
Setelah hari yang melelahkan mereka kembali selamat ke rumah. Namun belum masuk ke dalam rumah tubuh bayangan Xiao Nuan menyatu dengan tubuh asli.
"Sepertinya ada yang sedang berusaha membunuhmu." ucap Niu Mayleen saat tubuh Xiao Nuan terhuyung dua langkah.
Sambil menganggu Xiao Nuan mengatakan kalau tubuh bayangan miliknya baru meminum racun. "Bawa Ho Hien ke kamarnya dan obati."
Niu Mayleen patuh dan segera membawa Ho Hien yang sudah lemah dan pucat. Sementara itu di dekat paviliun miliknya ada putri yang sedang berdiri khawatir.
"Apa sudah ada efeknya?" tanya dengan khawatir.
"Harusnya sudah tapi nyonya tidak ada di kamar." jawab pelayan dengan kebingungan. Seperti yang Xiao Nuan duga karena ketidak beradaannya Liu Xingseng menjadikan salah satu kesempatan orang untuk mencelakai nyonya besar Liu.
Xiao Nuan sudah mencium keberadaan putri dati jauh dan sudah pasti ia akan menyerangnya dengan terang-terangan. Perlahan ia mendekati paviliun lalu melihat putri dari jarak beberapa meter.
Raut wajah putri semakin kalang kabut saat mendengar apa yang pelayan katakan. Seharusnya mereka mengawasi wanita itu di dalam bukannya keluar pikir putri.
Karena niat putri sangat jelas dan Xiao Nuan malas berurusan panjang dengan putri yang penuh obsesi akan kepemilikan keluarga Liu.
"Salam yang mulia putri Cia." ucap Xiao Nuan.
Antara terkejut, panik dan kesal. putri Cia berusaha untuk tenang, ia juga menyapa balik Xiao Nuan. "Kenapa putri berdiri di sini? Silahkan masuk kita mengobrol dan meminum teh bersama."
"Aku dan kamu tidak seakrab itu!" balas putri Cia.
Xiao Nuan terkekeh menutupi wajahnya dengan tangan. "Kita memang tidak dekat, tapi putri berada di dekat paviliunku di sore hari bukannya pasti ada hal penting?" tanya nya.
Putri Cia gelagapan saat Xiao Nuan menyudutkan dirinya. "Memangnya aku tidak boleh datang ke sini?" bentak putri Cia.
"Umm ... Putri berkunjung saat paman kaisar pergi. Lalu apa yang membuat putri berkunjung."
"Aku ini masih satu keluarga dengan paman kaisar."
"Iya, berarti aku ini bibimu. Lalu apa ini tata Krama kamu pada bibi kaisar?!" tanya Xiao Nuan.
raut wajah kesal tidak bisa di pungkiri, putri Cia memilih untuk pergi meninggalkan Xiao Nuan yang tersenyum puas atas kemenangannya.
Setelah itu ia masuk ke dalam paviliun, ia melihat kamar belakang terbuka berarti Niu Mayleen sudah masuk membawa Ho Hien. Dengan cepat ia segera masuk.
"Kenapa kalian terluka parah, Leng dimana?" tanya Xiao Nuan memeriksa tubuh Ho Hien.
"Hewan itu menghilang saat berusaha untuk masuk ke wilayah roh abadi waktu itu." jelas Niu Mayleen.
Leng si burung sialan itu kabur saat tidak bisa menerobos masuk pikir Xiao Nuan. "Sudahlah, jika kau tidak parah tolong ambilkan semangkuk air hangat."
Beberapa saat kemudian.
Kini tubuh Ho Hien sudah di obati dan di balut dengan perban sedangkan Niu Mayleen hanya berdiri di luar karena tidak mungkin masuk saat Xiao Nuan sedang mengobati tubuh Ho Hien yang setengah telanjang.
"Apa? Mau aku obati juga?" tanya Xiao Nuan galak.
"Tidak perlu, aku bisa merawat luka sendiri."
Xiao Nuan hanya melemparkan sebuah botol kecil ke arah Niu Mayleen. "Oleskan tipis setelah itu minum sedikit. Itu bisa mengurangi rasa sakit dan mempercepat penyembuhan lukamu!"
