Killer Queen

Killer Queen
Episode 17


__ADS_3


Xiao Nuan membuka pintu kamar, ia terkejut melihat Liu Xingsheng yang sedang duduk selonjoran di atas kasur. Tangannya memegang buku.


"Gak mungkin dia berniat menggodaku?!"


"Mau berdiri di situ sampai kapan?" tanya Liu Xingsheng.


Xiao Nuan langsung masuk dan bertanya untuk apa Liu Xingsheng berada di kamarnya. "Aku suamimu emang gak boleh?" tanya lagi.


"Bukan gitu, tapi kan punya kamar masing-masing! Lagian ini masih sore untuk kamu menginap." ketus Xiao Nuan.


"Aku gak lama kok," ujar Liu Xingsheng lalu duduk tegak. Tangannya menunjuk bungkusan yang di antar dari istana. Sekarang ia menanyakan siapa yang memberikannya.


"Itu dari putra mahkota,"


"Apa uang kediaman sedikit?" Xiao Nuan menggeleng menjawab kalau dirinya tidak tahu keuangan kediaman di pegang siapa.


"Kamu terlalu fokus melarikan diri, hingga mengabaikan pekerjaanmu sebagai nyonya kediaman ini." ucapan Liu Xingsheng sangatlah tajam.


"Kamu juga bisa sendiri bukan?"


"Lalu untuk apa kamu jadi nyonya di sini?"


"Liu Xingsheng, aku terlalu malas untuk menghitungnya."


Liu Xingsheng bangun dan menaruh 6 pembukuan keuangan. Ia memerintah Xiao Nuan mempelajari semuanya, "Kamu pergi perang?"


Liu Xingsheng tidak menjawab dan meneruskan jalanannya, kali ini ia harus lebih tegas agar Xiao Nuan tidak keluyuran kemana-mana terlebih ia mendengar janji bertemu Xiao Nuan bersama putra mahkota.


Xiao Nuan hanya menatap bingung pria yang keluar dari kamarnya. "Aneh, kenapa aku tidak bisa menebak Liu Xingsheng.", Xiao Nuan menyingkirkan buku-buku itu.


***


Liu Xingsheng termagu di depan kolam ikan, ia membulak-balik pikirannya untuk mencari jalan keluarnya. "Putra mahkota, dia sedang merencanakan sesuatu."


Kekuatan militer Liu Xingsheng bisa membuat siapapun iri termasuk kaisar yang sekarang. "Feng shui," panggil Liu Xingsheng.


"Ada perintah apa?"


Liu Xingsheng menatap meja dengan diam belum mengatakan tujuannya. "Beberapa hari lagi saya harus pergi, jaga Xiao Nuan di sini."


"Baik, tuan."


"Apapun yang terjadi harus langsung melaporkan padaku."


Feng shui mengangguk ia langsung pergi dari tempat tersebut. Liu Xingsheng menatap kulit tubuhnya lalu mendesah kecewa.


"Kulitku sangat pucat, di tambah rambut yang putih dan sehalus salju."


Semakin hari semakin terlihat perubahan dari tubuhnya, sepertinya ini bukan tanda baik. Karena tugasnya sebagai pemimpin pasukan memaksanya harus segera pergi.


Kali ini Liu Xingsheng tidak membawa banyak perlengkapan karena ia akan pulang setelah menyelesaikan semuanya. "Apakah dia akan baik-baik saja ketika aku tidak di sini?"


Terdiam memikirkan Xiao Nuan yang akan dirinya tinggalkan cukup lama. Di tambah entah akan kembali seperti ini atau hanya jasadnya saja, Liu Xingsheng menghela nafas berat memikirkan semuanya membuat dada serasa bergemuruh.


"Kenapa kami gak bilang dari awal?" tanya Xiao Nuan datang menghampiri.


Liu Xingsheng melirik lalu kembali fokus ke kolam. "Kenapa mendiamkan aku?" tanya Xiao Nuan duduk di hadapan Liu Xingsheng.


