
Angin dan hujan di sertai guntur sangat menyeramkan, saat ini di negri Yuoyui di selimuti awan hitam yang tebal. Beberapa kultivator merasakan energi roh yang sangat besar namun keberadaannya sulit di temukan.
Esok hari di kediaman keluarga Wu
"****, gara-gara kotak itu sekarang aku terjebak di dunia aneh ini." Geram Alcie menendang meja di dekat ranjang.
Alcie membuka mata dan merasakan sakit kepalanya. Ia sadar sudah berada di tempat yang sangat aneh dan tentunya jauh dari dunianya sendiri.
Menurut pelayan pribadi Xi Sara, ia di bawa oleh pria misterius yang menemukannya di bawah jurang. Namun ia tahu dirinya masuk ke kotak misterius milik kakeknya.
"Entah dunia atau negara apa ini!", Alcie mengalami perjalanan waktu yang membuat dirinya terdampar di tubuh seorang nona muda dari keluarga terhormat.
Alcie tidak menyangka kalau dirinya sudah melakukan perjalanan waktu sehingga sampai di sini. "Lihatlah pakaian ini sangatlah norak." gumam Alcie mengibas gaun.
"Nona, jika anda terus mengomel nanti nyonya besar akan menghukum nona lagi." kata seorang wanita yang Alcie tahu adalah pelayan pribadi pemilik tubuh asli ini.
Pemilik tubuh ini memiliki nama yang sama dengan Alcie, namun mereka sangat berbeda tentunya dari sifat, wajah, dan lainnya. Alcie seorang wanita pembunuh bayaran sedangkan Alcie di tempat ini adalah wanita biasa yang sangat polos.
Beberapa hari lalu Alcie di temukan terkubur di bawah tebing, selama beberapa hari ia tidak sadarkan diri mungkin modern bisa menyebutnya dengan koma.
'Sepertinya Alcie dari keluarga ini sudah mati.'
Sekarang yang dirinya inginkan adalah kembali ke rumah tapi bukan rumah yang ada di sini. "Bagaimana aku menjelaskan kalau aku bukan nona kalian!"
Pelayan itu langsung berlutut, "Nona, aku mohon jangan lakukan lagi.", pelayan itu memohon dengan memelas.
Alcie menarik nafas dengan kuat. "Aku sakit tapi tidak ada dokter satupun yang datang mengecek kondisi." ujar Alcie menompang dagu. Ia heran kenapa nona muda yang sangat berharga seperti ini di sia-siakan.
"Ahk!"
Pelayan panik melihat Alcie yang meringis memegang kepalanya, Sekelebat banyak memori dari tubuh ini yang melintas dalam ingatan Alcie sekarang.
"Tenyata gadis ini memang sudah di buang, bahkan kehadirannya tidak pernah di anggap." batin Alcie memahami situasi.
Pelayan memapah Alcie menuju ranjang, ia sangat khawatir sampai akan memohon kepada nyonya besar untuk membawa tabib ke tempat ini.
"Bukannya kamu tau, dia tidak peduli?" tanya Alcie mengejek. Pelayan tersebut menunduk.
"Nona, anda tertimpa tanah di bawah jurang dan belum di periksa oleh tabib."
"Pertanyaan ku hanya satu, apa mereka bisa datang?" Pelayan tersebut menggeleng dengan putus asa.
"Aku akan mengobati diri sendiri."
Pelayan tersebut mendongakkan kepala dan berkata itu tidak mungkin. "Nona, nyonya telah merusak Dantian anda dulu." ungkap pelayan dengan pelan.
'Cik, aku lupa memory itu tapi tenaga batin lemah ini masih bisa aku pergunakan untuk mengobati sedikit-sedikit saja.'
Alcie meminta pelayan untuk pergi ia mengatakan akan istirahat sebentar. "Jangan sampai ada orang lain masuk ke paviliun ini." Perintah Alcie.
Setelah pelayan pergi ia mulai memposisikan diri dengan benar dan mencoba fokus sekarang ngobatin batin dengan batin dulu, ia pernah di ajari hal ini oleh kakek sewaktu masih kecil.
Beberapa jam kemudian
Alcie memuntahkan darah cukup banyak, "Ternyata cara kotor mereka dengan racun.", Alcie mengusap darah dengan kasar. Tubuhnya sudah lumayan segar di bandingkan tadi.