****
Xiao Nuan duduk di atas ranjang, ia baru saja selesai mandi dan langsung ingin bermeditasi untuk meningkatkan kultivasinya. Selama perjalanan peningkatan kultivasinya sedikit, ia mengeluarkan sepotong persik yang tersisa lalu memakannya.
Beberapa cahaya kecil menghiasi sekitar tubuh Xiao Nuan, rambut hitam berubah menjadi abu-abu ia sudah menembus level baru. Kekuatan spiritual sangat kuat dan kental di sekitarnya.
Ia bersandar perlahan tubuh yang semula lemas karena penyerapan energi sekarang sangat bugar dan lebih nyaman. Rambut ini seperti seekor ratu rubah saja gumamnya memainkan rambut.
bayangan muncul, ternyata mata-mata utusannya. "Nona, dia sudah mengetahui campur tangan anda di kerajaan." Xiao Nuan cukup terkejut.
"Lalu? Kamu tidak bisa mengatasinya?"
"Iya nona, kaisar sudah memulai rencana ternyata komandan Zhan dan keluarga kerajaan memiliki perjanjian di balik ketidakharmonisannya."
Mata-mata menjelaskan kalau beberapa Mentri bawahan Xiao Nuan sudah di bantai karena ketahuan. "Kamu membunuh semuanya?" tanya Xiao Nuan. Mata-mata itu mengangguk.
Ia menjelaskan jika keluarga kerajaan sampai duluan maka mereka akan membuat bawahannya untuk buka suara dengan segala cara. "Keputusan yang bagus, berapa orangku yang berada di istana?" tanya Xiao Nuan.
"Masih ada beberapa pelayan."
Xiao Nuan mengangguk lalu menyuruh mata-mata itu untuk membuat rencana baru pada komandan Zhan. Lebih baik menunjukan taring dulu sebelum menerkam pikir Xiao Nuan.
Kali ini Xiao Nuan sudah tidak bisa menyembunyikan bantuannya untuk membuat teguh posisi Liu Xingseng di istana apalagi politik karena sudah banyak yang mencurigai orang-orang yang sengaja di tetapkan di sana.
****
Xiao Nuan datang mengunjungi selir kerajaan, ia bisa masuk karena janda ratu mengadakan upacara lotus yang sudah ada sejak dulu. Ia tidak sengaja bertemu dengan para wanita kaisar.
"Memberi salam yang mulia permaisuri dan selir." hormat Xiao Nuan.
Permaisuri meminta Xiao Nuan jangan terlalu sungkan karena bagaimanapun Xiao Nuan adalah istri dari orang penting selain kaisar. Matanya menatap wanita-wanita yang begitu di sayangi oleh kaisar.
"Permaisuri, bagaimana bisa aku lancang kepada ratu negri ini?!"
"Jangan di bahas, kamu jarang berkunjung ke istana. Bagaimana kita mengobrol di paviliunku." ajak permaisuri.
Mereka pun pergi menuju paviliun atau taman pribadi milik permaisuri. Sangat indah apalagi hamparan lotus yang bermekaran.
"Sekarang sudah tidak ada rumor beredar, apa istri pangeran Liu Xingseng sudah benar-benar tobat?" ucap selir lain.
Xiao Nuan tersenyum tipis, serangan ringan dari permaisuri melewati selir tingkat rendah. "Mana mungkin kita bisa mempercayai rumor yang berada di masyarakat miskin." sela permaisuri.
"Lagipula beberapa hari lalu beredar bahwa selama pangeran Liu tidak di rumah, istrinya bahkan tidak terlihat di kediaman." selir Chen tingkat dua.
(Selir tingkat dua Chen Jierui)
"Kakak Chen, jangan begitu mungkin nona Wang sedang ada urusan hingga tidak terlihat. Tapi harus juga menjaga nama baik pangeran Liu." ujar selir Lien tingkat 3.
__ADS_1
(Selir tingkat tiga Lien Li Mei)
Xiao Nuan hanya diam memegang cangkir teh, sedangkan ratu tersenyum puas berpikir kalau Xiao Nuan terpojok.
Perlahan Xiao Nuan mengangkat wajahnya menatap selir-selir yang sedang bergosip di hadapannya. "Aku sangat berterima kasih untuk perhatian senior atas masalah keluarga ini. Namun beberapa lalu aku terserang demam hingga tidak bisa kemana-mana."