"Kamu nyonya di kediaman ini, harusnya sudah tahu suamimu ini mempunyai pekerjaan apa!"


Xiao Nuan merasa ada yang janggal karena tidak biasanya Liu Xingsheng sangat cuek seperti ini. "Apa kamu merencanakan sesuatu?"


Liu Xingsheng terkekeh lalu menatap Xiao Nuan. "Kalau aku merencanakan sesuatu tentunya kamu tahu itu tidak ada hubungannya denganmu." balas Liu Xingsheng.


"Lalu kenapa kamu menghindar?"


Xiao Nuan menatap tajam ke arah Liu Xingsheng, rasanya ia kesal melihat perlakuan suaminya. "Kamu tahu, aku akan pergi ke perbatasan untuk beberapa waktu."


"Kamu cukup diam, urus kediaman dengan baik jangan terus menerus membuat masalah."


"Kenapa kamu gak tinggal di kediaman?"


"Lalu membiarkan perbatasan mengalami kesulitan karena perselisihan kerajaan?!"


Xiao Nuan terdiam, memang benar ucapan Liu Xingsheng namun hatinya tidak bisa menerima semuanya. "Jangan membuat masalah lagi."


Setelah mengatakan itu Liu Xingsheng meninggalkan Xiao Nuan di sana. Perasaan Xiao Nuan semakin berkecamuk ia merasa kalau kali ini ia sudah membuat Liu Xingsheng kewalahan dengan kelakuannya.


Xiao Nuan berinisiatif dan mengirim surat ke istana. Setalah melakukan hal tersebut Xiao Nuan langsung menemui Ho Hien untuk memintanya menemani ke suatu tempat.


Dalam perjalanan dua wanita berbeda ras ini saling diam sampai Ho Hien merasa ada pergerakan dari sesuatu. "Ini adalah perdesaan siluman." ujar Ho Hien membuat Xiao Nuan terhenti.


"Memang, kenapa? Apa kau punya masalah?" tanya Xiao Nuan.


Ho Hien menggeleng ia menanyakan untuk apa Xiao Nuan datang ke tempat seperti ini. Sangat berbahaya bagi ras manusia berada di pedesaan siluman.


"Aku hanya membeli barang, tenang saja."


Mereka masuk ke desa tersebut, pedesaan ini terletak tidak jauh dari ibukota makanya Xiao Nuan berani keluar. Mereka menuju ke sebuah pondok yang kumuh.


Xiao Nuan langsung masuk ke dalam, sedangkan Ho Hien terlihat melihat sekeliling sebelum akhirnya menyusul. "Tempat ini agak menyeramkan di bandingkan dengan desaku!" gumam Ho Hien.


Xiao Nuan sedang berbicara dengan seseorang yang sangat misterius dengan pakaian seperti manusia lumut karena terlalu lama tidak berganti pakaian.


"Kau ini bertapa selama ribuan tahun tapi masalah ini tidak tahu!" bentak Xiao Nuan kesal.


Petapa tersebut hanya menggeleng melihat Xiao Nuan mengomel. "Nona, yang kau inginkan sangat langka di sini tidak ada!" jawab Petapa tersebut.


"Ternyata tidak semua ilmu membuat orang berwibawa!" maki Xiao Nuan duduk di sembarang.


"Hati-hati, anda bisa menyakiti arwah-arwah yang tidak tahu apa-apa!" peringat Petapa saat tahu Xiao Nuan sangat sembrono.


"Mati ya mati, tidak ada arwah penasaran atau apalah itu. Si tua ini membuatku kesal."


Ho Hien yang tidak tahu apa permasalahan awal hanya terdiam melihat semuanya. "Wanita yang kau bawa, keluarga dia tahu sesuatu tentang barang yang kau inginkan." ucap Petapa.


