Khadijah Sang Bidadari Surga-ku

Khadijah Sang Bidadari Surga-ku
Bab 13. Kamu Masa Depanku


__ADS_3

Pria tampan itu memastikan jika yang di depannya adalah Alia, sang adik kelasnya semasa SMA dulu sekaligus gadis yang pernah dia tembak.


Alia pun menoleh saat suara yang tak asing itu memanggil namanya.


"Kak Aditya kan ya?"


"Iya Al, kamu masih inget aku kan?" tanya pria bernama Aditya itu.


"Masih kok,"


Alia dulu sempat mengagumi pria tampan itu tapi dia memutuskan menolak pernyataan cinta pria itu, karena ayahnya melarangnya keras untuk berpacaran.


"Bagaimana kabarmu Al?" tanya Aditya sembari memandang wajah cantik gadis yang pernah dipujanya dulu.


"Alhamdulillah baik kak! Kakak bagaimana kabarnya?" Alia tersenyum manis lalu menundukkan pandangannya.


"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, sehat wal'afiat. Kamu masih sama ya Al, masih cantik dan bersahaja." puji Aditya.


"Duh kakak nih, terlalu berlebihan memujinya. Aku biasa aja kok, bukan tipe gadis kalem juga."


"Ehemm!"


Tiba-tiba Azril muncul diantara mereka dengan wajah tak sukanya. Dia mendadak kesal karena istrinya dipuji oleh laki-laki lain, sungguh dia benar-benar tidak rela.


Beberapa menit lalu, saat di mobil tadi dia sempat melihat Alia ditabrak pria asing itu dan melihat keduanya berbincang akrab membuat hati Azril merasa tak nyaman lalu dia memutuskan untuk menyusul sang istri ke dalam outlet itu.


"Kak, maaf kalau saya lama." Alia merasa tidak enak melihat raut wajah suaminya yang masam.


Dia mengira Azril marah karena terlalu lama menunggunya di mobil.


"Siapa Al?" tanya Aditya.


"Oh iya aku sampai lupa mengenalkan kalian! Kak Adit ini Kak Azril suamiku," ucap Alia pada Aditya.


"Kak Azril ini Kak Aditya kakak kelasku sewaktu SMA, kami tak sengaja bertemu barusan," ucap Alia pada sang suami.


Azril pun mengangguk dan kedua pria itu pun berjabatan dan saling berkenalan.


"Kalau begitu saya pergi dulu ya Kak Adit," pamit Alia, dia tidak ingin membuat suaminya menunggu lagi.


"Baik Al.. Oia ini kartu namaku, simpan baik-baik ya! Sepertinya sekolah kita akan mengadakan reuni akbar dalam waktu dekat itu, kalau kamu ada luang datanglah bersama suamimu!" ucap Aditya sembari memberikan kartu namanya pada Alia.


"Baik kak, Insyaallah."


Alia mengangguk dan menerima kartu nama dari Aditya, lalu dia dan Azril pun pergi meninggalkan toko oleh-oleh itu.


Selama di perjalanan terlihat Azril hanya diam tak bersuara, dia masih saja kesal. Entah kenapa dia merasa jika laki-laki itu sangat menyukai istrinya. Dia merasa tak rela ada pria yang memandang sang istri dengan tatapan mendamba seperti itu. Dan lebih kesalnya lagi pria itu terlihat begitu akrab dan seolah memiliki hubungan lain di masa lalu, sampai-sampai memberikan kartu nama juga pada istrinya.


"Apa dia mantan pacarmu?" Azril yang penasaran pun akhirnya membuka suara.


"Hah!" sontak Alia pun memandang wajah suaminya, "Bu.. Bukan mantan pacar kak! Mana boleh saya pacaran sama ayah, bisa-bisa saya di gantung oleh beliau," jujur Alia.


"Lalu? Hubungan macam apa kalian di masa lalu?" tanya Azril yang mulai menunjukkan sikap posesifnya.


"Nggak ada hubungan apapun kak, hanya sebatas kakak dan adik kelas."

__ADS_1


"Astaga, ini kenapa jadi mencekam gini ya? Kok aku ngerasa kayak disidang guru BK gini sih," gumam Alia dalam hatinya.


"Serius nggak ada hubungan apa-apa?" tanya Azril.


"Dulu Kak Aditya sempat nyatain perasaannya ke saya dan saya menolaknya." akhirnya Alia jujur dan membuat Azril semakin risau.


