
Alia pun mengangguk.
"Ini akan sedikit sakit, tapi aku akan lakukan selembut yang aku bisa, jadi tahanlah sebentar!" ucapnya lagi dan Alia mengangguk lagi.
Dia takut dan cemas tapi penasaran yang mendera dadanya begitu besar, dan hari ini adalah hari yang selalu dinanti-nanti, menjadi istri yang sebenarnya untuk sang suami.
"Akh!" Alia merintih menahan sakit, dia menjambak rambut hitam sang suami dengan kuat, saat gerbang pertahanan miliknya diterjang paksa oleh suaminya.
Awalnya memang terasa sangat sakit tapi lama-lama menjadi nikmat yang luar biasa, nikmat yang tak pernah keduanya rasakan, rasanya benar-benar seperti melayang. Dan kini Alia telah berubah menjadi seorang wanita bukan seorang gadis lagi.
Tubuh Alia pun kembali hangat dan wajahnya pun terlihat merona karena terbakar g41r4h.
Lama penyatuan mereka, saling memberi dan menerima, saling menyebutkan nama mereka satu sama lain dengan mesra. Dan akhirnya mereka pun mendapatkan pelepasan dan terbang ke awang-awang bersamaan.
Azril terus mendekap istrinya ke dalam pelukannya, sungguh dia sudah tidak ingin pergi sejengkalpun dari sang istri, wanitanya telah membuatnya merasakan nikmatnya dunia yang selalu didambakan semua orang di bumi ini.
"Terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu," ucap Azril sembari mengecup pucuk kepala istrinya bertubi-tubi.
Alia tidak mendengarkan pernyataan cinta sang suami karena dia sudah terlalu lelah dan tertidur.
***
Pagi-pagi sekali Alia mulai membuka matanya, dia melihat sang suami yang masih tertidur sembari memeluknya.
Malam kemarin sungguh luar biasa baginya, akhirnya mereka melakukan malam pertama mereka walaupun ditempat yang tidak seharusnya dan diwaktu yang tidak tepat pula, disaat dia harus berjuang melawan hipotermia yang menyerangnya, tapi justru suami yang telah menyelamatkan hidupnya dengan cara yang indah dan nikmat.
Rasa bahagia dan berbunga-bunga memenuhi dadanya, walaupun dia tidak tahu bagaimana perasaan suaminya padanya tapi dia bersyukur pada akhirnya suaminya mau untuk menyentuhnya.
Saat Alia akan beranjak pergi pelan-pelan dari dekapan suaminya dan memakai bajunya kembali, Azril terbangun.
"Mau kemana sayang?" tanya Azril.
Sontak Alia pun menoleh dan menutupi kembali dadanya yang polos dengan selimut.
"Aku mau pakai baju kak," ucap Alia yang gugup sekaligus bahagia luar biasa karena sang suami memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.
"Kamu diam saja didalam selimut, biar aku ambilkan bajumu ya! Karena udara masih sangat dingin," ujar Azril.
"Baik Kak,"
Azril mencari baju ganti Alia di tas wanita itu, dan setelah menemukannya dia kembali mendekat pada sang istri.
Saat dia akan memakaikan baju untuk sang istri, Alia mencegahnya.
"Biar aku pakai sendiri kak," ucap Alia malu-malu.
"Kenapa sayang? Biar aku pakaikan! Apa kamu malu?" tanya Azril memandang intens wajah sang istri yang sedang merona.
Alia pun hanya bisa mengangguk sembari menunduk.
Azril begitu sangat gemas dengan Alia yang cantik dan polos, gadis itu masih saja malu-malu padahal semalam mereka sudah melihat semuanya satu sama lain.
"Biasakan dirimu denganku sayang, karena setiap hari kita akan saling melihat keindahan kita masing-masing," goda Azril pada sang istri.
Alia menoleh sekilas kearah suaminya dengan wajah yang semakin merona, dia terkejut mendengar jika suaminya berencana akan mengulanginya lagi setiap hari, sungguh baru membayangkan saja hatinya begitu bahagia. Apakah itu tandanya sang suami sudah mencintai dan menerimanya sepenuhnya? Begitu pikirnya dalam hati.
