Khadijah Sang Bidadari Surga-ku

Khadijah Sang Bidadari Surga-ku
Bab 25. Masalah


__ADS_3

Alia berteriak saat sang ibu mertua pingsan dan hampir jatuh ke lantai, tapi dengan cepat dia memeluk ibu mertuanya dan terduduk di lantai.


"Umi!!" Azril pun ikut berteriak terkejut saat melihat Uminya pingsan.


Dia benar-benar panik karena takut terjadi apa-apa pada Uminya, lalu segera menggendong Uminya ke mobil dengan dibantu supir pribadi mereka, lalu membawanya ke rumah sakit bersama Alia juga.


Dia sudah tidak peduli lagi keberadaan orang-orang yang tidak tahu malu itu.


Azril dan Alia terus berdoa dalam hatinya, berharap sang umi tidak kenapa-napa.


Setelah beberapa menit berlalu akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit, tim dokter segera membawa Umi Fatimah ke ruang UGD dan memberikan pertolongan pertama.


Azril dan Alia terus gelisah memikirkan Umi Fatimah.


Setelah hampir 45 menit berlalu akhirnya salah satu dokter keluar dari ruang UGD.


Azril dan Alia pun sontak mendekati sang dokter.


"Bagaimana kondisi Umi saya dok?" tanya Azril dengan perasaan gelisah.


"Kondisi ibu anda sudah mulai stabil Tuan, tapi tekanan darahnya masih tinggi jadi kami masih terus harus memantaunya dan sepertinya ada beberapa syaraf yang tidak berfungsi dengan baik. Tapi anda jangan khawatir, kami akan mengobati ibu anda dengan maksimal, sekarang kami akan pindahkan ibu anda ke ruang perawatan." ucap sang dokter.


"Baik dokter, terimakasih banyak."


Setelah Umi Fatimah telah di pindahkan ke ruang perawatan, Azril dan Alia dengan setia menunggu hingga Umi Fatimah mendapatkan kesadarannya.


Tim dokter terus memantau kondisi Umi setiap jamnya.


***


Setelah melakukan sholat ashar di ruangan Umi Fatimah, Alia membuka aplikasi Al-Qur'an yang ada di ponselnya, dia membaca lantunan ayat-ayat suci Allah dengan suaranya yang merdu.


Sedangkan sang suami pamit ke mushola yang berada di dalam rumah sakit.


Lama Alia mengaji, hampir satu jam.


Azril sendiri pun sudah kembali dari mushola 15 menit yang lalu dan duduk di samping bankar uminya lagi sembari mendengarkan sang istri mengaji.


Lantunan ayat suci dan suara merdu istrinya sungguh membuat hatinya terasa tenang, dia merasa beruntung Alia adalah sosok malaikat cantik yang Allah kirimkan untuk menyembuhkan segala luka dan kesedihannya


Saat dia menyadari uminya menggerakkan tangannya, sontak dia pun memanggil sang umi.


"Umi,"


Alia pun menghentikan ngajinya dan mendekati bankar sang ibu mertua.


Sedangkan Umi Fatimah mulai membuka matanya perlahan dan menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang ada disekitarnya.


"Ril," suara Umi Fatimah terdengar tidak jelas.


"Iya Umi, Azril disini umi." Azril menggenggam tangan Uminya dan menciumi punggung tangan Uminya bertubi-tubi.


"Tangan dan kaki umi yang kiri tidak bisa digerakkan," ucap Umi Fatimah dengan suara yang kembali tidak jelas, bibirnya pun sedikit miring saat dia memaksakan untuk bicara.


Azril segera memanggilkan dokter untuk mengetahui kondisi jelas sang ibu.


Tak butuh waktu lama dokter dan beberapa suster terlihat datang dan segera memeriksa kondisi keseluruhan tubuh Umi Fatimah.


Dokter mengatakan jika Umi mengalami stroke di separuh bagian tubuhnya sebelah kiri. Dia akan susah berjalan dan melakukan aktifitas seperti biasanya.


Umi Fatimah dan Alia pun menangis mendengar ucapan dokter.

__ADS_1


Sedangkan Azril berusaha keras menahan airmatanya di depan ibunya. Dia ingin menjadi seseorang yang selalu kuat disamping ibu dan istrinya.


