
Sreett Srettt Duarrrrhhhhh
Ledakan dari tekanan mantra mampu membuat tubuh hancur, walaupun ilmu tinggi pasti akan cedera parah apalagi pukulan mantra barusan sangat besar.
"Kamu memilih mati bersama buah curian." kata Lien Hua.
Asap mereda Lien Hua melihat Xiao Nuan masih berdiri kokoh di sana tidak ada luka ataupun goresan. "Kau tidak akan bisa melukai diriku jika tidak menemukan tubuh asliku."
Lien Hua langsung teringat dengan sebuah rapalan mantra yang sangat kuno sudah banyak orang melupakan Matra tersebut. "Kau apa sebenarnya yang kau inginkan?!"
Terlihat Lien Hua sangat marah.
"Seperti ucapanmu, aku ingin kepalamu." Raut wajah Xiao Nuan sangat datar tidak ada ekspresi apapun lagi. Lien Hua tidak mengerti kenapa Xiao Nuan ingin kepalanya.
Xiao Nuan mengeluarkan pedang suci, "Kepala di bayar kepala. Nyawa di bayar nyawa." Xiao Nuan melepaskan pedang.
Tiba-tiba pedang itu terbagi menjadi 4, semuanya melayang dan langsung menyerang Lien Hua. Xiao Nuan yang asli memang tidak di sini.
Namun kekuatannya meningkat terus menerus. Lien Hua terpukul mundur, "Aku adalah monster mutasi." seru Lien Hua ia kembali berubah menjadi seekor naga hitam.
Ternyata kekuatan terbesar Lien Hua adalah ketika berubah menjadi wujud aslinya. Dua kali serangan pedang suci langsung hancur berkeping-keping.
"Aku suka kepala naga." Xiao Nuan bersiap lalu terbang dan memberikan serangan beruntun.
Dengan kondisi saat ini, tentu saja Lien Hua jauh lebih unggul. Sekarang giliran Xiao Nuan yang terpukul mundur hingga memuntahkan darah.
Lien Hua melihat kesempatan, saat ingin menebas dengan ekornya tiba-tiba pedang mereka melesat hingga melukai ekor Lien Hua.
"Siapa yang berani mencampuri urusanku!" Bentak Lien Hua.
Beberapa orang mamakai kuda langsung melindungi tubuh Xiao Nuan. "Siapa? Aku adalah suaminya."
Ternyata Liu Xingsheng, mereka menemukan Xiao Nuan sedang bertarung dengan monster tingkat tinggi. Melihat itu Liu Xingsheng tidak bisa tinggal diam.
Xiao Nuan terkejut karena wajah Liu Xingsheng sama seperti wajah Lien Hua. "Kenapa mereka sama." Xiao Nuan bangun dan melihat dengan jelas.
Sial, Xiao Nuan tidak bisa apa-apa jika ada Liu Xingsheng di sini. Ia hanya bisa mengandalkan jurus bayangan ini agar bisa dalam pengawasan Liu Xingsheng.
"Yan, bantu Liu Xingsheng." Yan keluar lalu melingkari langit menu membantu dari kejauhan. Lien Hua menyerang Liu Xingsheng dengan serangan besar.
"Hati-hati, Dia monster tua."
Lien Hua langsung terbakar emosi saat Liu Xingsheng mengatakan dirinya tua. "Manusia sialan, matilah kalian semua."
Lien Hua menyerang dengan jurus api neraka. Api yang keluar sangatlah panas bahkan membakar banyak orang, Liu Xingsheng mengalihkan perhatian dengan memberikan serangan.
Dari atas Yan memberikan serangan untuk membantu Liu Xingsheng. Karena Xiao Nuan tidak bisa keluar, ia bersembunyi dari atas batu.
"Kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat." gumam Xiao Nuan.
Lalu ia kembali menggerakkan tubuh bayangannya untuk membantu Liu Xingsheng, "Ratuku, jangan penyerang tubuhmu terluka."
Xiao Nuan tercengang bahkan di saat genting seperti ini suaminya memperingati untuk diam. "Tidak bisa, ini adalah urusanku yang belum selesai."
Xiao Nuan mengeluarkan jurus pembekuan angin, ia membuatnya jadi sebuah tombak. Pengikut Liu Xingsheng yang melihat mereka langsung terpana.
"Nyonya pangeran, dia sangat berbakat."
Xiao Nuan memberikan racun rubah yang ia ambil saat kekacauan. Ia melemparkannya tepat di perut naga hitam. "Sialan, kau pencuri berani membuatku mati?"
