
Liu Xingsheng dan Xiao Nuan mendapatkan undangan dari istana kerajaan. Mereka kedatangan tamu spesial yang di undang dalam rangka mengeratkan persaudaraan.
Xiao Nuan sudah memakai Handuk yang sangat mewah sesuai dengan tema hari ini. "Sayang, jangan terlalu cantik." ujar Liu Xingsheng mendatangi Xiao Nuan yang baru keluar dari kamar.
"Memang kamu mau melihatku jelek diantara piring mewah?" ketus Xiao Nuan menyambut uluran tangan dari Ho Hien. Liu Xingsheng terkekeh melihat Xiao Nuan yang kesal.
Mereka berjalan Xiao Nuan mengikuti dari belakang, Liu Xingsheng berhenti tepat di depan kereta kuda. Ia mempersilahkan istrinya naik duluan.
"Begitu aneh." gumam Xiao Nuan hanya di tanggapi senyuman oleh Liu Xingsheng.
Mereka pergi ke istana, sedangkan para pelayan yang berada di sana hanya berdoa agar kedua majikan mereka selalu harmonis dan selamanya bersama.
Selama perjalanan Liu Xingsheng memandangi Xiao Nuan yang bersandar, "Pundak suamimu menganggur, kenapa kamu harus bersandar pada kayu?" tanya Liu Xingsheng.
Xiao Nuan hanya berdeham saat kepalanya di bawa ke bahu Liu Xingsheng. "Aku tahu kamu sangat lelah, kalau mau aku bisa memutar kereta dan kembali ke kediaman."
"Yang mulia raja akan mengomel kalau tidak hadir apalagi pangeran anda sangat berjasa banyak untuk istana." timpal Xiao Nuan pelan.
Liu Xingsheng hanya diam, istrinya benar-benar sangat keras kepala bahkan bisa di lihat kalau wajahnya sedikit pucat namun tertutup make up yang pelayan bantu tadi.
Sampai di istana mereka langsung menuju aula pertemuan yang telah di beritahu oleh Kasim. Xiao Nuan mulai terasa lemas Liu Xingsheng membantunya dengan cara berpegangan tangan.
"Salam sejahtera yang mulia." ucap Xiao Nuan dan Liu Xingsheng saat bertemu raja.
"Bangunlah. Kalian baru sampai? Tamu dari kerajaan tetangga sangat ingin berjumpa denganmu." kata raja pada Liu Xingsheng.
Xiao Nuan dan Liu Xingsheng duduk di tempat yang seharusnya. Mereka berbincang hanya Xiao Nuan yang diam memegang cangkir teh. Badannya terasa panas dingin karena perbuatan Liu Xingsheng.
"Yang mulia, hamba pamit mencari udara." kata Xiao Nuan menyela perbicangan.
"Baiklah, hati-hati." balas raja mempersilahkan.
"Mau aku temani?" tanya Liu Xingsheng saat Xiao Nuan berdiri dari duduk. Dengan gelengan pelan Xiao Nuan menolak tawaran suaminya tersebut
Xiao Nuan keluar dari aula lalu berjalan ke taman yang biasa ia datangi kalau berkunjung ke istana. Ia sangat lemas sampai tangannya bergetar.
Xiao Nuan menstabilkan energinya beberapa saat sampai ia menghela nafas lega. Akhirnya ia bisa terbebas dari rasa lelah setelah perbuatannya bersama Liu Xingsheng tadi.
Ia berjalan perlahan menikmati udara di taman itu, di sini sangatlah sepi karena bagian terpencil dari istana. Taman ini adalah taman Kesayangan kaisar terdahulu suami dari ibu suri.
"Sialan, Liu Xingsheng membuatku benar-benar seperti robot." kata Xiao Nuan saat merasakan pegal di area terlarangnya.
"Apa itu robot?"
Xiao Nuan terkejut karena tiba-tiba ada suara yang cukup keras. Ia menoleh ke arah suara ternyata seorang pria yang begitu berwibawa dan sangat gagah.
"Aku bertanya nona, apa itu robot?" tanya nya terlihat penasaran.
Xiao Nuan berbalik. "Hanya barang yang bergerak kaku." jawab Xiao Nuan seadanya. Pria itu terlihat tidak puas dan kembali bertanya.