"Selanjutnya adalah obat herbal, di masa ini terlihat kalau rumah sakit modern sangatlah tidak mungkin ada."
"Hahahah, ternyata kau pandai memulihkan diri."
"Siapa kamu?"
Suara tawa mulai berhenti, "Aku Yan, aku yang akan membantumu untuk keluar dari sini.", Alcie sedikit heran karena ia bisa berkomunikasi namun tidak bisa melihat.
"Aku ada dalam hati dan pikiranmu, jangan sampai kamu mencari diriku di dunia nyata."
"Cih, lagian siapa juga yang mau nyari kamu." sahut Alcie sombong.
"Dasar anak sialan."
"Katakan kenapa aku bisa ada di sini?"
"Si tua itu yang mengirim dirimu ke sini."
"Si tua? Maksudnya?"
"Kakekmu."
"Mana mungkin?"
"Dia sudah tua, dia juga tidak mungkin menyelesaikan masalah di dunia ini."
"Ceritakan dengan detail."
"Nanti akan ku perjelas dengan perlahan. Sekarang bukankah kamu ingin membuat obat?"
Alcie mengangguk benar juga, ia akan membuat obat untuk menghilangkan sisa racun dari tubuhnya ini. "Kau sudah berjanji tadi, awas saja tidak memberitahu apapun nanti."
"Tentu saja aku tahu itu."
***
Alcie menatap dirinya yang berada di balik cermin yang berwarna kuning. Terlihat jelas pantulan yang sangat tidak jelas. "Bahkan aku gak tahu lebih jelas wajahku ini."
"Nona, anda mencariku?", Alcie mengangguk ia memberikan pelayan satu hiasan rambut.
"Apa kita sangat miskin bahkan lihat ini." tunjuk Alcie.
Pelayan menjelaskan situasi berubah saat tuan besar harus pergi untuk bisnis besar, sudah 5 tahun sekarang mereka menguasai paviliun utama.
"Begitu rupanya, bawa aku jalan-jalan."
"Nona, anda tidak biasanya ingin jalan-jalan."
Alcie beralasan dirinya sangat lelah dan butuh pemandangan indah saat ini. Pelayan itupun membawa Alcie ke sebuah danau dekat kediaman mereka.
"Ternyata tidak terlalu jauh.", gumam Alcie ia duduk di atas batu muncul lagi ingatan yang tubuh asli miliki. Tenyata tempat ini adalah tempat paling sering mereka kunjungi.
"Aku ingin teh hijau.", pelayan mengangguk dan segera pergi. alcie menutup matanya dengan kain putih tipis. "Aku akan berandai sekarang."
Ia menikmati semilir angin sejuk khas zaman dulu, bahkan di sini tidak ada polusi dari kendaraan. "Sebaiknya aku bermeditasi di sini."
Alcie segera mengatur formasi dan melakukan meditasi. "Lebih baik kamu obati dulu racun itu." kata Yan tiba-tiba. Alcie mengabaikan dan berusaha fokus.
"Meditasi akan hancur karena Meridian kamu terluka cukup parah." kali ini Alcie membuka mata secara kesal.
"Dan kau terus mengganggu." Yan hanya terkekeh dan mengatakan kalau racun itu tinggal sedikit.
"Di sini ada tanaman rumput tali api coba kau mediakan menjadi obat." Alcie mengerti dan segera cari tumbuhan tersebut. Beberapa saat kemudian ia menemukannya di tepi air.
"Taman ini sangat berkhasiat namun jarang di gunakan oleh tabib junior hanya tabib kelas tingkat tinggi yang tahu cara menggunakan rumput tali api." tutur Yan.
"Ini hanya rumput biasa, kalau dalam kimia ini semacam antibiotik." sahut Alcie.
Yan memberitahu cara menggunakan rumput tali api tersebut lalu Alcie pun segera meditasi. Yan menuntun sedangkan Alcie terus fokus.
Aura Meridian terbuka kembali bahkan jauh lebih besar di banding sebelumnya. "Nona, dia bermeditasi di tempat seperti ini." lirih pelayan menatap Alcie yang sedang berada di fase penyembuhan.
Dengan hati-hati Alcie menelan rumput tali api tersebut. "Jangan di telan langsung buang." Alcie sedikit kesulitan karena tanaman tersebut panas seperti air mendidih.
"Hah hah hah, kau benar-benar gila hampir membuat lidahku terbakar."