__ADS_1
Semakin lama melihat istrinya malu-malu seperti itu membuat ga1r4h Azril muncul tiba-tiba tapi dia hanya bisa menahannya, lalu dia pun segera melanjutkan untuk memakaikan baju pada istrinya, tak lupa memakaikan jaket tebal miliknya.
Dan Alia pun hanya bisa menurut, padahal hatinya begitu gugup karena masih belum terbiasa.
Setelah selesai berpakaian lengkap dengan berhijab juga, Azril pun juga memakai bajunya kembali.
Saat Alia akan berdiri, rasa nyeri pada inti tubuhnya masih sedikit terasa.
"Akh!" rintihnya pelan.
"Apa masih sangat sakit sayang?" Azril panik.
"Nggak apa-apa kak, hanya sedikit sakit." Alia sedikit berbohong karena takut suaminya semakin cemas.
"Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan pendakian sayang, aku akan menelpon orang-orangku yang aku tugaskan menunggu di basecamp agar menjemput kita dengan kendaraan untuk turun ke bawah." ucap Azril yang segera keluar dari tenda.
"Tapi kak, pendakiannya jadi gagal karenaku." ucap Alia merasa tak enak.
"Nggak sayang, kami sudah sering mendaki disini, jadi tak masalah jika gagal mencapai puncak. Lain kali kita bisa mendaki lagi sama-sama. Lagipula sepertinya Shinta juga nggak bisa lanjut karena kakinya sakit, jadi sebaiknya kita semua kembali pulang."
Alia pun mengangguk.
Azril keluar dari tenda dan memanggil teman-temannya agar semua bangun.
Semua terbangun dan keluar dari tenda, mereka menghampiri Azril yang telah berdiri diluar tenda.
"Ada apa Ril?" tanya Gilang.
"Sebaiknya kita semua bersiap pulang, istriku sakit, kita tidak mungkin bisa melanjutkan perjalanan ke puncak."
"Kaki Shinta juga masih sakit, aku khawatir jika dipaksa jalan nanti malah membengkak." sela Irfan.
Saat Azril masuk kembali ke tenda, Alia terlihat memasukkan bajunya dan baju suaminya yang basah pada kantong.
"Apa sudah masuk semuanya sayang?" tanya Azril.
"Sudah kak," Alia tersenyum manis.
Azril yang melihat istrinya tersenyum manis seperti itu sungguh tak tahan ingin menc**m bibir pink sang istri. Sekelebat bayangan percintaan mereka semalam tiba-tiba muncul di otak Azril.
"Cup!"
Dia menc**m bibir sang istri lalu mengesapnya dengan lembut.
Sedangkan Alia yang mendapatkan serangan mendadak hanya bisa pasrah, hatinya bahagia dan berbunga-bunga.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya tautan mereka pun terlepas karena kehabisan oksigen.
"Maaf sayang, aku hanya tak tahan melihat bibir indahmu." Azril merasa tak enak.
"Nggak apa-apa kak, apapun yang kakak lakukan padaku.. Aku.. Suka!" Alia mengakui dengan tersenyum malu-malu.
"Masyaallah sayang.. Tolong jangan memancingku untuk menyerangmu saat ini!" ucap Azril dengan nada frustasi, dia benar-benar harus menahan diri agar tidak berbuat jauh lagi pada sang istri.
"Hah!" Alia tak mengerti.
__ADS_1
"Memancing apa kak?"
"Nggak apa-apa sayang! Ayo kita keluar, kita harus bereskan tenda!" pinta Azril mengalihkan pembicaraannya.
Dan Alia pun mengangguk dan mengikuti sang suami.
Alia dan Azril keluar tenda, mereka juga melihat Irfan dan Gilang sudah mulai membongkar tenda mereka.
Shinta yang melihat Alia keluar tenda lantas mendekati wanita itu dengan berjalan tertatih-tatih.
"Al!" panggil Shinta.
Alia menoleh ke arah Shinta dan segera berlari lalu memapah wanita itu.
"Terimakasih banyak sudah menyelamatkanku Al," Shinta tersenyum manis pada Alia.