"Maaf nona, seperti apa bentuknya apa sama dengan balok kayu?"
"Sedikit mirip. Maaf tuan, saya harus pergi "
Xiao Nuan pergi meninggalkan pria itu, wajah pria tersebut sangat menatap dalam karena merasa tertarik. Ia pun berjalan berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Xiao Nuan menahan kesal, ia sedang lelah malah bertemu pria yang sangat bawel. "Aku kira hanya Liu Xingsheng yang cerewet." ujar Xiao Nuan.
"Siapa yang kamu maksud cerewet?"
"Jangan bertanya terus apa tidak lihat aku sedang ke-
Xiao Nuan mengomel sambil berbalik melihat namun terkejut karena yang berada di belakangnya bukanlah pria tadi tapi pangeran Yun Taen.
"Yang mulia pangeran."
"Kamu sedang kesal dengan apa, bibi?" tanya pangeran seakan tidak masalah dengan ucapan kesal Xiao Nuan.
"Tidak, tadi ada kasih yang bertanya. Aku kira dia balik lagi." jawab Xiao Nuan gugup karena malu telah membentak orang yang tidak tau apa-apa.
"Oh, aku kira bibi tidak akan ikut acara membosankan seperti ini." kata pangeran Yun Taen dengan malas.
__ADS_1
Xiao Nuan mengerutkan dahi, kenapa membosankan bukannya ini adalah acara yang di sukai para pangeran karena bisa melihat wanita-wanita yang di bawa dari negara lain bahkan tidak jarang putri mahkota pun ikut.
"Kayaknya ada yang kabur dari perjodohan." timpal Xiao Nuan berjalan ke arah tanaman yang sedang berbunga lebat. Ia menyentuh bunga yang akan layu.
"Bibi, bunga tidak selalu indah bukan?!"
Xiao Nuan mengangguk memang benar apa yang di katakan pangeran Yun Taen namun Xiao Nuan lebih mengerti apa maksudnya.
"Asal Pangeran tahu, bunga memang tidak memiliki umur panjang namun ia bisa menarik banyak serangga dalam waktu yang sama."
Pangeran Yun Taen tersenyum karena Xiao Nuan menjawab ucapannya seolah mereka sedang berbicara serius, bagi pelayan yang mengikuti mereka tidak ada percakapan yang penting yang sedang di obrolkan.
Mereka berjalan beriringan keluar dari taman tersebut, masih dalam perbincangan yang biasa saja. "Salam, kita bertemu lagi nona." kata seorang pria
Xiao Nuan mengangguk lalu memberi salam karena ada pangeran di sini. Pangeran Yun Taen mengerutkan dahi kenapa mereka bisa saling mengenal.
"Kalian sudah mengenal satu sama lain? Bibi, aku tidak menyangka ternyata kamu sangat familiar." ujar pangeran.
Xiao Nuan tersenyum menutupi sebagian wajahnya. "Tidak begitu, anda terlalu tahu banyak pangeran Yun Taen." timpal Xiao Nuan dengan nada yang cukup dingin.
Pangeran Yun Taen tersinggung apalagi suara Xiao Nuan seperti tidak senang. "Bibi, ada apa? Apa aku berkata salah?" tanya pangeran Yun Taen.
Ia tahu tidak mungkin mengeluarkan amarahnya apalagi ada tamu dari kerajaan lain. "Pangeran Yun Taen, aku tahu anda anak yang mulia raja tapi saya adalah bibi mu kelak ucapanmu harus banyak di pikirkan sebelum kamu lepaskan."
Xiao Nuan menyatukan tangannya. "Saya terlalu sibuk, maaf." kata Xiao Nuan lalu berbalik meninggalkan tamu dan pangeran Yun Taen.
Ia menghela nafas memang keberanian pangeran Yun Taen sekecil ini sampai harus mencari masalah saat ada orang lain pikir Xiao Nuan.
"Yang mulia Wang, pangeran kaisar mencari anda sedari tadi." kata seorang pelayan istana menghampiri Xiao Nuan tergesa-gesa.
Xiao Nuan mengerutkan dahi lalu pergi ke arah aula utama tadi. Di belakang selalu ada pelayan yang mengikuti Xiao Nuan sejak tadi.
