik Villa ini atas nama istriku!"
Alia mengaga tak percaya, "MasyaAllah ini orang beli Villa udah macam beli es krim aja, enteng bener tanpa beban. Tanpa mikir isi dompet pulak! Luar biasa Pak Ustadz nih!" gumam Alia dalam hati dengan rasa takjub luar biasa.
"Siap Boss, segera saya laksanakan! Selamat berbulan madu ya Boss!" goda Dennis.
"Hm,"
Azril pun mematikan sambungan telepon mereka.
"Kak? Apa yang kakak bicarakan itu serius?" tanya Alia.
"Iya serius, memang Villa ini buat kamu."
"Tapi kak, bukan berarti aku nyaman dan menyukai tempat ini lalu kakak dengan mudah membeli Villa ini tanpa berfikir panjang, apa tidak mubadzir jika menghambur-hamburkan uang seperti itu? Dan kakak kan tahu aku tidak suka diberikan sesuatu yang berlebihan." protes Alia.
Azril mengulum senyumnya, dia semakin kagum pada gadis itu, gadis yang sederhana dan menolak semua kemewahan darinya.
"Tidak mubadzir Al, anggap saja kita sedang berinvestasi jangka panjang, karena harga tanah dan bangunan semakin lama juga semakin tinggi. Sudahlah jangan protes lagi, Villa ini kado dariku buat kamu dan kamu harus menerimanya. Kamu sangat pantas kok mendapatkan semua ini!" Azril mengelus pipi istrinya lagi walau tangannya masih sedikit gemetaran tapi dia mencoba untuk beradaptasi dengan pasangan halalnya, karena cepat atau lambat dia akan menjalankan kewajibannya sebagai suami juga.
Alia pun tak berani protes lagi dan akhirnya menerima dengan bahagia kado mewah dari sang suami, "Baiklah kak, terimakasih banyak atas semuanya,"
Azril pun mengangguk.
**
Dua hari ini pasangan pengantin baru itu berada di Villa yang kini telah menjadi milik Alia, hari-hari mereka, dihabiskan untuk jalan-jalan, kuliner dan saling bertukar cerita satu sama lain.
Keduanya pun semakin akrab dan semakin nyaman, layaknya dua insan yang sedang pendekatan.
Pagi itu sebelum pulang ke Mansionnya, Alia dan Azril mampir ke toko oleh-oleh.
Azril memilih menunggu di mobil dan Alia masuk sendiri ke outlet dengan berbagai makanan ringan itu.
Dan setelah selesai Alia pun berjalan ke arah pintu keluar, lalu tiba-tiba..
"Braaakkk!"
"Astaghfirullah Hal'adzim.." seru Alia.
Barang belanjaan Alia pun jatuh berserakan di lantai.
Karena seorang pria yang terlihat sedang buru-buru telah menabraknya.
"Ah maaf nona!"
"Tidak apa-apa kak!" ucap Alia yang berjongkok mengambil barang belanjaannya dengan di bantu pria yang menabraknya itu.
"Eh.. Hai! Alia Khadijah kan ini?"
__ADS_1