"Begitulah? Kalau kau sakit kenapa kemarin bisa jalan-jalan?!" sahut putri Cia barusaja datang.
"Salam permaisuri."
Wajah mereka semakin senang karena Xiao Nuan tida ada orang berada di pihaknya. "Betul. Kalau aku tidak jalan-jalan untuk mencari udara segar mungkin aku sudah keracunan."
Seketika wajah putri Cia pucat, ia tidak menyangka kalau tindakannya di ketahui oleh Xiao Nuan. Bukankah pelayan yang ia suruh sudah mati lalu bagaimana bisa Xiao Nuan tahu.
"Apa yang kamu bicarakan."
"Permaisuri, kemarin hanya ada orang yang ingin mencelakai hamba saat pangeran Liu tidak berada di kediaman." ujar Xiao Nuan menjelaskan.
"Lalu apa hubungannya dengan putri Cia?"
Xiao Nuan menaruh cangkir perlahan.
"Tidak ada, hanya saja saat kejadian putri Cia berada di dekat kamarku. Kalau aku tidak memberi penjelasan pada kepala pelayan, takutnya mereka menuduh putri Cia."
"Kamu .... "
Putri Cia tidak bisa berkata-kata ia hanya menatap kesal. "Apa penjahat itu sudah di tangkap?" tanya permaisuri khawatir. Lebih tepatnya ia tahu kalau itu ulah putri Cia.
"Entahlah, kepala pelayan menemukan seorang pelayan yang sudah mati bunuh diri." Suara Xiao Nuan seakan malas membahas hal itu. Berbeda dengan putri Cia yang ketar-ketir.
Karena tujuan mereka adalah upacara lotus dan itu sudah selesai, Xiao Nuan tidak ingin berlama-lama berada di antara orang yang suka drama. "Oh ya, tadi nenek bilang ingin makan siang bersama dengan keluarga kerajaan."
Xiao Nuan mengambil nafas berat, sepertinya untuk kembali lebih awal akan sangat lama. "Baiklah, kita harus segera pergi sebelum membuat janda ratu menunggu lama."
Permaisuri dan beberapa selir pergi, namun tidak dengan Xiao Nuan. Ia masih duduk di sana memang ada ajakan permaisuri tapi dia sudah menolak dan beralasan ingin menikmati taman lotus sebentar lagi.
"Kenapa tidak melawan?" suara itu membuyarkan pikiran Xiao Nuan yang sedang berpikir. Ia menoleh ternyata ada selir Jun tingkat satu.
(Selir tingkat pertama Kaili/ Orang suruhan Xiao Nuan)
"Untuk apa? Sepak terjang terlalu awal hanya akan membuat masalah bukan menyelesaikan." balas Xiao Nuan.
"Nona, apa anda akan terus mempertahankan posisi pangeran Liu di politik?" tanyan selir Jun. Xiao Nuan tersenyum miring ia menjawab ikuti saja alurnya sekarang jangan membuat gerakan.
"Wakil menteri keuangan sudah di habisi oleh kaisar, aku takut ia akan segera sadar keberadaan kita." Xiao Nuan menyuruh selir Jun untuk tenang dan jangan menunjukan apapun.
"Buatlah pria bodoh itu semakin lengket padamu, maka akan mempermudah rencana kita."
"Kaisar sangat manja, namun ia selalu memperhatikan setiap gerak-gerik orang di sekitarnya. Jika bukan karena selir tingkat rendah mungkin aku sudah ketahuan."
"Membuatmu menjadi tersangka maka itu sama saja menyeret ku ke dalam masalah. Tunggu dia membawa bukti yang ada di komandan Zhan." Xiao Nuan berdiri ia berjalan kaluar taman di ikuti oleh selir Jun.
Sampai sini paham, kalau orang dalam istana tidak semuanya menyudutkan Xiao Nuan. Membuat onar adalah rencana dan diamnya adalah serangan.
Sayangnya Xiao Nuan tidak tertarik pada semua itu. Malahan membuat janda ratu bertanya dan memulai obrolan dengan Xiao Nuan. Beberapa wanita juga tidak terlihat melakukan hal buruk karena sifat janda ratu sangat mendominan.
(Janda ratu adalah permaisuri dahulu.)