Lien Hua mengarahkan serangan pada Xiao Nuan. Namun ia di dorong oleh Liu Xingsheng. "Yan, masuk!" teriak Xiao Nuan panik.
Tubuh Liu Xingsheng adalah manusia, ia akan mati jika terkena api neraka. Beruntung Yan masuk di waktu tepat, sekarang mata Liu Xingsheng berubah menjadi merah.
Bahkan auranya sangat kuat, mereka yang mengikuti Liu Xingsheng merasa tertekan. "Apa dia yang mulia pangeran?!", Liu Xingsheng membalas serangan Lien Hua.
Tebasan angin membuat Lien Hua terpental jauh. "Sial, aku bertemu dengan manusia dewa." lirihnya saat serangan menyentuh tubuhnya.
Racun yang ada di tombak menjalar dan serangan dari Liu Xingsheng membuat Lien Hua kembali ke wujud manusia. "Xiao Nuan, menghampiri Lien Hua.
"Aku akan mengambil kepala naga." kata Xiao Nuan.
Namun Liu Xingsheng menariknya untuk mundur. "Cukup An'Er, kamu sudah membuat keributan yang sangat parah." bentak Liu Xingsheng.
Xiao Nuan melepaskan tangan Liu Xingsheng dengan kasar. "Jangan pernah kau melarangku!" balas Xiao Nuan tak mau kalah.
Liu Xingsheng menarik pundak Xiao Nuan, namun reaksi Xiao Nuan di luar dugaan ia mengeluarkan tenaga dalam membuat Liu Xingsheng terpental.
Tangan Xiao Nuan mengeluarkan pedang. "Kepalamu!", lirih Xiao Nuan. Tubuh Lien Hua sudah lemah ia hanya bisa melihat Xiao Nuan mendekat.
Duak
Xiao Nuan di pukul oleh Liu Xingsheng, tubuhnya ambruk. "Tuan naga, maafkan istriku dia sangat berambisi untuk hal omong kosong."
Lien Hua terkekeh.
"Kau ini sangat bodoh." Lien Hua langsung menyerang Liu Xingsheng. Ia bangun dari duduknya, "Membiarkanku hidup sama saja menjemput ajal kalian."
"Tunggu dulu, kita memang salah. Tapi tolong lepaskan kami. Kami meminta maaf sebesar-besarnya."
"Dia telah mencuri dan membuat Meridian ku terluka. Wanita ini juga memanipulasi semuanya hingga kedua negara berperangan."
Liu Xingsheng menatap Xiao Nuan yang tergeletak di tanah, ia tidak menyangka jika istrinya mampu melakukan hal sekejam itu. "Dan kau membuat istrimu pingsan, itu sangat keuntungan bagiku."
Lien Hua memberikan sihir lalu menebaskan api neraka hingga tubuh Liu Xingsheng dan Xiao Nuan terpental jauh. "Aku pikir kepala ku akan hilang. Tapi ternyata aku akan mempunyai koleksi kepala baru."
Sekarang kekuatan Yan tidak terkendali karena tubuh Liu Xingsheng terluka parah akibat serangan api neraka. "Aku hanya ingin berdamai, maafkan istriku."
Lien Hua mengeluarkan sihir dari tangannya lalu berjalan perlahan. "Kalian berdua mengingatkanku pada sepasang suami-istri yang menginginkan kematian ku."
Liu Xingsheng berusaha bangun ia melihat pengikutnya berserakan seperti barang. Semuanya terluka parah bahkan tidak sedikit yang meninggal.
"Aku tidak akan puas jika belum mendapatkan kepala wanita ini."Liu Xingsheng melindungi Xiao Nuan. Ia merasa bersalah karena membuatnya pingsan.
"Kau berusaha melindungi? Itu sia-sia. Tapi untuk kalian aku memberikan kompensasi. Silahkan nikmati detik-detik kematian." Liu Xingsheng mengepal kuat.
Ia mengambil pedang yang Xiao Nuan pakai tadi, ia mengacungkan pada Lien Hua. "Bertarung lah layaknya seorang pria."
Lien Hua tertawa,
"Jangan bercanda, kau sudah lemah bagiku hanya sekali tebasan kau akan menemui ajal."
Liu Xingsheng tidak menyerah dengan gertakan Lien Hua, ia menyerang Lien Hua dengan pedangnya. Yan yang berada di dalam tubuh Liu Xingsheng hanya bisa membantu sedikit.