Tapi kenapa Liu Xingsheng tidak bisa menemukan keberadaannya sampai harus meminta pelayan istana mencarinya.
"Bibi, ternyata aku berhasil mengundangmu menggunakan nama paman kaisar." kata putra mahkota tepat di depan Xiao Nuan.
Lagi-lagi Xiao Nuan harus mengepalkan tangannya kesal. Bagaimana tidak? Ia harus bertemu dengan dua makhluk yang sangat menyebalkan di kerajaan Yuoyui.
Putra mahkota mengangguk tahu.
"Itu karena bibi, beberapa kali aku mengundangmu untuk datang tapi tidak pernah mau menemui ku!"
Xiao Nuan melotot tidak percaya putra mahkota senekat ini hanya untuk bertemu dengannya. "Putra mahkota, untuk apa anda mencari saya. Anda tahu sendiri aku tidak bisa sembarang pergi ke istana."
"Aku tahu, makanya aku memberimu giok ini agar kau bebas keluar masuk." balas putra mahkota menunjukan sebuah giok kekuasaan yang hanya 5 orang yang mempunyai giok tersebut, Liu Xingsheng, ratu, ibu suri, putra mahkota dan pangeran Yun Taen.
"Tidak bisa, jika aku menginjak kaki di sini maka suamiku harus ikut bersama." tungkas Xiao Nuan sangat tegas agar putra mahkota tidak mengganggunya terus menerus.
"Bibi, aku hanya ingin berbicara bukan untuk merebut hatimu." ujar putra mahkota. Namun Xiao Nuan enggan percaya dan menatap dengan sinis.
"Aku tidak ingin tahu tujuanmu apa putra mahkota, tapi aku mohon seberapapun kamu membutuhkanku minta izinlah pada pangeran kaisar."
Seketika putra mahkota langsung diam, kali ini akan lebih sulit mendekati Xiao Nuan. Pikirannya langsung kebingungan hal apa yang di lakukan Liu Xingsheng sehingga wanita seperti Xiao Nuan begitu takut jika jauh dari keberadaannya.
"Bibi, pembicaraan ini juga berkaitan dengan paman." ucap putra mahkota.
Xiao Nuan menatap langsung mata putra mahkota, mereka saling menatap sekilas ada guratan kagum dan menyukai dari salam hati putra mahkota.
"Sama seperti tadi, seberapapun anda butuh aku tetap pamanmu harus tahu. Apapun alasannya." tegas Xiao Nuan.
Ia mengepalkan tangannya, inilah yang paling tidak ia sukai bukannya lupa dengan balas dendam tapi jika Xiao Nuan bergerak sekarang itu hanya akan membuat posisi Liu Xingsheng terhimpit.
"Kalian sedang apa di paviliun ini?" tanya Liu Xingsheng tiba-tiba datang membuat keduanya terkejut.
Xiao Nuan menggeleng pelan. "Tidak ada, hanya tidak sengaja bertemu dengan yang mulia putra mahkota." senyum manis terbit di wajah Xiao Nuan.
putra mahkota menatap kagum saat melihat senyuman tersebut, keseringan mereka melihat Xiao Nuan dalam mode lain bukan seperti sekarang.
Pakaian purple anggun, sangat kontras dengan kulit Xiao Nuan yang putih bersih. "Putra mahkota, kenapa kamu tidak berada di aula."
"Aku bosan selama beberapa hari terus menyambut, kali ini hanya ingin jalan-jalan." jawab putra mahkota melirik Xiao Nuan yang memasang wajah datar lagi.
"Tugasmu akan sama dengan yang mulia raja, akan lebih baik kamu berada di sana untuk belajar lebih dalam."
__ADS_1
Putra mahkota mengiyakan, Xiao Nuan hanya diam takut salah bicara dan membuat Liu Xingsheng kesal. "Yaudah, bibi paman aku akan kembali."
Liu Xingsheng mengangguk, setelah itu putra mahkota langsung meninggalkan Xiao Nuan dan Liu Xingsheng di paviliun tersebut. Setelah kepergian putra mahkota. Raut wajah Liu Xingsheng berubah total.
"Jangan keluar dengan alasan mencari angin padahal bertemu pria lain."
Xiao Nuan mengerutkan dahi bingung, "Aku memang nyari angin. Tentang putra mahk- .."