Sungguh dia sangat kagum pada wanita berhijab itu, walaupun Alia lebih muda darinya tapi Alia sangat baik hati dan bersikap dewasa.
"Sama-sama kak, sesama teman harus saling bantu kan!" Alia membalas senyuman Shinta, "Oia bagaimana luka kakak?" tanya Alia sembari melihat kaki Shinta yang terlihat ditutup dengan kasa dan plester.
"Alhamdulillah sudah lebih baik Al,"
"Alhamdulillah.."
Azril dan Irfan yang melihat keakraban pasangan mereka masing-masing merasa sangat bahagia dan tersentuh. Walaupun Azril dan Irfan bersahabat, tapi persahabatan mereka seperti Tom dan Jerry saat bertemu, karena mereka selalu berbeda pendapat dan pemikiran tapi sekarang kekasih mereka malah terlihat akrab dan semakin dekat, sungguh lucu pikir mereka.
Dalam waktu satu jam kurang mereka telah selesai membereskan tenda dan perlengkapan mereka yang lain sembari menunggu sampai jemputan mereka datang.
***
Di sebuah restoran mewah, bernuansa Arabic. Pak Faruq sedang duduk berhadapan dengan ketiga adiknya. Ketiga adik Pak Faruq ingin bertemu kakaknya tanpa sepengetahuan istri maupun putra Pak Faruq.
"Mau apalagi kalian ingin bertemu denganku?" tanya Pak Faruq dengan wajah datar. Dia sudah tidak bersimpati kepada ketiga adiknya lagi karena mereka tak menghormati Pak Faruq sebagai kakak tertua mereka.
"Bang Faruq benar-benar sudah berubah! Seperti bukan kakakku lagi!" ucap Pak Fadil adik bungsunya.
"Abang begini juga karena sikap kalian sendiri! Kalian tidak pernah menghormatiku sebagai kakak tertua kalian!" Pak Faruq mengingatkan.
"Apa Abang tahu, karena kejadian tempo hari Fara diceraikan oleh suaminya, semua gara-gara putra Abang yang sok tahu dan sok jadi pahlawan itu!" ucap Farhan dengan kesal, sedangkan Fara berpura-pura menangis tersedu-sedu.
"A.. Apa? Kamu diceraikan suamimu Far?" Pak Faruq terkejut melihat adiknya yang menangis lalu membalasnya dengan anggukan.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Abang tidak menyangka akibatnya bisa fatal seperti itu Fara, maafkan Abang Far!" Pak Faruq memandang sendu adiknya dengan perasaan bersalah.
Fara pun berhambur ke pelukan sang kakak, dan menangis disana.
"Tenanglah adikku! Abang akan menjaga dan melindungi kamu dan anak-anakmu!" ucap Pak Faruq mengelus kepala Fara sang adik.
Fara memiliki dua anak yang masih butuh kasih sayang kedua orangtuanya, putra pertamanya berusia 14 tahun dan putri keduanya berusia 9 tahun. Sedangkan Fara sendiri berusia 37 tahun. Dia sudah terbiasa hidup mewah sejak kecil jadi akan sulit baginya jika tidak memiliki suami yang mampu menopang gaya hidupnya yang mewah.
"Sekarang Abang sadar kan, semua ini gara-gara siapa? Fara kehilangan suaminya dan anak-anaknya kehilangan sang ayah gara-gara putra Abang yang sombong itu!" ucap Farhan memojokkan sang kakak.
"Maaf, maafkan aku Fara! Abang akan memenuhi semua kebutuhanmu dan kedua anakmu, tapi tolong rahasiakan dulu masalah ini dari putra dan istri Abang." pinta Pak Faruq.
Fara pun mengangguk.
__ADS_1
"Abang hanya tidak ingin memilih salah satu diantara kalian, karena kasih sayang Abang padamu dan pada mereka sama besarnya."
Fara pun mengangguk, wajahnya masih dalam mode sedih tapi hatinya sungguh bersorak gembira. Setidaknya walaupun dia sudah cerai dari suaminya, tapi dia akan dapat kemewahan dari sang kakak.