"Tubuhmu terluka parah, aku tidak bisa membantu banyak." ucap Yan.
__ADS_1
"Siapa kau?"
"Jangan tanyakan siapa aku, lebih baik cari cara untuk mundur." Liu Xingsheng bertarung dengan Lien Hua menggunakan pedang. Mereka seperti dua pendekar.
Dengan kemampuan yang di miliki Liu Xingsheng ketika memenangkan peperangan, ia mampu membuat Lien Hua tertarik dan terus bertarung.
Dari antara mereka tidak ada yang melemah sedikitpun, Lien Hua tidak menggunakan energi roh untuk melawan Liu Xingsheng. Begitupun Liu Xingsheng yang bertahan dengan kekuatan roh Yan.
Beberapa saat kemudian Lien Hua sudah bosan, ia melakukan tebasan telak dengan tenaga dalam membuat Liu Xingsheng terjatuh.
"Maaf, aku tidak bisa bergerak lagi."
Ketika ingin membunuh Liu Xingsheng, Xiao Nuan melompat turun. Keduanya terkejut karena tubuh mereka terbagi dua. Xiao Nuan tidak berbicara dan menyerang Lien Hua.
Melihat pukulan tenaga dalam Xiao Nuan membuat Lien Hua terhuyung, Liu Xingsheng memanfaatkan situasi untuk membuatnya terjatuh.
"Kalian membuatku marah!"
Lien Hua mengeluarkan Auman api neraka, sangat besar dan tentunya berbahaya. Melihat hal tersebut Yan menjadi panik. "Tidak ada cara, aku harus menyatu." kata Yan.
"Yan, jangan bercanda. Liu Xingsheng akan kesakitan."
"Apa aku harus membiarkan kalian mati?" bentak Yan.
Liu Xingsheng tidak mengerti kenapa Xiao Nuan dan Yan bertengkar, sebelum Lien Hua menyerang Yan menyatukan dirinya dengan Liu Xingsheng.
Seketika angin menderu keras awan gelap menyelimuti langit, beberapa kilat bersambaran. Xiao Nuan hanya menatap tidak mampu melakukan apapun.
Perlahan tubuh Liu Xingsheng terangkat, Liu Xingsheng berteriak kesakitan dan membuat Xiao Nuan menutup mata ia tak sanggup. Tubun Liu Xingsheng adalah manusia bukan dewa ataupun iblis.
Tentu ini menyakiti hingga menembus jiwanya. "Arrrrgggghhhh, sakit sekali!" Tubuh Lien Hua perlahan berubah banyak urat merah yang timbul.
Matanya merah menyala, rambut peraknya ikut berubah dan muncul beberapa tanduk. Penyatuan tubuh mereka akan selesai dan itu membakar jiwa Liu Xingsheng.
"Arrrrgggghhhh."
Baju Liu Xingsheng ikut terbakar, Xiao Nuan menunduk tidak bisa melihat suaminya kesakitan menerima semuanya. Ketika pengumpulan Auman api selesai Liu Xingsheng langsung menebaskan pedang suci.
Lien Hua menatap tidak percaya, ia melihat manusia telah bersatu dengan binatang suci legenda. "Kau ... "
Saat ini kemungkinan akan seri namun Lien Hua tidak ingin menyerah. Mereka bertarung dengan kuat, bahkan hutan ini menjadi tempat peleburan.
Ledakan besar dari kedua orang yang keras kepala. Xiao Nuan hanya berdiri mematung ia tidak bisa melakukan apapun rasanya semuanya gagal.
Ketika Liu Xingsheng terpojok, Xiao Nuan langsung ikut membantu ia menyerang dari belakang membuat cedera Lien Hua semakin parah.
Sepasang suami istri ini menyerang Lien Hua tanpa belas kasihan, tubuh Liu Xingsheng baru mendapatkan roh baru tentu sangat haus akan darah.
Tubuh Lien Hua terpental ke tanah, ia memuntahkan darah. Memang kalah telak apalagi dengan manusia yang bermutasi dewa.
Ketika Liu Xingsheng akan menyerang lagi Xiao Nuan menahannya. "Aku ingin membunuhnya tapi jika itu terjadi kau bukan lagi manusia tapi iblis haus darah!"
Liu Xingsheng berusaha sadar namun roh lain terus menginginkan darah. Ia melihat Lien Hua yang terluka merasa sangat lapar.