__ADS_1
"Tanaman ini hanya kau yang berani menelannya, bahkan tabib tingkat tinggi pun hanya menempelkan di lidah dalam 4 detik lalu membuangnya."
Alcie menutup matanya dengan kain tipis, "Ini berbeda dengan zamanku." gumam Alcie.
"Tentu, di sini seperti 100.000 tahun sebelum perang dunia." sahut Yan.
Mereka pun terdiam karena Alcie sedang mendetoksifikasi tanaman yang baru tubuhnya resap. Alcie tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya.
Pelayan menaruh teh yang di minta oleh Alcie. 'Seingatku pelayan ini bernama Xi Sara. Dia tidak memiliki tubuh kuat namun tenaga dalamnya cukup kuat.' pikir Alcie.
"Nona, anda di sini sudah cukup lama. Sebaiknya kita segera pulang agar nyonya besar tidak marah."l
Alcie menoleh sedikit, "Xi, kamu begitu takut pada dia?", tanya Alcie tersenyum kecil.
"Nona, ... "
Alcie bangun dari duduk dan berjalan ke arah paviliun, sekarang ia akan memakai Indra lain untuk bisa sampai ke paviliun tanpa melihat.
"Nona, penglihatan anda sedang tidak baik-baik saja?"
"Tidak."
"Lalu kenapa anda menutup mata?"
Alcie terkekeh ia tidak menjawab membuat Xi Sara penasaran. Setelah sampai di depan paviliun, Xi Sara segara pamit untuk menyiapkan air mandi nona-nya.
Alcie berjalan ke atas jembatan kecil dekat paviliun, ia sangat merindukan rumahnya di sana. Bahkan tempat ini sangatlah buruk menurutnya.
"Sampai kapan kamu mengikuti aku?" tanya Alcie.
Seorang pria tertawa lalu turun dari atas pohon. "Ternyata kau menyadari kehadiranku." Alcie hanya diam dia malas berurusan dengan orang-orang di sini.
"Padahal jurusku tidak ada yang bisa menyadari, kau hebat." puji pria tersebut.
"Tuan, tidak baik anda mengikuti gadis sampai ke kediamannya."
Pria itu mengangguk paham. "Tentu, tapi aku sangat penasaran bagaimana bisa kau melakukan meditasi dengan rumput tali api yang sangat beracun."
"Itu tidak penting, jika tuan bersedia cepatlah tinggalkan tempat ini sebelum penjaga mengetahuinya."
"Baiklah, semoga suatu hari nanti kita bertemu kembali."
"Itu tidak akan pernah terjadi."
Pria itu pun menghilang, Alcie heran kenapa pria yang memiliki kekuatan tinggi seperti dia tertarik dengan dirinya yang hanya bisa menggunakan Indra.
"Nona, air mandi sudah siap." Alcie mengangguk lalu berjalan menuju tempat tersebut. Ia di papah oleh Xi Sara sebagai pelayan sejak kecil Xi Sara berumur 5 tahun lebih tua dari Alcie.
"Nona, ada undangan dari istana kerajaan. Seluruh keluarga Wu akan datang termasuk nona."
Alcie mengangguk, wajahnya ini bukanlah asli dari keluarga ini. Menurut rumor yang beredar Alcie adalah anak dari tuan besar Wu dan wanita dari negara asing.
"Xi, apa kau tahu siapa ibuku?", tanya Alcie ketika Xi Sara menata rambut panjang berwarna perak milik Alcie. "Tidak ada yang tahu tentang rambut ini?"
Xi Sara mengangguk, ia mengatakan kalau rambut ini dari dahulu sudah di sembunyikan oleh almarhum ibu Alcie. "Kenapa margaku bukan Wu."
"Saya tidak tahu, nona."
"Karena kau bukan anak dari keluarga Wu." jawab Yan.
"Lalu kenapa tubuh ini berada di sini?"
"Karena itulah kau berada di sini sekarang, untuk mencari tahu siapa dirimu."
Alcie heran kenapa harus dirinya yang mencari tahu. "Pemilik asli tubuh ini sudah mati lalu siapa lagi yang akan memecahkan masalah ini?" tanya Yan sedikit kesal.
"Nona, mereka sudah menyiapkan kereta untuk kita." Kata Xi Sara lalu membantu Alcie bangun dari duduknya.
"*Yan, di sini bahkan berjalan pun di bantu orang."