"Anda jangan khawatir Tuan Azril, ibu anda bisa berjalan normal kembali asal rutin meminum obatnya dan melakukan terapi medis setiap minggunya. Dan jangan lupa menjaga pola makan juga, ibu anda harus menghindari makanan yang bisa memicu tekanan darah tinggi dan kolesterolnya naik," saran sang dokter.


"Baik dok, terimakasih banyak."


Dokter mengangguk dan pergi dari ruangan Umi Fatimah dirawat.


Azril mendekati bankar sang ibu diikuti sang istri, dia menghapus airmatanya ibunya.


"Umi jangan bersedih ya, Umi pasti akan sembuh. Azril dan Alia akan selalu menemani Umi sampai Umi sehat kembali," ucap Azril menenangkan sang ibu.


"Terimakasih nak, umi beruntung masih memiliki kalian." ucap Umi sembari menggenggam tangan Alia dan Azril bersamaan dengan satu tangannya.


Dan keduanya pun mengangguk tersenyum.


"Apa Umi ingin makan? Mumpung buburnya masih hangat," tawar Alia.


Dia tahu jika ibu mertuanya sudah pasti sangat lapar karena tak sadarkan diri selama berjam-jam.


Umi Fatimah pun mengangguk.


Alia segera mengambilkan bubur yang telah diantarkan petugas rumah sakit tadi. Dengan telaten dia menyuapi ibu mertuanya.


Terlihat Umi Fatimah sedikit tak berselera memakan bubur itu, padahal perutnya memang sangat lapar. Dia jadi teringat masakan sang menantu yang selama ini tak dianggapnya itu, dia baru menyadari kalau selama ini Alia yang selalu tulus menyayangi dan menemaninya bukan gadis bernama Nabila itu.


Alia menyadari dari raut wajah sang ibu mertua jika ibu mertuanya tidak berselera memakan bubur itu.


"Tidak enak ya umi? Besok Alia masakan bubur yang enak ya buat umi!" ucap Alia pada sang mertua.


Saat mendengar ucapan menantunya, sontak Umi Fatimah berbinar bahagia sembari mengangguk antusias.


Azril memperhatikan interaksi keduanya, dia bersyukur ada hikmah dibalik semua kesedihannya, kini ibunya sudah mulai menerima kehadiran sang istri. Hatinya pun merasa lega.


***


Azril pun mengijinkan dan menyuruh Alia diantarkan supir mereka saja.


Dua jam berlalu, setelah menyelesaikan semuanya, Alia pun kembali ke rumah sakit.


"Assalamualaikum suamiku.. Umi.."


Alia tersenyum lembut menatap sang ibu mertua dan suaminya yang tengah berbinar bahagia saat melihat wajahnya.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab mereka bersamaan.


Wangi masakan Alia mengusik ke dalam Indra penciuman Azril dan Umi Fatimah, sehingga membuat keduanya begitu senang dan mendadak sangat lapar melihat dua rantang yang dibawa Alia.


"Apa kalian menungguku? Apa kalian sudah lapar?" tanya Alia memandang keduanya.


Keduanya mengangguk dengan polos, bak anak kecil yang ditanyai oleh sang ibu.


"Baiklah, ayo kita sarapan sama-sama!" Alia mendekati bankar ibu mertuanya dan mulai membuka rantang yang dia bawa.


Mereka pun akhirnya sarapan bersama-sama dengan hati yang bahagia.


Alia memakan sarapannya sembari menyuapi sang ibu mertuanya dengan telaten.


Lagi-lagi Umi merasa menyesal pernah mengabaikan menantunya yang baik itu, dia baru menyadari jika Alia begitu tulus pada mereka, bahkan disaat mereka sekarang sudah tak memiliki apa-apa.


"Terimakasih Al," ucap Umi Fatimah dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sama-sama Umi." Alia tersenyum manis, "Seharusnya Umi tidak perlu berterimakasih, Alia kan juga anak umi jadi sudah kewajiban Alia merawat umi dengan baik."


Umi Fatimah pun mengangguk lalu mengenggam satu tangan Alia dengan erat. Kini dia mulai menyayangi menantunya.


Setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka, Azril pamit ke umi dan istrinya untuk mengurus pengunduran dirinya dari perusahaan dan kepindahan mereka dari mansion.


Saat dia berjalan keluar rumah sakit, tak disangka dia bertemu dengan Nabila yang hendak masuk ke dalam rumah sakit.