"Apa kamu juga menyukainya?"


"Bukan menyukai tapi hanya kagum saja kak," jujurnya lagi.


"Kagum dan suka itu beda tipis Al!" ucap Azril datar.


"Oh begitu ya!"


"Sepertinya begitu! Lalu apakah kamu masih mengagumi pria itu?" tanyanya lagi.


"Nggak kak, itu kan masa lalu. Aku bahkan sudah melupakan rasa kagumku saat dia sudah lulus sekolah."


Azril hanya terdiam, dia hanya ingin mengulik semua masa lalu istrinya agar dia tidak merasakan kecewa lagi, dia takut disaat dia nantinya telah jatuh cinta pada sang istri ternyata istrinya masih menyukai orang lain. Jujur dia masih sedikit trauma karena Nabila tempo hari.


"Kak, sebaiknya kita tidak membahas masa lalu, biarlah masa lalu hanya menjadi kenangan dan pelajaran hidup kita. Saat ini kita hidup di masa depan dan akan mengukir mimpi kita disana, karena masa depan dan mimpiku hanya kakak, bukan lain!" Alia tersenyum lembut pada suaminya.


Azril pun mengangguk membalas senyuman istrinya, hatinya begitu lega mendengar ucapan istrinya.


"Bisakah kamu berbicara akrab denganku, seperti kamu berbicara dengan pria itu?" pinta Azril.


"Tapi kakak berbeda dengan pria itu, dia hanya teman biasa, kakak suami saya dan saya harus menghormati kakak,"


"Bicaralah santai denganku Al, aku suamimu, teman hidupmu dan sudah seharusnya kita ini mulai berbicara akrab agar hubungan kita semakin dekat bukan kamu terus merasa segan padaku dan seolah ada jarak diantara kita,"


Setelah beberapa jam berkendara, akhirnya mereka pun telah sampai di mansion utama milik Pak Faruq.


Kedatangan mereka disambut oleh Umi Fatimah dan Abah Faruq, terlihat Umi Fatimah hanya fokus pada putra kesayangannya dan tidak begitu mengindahkan menantunya.


"Bagaimana liburannya sayang?" tanya Umi pada putranya.


"Alhamdulillah menyenangkan umi,"


"Umi, ini saya ada oleh-oleh untuk anda dan Abah, semoga anda suka!" Alia menyerah kantong belanjaan pada sang ibu mertua.


Tapi bukannya menerima kantong itu, Umi Fatimah malah menyuruh Alia menaruhnya di meja makannya.


"Umi, jangan seperti itu! Bersikap baiklah pada menantumu!" Abah mengingatkan.


"Abah, mengertilah! Aku sudah bilang berkali-kali, jika aku belum bisa menerimanya sebagai menantu, aku hanya ingin melihat, apa dia memiliki kelebihan yang bisa membuatku menyukainya!" ucap Umi Fatimah terang-terangan.


Abah dan Azril hanya menghela nafasnya panjang, mereka tidak bisa memaksa Umi Fatimah menyukai Alia langsung.


"Terimakasih ya Nak Alia oleh-olehnya, semua perkataan Umi jangan dimasukkan dalam hati, dia sebenarnya sangat baik hanya saja kamu harus berjuang lebih ekstra untuk mengambil hatinya," nasehat Abah.


"Baik Abah," Alia pun mengangguk tersenyum.


***


Selama satu bulan ini, Alia tinggal di mansion milik mertuanya, dia sudah tidak bekerja lagi di toko roti milik pamannya karena sang suami telah mendaftarkannya kelas baking dan cooking, tadinya Azril ingin Alia masuk kuliah jurusan tata boga tapi Alia menolaknya karena dia tidak mau pusing dengan tugas perkuliahan.

__ADS_1


Alia pun masih sering mengunjungi pondok pesantren tiap hari Selasa, Jumat dan ditambah hari Minggu bersama sang suami, juga rutin berkunjung ke rumah orangtuanya.


Anak-anak malang di pesantren itu adalah kebahagiaannya dan bagian dari hidupnya, dia sangat menyayangi mereka bagaikan adiknya sendiri.


Setiap hari, di mansion, Alia sendiri yang memasak untuk suami dan mertuanya. Dia menerapkan semua ilmu yang chef ajarkan, dan tidak jarang juga Azril maupun sang Abah memberi masukan dan penilaian untuk masakan Alia.