Xiao Nuan langsung menatap Petapa dengan semangat. "Maksudnya? Keluarga Ho tas manusia rubah tahu?" Petapa mengangguk lalu mengeluarkan sebuah botol vas kecil.


"Ini akan membantu."

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih." Xiao Nuan mengambil vas kecil itu lalu menarik tangan Ho Hien keluar dari pondok tersebut. Xiao Nuan langsung menanyakan hal yang sama sekali Ho Hien tidak tahu.


"Apa ayahmu tahu tentang tanaman ini semua?" tanya Xiao Nuan memberikan sebuah kertas.


Ho Hien membuka lalu mengerutkan keningnya. "Semua gambar ini aku baru melihatnya," Xiao Nuan langsung menatap Ho Hien.


"Kau pasti tidak tahu, tapi keluarga mu tahu semua itu!" balas Xiao Nuan mengambil kertas tersebut.


Xiao Nuan membawa Ho Hien ke desanya, karena ia ingin segera menemukan tanaman ini. Mereka menggunakan tenaga dalam untuk cepat sampai ke desa rubah.


Beberapa jam kemudian, mereka sampai di depan desa rubah. "Huh, ternyata tidak lama jika energi stabil." gumam Xiao Nuan. Mereka langsung masuk dan menuju ke rumah pemimpin.


Ketika pintu terbuka, Ho Hien langsung memeluk ibunya yang sedang menumbuk sesuatu. "Ho Hien? Kau kembali? Akhirnya." kata ibunya dengan bahagia.


"Ibu, aku ke sini tidak sendirian. Nona Xiao ingin menanyakan sesuatu!" kata Ho Hien tanpa basa-basi.


Mereka menoleh ke arah Xiao Nuan yang berdiri di depan pintu masuk. "Salam ibu Ho Hien." sapa Xiao Nuan dengan sopan. Bagaimanapun ia tidak pernah memiliki masalah dengan keluarga ini.


"Nona Xiao, silahkan masuk." ajak ibu Ho Hien.


Xiao Nuan mengangguk lalu mengikutinya, mereka duduk di depan rumah. Ibu Ho Hien mengambil air untuknya, "Apa yang ingin nona Xiao tanyakan?" tanya ibu Ho Hien.


Xiao Nuan terdiam beberapa saat, "Kemana? Tampaknya rumah ini sangat sepi?" tanya Xiao Nuan mencoba membaca keadaan.


"Itu ... Ada sedikit masalah di bagian Utara desa." jawab ibu Ho Hien dengan tenang.


Xiao Nuan mengerti jika sekarang sedang ada sesuatu yang terjadi. "Aku sedang mencari ini." Xiao Nuan mengeluarkan kertas yang tadi dirinya tunjukan pada Ho Hien.


Ibu Ho Hien mengambil dan melihat kertas tersebut, ia terkejut melihat gambar yang ada di dalam kertas tersebut. "Kenapa? Apa kamu mengenali semuanya?"


Ibu Ho Hien menggeleng, "Aku tidak mengenali semuanya, tapi suamiku tahu semua tanaman ini." jawab ibu Ho Hien dengan gugup.


"Ma, tanaman apa ini? Kenapa kalian seperti melihat tambang berlian?" tanya Ho Hien.


Ibu Ho Hien, meminta anaknya untuk pergi dulu mengambil makanan untuk Xiao Nuan. "Nona Xiao pasti lapar, Ho Hien ambilkan sesuatu untuk nona Xiao."


Ho Hien mengangguk lalu meninggalkan tempat tersebut. Xiao Nuan menatap ibu Ho Hien dengan Serius. "Sepertinya ini sangat berbahaya." kata Xiao Nuan.


"Nona Xiao, untuk apa anda menanyakan tanaman berbahaya ini?" tanya ibu Ho Hien.


"Ho Hien sudah pergi, jadi kamu bisa mengatakan apa yang kamu sembunyikan." kata Xiao Nuan dingin.