Berbeda dengan ibu suri, ia sangat ramah namun memiliki banyak rencana. Bahkan sampai sekarang ia sesekali menyerang wanita-wanita Harem agar membuat kaisar marah atau mengusirnya.
Ibu suri adalah ibu kaisar, selir dari raja terdahulu. Karena semua anak janda ratu meninggal di Medan perang dan hany memerintah kerajaan dalam waktu singkat.
"Kediaman pangeran Liu pasti sangat sepi." ujar janda ratu memulai obrolan dekat dengan Xiao Nuan. Sebenarnya ia tidak ingin terlibat dengan wanita senior istana.
"Tidak, aku hanya mencoba mengerti situasi saja. Ada kalanya kita harus menekan ego." jawab Xiao Nuan.
Janda ratu tersenyum tipis.
"Dulu aku juga sering di tinggal perang, bahkan anak-anakku semuanya memiliki peran sendiri. Rasanya harem sangat membosankan."
Permaisuri ikut mencampuri obrolan. "Bagaimana jika kediaman Liu menambah satu wanita untuk pangeran dan sebagai adikmu."
Xiao Nuan merasakan rencana baru memang agak sulit menolak permintaan dari permaisuri secara dia memiliki hak kuat dan kekuasaan. Janda ratu melihat raut wajah Xiao Nuan yang menjadi tegang.
"Sudah, permaisuri lebih baik kita jangan mencampuri urusan kediaman Liu. Itu hanya akan membuat kaisar marah." kata janda ratu.
Seketika permaisuri diam, ia pikir janda ratu akan di pihaknya apalagi terlihat tadi seperti mengintimidasi Xiao Nuan. "Maaf, tapi dia adalah wanita utama di kediaman Liu." balas permaisuri.
"Nona Wang masih muda akan sulit mengurusi Harem jika menambah wanita." ujar selir Lien.
Janda ratu kembali menatap Xiao Nuan, tetapi kali ini Xiao Nuan tampak tenang bahkan ia memasang wajah biasa saja. Reaksi itu membuat janda ratu semakin penasaran.
"Bagaimana tanggapan nona Wang?" tanya selir Jun.
Xiao Nuan mengangkat kepala ia menggoyangkan gelas teh yang ada di atas meja. Ia menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan dari wanita-wanita sialan ini.
"Aku takut pangeran Liu marah karena mengambil tindakan secara tiba-tiba, jika berkenan hamba akan menanyakan hal tersebut setelah pangeran Liu kembali pulang nanti."
Jawaban Xiao Nuan membuat janda tersenyum puas.
"Sebagai wanita utama di kediaman Liu, nona Wang mempunyai hak tapi jika urusannya perhareman setidaknya ia harus mempunyai izin dari pangeran Liu."
Mereka pun mengakhiri perbincangan tentang selir baru kediaman Liu. "Di rumah pasti sangat bosan, menginaplah di sini beberapa hari." kata janda ratu pada Xiao Nuan sebelum jamuan bubar.
"maaf janda ratu, tapi hamba mempunyai tanggung jawab di kediaman Liu. Jika saya bersantai di sini takutnya akan memperlambat tanggung jawab." tolak Xiao Nuan halus.
Janda ratu mengerti lalu ia mengatakan berapa tahun yang Xiao Nuan dan Liu Xingseng lalui. "Sepertinya janda ratu menanyakan perihal anak."
Xiao Nuan menyipitkan mata kesal, ucapan ratu menjadi cela untuk wanita-wanita sialan itu membuatnya terpojok lagi.
"Betul janda ratu, nona Wang dan pangeran Liu sudah beberapa tahun bersama namun mereka tidak merencanakan keturunan."
__ADS_1
Beberapa perkataan lainnya membuat situasi semakin memanas. "Janda ratu, pangeran Liu mengabdikan diri pada negri ini masalah keturunan kami menyampingkannya karena tentang negri ini sangat penting dari lainnya."
Elakan Xiao Nuan membuat beberapa selir tersindir termasuk permaisuri yang sejak dulu ingin merobohkan kaisar dan menggantikannya dengan anaknya.
****
Akhirnya setelah beribu alasan dan ribuan kata manis Xiao Nuan berhasil keluar dari istana. Tempat yang begitu muak baginya, tempat itu di penuhi drama dan kepalsuan.
