
Di Masa Sekarang..
Alia masih termenung di kamarnya, dia memikirkan semua perkataan calon ibu mertuanya, apakah ibu calon suaminya itu akan menerimanya atau dia akan mendapatkan mertua yang ketus seperti yang ada di sinetron yang biasa dia lihat.
Dia juga tidak bisa menyalahkan ibu dari calon suaminya, karena jika dia menjadi ibu dia pun akan mengharapkan calon istri yang terbaik untuk putranya kelak.
Lalu apakah dia akan terus maju untuk menjalani semuanya atau dia memilih mundur sebelum berperang? Dia sadar inilah yang dia inginkan dan Allah telah mengabulkan keinginannya jadi bukan waktunya dia untuk berfikir ulang lagi, Allah telah memberikannya jalan dan kini tugasnya sekarang adalah membuat calon suaminya jatuh cinta padanya dan calon kedua mertuanya ikhlas menerima kehadirannya.
Selama beberapa hari ini, dia sibuk menyiapkan segala keperluannya untuk acara lamarannya nanti, rumahnya yang biasa di cat satu tahun sekali kini pun di cat lagi agar terlihat bersih dan indah dipandang.
Tak lupa dia juga mengundang Abah Romli dan Umi Mutia juga, karena berkat dukungan dari mereka juga, dia pun berani dan nekad mengejar laki-laki impiannya.
**
Hari Sabtu pun tiba, keluarga Alia bersama Abah Romli dan Umi Mutia telah bersiap menyambut kedatangan Azril dan keluarganya.
Dan selang beberapa menit kemudian, yang di tunggu pun telah datang.
Azril datang bersama kedua orangtuanya, dan beberapa saudara dari uminya.
Jantung Azril benar-benar berdetak tak karuan, ini kali pertama dia melamar seorang gadis langsung pada orangtuanya dan disaksikan banyak orang.
Sedangkan Alia yang berada di kamarnya pun merasakan hal yang sama, dia benar-benar tidak menyangka akan menjadi tunangan dari seorang pria yang luar biasa.
Semua orang saling berbicara akrab dan berkenalan antar kedua keluarga, sebelum prosesi lamaran akan berlangsung.
Dan setelahnya, Alia di panggil oleh Bu Siti untuk keluar dari kamarnya.
Alia pun berjalan sembari menunduk kearah mereka, dia terlihat cantik dan imut dengan gamis dan hijab terbaik miliknya.
Sedangkan Azril pun memandang wajah sang calon istri tanpa berkedip. Gadis itu, hanya memakai gamis dan sedikit make up saja sudah terlihat cantik. Bagaimana jika dia memakai gaun pernikahan nanti? Begitu pikirnya.
Alia duduk di samping kedua orangtuanya, berhadapan dengan Azril yang juga duduk di samping Umi dan Abahnya.
Sedangkan Abah Romli dan Umi Mutia sebagai perantara kedua keluarga.
"Alia Khadijah, Menikah adalah sunah untuk menyempurnakan agama dua orang insan. Saling menerima kekurangan, melengkapi satu sama lain dan bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga sesuai dengan Sunah Rasulullah. Maka, bersediakah kamu menemaniku untuk menyempurnakan agama kita? Menjadi bidadari dunia dan akhiratku?" lamar Azril pada sang calon istri.
Mata Alia berkaca-kaca mendengar kata-kata indah calon suaminya, sungguh dia semakin mencintai pria dihadapan itu, "Saya bersedia Kak," Alia menerimanya dan mengangguk dengan mantab.
"Alhamdulillah.." seru semuanya bersamaan.
Dan Umi Fatimah pun maju untuk memakaikan cincin pertunangan di jari manis calon menantunya itu.
Semua orang pun bahagia terutama Azril dan Alia. Keduanya terus tersenyum selama prosesi lamaran berlangsung.
Dan di akhir acara telah disepakati jika pernikahan Alia dan Azril akan di gelar satu minggu lagi, dan acaranya akan di adakan di salah satu gedung besar nan mewah yang ada di pusat kota.