Ibu Ho Hien terdiam, ia memang tidak bisa tertutup jika berhadapan dengan Xiao Nuan. Manusia yang sangat berbeda pasti sulit untuk di tangani.


"Ini dan ini, karena kedua tanaman ini suami dan anak laki-laki sedang berada di perselisihan wilayah." ucap ibu Ho Hien to the poin.


Xiao Nuan tersenyum. "Jadi sekarang anak dan suamimu sedang mempertahankan wilayah karena tanaman ini?" tanya Xiao Nuan tertarik.


"Ini adalah tanaman iblis, jadi tidak bisa seenaknya di petik atau di gunakan."


Xiao Nuan mengatakan kalau dirinya tahu hal itu. Karena itu pula ia mencari tanaman ini semua, "Ilmu anda sudah sama dengan dewa, untuk apa tanaman iblis ini?"


"Hanya menyempurnakan iblis buatanku!" ucapan Xiao Nuan membuat ibu Ho Hien terkejut karena iblis tidak bisa di buat. Mereka ada secara alami dari sifat-sifat manusia yang tidak manusiawi.


"Sebenarnya siapa anda? Kedatanganmu sangat di tolak alam."


Xiao Nuan mengangguk, ia membenarkan ucapan ibu Ho Hien. "Kehadiranku memang sangat di tolak oleh alam apalagi tujuanku yang sangat besar."


"Tentu, seseorang sepertimu menarik banyak makhluk dari berbagai ras." jawab ibu Ho Hien.


Mereka berbincang tentang tanaman tersebut sampai akhirnya Ho Hien datang. "Kenapa kalian sangat serius?" Xiao Nuan menatap Ho Hien lalu mengatakan.


"Tanaman ini sangat langka tentu harus fokus, bukan seperti itu ibu Ho Hien?" tatapan mata yang sangat tajam.


Ibu Ho Hien hanya mengangguk lalu ia masuk ke dalam. "Nona Xiao, untuk apa tanaman ini semua?" tanya Ho Hien. Ia merasa aneh karena tingkah laku Xiao Nuan tidak pernah sama dengan nona bangsawan pada umumnya.


"Hanya racikan obat."


Ho Hien pernah membaca buku tentang pengobatan memang tidak sedikit dari daftar obat yang sangat langka bahkan hanya ada musim per dekade.


Ho Hien sempat tertarik pada pengobatan karena tanaman yang di pakai sangatlah bagus, namun minatnya luntur seiring waktu dan tertarik dengan beberapa ilmu bela diri yang tentunya di larang oleh ayahnya.


"Ayah dan adik laki-laki ku sedang ada pekerjaan di luar. Mereka tidak ada di rumah." ujar Ho Hien kecewa.


Xiao Nuan tahu kalau Ho Hien sangat merindukan ayahnya yang begitu memanjanya. "Pekerjaan? Tahu dari mana?" tanya Xiao Nuan mengambil teh yang di sediakan.


"Tadi beberapa pekerja yang aku tanya." Xiao Nuan merasa kalau Ho Hien sangatlah polos mungkin karena terlalu di manja oleh keluarganya.


Ibu Ho Hien keluar ia menghampiri mereka yang sedang berbincang. "Aku tidak tahu apapun, tapi ini semoga membantu." kata ibu Ho Hien memberikan sebuah peta pada Xiao Nuan.


Ho Hien menatap bingung, Xiao Nuan membuka peta tersebut dan melihat ternyata sangat tumit. "Aku akan mengecek dulu." ujar Xiao Nuan lalu meninggalkan rumah Ho Hien dengan terbang.


Ia naik sekitar beberapa puluh meter dari daratan tanah, setebal melihat arah angin dan tanda arah. "Aku harus merencanakan lagi bersama Leng."


Setelah itu ia kembali turun tepat di rumah Ho Hien, mereka yang melihat tingkah Xiao Nuan hanya berpikir kalau orang cerdas dan berilmu suka hal yang di luar nalar.