Lien Hua melihat Xiao Nuan yang menahan Liu Xingsheng untuk membunuhnya, ia segara melarikan diri. "Kali ini aku melepaskanmu!"
Liu Xingsheng marah ia membanting tubuh Xiao Nuan ke bebatuan besar. "Aku haus! Aku lapar!", Xiao Nuan meringis melihat mutasi Liu Xingsheng.
Liu Xingsheng mendapatkan kesadarannya saat Xiao Nuan tergeletak dengan lemah. "Apa yang ku perbuat?!" Xiao Nuan mengangkat tangannya.
"Jangan mendekat, kau akan tergoda dengan darahku." Xiao Nuan menarik tubuh bayangannya untuk masuk kembali. ia terjatuh memuntahkan banyak darah.
"Jangan mendekat." ucap Xiao Nuan saat melihat Liu Xingsheng. Darah yang ia miliki sangat suci itu akan membuat roh yang sedang mutasi menjadi buas.
Pandangannya mengabur, ia mengangkat tangannya sambil mengucapkan hal sama. Sampai akhir sebelum hilang kesadaran ia hanya melihat Liu Xingsheng berlari dengan wajah panik.
...****...
Xiao Nuan terluka parah bukan dari serangan Lien Hua tapi ia tidak melawan saat Liu Xingsheng menyerangnya. Xiao Nuan tahu akan percuma jika ia menahannya dengan tenaga dalam.
Kekuatan Liu Xingsheng meningkat hingga 70% sudah pasti apapun yang Xiao Nuan lakukan tetap membuatnya terluka. Xiao Nuan di bawa ke tempat persembunyian Liu Xingsheng dulu.
Liu Xingsheng merasa bersalah karena tidak bisa mengontrol roh yang ada di dalam dirinya. Air mata menetes saat ia mengobati luka Xiao Nuan.
Luka ini terbuat dari pukulan tangannya sendiri, ia belum pernah melakukan hal seperti ini terlebih ini pada Xiao Nuan yang berstatus nyonya pangeran.
"Maafkan aku, semua salahku." lirih Liu Xingsheng.
Ia memegang tangan Xiao Nuan, sangat takut terjadi hal yang membuatnya semakin bersalah. Tabib yang baru saja pergi mengatakan kalau Xiao Nuan terluka cukup dalam.
Namun karena pertahanan dari tenaga dalam akan membuat Xiao Nuan telat sadar. Liu Xingsheng sangat menyesal. "Kalau saja aku tidak bersatu dengan roh ini."
Nasi sudah jadi bubur, Yan sekarang berada dalam diri Liu Xingsheng. Lambat laun mereka akan bersatu, namun mereka tidak mengetahui konsekuensinya.
Konsekuensi dari penyatuan antara manusia dan roh suci dewa, Xiao Nuan tahu konsekuensinya maka ia tidak setuju ketika Yan mencoba menyatukan diri.
Sampai akhirnya mereka bersatu dan Xiao Nuan terluka. Yan yang berada dalam diri Liu Xingsheng ikut bersalah dengan kejadian ini.
Beberapa hari kemudian
Kondisi Xiao Nuan masih sama, terbaring di ranjang bahkan Xiao Nuan bisa makan karena Liu Xingsheng melakukan menyalurkan lewat bibir.
Leng yang mengawasi rumah persembunyian hanya bisa mendesah kecewa. "Aku bodoh, tidak bisa membantu apapun." Leng menunduk sedih.
"Turun!"
Leng menoleh ke bawah, ternyata Liu Xingsheng. "Kau bisa melihatku?" Liu Xingsheng mengangguk, Leng segera turun dan berdiri di meja.
"Yan, memberitahuku kalau ada peliharaan istriku menjaga di luar."
"Huh, karena kau sudah menyatu dengan Yan, tentu saja kau bisa merasakan keberadaanku."
"Siapa kalian?" tanya Liu Xingsheng.
"Kami adalah penjaga Dewi master."
Liu Xingsheng bertanya kenapa Xiao Nuan seperti ini dan kenapa mereka memanggil Xiao Nuan dengan dewi master. "Karena memang pada nyatanya dia Dewi. Karena sebuah misi kami harus pergi."
"Dan aku mengahalangi misi kalian?" tebak Liu Xingsheng saat melihat Leng yang kesal dan menatap dirinya dengan marah.
"Ya, kalau saja kau tidak datang mungkin sekarang kita sudah menang."