__ADS_1
**
Selama satu minggu ini, Alia sibuk bersama salah satu staff perusahaan Azril, yang bernama Devina.
Devina menemani Alia ke mall, ke butik dan beberapa tempat yang lain untuk menyiapkan segala keperluan pernikahannya nanti.
Alia memilih sendiri semua konsep dan gaun yang akan dia kenakan di hari pernikahan mereka, bahkan Paman Hamid pun ditunjuk sebagai kepala catering untuk acara pernikahannya.
Dan tentu saja Umi Fatimah sangat setuju karena hanya kue dan makanan buatan Paman Hamid saja yang selalu menjadi favoritnya.
Saat mereka berada di butik, tadinya Alia sangat terkejut saat melihat harga gaun pengantin yang bernilai fantastis itu, tapi lagi-lagi Devina mengingatkan jika jangan melihat harga karena calon suaminya akan membelikan semua yang dia inginkan.
Walaupun dengan merasa tak enak, akhirnya Alia pun mengambil gaun yang dia inginkan. Bahkan saat Devina mengajaknya untuk pergi memilih cincin pernikahannya, Alia pun menolak dan mengatakan jika calon suaminya saja yang memilihkan cincin pernikahan untuk mereka.
Alia hanya merasa tidak pantas mendapatkan kemewahan ini, dia mencintai calon suaminya bukan karena hartanya tapi karena pria itu baik dan Sholeh.
Setelah menyelesaikan segalanya, Devina pun mengantarkan Alia kembali ke rumahnya lagi, karena untuk sementara waktu Alia juga cuti dari pekerjaannya.
Devina pun kembali ke kantor Azril dan melaporkan segala hal yang dia lakukan bersama calon istri bossnya itu.
"Bagaimana calon istriku Dev? Apa segala keperluannya sudah terpenuhi?" tanya Azril yang masih berada di depan laptopnya dan duduk bersama sang Asisten.
"Yah, seperti sebelum-sebelumnya Boss. Nyonya muda sangat polos sekali, dia selalu takut saat melihat harga barang-barang yang ada di butik, bahkan dia tadi sempat mencari harga yang paling murah untuk gaun pengantinnya. Saya benar-benar tidak menyangka Boss, masih ada gadis sepolos itu. Kalau saya jadi nyonya muda sudah saya beli semua isi butik itu!" ucap Devina dengan antusias.
"Dan aku bersyukur bukan kamu yang menjadi calon istriku! Bisa-bisa dalam beberapa bulan saja, perusahaanku terancam gulung tikar." ucap Azril dengan datar.
"Bukan hanya terancam gulung tikar Boss, tapi miskin mendadak!" cibir Dennis, asisten Azril.
"Lalu cincin pernikahannya sudah beli?" tanya Azril.
"Nona tidak mau saat saya mengajaknya untuk membeli cincin kalian, dia mengatakan jika anda saja yang memilihkan cincin pernikahan kalian Boss,"
Azril menghela nafasnya panjang, dia tahu gadis seperti Alia tidak akan silau dengan barang-barang mewah, memaksanya juga percuma sudah pasti dia akan terus menolak memilih langsung barang-barang.mewah itu.
"Okelah, biar aku sendiri yang pilih cincinya nanti!"
"Baik Boss! Jika anda sudah tidak memerlukan saya lagi, saya pamit kembali ke ruangan saya dulu Boss."
"Hm, pergilah! Terimakasih atas bantuanmu hari ini!"
"Sama-sama Boss!"
***
Tak terasa, waktu berjalan sangat cepat, dan hari ini adalah hari pernikahan Azril dan Alia.
Tiga hari sebelum hari pernikahan Azril, dia dan kedua orangtuanya mengunjungi sang nenek untuk meminta restu neneknya dan sang nenek pun merestui pernikahan cucunya dan ikut merasakan kebahagiaan sang cucu.
__ADS_1
Abah Faruq pun juga mengundang ketiga adiknya secara langsung. Datang atau tidak yang terpenting dia sudah mengabari mereka.