Xiao Nuan terkejut karena Liu Xingsheng menariknya tiba-tiba, "Kota, dia dan aku ti-tidak sengaja bertemu."
Cup
Xiao Nuan terdiam karena Liu Xingsheng mencium bibirnya di sana bahkan ada pelayan yang melihat mereka, "Ini istana jaga sikapmu."
"Ada apa? Aku bagian dari keluarga ini lalu apa aku tidak ada hak?" tanya Liu Xingsheng mendudukkan Xiao Nuan di pangkuannya.
"Bukan, hanya saja kita seperti tidak mematuhi peraturan istana!"
"Tenang, bahkan ibu suri juga tidak akan berani melarangku untuk membuatmu telanjang di sini." kata Liu Xingsheng tambah mesum.
Sontak Xiao Nuan merasa malu sampai wajahnya merah. "Jangan bercanda, itu gak lucu." ucap Xiao Nuan mencubit dada bidang Liu Xingsheng dengan kesal.
Liu Xingsheng hanya terkekeh sembari mengusap dada yang barusaja menjadi sasaran kesal Xiao Nuan. "An'er, aku lihat tadi kamu bertemu dengan putra mahkota."
Xiao Nuan mengangguk pelan.
"Dia mengajakku untuk bekerja sama,"
"Menolak lagi?" Xiao Nuan menggangguk ini bukan pertama kali bagi Liu Xingsheng. Lagi pula jika harus curiga itu tidak berarti karena Xiao Nuan sangat sulit untuk di ajak kompromi.
"Kenapa tidak sekali saja kamu terima ikuti saja kemauannya." ucap Liu Xingsheng.
"Apa kau tidak cemburu melihat istri kecilmu ini di goda?!" tanya Xiao Nuan kesal.
Liu Xingsheng tertawa mendengar pertanyaan dari Xiao Nuan di tambah wajahnya sangat kesal seperti itu. "Sedikit." jawab Liu Xingsheng mengekspresikan dengan jari.
"Lagian aku cemburu juga gak guna, kamu sendiri tahu milik siapa." ujar Liu Xingsheng tersenyum kecil.
Xiao Nuan menghela nafasnya, suaminya ini benar-benar sudah percaya pada rubah. "Aku masih heran kenapa kamu bisa jatuh cinta sama aku!"
"Itu sangat sederhana."
"Terserah kamu saja." sela Xiao Nuan lalu menatap ke arah lain. Liu Xingsheng meraih dagu istrinya lalu tersenyum hangat, wajahnya sangat cerah.
"Kamu kesal? Jatuh cinta padamu sangat sederhana karena aku juga gak tau kenapa bisa mencintaimu bahkan sisi burukmu juga."
Xiao Nuan mendadak salah tingkah dan segera melepaskan tangan Liu Xingsheng di dagunya. "Aku wanita ke berapa?"
"Apanya?"
"Yang kau goda?"
"Pertama dan terakhir."
"Pembohong."
"An'er, aku tahu wanita adalah makhluk paling sulit di taklukkan di alam semesta ini. Maka dari itu aku mohon jangan membuat masalah yang di akhiri kamu kesal sendiri."
Xiao Nuan melipat tangan di dada, bisa-bisanya Liu Xingsheng mengatakan hal tersebut. Memang tujuannya hanya untuk membuat masalah dengan bertanya seperti itu.
"Aku juga bingung kenapa tidak ada masalah denganmu seakan hari-hariku sepi."
"Aku gak masalah tapi kamu sendiri yang buat masalah kamu juga yang marah. Itu membuatku kebingungan harus apa?!"
Xiao Nuan menggeleng kepala pelan, kaku sekali suaminya ini sampai unek-unek dalam hati pun ia katakan tanpa malu. Di luar sana bahkan ada yang sampai ke dukun agar bisa memahami hati kekasihnya tanpa bertanya.
Melihat kelakuan Liu Xingsheng Xiao Nuan tidak habis pikir. "Dulu aku memang ingin kekasih tapi tidak yang spontan seperti dia." gumam Xiao Nuan pelan sekali.
"Kamu bicara apa sayang?"
Xiao Nuan menggeleng kepala dan tersenyum.
"Gak ada hanya ini ada sesuatu yang terlupakan." tungkas Xiao Nuan.
__ADS_1