Leng mengatakan kalau waktu itu sudah tepat untuk menyelesaikan misi, tapi tidak di sangka Liu Xingsheng datang. Untuk melindungi manusia Xiao Nuan bahkan mempercepat proses peleburan buah suci.
Karena buah suci yang di makan oleh Xiao Nuan, jadi ia bisa bertahan jika tidak bagaimana bisa Xiao Nuan melepaskan tenaga dalam dan menerima serangan dari Liu Xingsheng.
__ADS_1
Betul juga yang di katakan Leng, Liu Xingsheng merasa sangat sulit untuk bertahan hidup jika Xiao Nuan tidak memiliki perisai lain.
"Lalu sekarang aku harus apa agar istriku bangun?" tanya Liu Xingsheng.
Leng menggeleng, "Menunggu keajaiban datang.", Liu Xingsheng akhirnya tahu seberapa bahayanya situasi sekarang. Yan dan Leng berpikir kalau sekarang mereka baik-baik saja pasti sudah mencari Lien Hua.
...****...
"Kakek, kemarin aku terdampar di negara aneh." ucap Xiao Nuan menghampiri kakeknya.
Sang kakek menoleh lalu tersenyum. "Kamu hanya mimpi saja.", Xiao Nuan memeluk kakeknya dan mengatakan hal aneh.
"Aku gak mau kembali ke sana, aku takut tertidur lagi."
"Tuhan memberikan ujian menurut kemampuan mereka sendiri." kata kakek menenangkan cucunya.
Xiao Nuan melepaskan pelukan.
"Kakek, sebenarnya ayah sama ibu meninggal karena apa?" tanya Xiao Nuan.
Kakek langsung sedih melihat cucunya menanyakan kematian menantu dan anaknya, "Kakek kurang tahu sebenarnya, hanya saja ketika mereka di temukan sudah tidak bernyawa."
Xiao Nuan menceritakan kejadian yang ia mimpikan. "Ibumu juga pernah bercerita tentang mimpi itu, tapi kakek tidak pernah percaya." balas kakek.
"Kenapa? Tapi dalam mimpiku aku mempunyai kenalan yang akrab dengan kakek."
Kakek terkekeh, "Dia mungkin mengenal kakek, tapi kakek tidak." Xiao Nuan merenggut kesal.
"Kenapa kakek selalu menyembunyikan sesuatu yang penting?"
Kakek mengusap rambut Xiao Nuan dengan sayang. "Kakek gak mau kamu meninggalkan kakek sendiri seperti ayah dan ibumu.", Xiao Nuan mengerti kenapa kakeknya berusaha untuk memenuhi semua keinginannya dari kecil.
"Kakek, aku tertidur selama berapa jam?!" Xiao Nuan menanyakan pertanyaan konyol.
"Cucu kakek ini sangat lucu, kamu pergi tidur semalam kenapa pagi-pagi menanyakan hal ini?"
Xiao Nuan tertawa rasanya mimpi kemarin seperti kenyataan tapi kemarin yang terjadi hanyalah bunga tidur. "Kalau ibu dan ayah ada mungkin kakek gak akan kesulitan mengurus perusahaan."
"Bodoh, kamu adalah cucuku. Cepatlah dewasa agar aku bisa pensiun." ujar kakek tergelak.
"Tapi aku sudah dewasa, hanya belum tertarik dengan pekerjaan tetap." tungkas Xiao Nuan.
Setelah mengatakan itu Xiao Nuan kembali ke kamar, ia merasa aneh kenapa dirinya bisa bangun tidur. Terakhir kali ia mengingat adalah sebuah petir dan kotak misterius.
Sampai di kamar ia duduk di kasur, di pagi cerah ini Xiao Nuan merasakan hal aneh. "Kenapa aku rasa akan sesuatu terjadi."
Cttaaarrrrrr
Petir di pagi hari membuat Xiao Nuan langsung terperanjat kaget. Namun aneh petir itu mengarah ke arahnya. "Sial, ini devaju!"
Ketika Liu Xingsheng sedang membersihkan tubuh Xiao Nuan, jemarinya bergerak perlahan. "An'Er, kamu sudah sadar?" tanya Liu Xingsheng senang.
Mata Xiao Nuan melihat ke sekelilingnya. "Ini dimana?" tanya Xiao Nuan. Dalam hati Xiao Nuan merutuk kesal kenapa karna petir sialan ia kembali lagi ke negara aneh ini.
Xiao Nuan bangun dari tidurnya.
"Kenapa di sini?" pertanyaan itu lolos begitu saja.