Ijab qobul pun diadakan di pagi hari, di sebuah masjid cantik yang ada di dalam gedung mewah itu.
"Masyaallah Al, kamu cantik sekali! Bahkan masjid cantik ini tidak bisa menandingi kecantikanmu, ciptaan Allah yang indah dan sempurna." puji Azril dalam hatinya.
Dia benar-benar takjub melihat Alia yang sangat cantik dengan hijab dan balutan kebaya putih panjangnya.
Lalu, beberapa menit berikutnya, dengan suara yang lantang dan mantab, Azril mengucapkan janji sucinya dihadapan Allah dan semua orang yang ada disana.
Dan kini keduanya pun menjadi suami istri yang sah, mata keduanya nampak berkaca-kaca saat pak penghulu melafazkan doa indah untuk kedua pengantin baru itu.
Saat untaian doa telah selesai di ucapkan, Umi Mutia menyuruh Azril untuk memasangkan langsung cincin pernikahan mereka ditangan istrinya, begitu juga sebaliknya.
"Silahkan cincinnya dipakaikan ke istrinya Ustadz Azril," ucap Umi Mutia tersenyum manis.
Sedangkan Azril mendadak membeku, tubuhnya bergetar dan keringat dingin memenuhi pori-porinya. Ini kali pertamanya dia akan menyentuh wanita yang baru saja berubah status menjadi mahramnya.
"Ayo ustadz! Tunggu apa lagi?" ucap Umi Mutia lagi.
"Ah Iya Umi.."
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Baru mau pegang tangan aja udah gemetaran begini! Bagaimana kalau pegang yang lainnya?" gumam Azril dalam hatinya.
Sedangkan Alia pun merasakan hal yang sama, dia benar-benar gugup dan terus menundukkan kepalanya.
Dengan tangan gemetaran, dingin dan perasaan ragu-ragu Azril mengambil tangan kanan sang istri, dia berusaha menahan rasa aneh yang menjalar ditubuhnya. Dan dengan cepat memakaikan cincin pernikahan itu di jari manis istrinya.
Tangan Alia pun tak kalah dinginnya, dia pun segera mengambil cincin untuk suaminya dan memakaikan dengan cepat ke jari manis sang suami.
Sungguh jantung keduanya tak berhenti berdetak kencang, mereka sangat gugup dan belum terbiasa tapi rasanya begitu luar biasa dan menyenangkan bagi keduanya.
Setelah berganti pakaian khusus untuk resepsi, keduanya pun memasuki gedung untuk menyambut para tamu.
Alia semakin cantik dengan gaun indah berwarna peach itu, dia benar-benar seperti putri yang ada di negeri dongeng.
Bahkan para tamu undangan pun berbisik-bisik membicarakan Alia dan mengira Alia berasal dari keluarga kaya sama seperti sang suami.
Dan lagi-lagi Azril hanya bisa memuji kecantikan istrinya dalam hati.
Saat berada di atas kursi pengantin keduanya sibuk menyambut para tamu yang datang silih berganti. Keduanya juga hanya terdiam dengan pikiran masing-masing, mereka menjadi binggung bagaimana mereka mengawali perbincangan mereka.
Kedua keluarga besar, para relasi bisnis dan teman-teman kedua mempelai pengantin pun turut hadir kesana untuk memberikan ucapan dan doa mereka.
Nenek Hanifah pun juga datang secara langsung untuk bertemu cucu menantunya dan memberikan restunya pada kedua mempelai pengantin, tapi adik-adik Pak Faruq saja yang tidak datang. Mereka masih sakit hati dengan semua ucapan Azril tempo hari.
Acaranya begitu meriah dan semua orang pun turut berbahagia.
__ADS_1
"Al, kamu sangat cantik! Terimakasih sudah bersedia menjadi istriku," bisik Azril yang sudah tidak tahan ingin mengatakan kata-kata itu daritadi.
Walaupun masih gugup, dia memberanikan diri memuji sang istri.