***


Xiao Nuan bersama dengan Ho Hien kembali ke ibukota Ho Hien sendiri tidak tahu kalau ayahnya berada di perselisihan wilayah. Ada pun Xiao Nuan yang tahu ia enggan ikut campur masalah itu di tambah terlihat jelas jika ibu Ho Hien menginginkan mereka segera pergi dari sana.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Xiao Nuan saat melihat Ho Hien yang tidak fokus berjalan.


Ho Hien hanya menggeleng ia berjalan sedikit sempoyongan karena ada sesuatu yang sedang ia pikirkan. "Nona, apa kamu tidak melihat sesuatu yang aneh?"


Xiao Nuan mengerutkan dahi sebentar. "Aneh? Dimana?" tanya balik Xiao Nuan.


"Desaku!"


Xiao Nuan memang melihat kondisi desa rubah sedikit lebih sepi dari sebelumnya, tidak ada aktivitas yang ramai seperti sebelumnya dan juga mereka terlihat keluar ketika keperluan yang mendesak.


"Tidak biasanya, desaku seperti itu bahkan beberapa pelayan juga mengatakan kalau saat ini tidak sedang baik-baik saja."


"Ibu terlihat gelisah, kenapa ya?" sambung Ho Hien berbicara sendiri. Xiao Nuan hanya memperhatikan jujur ia tidak tertarik dengan masalah desa rubah.


Apalagi perselisihan mereka hanya wilayah, memang ada hubungannya dengan tanaman yang ia inginkan tapi Xiao Nuan rasa ia dapat mendapatkan tanaman tersebut tanpa harus ikut campur masalah desa rubah.


Karena melihat Ho Hien yang sedikit terbebani dan tidak bersemangat Xiao Nuan mengatakan satu hal sehingga membuat Ho Hien terdiam. "Keluarga mu sedang menghadapi masalah wilayah."


"Kenapa kamu bisa tahu, nona Xiao?"


Xiao Nuan hanya mengatakan kalau ia bisa tahu karena ibunya memberitahu. "Pantas saja ibu terlihat sangat gelisah, masalah ini bukan sederhana."

__ADS_1


"Karena wilayah itu terdapat tanaman."


"Maksudmu tanaman yang kamu cari?" Xiao Nuan mengangguk. Ho Hien sedikit marah karena Xiao Nuan tidak memberitahu tentang perselisihan wilayah tadi.


"Ho Hien, kamu lihat sendiri tadi ibumu tidak ingin kau ikut campur."


"Aku tahu, tapi wilayah itu sudah di pertahankan selama beberapa ratus tahun. Sepertinya yang saat ini terjadi bukan hanya karna tanaman."


"Maksudmu?"


Ho Hien menggambarkan denah perbatasan desa rubah, ternyata mereka sedang berselisih dengan desa sebrang sama-sama desa siluman namun ini memiliki ras kuat yang di dukung oleh iblis kuat.


"Tanda ini sama seperti Lien Hua." ucap Xiao Nuan tanpa sengaja karena melihat tanda yang sama persis seperti tanda yang ada di setiap senjata di kediaman Lien Hua.


"Anda mengenal tuan agung?" tanya Ho Hien terkejut. Xiao Nuan mengangguk pelan lalu bertanya kenapa dari reaksi Xiao Nuan seperti Lien Hua sangat di takuti.


"Tuan agung, dia adalah iblis yang di hormati oleh seluruh ras siluman bahkan kami ras rubah hanyalah pelayan bagi tuan agung." jelas Ho Hien.


"Pelayan?" Ho Hien menceritakan kalau selama beberapa tahun Lien Hua selalu meminta beberapa gadis siluman rubah dan setelah memasuki kediaman Lien Hua tidak ada yang kembali.


"Mereka sangat senang bekerja di sana, menurut ayahku seperti itu." lanjut Ho Hien memberitahu Xiao Nuan. Ternyata Lien Hua mempunyai kekuasaan yang luas pantas saja dia sangat marah saat Xiao Nuan hampir memusnahkannya.