Liu Xingsheng menjelaskan jika keadaan Xiao Nuan sangat parah, ia membutuhkan tempat untuk segera di singgahi. "Maksudku bukan itu." gumam Xiao Nuan.
Xiao Nuan melihat tanduk di kepala Liu Xingsheng langsung mengeluh. "Kenapa kau maju!" bentak Xiao Nuan marah. Liu Xingsheng bingung kenapa tiba-tiba marah.
"Kau! Kenapa sok kuat lihatlah sekarang kau dan Yan menyatu apa kamu gak tahu konsekuensinya?" Liu Xingsheng menggeleng ia tidak tahu apapun.
Xiao Nuan memarahi Yan. "Naga sialan, kau ingin membunuh manusia!" Omel Xiao Nuan Yan hanya diam namun ia menjawab dengan lemah.
"Kalau aku tidak menyatu dengan suamimu lalu apa yang terjadi? Apa kita akan sampai di surga lewat api neraka?!"
"Masih berani membela diri!?" Bentak Xiao Nuan marah.
Liu Xingsheng menenangkan Xiao Nuan. "Diam, kau akan mati karena tubuhmu manusia yang kau miliki menjadi kekuatan baru bagi Yan!"
Semuanya terdiam termasuk Leng yang sedari tadi diam. Jadi ini alasannya kenapa Xiao Nuan menolak keras menyatukan tubuh mereka berdua.
Xiao Nuan yang asalnya tidak ingin mengatakan apapun hanya bisa diam. "Sekarang kalian tahu kenapa aku melarang? Yan, kamu tahu itukan?!"
Yan diam, ia memang tahu cuman ia tidak tahu kalau resiko lain juga berpotensi besar mempengaruhi yang lain. "Maaf," lirih Yan terdengar sangat pelan.
"Sudah, nanti aku pikirkan cara lain."
Xiao Nuan mengeluarkan semua orang dari kamar termasung Leng yang berada di jendela. "Kenapa aku harus kembali ke duniaku cuman beberapa detik?!"
Xiao Nuan merasa ini tadinya mimpi tapi sudahlah pikirannya sedang berputar-putar. "Kayaknya kunci satu-satunya adalah kepala Lien Hua!"
Xiao Nuan duduk dan bermeditasi untuk memulihkan keadaannya yang terluka parah. Beberapa saat kemudian Xiao Nuan membuka matanya.
"Buah roh suci sangat efektif dalam menyembuhkan."
Kali ini ia harus berlatih keras karena Lien Hua pasti sudah melakukan persiapan saat tahu Xiao Nuan belum mati.
****
Liu Xingsheng mendekati Xiao Nuan yang berada di sisi sungai, "Kenapa malam-malam berada di sini?" tanya Liu Xingsheng.
Xiao Nuan mendongakkan kepala menatap Liu Xingsheng yang berdiri di hadapannya. "Hanya melihat langit malam.", Liu Xingsheng duduk di samping Xiao Nuan.
"Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu membunuh banyak orang?" tanya Liu Xingsheng.
Xiao Nuan tidak terkejut suaminya ini pasti sudah tahu dan mengenali dirinya walaupun terhalang cadar. "Aku ke sini untuk suatu misi."
"Burung itu juga mengatakan hal sama. Siapa yang menyuruh kalian."
Xiao Nuan terdiam sesaat.
"Takdir."
Perkataan Xiao Nuan adalah pemikiran, takdir memang sedikit tidak masuk akal apalagi Liu Xingsheng sudah tahu kehidupan Xiao Nuan dulu.
Ratu di kediamannya ini memang mengalami hal sulit di masa kecil namun ia tidak memiliki energi roh dan dendam pada monster atau master lain.
Tapi melihat pertarungan kemarin Liu Xingsheng merasa kalau Xiao Nuan memiliki masalah yang cukup serius. "Kenapa wajah kalian mirip?"
Liu Xingsheng mengejutkan dahi, ia tidak paham apa yang di maksud Xiao Nuan. "Liu Xingsheng, kenapa kamu memiliki wajah yang sama dengan Lien Hua?"
Xiao Nuan mengulang pertanyaan lagi, terlihat raut wajah yang sangat dingin. "Aku ... Aku tidak tahu bahkan aku baru kali ini bertemu dengannya."
Xiao Nuan tidak percaya bagaimana bisa wajah mereka sangat mirip tapi tidak ada hubungan apapun. "Walaupun kau tidak mengatakannya aku akan tahu sendiri."
__ADS_1