
Selama hampir satu minggu beberapa persiapan telah dilakukan oleh Umi Fatimah untuk pernikahan kedua sang putra, dia begitu bahagia. Walau pernikahan kali ini terkesan sederhana dan mengundang keluarga inti saja, tapi dia sangat antusias mendekor backdrop sendiri untuk akad nikah putranya nanti.
Beberapa hari ini, dia juga membawa calon menantu dan besannya untuk belanja keperluan pernikahan anak-anak mereka nanti, dari belanja gaun pernikahan sampai cincin pernikahan keduanya.
Sedangkan Azril dan Alia hanya terdiam pasrah, mereka hanya berharap takdir bisa menggagalkan semua ini.
Pernikahan Azril dan Nabila telah disepakati, akan dilaksanakan hari Selasa pagi dan diadakan di mansion Pak Faruq.
Semakin dekat dengan hari pernikahan suaminya, Alia seolah tak memiliki semangat hidup lagi, dia menangis dan bersedih dalam diam, tapi didepan suami maupun keluarganya dia bersikap ceria seperti biasanya.
Sedangkan Azril masih bersikap sama selalu hangat dan menyayanginya, dia terus meyakinkan pada sang istri jika hanya Alia lah yang ada di hatinya, walaupun Alia sendiri juga masih ragu dengan perasaan suaminya.
Pagi itu saat acara pernikahan akan segera dilaksanakan, Alia membangunkan suaminya untuk sholat subuh. Dia tahu jika dia dan suaminya sama-sama susah memejamkan mata tadi malam dan baru bisa tidur pada dini hari.
"Bang, ayo bangun! Kita sholat subuh sama-sama." ucap Alia menggoyangkan tubuh sang suami.
Azril mengerjapkan matanya perlahan dan melihat wajah sang istri tercintanya, dia tersenyum lalu bangun dari ranjangnya.
Keduanya pun melaksanakan sholat subuh berjamaah seperti biasa.
Saat mentari telah menampakkan senyumnya di sela awan, keadaan mansion sudah mulai ramai.
Alia turun ke bawah untuk membantu para pelayan menyiapkan makanan yang akan dihidangkan pada keluarga besar dan keluarga mempelai pengantin wanita. Walaupun hatinya memang tidak baik-baik saja hari itu, tapi dia selalu tersenyum dan bersikap ceria seperti biasa.
Semua pelayan disana melihat Alia dengan tatapan penuh haru. Bagaimana bisa wanita sebaik dan sesabar itu harus diduakan? Sungguh tidak adil pikir mereka.
Mereka tidak tahu apa permasalahannya yang sebenarnya, tapi mereka sangat salut dengan nona muda mereka, nonanya tidak menampakkan kesedihannya sama sekali di depan semua orang.
Salah satu pelayan menghampiri Alia yang sedang sibuk mendekor kue pengantin.
"Non Alia, apa anda sudah selesai? Sepertinya Tuan muda sedang memanggil anda." ucap pelayan itu.
"Astaghfirullah Hal'adzim.. Aku sampai lupa mengurus suamiku gara-gara kue cantik ini." ucap Alia tersenyum karena menyadari kesalahannya.
Tadinya dia ingin membantu sebentar lalu membawakan sarapan untuk suaminya ke kamar mereka, tapi karena asik ngobrol dengan para pelayan dan begitu serius mendekor kue dia sampai lupa dengan tujuannya.
Alia pun membawakan sarapan untuk suaminya ke atas.
Setelah kepergian Nona mudanya para pelayan berbisik-bisik memujinya.
"Non Alia masih bisa tersenyum dan bersikap biasa, coba aku jadi dia pasti sudah menangis seharian di dalam kamar." ucap salah satu pelayan.
"Kalo aku jadi Nona, bisa-bisa aku kabur karena nggak kuat, atau malah bunuh diri." timpal salah satunya.
"Benar-benar wanita hebat ya Non Alia,"
"Ehemm!" tiba-tiba Umi Fatimah datang dari belakang mereka.
"Ma.. Maafkan kami Nyonya,"
"Jangan bergosip pagi-pagi! Cepat kerjakan tugas kalian, mempelai pengantin wanitanya sudah mau datang!"
"Ba.. Baik Nyonya besar."
__ADS_1
Para pelayan pun berhambur pergi melaksanakan tugas mereka kembali.
***
Alia masuk ke dalam kamar, dan melihat sang suami yang duduk di balkon dengan tatapan kosong, dengan masih memakai baju santainya. Lalu dia berjalan mendekati sang suami.
"Hai sayang," ucap Alia tersenyum manis.
"Al!" Azril pun menoleh.
"Kenapa belum ganti baju sayang? Sepertinya sebentar lagi pengantin wanitanya datang," Alia mengingatkan.
"Al, duduklah kemari." Azril menepuk space kosong di samping tempat duduknya.
Alia pun mengangguk dan duduk di sampingnya suaminya dengan masih membawa nampan yang berisi sarapan untuk sang suami.
"Apa kamu tidak ingin pernikahan ini terjadi Al? Apa kamu benar-benar ikhlas aku menikah lagi sayang?"
"Bukankah kita sudah membahasnya sayang? Apapun akan aku lakukan dengan ikhlas demi kebahagiaan Abang," Alia tersenyum manis.
"Tolong hentikan aku Al, lalu kita akan pergi sejauh mungkin dari sini! Aku benar-benar nggak mau nyakitin hati kamu,"
"Jangan kecewakan umi bang! Lihatlah umi sangat bahagia dengan pernikahan abang, apa abang mau buat umi sedih dan kecewa? Beliau adalah wanita yang paling berjasa dalam hidup Abang dan surga berada di bawah telapak kakinya," nasehat Alia.