"Assalamualaikum Bang," sapa Nabila.


"Wa'alaikumsalam.. Ada apa Bila?" tanyanya.


"Aku dengar dari pelayan mansion kalau Umi Fatimah sedang dirawat di rumah sakit, memangnya Umi abang sakit apa?" Nabila balik bertanya.


"Tekanan darah Umiku tinggi hingga beliau terkena stroke,"


"Astaghfirullah Hal'adzim.. Kalau begitu biar aku masuk ke dalam menjenguk Umi. Kalau boleh tahu, umi dirawat di ruangan apa bang?"


"Maaf ya Nabila, bukan aku menolak niat baik kamu, tapi sebaiknya kamu jangan menjenguk Umiku dulu. Karena beliau masih perlu banyak istirahat, lain kali saja kamu bisa berkunjung." tolak Azril dengan halus.


"Baiklah kalau begitu Bang, salam aja buat Umi ya!" Nabila terlihat kecewa.


"Hm, aku pergi dulu ya! Aku masih banyak urusan soalnya, Assalamualaikum.." pamit Azril yang beranjak pergi.


Nabila mengangguk dan menjawab salamnya, dia kira dia masih memiliki kesempatan untuk mendekati Azril dan ibunya tapi nyatanya pria itu tak memperdulikannya sama sekali, dia kecewa dan semakin sedih.


"Aku akan berusaha dapatkan kamu Bang, apapun caranya!" gumam Nabila sembari memandang Azril dari kejauhan.


***


Di perusahaan milik Abahnya, Azril pamit mengundurkan diri dari semua karyawan dan petinggi perusahaan, dia mengatakan jika jabatannya nanti akan digantikan oleh adik-adik abahnya, yang kini menjadi pemilik baru perusahaan itu.


Semua karyawan dan petinggi perusahaan pun terkejut, mereka benar-benar tidak menyangka jika Pak Faruq menyerahkan semua kepemilikan perusahaannya kepada adik-adiknya, padahal selama ini Azril yang memajukan perusahaan. Mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres.


Dennis dan Devina yang paling merasa sangat kehilangan sang boss, keduanya selama ini yang selalu dekat dengan sang boss, mereka berdoa dalam hati, semoga Bossnya yang baik itu mendapatkan keadilan nantinya.


Sedangkan Azril sendiri juga merasa ada yang salah dengan keputusan sang Abah tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena bukti penyerahan warisan itu valid di depan pengacara dan notaris.


Setelah membereskan semua urusannya di perusahaan dan pamit pada semua orang, Azril pun kembali ke mansionnya untuk berkemas dari sana.


Azril di bantu oleh semua pelayannya, dan menyewa beberapa pekerja untuk mengangkut semua barang pribadinya ke mobil box yang dia sewa menuju rumah barunya.


Dia membeli sebuah rumah yang tidak terlalu besar di tengah perkampungan, menyesuaikan tabungan yang masih dia miliki.


Dia juga memberikan pesangon kepada semua pelayan dan supir yang pernah bekerja di mansionnya, mau tetap bekerja disana dengan pemilik baru atau kembali ke kampung masing-masing, Azril telah membebaskan mereka memilih dan menyelesaikan urusannya dengan mereka.


Sore harinya, Azril baru kembali lagi ke rumah sakit, saat dia masuk ke ruang perawatan sang ibu, dia melihat istrinya sedang membersihkan tubuh ibunya.


Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata baginya, istri yang Sholeha untuk sang ibu tercinta.


"Maaf aku baru kembali, apa ada masalah dengan Umi sayang?" tanya Azril pada sang istri.


"Tidak ada bang, keadaan Umi semakin lama juga semakin membaik kok." Alia tersenyum manis.


"Alhamdulillah Ya Allah, Umi sudah makan?" tanya Azril menatap sang ibu.


Umi Fatimah pun mengangguk tersenyum.


"Kalau umi rajin minum obat dan makan, Insyaallah umi akan lekas pulih," Azril memberikan semangat kepada sang ibu dan Umi pun mengangguk lagi.


Saat Alia masuk ke dalam kamar mandi dan meletakan peralatan mandi yang digunakannya tadi, Azril mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Tapi sepertinya aku yang sekarang bermasalah sayang," bisik Azril yang kini berada di belakang sang istri.


__ADS_2