"Memangnya kenapa?"
"Hanya risih*."
Ternyata keluarga Wu sudah berangkat duluan, mereka tidak mau menunggu Alcie. "Xi, apa alasan mereka membenciku?", tanya Alcie serius.
"Mungkin karena wajah nona yang tidak seperti gadis di sini pada umumnya.", Alcie juga merasa sama wajahnya ini sedikit ke Eropa pasti banyak orang yang iri melihat wajah ini.
Namun sayang, Alcie dulu tidak pernah keluar hanya sebatas jalan-jalan di paviliun. 'Kenapa dalam cerita seperti ini pemeran utama pasti sad.' batin Alcie.
...***...
"Alcie, memberi salam hormat pada yang mulia kaisar dan permaisuri." Ia membungkuk lalu sujud untuk tata krama walau dalam hati ia mendumel.
...'Sejak aku lahir tidak ada yang pernah aku perlakukan seperti ini'...
...'Sudahlah, lagipula ini bukan duniamu.' sahut Yan....
...'Diam kau!'...
"Bangunlah," jawab kaisar.
"Terimakasih, yang mulia." kata Alcie lalu mundur untuk ke tempat seharusnya.
Mereka menatap Alcie dengan tajam, ya bisa di katakan kalau Alcie berpakaian biasa saja. "Kalau aku bisa mengutuk akan ku buat mereka buta." rutuk Alcie dalam hati
"Kakak kedua, kenapa kamu terlambat untung saja Yang Mulia tidak marah." kata Wu Ruan adik ke pertama.
"Benar, Alcie kamu selalu membiasakan diri seperti ini." kata nyonya besar.
Alcie mengangguk lalu fokus pada acara. Sekarang adalah penyambutan pangeran yang baru saja pulang dari Medan perang kaisar mengadakan acara besar.
"Kakak kedua, apa penampilanmu tidak berlebihan?" tanya Wu Nian adik ke dua Alcie.
"Adik Nian, biarkan kakak kedua lagipula ini pertama kalinya dia memakai pakaian bagus." timpal Wu Ruan.
"Hahahah, kakak ketiga bisa saja." mereka pun menertawakan Alcie. Biasanya Alcie jika seperti ini akan terlihat sedih dan murung namun kali ini ia sangat acuh membuat nyonya besar janggal.
"Pangeran tiba!"
Mereka berdiri lalu memberi salam pada pangeran, Kaisar memiliki 3 putra dan 1 putri. Yun Sian (27 THN) pangeran pertama sekaligus putra mahkota. Yun Taen (29 THN) pangeran kedua ia adalah ahli obat-obatan yang telah membanggakan negara ini anak selir agung. Yun Akash (25 THN) pengeran ke tiga ia adalah pangeran yang telah memenangkan puluhan perang. Yun Lan hai (16 THN) putri dari selir kesayangan kaisar.
Alcie adalah wanita yang terkenal dengan putri tidur karena selama hidupnya selalu berada di kamar yang berada di paviliun cahaya.
Namun Alcie melihat Yun Taen sangat terkejut, pria itu sama seperti pria yang telah mengikuti dirinya tadi siang. Namun ia tidak begitu yakin kalau pangeran Yun adalah pria tadi.
"*Bagaimana mungkin seorang pangeran mengikuti gadis sepertiku."
"Bisa saja, lagian kamu tidak liat wajahnya kan?" tanya Yan.
"Tetap saja, pangeran tidak punya pekerjaan jika mengikutiku*."
Jamuan pun di mulai semuanya sibuk menyambut pangeran Yun Akash. Karena merasa pusing Alcie berjalan keluar ia ingin menikmati angin malam.
"Xi, istana sangat luas dan indah di sini pasti berbahaya." Xi Sara pun mengangguk istana kerajaan sangatlah berbahaya kekuasaan bisa membuat manusia menjadi iblis.
Mereka berjalan sampai dekat taman utama, ia melihat banyak kunang-kunang di sini. "Tempat ini sangat bagus jika malam hari." gumam Alcie.
Xi Sara menunggu Alcie yang sedang menikmati udara di atas jembatan sungai kecil. "Tidak baik seorang gadis di luar dengan pakaian tipis."
Alcie menoleh ia melihat pangeran Yun Taen berjalan menghampiri dirinya. Alcie menunduk hormat, "Apa pemandangan di sini bagus?"
__ADS_1
"Tentu."