Di saat sore hari Alia juga sering membuatkan cemilan sehat khusus untuk sang ayah mertua yang memiliki riwayat jantung dan darah tinggi.


Di kala sore itu, Abah Faruq dan Alia terlihat ngobrol akrab di taman bunga yang ada di mansionnya.


Abah seolah menemukan teman barunya, teman bercanda dan berbagi cerita selain sang istri, sedangkan Umi Fatimah sedikit cemburu karena suaminya malah menyukai gadis yang belum dia sukai itu. Umi lebih banyak menghabiskan waktunya di green house miliknya di saat waktu senggangnya.


"Al, apa sih impian kamu saat ini?" tanya Abah Faruq.


"Saya ingin punya toko roti sendiri Abah, agar saya bisa memiliki penghasilan sendiri dan membahagiakan orang tua dan anak-anak di pesantren." jujur Alia.


"Saya akan mendukung impianmu nak! Abah tahu kamu gadis yang baik, tak lelah untuk belajar dan berusaha," puji Abah.


"Terimakasih Abah," Alia pun mengangguk tersenyum.


"Oh iya, memangnya selama ini suamimu tidak memberikanmu uang nak?" tanya Abah lagi.


"Kak Azril memberi saya nafkah Abah, tapi saya rasa saya tidak memerlukannya karena semua kebutuhan saya selalu dipenuhi suami saya tanpa saya memintanya dulu."


"Nafkah itu sudah menjadi hak kamu nak, kamu gunakan saja untuk membeli keperluan mu, membantu keluargamu maupun untuk berbuat baik pada orang lain juga boleh, jangan merasa takut untuk menggunakannya. Jika tidak digunakan untuk kebaikan, nanti malah menumpuk-numpuk dan tidak bermanfaat jadinya." nasehat Abah.


"Baik Abah, terimakasih nasehat anda." Alia pun tersenyum lega.


Ucapan Abah membuatnya tahu jika dia memang berhak menggunakan uang yang sudah menjadi miliknya itu, apalagi untuk kebaikan.


***


Semakin hari hubungan Alia dan Azril mengalami kemajuan, Azril sudah berani mencium kepala dan pipi sang istri di saat dia akan berangkat bekerja maupun di sela perbincangan seru mereka. Dia juga tidak segan lagi mengeluarkan gombalan-gombalan maut untuk istrinya dan tentu saja kedua teman somplaknya yang selalu mengajarinya.


Malam itu, Alia sedang duduk di meja riasnya, dia sedang memakai skincare untuk membuat wajahnya semakin cerah. Dia juga rutin pergi ke salon satu minggu sekali untuk melakukan perawatan dari rambut hingga ujung kakinya untuk sang suami.


Walaupun sampai detik ini suaminya belum mau menyentuhnya, setidaknya jika dia terlihat cantik suaminya tidak akan melirik wanita lain dan dia yakin jika lama-lama akan jatuh cinta padanya.


Rambutnya yang lurus diwarna coklat terang, sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Dia juga selalu memakai make up tipis untuk membuatnya semakin enak dipandang.


Sebenarnya Azril sangat tergoda melihat istrinya yang semakin lama semakin cantik, dia tahu sang istri berdandan khusus untuknya. Tapi dia masih harus memastikan perasaannya pada sang istri, dia tidak mau menyentuh sang istri tanpa perasaan cinta dan akhirnya melukai hati gadis cantik itu.


"Al," panggilnya.


"Iya kak!"


Alia menoleh pada sang suami yang sedang duduk di sofa dan memangku laptopnya.


"Jumat besok tanggal merah, aku mau mendaki bareng teman-teman, kamu mau ikut nggak?" tanya Azril.


"Kakak mau mengajakku?" Alia memastikan lalu duduk di samping suaminya.


"Iya, apa salahnya jika kamu juga ikut melakukan kegiatan favoritku? Kamu kan bilang jika menyukai pegunungan, jadi sebaiknya kamu harus ikut agar bisa melihat sunrise di puncak pegunungan. aku yakin kamu akan ketagihan mendaki lagi!"


"Terimakasih kak, mau mengajakku! Aku senang sekali," Alia reflek memeluk tubuh suaminya dan dadanya menabrak dada sang suami.

__ADS_1


Azril membeku saat benda kenyal yang sering dibayangkannya itu tengah mendarat indah di tubuhnya.


__ADS_2