"Sekarang hanya perlu melihat dan memerhatikan rencana yang sesuai jalurnya." ujar Xiao Nuan menyandarkan diri pada papan tandu.
Ia meregangkan tubuh karena selama setengah hari harus berada di posisi tegak dan rapi. "Kultivasi saat ini sangatlah baik." segara Xiao Nuan merubah posisi duduknya.
Beberapa jam kemudian.
Tandu kuda yang di tumpangi oleh Xiao Nuan sudah hampir mendekati kediaman Liu, segera ia menghentikan kultivasinya.
Pemandangan sore hari memanglah sangat indah, Xiao Nuan membuka tirai jendela lalu menatap langit berwarna kuning oranye.
"Sedang apa Liu Xingseng di sana? Kenapa tidak ada satupun pesan untukku?" lirih Xiao Nuan.
Beberapa saat kemudian ia menepis pikirannya. Kenapa tiba-tiba ia mengingat Liu Xingseng, tapi beberapa detik kemudian ia terkekeh geli karena nama Liu Xingseng adalah nama untuk perempuan.
"Aku masih heran kenapa orangtua dia memberi nama perempuan seperti ini." ujar Xiao Nuan.
Jelas memang Xiao Nuan tidak tahu ibu Liu Xingseng dan kaisar terdahulu sudah wafat. Mengapa tidak ada satupun orang istana yang protes dengan nama pangeran Liu yang sangat feminim.
Tak terasa tandu kuda sampai di kediaman Liu, ia turun di bantu oleh pelayan kediaman. "Nona, hari ini juru masak menghidangkan banyak makanan."
"Untuk apa?"
"Tak sengaja mendengar percakapan kepala pelayan dan juru masak, jika tuan muda sudah kembali." ucap pelayan.
Xiao Nuan mengerutkan dahi, jika Liu Xingseng sudah sampai rumah harusnya ia tahu dari tiga hari sebelumnya. "Kamu tahu resiko bermain-main denganku apa?!" sinis Xiao Nuan.
"Nona, saya tidak berbohong. Karena pelayan kediaman nona di larang masuk ke wilayah tuan muda jadi saya tidak bisa memastikannya."
Xiao Nuan menyuruh pelayan itu untuk pergi, ia akan pura-pura tidak tahu. Lagipula tidak lama lagi Liu Xingseng akan mencari dirinya kalau memang sudah pulang.
****
Sampai di paviliun ia meminta pelayan untuk menyiapkan air dan bunga, tubuhnya sangat bau orang-orang istana pikir Xiao Nuan.
Ia langsung menuju tempat mandi. Dua pelayan membantu Xiao Nuan membersihkan badan mereka agak aneh karena tak biasa Xiao Nuan menyuruh pelayan membantu mandi.
Satu jam berlalu, Xiao Nuan sudah selesai mandi ia mengambil baju tipis karena hari sudah gelap dan setelah ini ia akan tidur. Mulutnya sangat lelah karena harus tersenyum ramah seharian.
Ia berjalan tanpa alas kaki menuju kamar, setelah masuk ia memanggil pelayan lagi untuk merapikan rambutnya. Satu pelayan mencuci kakinya, ia memanjakan diri malam ini.
"Kuku ini terlihat tidak rapi." gumam Xiao Nuan menyodorkannya pada pelayan. Segera pelayan merapihkan.
Setelah kaki bersih pelayan cuci tangan dan mengambil krim khusus untuk kulit Xiao Nuan, biasanya mereka hanya diam menatap Ho Hien yang melakukan semua itu untuk Xiao Nuan.
Xiao Nuan melihat kaki dan tangannya sudah sangat sempurna, ia tersenyum tipis. Sangat jarang merasa puas selama ini. Pelayan mengambil kertas lipstik yang Xiao Nuan tunjuk.
Jangankan pelayan, Xiao Nuan sendiri bingung kenapa ia ingin menggunakan makeup tipis saat tidur. Ya anggap saja ia merasa senang hari ini dan memanjakan tubuh bukan hal tak biasa bagi wanita.
Setelah selesai Xiao Nuan mengambil buku di laci meja, pelayan hanya berdiri di samping menunggu perintah selanjutnya. "Kenapa kalian diam saja?" gumam Xiao Nuan.