Alcie mengangguk membuat pangeran Yun Taen tersenyum. "Nona, tidak tahu kalau tempat ini jauh lebih indah ketika sore dan pagi hari."
"Bagiku semuanya indah asal menikmatinya dengan benar." Mereka terlibat pembicaraan ringan di sana. Sampai akhirnya Alcie memilih undur diri karena merasa terlalu lama bersama pangeran.
"Jangan sungkan," Alcie mengangguk ia hanya merasakan kurang pantas seorang gadis dari kelas bangsawan berada dekat dengan pangeran Yun Taen.
"Kakakku saja, putra mahkota akan menikah dengan bangsawan Kelas menengah." jawab Yun Taen santai.
***
Alcie di antar oleh pangeran Yun Taen sampai ke depan aula utama. "Pangeran masuk duluan saja."
"Kenapa gak masuk bersama?"
Alcie menggeleng. "Tidak pantas, pangeran." Setelah mengatakan itu Alcie memilih pergi meninggalkan aula tersebut ia pergi pulang tanpa pamit.
"Nona, ini akan membuat nyonya marah kalau tahu anda meninggalkan tempat tersebut."
Alcie hanya menatap Xi Sara dengan kesal. "Itu hanya jamuan untuk pangeran mana ada yang sadar aku ada di sana." kata Alcie.
Mereka tidak pulang melainkan ke tempat perjudian membuat Xi Sara ketakutan. "Nona kita ke sini untuk apa?"
"Uang kita berapa?" tanya Alcie.
Xi Sara mengeluarkan beberapa koin perak. "Kamu percaya aku bisa kaya dengan uang ini?" Xi Sara menggeleng itu membuat Alcie langsung menariknya masuk ke dalam.
Aroma arak dan suara bising karena gelak tawa, sorak Sorai memenuhi seisi rumah besar ini. "Ayo kita bertaruh dari yang kecil dulu."
Mereka melakukan taruhan dari yang kecil sampai Alcie mendapatkan uang yang cukup banyak. "Nona, anda hebat lihat koin perak kita masih utuh."
Alcie hanya tersenyum sombong. '*Mengingat dulu aku pernah taruhan 11 miliyar hahahah.' pikir Alcie.
..."Kau memang cucu si tua itu." ujar Yan....
..."Tentu, aku mewarisi semua sifat dan otaknya." jawab Alcie angkuh*....
Alcie tiba-tiba tertarik dengan sebuah permainan dadu, mereka bertaruh banyak sekali bukan perak melainkan satu peti mas. "Aku bisa menyelesaikannya."
"Nona, kau ingin bercanda dengan tuan Zhang? Dia adalah raja judi." sahut seorang pria.
"Benar.", pria itu duduk dengan sombong namun Alcie bisa menangani hal seperti ini. "Aku bisa mengalahkan dia dengan satu koin ini."
"Wah sungguh sombong nona ini."
Tuan Zhang mengangkat tangannya. "Sepertinya nona orang baru ya? Terlihat sangat cantik jika tanpa cadar."
"Tuan terlalu sungkan. Aku orang baru."
"Demi kecantikanmu aku bertaruh 5 peti." ucap tuan Zhang sombong ia yakin kalau Alcie akan kalah. bahkan jika kalah pun ia tidak masalah karena telah memikirkan satu hal.
"Sepertinya tuan Zhang menginginkan hal lain." tebak Alcie.
"Wahh, nona anda sangat pintar."
"Selesaikan permainan dulu baru kita akan tahu siapa yang harus di tindas." Alcie memberikan dadu kepada tuan Zhang. Tatapannya berubah menjadi genit hal itu sangat membuat Alcie senang.
..."Yan, kita akan bermain."...
..."Jangan terlalu berlebihan, aku tahu kau akan membuatnya malu."...
..."Tenanglah Yan, hanya permainan."...
Dadu di kocok dengan hati-hati oleh tuan Zhang, ketika di keluarkan dadi tersebut langsung mendapat nomor bagus. "Giliranku." gumam Alcie.
Ia mengocok namun mendengarkan setiap dadu yang beradu lalu melempar dengan kecepatan 4/2. "Ahahahah kamu pasti kalah." ujar pelayan tuan Zhang.
Dadi masih berputar mereka mencemooh Alcie karena ia melempar dengan pelan tentunya bisa di pastikan kalau Alcie akan kalah.