"Desa siluman apa yang sedang berselisih dengan desamu?" tanya Xiao Nuan.


"Disana tidak memandang ras, namun yang terkuat di sana maka mereka yang bisa bertahan." jawab Ho Hien.


Xiao Nuan menjadi penasaran desa siluman itu seperti apa. Tadi mereka mendatangi desa siluman di dekat ibukota namun terlihat biasa saja dan masih bisa di jadikan destinasi bagi manusia.


"Karena ini masih siang, kita bertamasya ke sana sebentar." ajak Xiao Nuan.


Ho Hien menahan Xiao Nuan, ia mengatakan kalau desa itu berbahaya sekali. "Memang, tapi berbahaya nya untukmu." ujar Xiao Nuan membalas Ho Hien.


"Nona Xiao, ayahku pernah bilang kalau kau ingin mati maka desa itu paling cocok tapi kau ingin ilmu maka desa itu bukan pilihannya."


"Ho Hien, kau ini bodoh? Mana ada orang yang mencari ilmu di desa siluman." sungut Xiao Nuan menanggapi ucapan Ho Hien. Ia semakin percaya kalau Ho Hien adalah anak emas di desa siluman rubah.


Ho Hien terdiam wajahnya terlihat berpikir hal itu membuat Xiao terkekeh lalu menepuk pelan kepala Ho Hien dengan jari telunjuknya. Setelah itu ia langsung menarik Ho Hien untuk terbang.


Mereka menuju ke desa siluman terkuat yang tadi di bicarakan. Sebelum sampai mereka terhadang oleh sesuatu. "Sial, siapa yang berani menahanku!" sulut emosi Xiao Nuan.


Mereka terpukul mundur oleh sesuatu, dan langsung melihat apa yang membuat mereka menjadi seperti itu. "Siapa kalian? Kenapa ingin masuk ke sini?" tanya seseorang.


Xiao Nuan mengangkat bibirnya sebelah, tersenyum miring. "Ternyata tidak mudah untuk masuk ke sini." ujar Xiao Nuan maju ke depan.


"Dua wanita, siluman rubah?" Mereka menatap Ho Hien dengan tajam. Tersirat banyak dendam di mata mereka saat melihat ke arah Ho Hien yang memiliki ras siluman rubah.


"Ini desa siluman, kenapa kalian sangat serius?" tanya Xiao Nuan.


"Desa siluman?" mereka tertawa-tawa saat mendengar ucapan Xiao Nuan. "Siluman penduduk sini tidak pernah mengatakan desa ini desa siluman kecuali kalian bukan penduduk asli."


"Benar! Untuk apa kalian ke desa ini?" tanya mereka.


"Hanya menjalankan tugas." jawab Xiao Nuan.


"Tugas? Selain pedagang tidak ada lagi yang bisa keluar masuk seenaknya!" ujar mereka.


Damn, Xiao Nuan lupa sesuatu hingga akhirnya terdiam. "Nona Xiao, apa aku bilang tadi?! Sekarang lebih baik kita kembali saja." ujar Ho Hien sedikit ketakutan.


Xiao Nuan menatap Ho Hien lalu mengangguk. "Percaya padaku kita bisa masuk ke sana." Xiao Nuan langsung melepaskan tangan Ho Hien yang menahannya.


"Aku ada bisnis di dalam. Ternyata teman Bisnisku meminta ke tempat seperti ini." kata Xiao Nuan.


"Seperti ini apa maksudmu?"


"Ya kalian bisa tebak, aku baru ingin masuk sudah di hadang oleh kalian. Teman Bisnisku membawaku ke tempat yang sangat tidak ramah."


Mereka terlihat marah dengar ucapan Xiao Nuan. "Nona, harus kau tahu di sini dia yang kuat maka mereka yang berkuasa."


"Salah, ucapanmu sangat salah. Dimana-mana juga seperti itu kalau desa ini memiliki hal itu maka desa ini tidak ada bedanya."