Buku yang Xiao Nuan pegang bukanlah buku biasa, isi dari halaman itu adalah kode-kode rahasia dari beberapa mata-mata yang ia tugaskan. Hari ini semuanya terkendali hanya istana kerajaan yang harus di awasi.
Di halaman terakhir buku Xiao Nuan tiba-tiba diambil oleh seseorang. "Ternyata istriku sedang sibuk sampai tidak tahu kalau aku sudah menunggu lama di sini." lirih suara di dekat telinga Xiao Nuan.
Ia memalingkan wajah dan langsung berhadapan dengan wajah Liu Xingseng. Ternyata benar pria itu sudah kembali tanpa memberitahu.
"Oh sudah pulang ya?" tanya Xiao Nuan.
Melihat reaksi Xiao Nuan yang begitu santai bahkan tidak ada rasa terkejut sedikitpun. Padahal ia sengaja mempercepat pekerjaan agar bisa bertemu dengan Xiao Nuan.
"Kamu gak bertanya kenapa aku kembali cepat?" Xiao Nuan menggelengkan kepalanya. Lagipula ia sudah tahu dari pelayan jadi untuk apa ia bertanya lagi.
Liu Xingseng sedikit kecewa dengan reaksi tersebut, mungkin dirinya terlalu berharap sehingga lupa kalau istrinya itu tidak pernah berharap apapun padanya. "Hmmm ... juru masak sudah menyiapkan banyak makanan."
"Makanlah lebih dulu." Setelah mengatakan itu Liu Xingseng pergi meninggalkan Xiao Nuan. Sedangkan pelayan yang berada di sana hanya menunduk malu karena melihat adegan mesra.
Karena ia sudah memakan banyak cemilan di jamuan tadi, jadi Xiao Nuan memilih untuk tidur dan tidak datang ke meja makan.
Esok pagi.
Xiao Nuan membuka mata berat, ia merasakan tubuhnya sedang di bersihkan. Ternyata betul, ada dua pelayan sedang membasuh tubuhnya dengan kain basah.
"Masih pagi kenapa sudah datang." kata Xiao Nuan bangun dari tidurnya. Pelayan menjawab jika ini perintah dari Ho Hien.
"Dia sekarang dimana?"
"Bersama juru masak." jawab pelayan.
Mungkin Xiao Nuan tidur terlalu malam sehingga lupa kalau ini sudah lewat jam makan siang, tapi masih mengatakan pagi. "Nona, semalam apa yang kamu lakukan kenapa sangat kotor."
Ho Hien datang-datang langsung mengomel membuat Xiao Nuan heran. "Apa Niu Mayleen salah memberimu obat?"
Ho Hien menjelaskan jika dua jam lalu saat dia datang tubuh Xiao Nuan sangat lengket oleh keringat bahkan pakaian berserakan di lantai.
"Sebelum tidur nona membersihkan diri, saya yang membantunya." ujar pelayan karena melihat Ho Hien.
"Lalu kenapa dalam semalam tubuh nona kotor." Ho Hien merasa kalau semalam tidak terasa panas lalu kenapa baju-baju Xiao Nuan berserakan di bawah.
"Tenanglah, mungkin aku lelah sehingga tidur pulas." kata Xiao Nuan ia malas sekali melihat hal sepele menjadi besar.
"Tapi itu ... "
Pelayan hanya menunduk setelah mengatakan hal tersebut. Xiao Nuan mengerutkan dahi karena tadi tatapan pelayan menuju leher dan punggungnya.
Ia segera berdiri lalu berjalan ke arah cermin, bertapa terkejutnya melihat banyak tanda merah tertempel di sana. "Hah????" rasanya Xiao Nuan ingin pingsan saja.
"Nona, pelayan pencuci mengambil pakaian tuan muda yang ikut berserakan di lantai."
__ADS_1
Seketika wajah Xiao Nuan merah padam, ia menyuruh semua pelayan untuk keluar. Bagaimana bisa semalam ia kecolongan seperti ini.
Berbeda dengan Ho Hien yang tampak membisu setelah mendengar penuturan pelayan tadi. Sepertinya ia harus bertemu dengan Liu Xingseng untuk meminta perlindungan dari Xiao Nuan yang murka.