"Berhenti, lihatlah." Alcie menunjukan dadu yang bernomor 7/11 artinya ia memenangkan permainan ini dengan poin besar.
"Tuan Zhang, aku tunggu 5 peti emas itu sekarang." sinis Alcie.
Semua yang menonton pun terkejut karena tuan Zhang yang terkenal tak kalah dalam perjudian pun di ronde pertama sudah bobol 5 peti emas.
"Ingin bertaruh lagi?" tanya Alcie.
"Kau bermain curang." bentak tuan Zhang marah.
Alcie hanya mengambil dadu dan berkata. "Tuan Zhang, di sini ada pelindung kejujuran milikmu sudah pasti yang curang siapa."
Mereka pun terkejut karena pelindung ini tidak bisa di deteksi oleh siapapun kecuali memiliki kekuatan di atas tuan Zhang. "Kau? Siapa kau sebenarnya?"
"Tebak?"
Alcie sudah memenangkan beberapa pertarungan dan sekarang ia di hampiri oleh pengurus kasino tersebut. "Nona, ada yang ingin bertemu denganmu."
Alcie mengerutkan kening, namun ia memilih untuk menemui orang itu daripada harus berdebat dengan tuan Zhang. Pengurus membawa Alcie ke atas yaitu ruang VIP.
"Seseorang telah menunggu anda di dalam."
Alcie paham lalu masuk ke dalam, ia melihat pria duduk tegap sangat berkarisma dan tentunya ia misterius. "Seorang wanita barusaja mengacaukan kasinoku dengan mengalahkan penjudi senior."
Alcie tahu kalau pria ini pasti pemilik dari kasino. "Memangnya kenapa? Aku hanya mencari uang." jawab Alcie santai lalu duduk di hadapan pria misterius tersebut.
"Nona, kamu mencari uang seperti mencari masalah."
Alcie terkekeh geli. "Terimakasih pujiannya." jawab Alcie santai. "Jadi apa tujuan tuan memanggil saya ke sini."
"Karena kau telah membuat keributan di sini, maka aku akan bertaruh denganmu." Alcie merasa heran untuk apa pemilik kasino tertarik permainannya.
"Apa yang kau taruhkan?"
"Kasino ini milikmu." Alcie tau dari Xi Sara kalau Kasino ini adalah tempat perjudian terbesar di negara tersebut. Pemiliknya pun bukan sembarangan orang maka tempat ini tidak pernah di tutup oleh negara.
"Kasino ini terlalu murah, maaf aku tidak bisa." kata Alcie sombong.
Ia berdiri dan bersiap meninggalkan tempat tersebut. "Nona Alcie Wang, apa anda yakin tidak mau?" Alcie terkejut karena pria ini tahu siapa dirinya.
"Kau?"
"Nona Wang, putri kedua dari kediaman Wu yang terkenal dengan sebutan putri tidur. Selama hampir 20 tahun menghabiskan waktu di kediaman Wu kamu keluar mengacaukan kasino ku?"
Alcie mengerutkan kening. "Ahh atau kediaman Wu sudah tidak mempunyai uang sehingga nona besar seperti mu harus ke tempat judi?"
"Tuan, sepertinya anda terlalu mengurusi orang lain. Uang kediaman Wu sangatlah cukup namun aku hanya bosan berada di sana."
"Baiklah nona, bagaimana jika taruhan itu kita mainkan?"
"Aku tidak punya barang untuk di taruhkan," jawab Alcie.
"Bagaimana dengan pernikahan?"
Alcie terkejut. "Jika aku memang kamu harus menjadi istri sahku, bagaimana? Cukup menantang bukan?" Alcie yang memiliki jiwa pantang menyerah pun terpancing.
Mereka sepakat lalu pelayan membawa dua akuarium bambu mereka memasukan dua ikan. "Siapapun ikan yang bisa berlari cepat menuju ujung sana itu pemenangnya."
Alcie langsung menggeserkan tangannya dan membuat ikan itu bangun. Namun ia tidak menyadari kalau di dalam akuarium tersebut bukan hanya ikan tapi ada sebuah sihir lain.
Belum sampai finishing ikan sudah berbelok kembali. "Nona, anda kalah." ujar pria tersebut bangga.
Alcie melihat seksama lalu mengerti. "Begitu ternyata, Baiklah aku terlalu ingin menang sampai tidak memerhatikan. Kau memang tuan."
__ADS_1