"Sial, ternyata wanita ini bisa bermain lidah tajam." ucap mereka kesal.


Melihat lawannya ingin menggunakan kekerasan Xiao Nuan bukannya mundur tapi malah semakin maju. "Aku hanya tahu ini desa siluman. Dan kami sedang ingin berbisnis di dalam. Selebihnya aku tidak peduli."


Ho Hien dari jauh sangat ketakutan karena mengetahui kalau siluman penjaga ini sangat kuat. Cukup ringan membuat Ho Hien musnah dari dunia ini bagi mereka.


"Bisnis apa yang kau ingin lakukan di dalam?" tanya seseorang membuat siluman penjaga langsung menyingkir dan memberi hormat.


Xiao Nuan memiringkan kepalanya lalu mengerutkan dahi. "Siluman elang?" panggil Xiao Nuan membuat seseorang yang baru datang itu langsung mengeluarkan cambuk.


"Lancang sekali kamu!" Siluman elang bersiap untuk mencambuk namun Xiao Nuan menghentikan dengan mengatakan sesuatu.


"Apa cambukmu masih akan mengenaliku?"


Siluman elang menjadi kesal ia langsung bertanya siapa Xiao Nuan kenapa ia tidak merasa takut ketika melihat cambuknya. "Siluman macam apa kau kenapa tidak takut padaku?"


Xiao Nuan terkekeh lalu mengeluarkan trik sihir dan langsung membuat siluman penjaga ketakutan. "Siapa kau sebenarnya?" tanya siluman penjaga.


Xiao Nuan mengeluarkan tusuk rambut dan melemparkannya langsung mengenai siluman elang, mendapat serangan dadakan siluman elang tidak bisa ngelak bahkan menahan pun percuma.


Siluman penjaga membantu siluman elang yang tersungkur di tanah. "Masih mau coba? Apakah cambukmu atau tusuk rambutku yang kuat."


Siluman elang menatap Xiao Nuan dengan emosi, ia tidak terima jika Xiao Nuan memandang dirinya rendah padahal Xiao Nuan hanya memberi peringatan karena sudah meremehkannya tadi.


Siluman elang menyerangnya dengan jurus lain, namun dengan cepat Xiao Nuan menangkisnya sehingga serangan tersebut berbalik dan kembali padanya.


"Sial, wanita ini tidak bisa di remehkan." gumam siluman elang. Siluman penjaga menatap kebingungan karena siluman elang juga mengatakan hal ini.


"Elang juga mengatakan itu, apa tidak keterlaluan kita menghadang mereka?" bisik salah satu siluman penjaga.


"Entahlah, kita lihat saja kalau mereka bertempur siapa yang menang."


Xiao Nuan tersenyum senang karena melihat siluman elang terpancing emosinya sehingga kembali menyerang. Sekarang terjadilah pertarungan antara Xiao Nuan dan siluman elang.


Ho Hien melihat dengan perasaan khawatir, ia sangat takut sampai para petinggi di desa ini keluar. "Aku hanya akan berbisnis di dalam kenapa sampai menghalangi sedemikian?" tanya Xiao Nuan.


Siluman elang tidak menjawab ia memberikan serangan yang banyak bahkan sampai serangan yang mematikan. "Wanita seperti mu, berbisnis apapun tidak akan pernah bisa."


Emosi siluman elang meledak-ledak sehingga membuat Xiao Nuan hampir terpukul mundur. "Seemosi itukah kamu padaku?" tanya Xiao Nuan mengeluarkan pedang.


Mereka terkejut karena pedang yang di keluarkan Xiao Nuan mengeluarkan aura yang sangat kuat. "Sepertinya pedangku akan memakan siluman jelek."

__ADS_1


Xiao Nuan langsung menebaskan pedangnya dengan setengah dari kekuatan pedang tersebut. BAAAAMMMMMM


__ADS_2