"Tapi Al,"
"Sudahlah bang, jangan terlalu memikirkanku! Aku baik-baik aja kok, ayo sarapan! Aku suapin ya suamiku," ucap Alia yang sudah mengarahkan sendoknya ke mulut suaminya.
Azril pun reflek membuka mulutnya dan menerima suapan makanan dari sang istri. Dia memandang wajah istrinya dengan sendu dan sesekali mencium punggung tangan istrinya.
Azril memakai setelan jas hitam dan kemeja berwarna putih, tak lupa bunga putih terselip di sakunya.
"Tampannya suami aku! Jangan gugup ya ijab kabul-nya sayang! Jangan sampai salah sebut dengan namaku!" goda Alia sembari merapikan rambut sang suami.
Dia menahan sekuat tenaga agar airmatanya tak jatuh didepan sang suami.
"Sepertinya akan salah, tapi biar saja orang tahu kalau aku cintanya sama kamu aja!" ucap Azril tak peduli.
"Isshhh.. Gombal! Bentar aku ambilkan sepatu Abang dulu!" ucap Alia yang beranjak untuk mengambilkan sepatu suaminya.
Azril memandang pantulan dirinya di depan kaca, dia mengingat pernikahannya dengan Alia dulu. Walaupun pernikahannya dengan Alia tidak didasari dengan cinta, tapi dia merasa bahagia pada hari itu, berbeda dengan pernikahannya kali ini, dia tidak merasa bahagia sedikitpun dan rasanya ingin pergi saja dari rumah.
"Tok.. Tok.."
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Ril apa kamu udah siap?" tanya Umi Fatimah dari balik pintu.
"Sudah Umi, tinggal pakai sepatu!" jawab Azril lalu membuka pintu kamarnya untuk sang ibu.
"Ayo Ril kita kebawah, rombongan pengantin wanitanya sudah mau datang!"
"Iya umi, tunggu."
__ADS_1
Alia yang mendengar suara ibu mertuanya pun segera keluar dari walk in closet dan mulai memasangkan sepatu untuk sang suami.
"Biar aku pakai sendiri sayang!" ucap Azril mencegah tangan Alia.
"Nggak apa-apa sayang, udah Abang diem aja!" bantah Alia dan Azril pun hanya bisa menurut saja.
Setelah Azril telah siap, Umi Fatimah menggandeng putranya dan mengajaknya turun ke bawah.
"Bentar umi, kita tunggu Alia dulu!" cegah Azril.
"Alia kan masih lama belum ganti baju dan dandan juga! Jadi biarin aja dia turun sendiri nanti, ayolah kita turun sekarang!" ucap Umi Fatimah kekeh.
"Tapi umi.."
"Nggak apa-apa bang, Bang Azril sama Umi turun dulu, sebentar lagi aku susul." ucap Alia tersenyum lembut.
"Tuh kan! Istrimu aja nggak keberatan, ayo donk ril!"
Umi Fatimah menarik tangan putranya dan mengajaknya untuk turun menyambut para tamu dan rombongan pengantin wanita.
"Kamu cepat turun ya sayang! Aku menunggumu!"
Alia pun mengangguk dan membiarkan suaminya turun bersama sang ibu mertua, sedangkan dia masih harus bersiap.
Setelah kepergian suaminya, airmata Alia tidak bisa dibendung lagi. Dia menangis sesenggukan, sungguh hatinya begitu sangat sedih melepaskan suaminya untuk menikah lagi. Dia memang mengatakan bisa ikhlas tapi hatinya tidak bisa berbohong, nyatanya dia masih sulit menerima keadaan ini.
Beberapa menit kemudian, rombongan pengantin wanitanya telah datang.
Nabila dan keluarganya berbinar dengan bahagia, disambut hangat oleh calon suami dan keluarga.
Dia nampak malu-malu saat berhadapan dengan calon suaminya.
Sedangkan Azril hanya biasa saja, dia lebih banyak menundukkan wajahnya dan tak banyak bicara.
Mereka kini duduk di kursi dan meja yang akan dipakai untuk akad nikah, tapi sayangnya beberapa menit menunggu pak penghulu belum juga datang.
Saat Abah Faruq bertanya pada orang kepercayaannya, mereka mengatakan jika penghulu yang mereka tunjuk tiba-tiba mengalami kecelakaan kecil di jalan raya dan harus diobati sebentar di rumah sakit.
Azril pun sedikit bernafas lega, dia berharap penghulu itu tidak datang sama sekali.
Berbeda dengan Nabila dan keluarganya, mereka menjadi tegang dan gelisah karena takut jika pernikahan ini akan gagal.
Hingga Abah Nabila mengatakan pada Abah Faruq untuk mengundang salah satu temannya yang juga berprofesi sebagai penghulu, dan Abah Faruq pun menyetujui.
Setelah setengah jam menunggu, akhirnya beberapa orang memakai kemeja dan jas masuk ke dalam mansion.
"Apa benar ini kediaman Bapak Faruq Mohammad?"
"Iya benar, saya Pak Faruq," jawab Abah memandang beberapa laki-laki itu lalu menghampiri mereka.
"Apa anda penghulu yang diminta untuk datang kesini oleh Pak Syarif?" tanya Abah Faruq.
Sedangkan Abah Syarif sendiri menjadi binggung, dia kira temannya bisa datang tapi kenapa temannya malah menyuruh orang lain untuk datang.
__ADS_1
"Siapa itu Pak Syarif? Maaf kami tidak mengenal nama itu, dan tujuan kami kesini bukan untuk jadi penghulu," ucap salah satu dari mereka dengan ketus.