
"Aku cukup heran kenapa Yan menolak, sedangkan beberapa waktu lalu menunjukan hasil baik?!"
"Tubuh Liu Xingseng terlalu lemah Yan tidak ingin bersatu."
"Lalu waktu itu?"
"Itu nona yang memberikan setengah dari energi mantra untuk membuat Liu Xingseng tetap hidup." sahut Ho Hien.
Niu Mayleen sangat tidak bisa mengerti apa yang di inginkan oleh Xiao Nuan. "Tujuanmu sebenarnya apa?"
"Membawa kepala raja iblis untuk persembahan neraka."
Niu Mayleen terkekeh geli, "Disaat serius kamu masih bisa bercanda?!" tanya Niu Mayleen.
"Aku serius, kamu mungkin sudah sadar dari dulu tentang diriku." ujar Xiao Nuan.
Mereka terdiam, Niu Mayleen dan Ho Hien memang merasakan jiwa berbeda dari tubuh Xiao Nuan. Namun mereka tidak yakin karena Xiao Nuan adalah master tinggi.
"Energi tubuh asli ini sangat lemah bahkan melawan beberapa prajurit kerajaan akan membuat energi dalam menurun drastis."
"Benar memang, aku bisa merasakannya saat pertama bertemu dengan nona."
Herannya, Niu Mayleen tidak merasa apapun karena dia pemburu monster bukan penjelajah spiritual. teknik beladiri yang dirinya miliki tidak jauh berbeda dengan Liu Xingseng sebelum memiliki Yan di tubuhnya.
"Aku akan menunggu sampai kekuatan dia pulih,"
"Itu memakan waktu cukup lama." balas Niu Mayleen.
Xiao Nuan mengetahui itu maka dari itu ia menyiapkan beberapa rencana. "Energi spiritual bisa diambil dari roh abadi."
"Jadi aku ingin kalian berdua mencari roh abadi untukku." sambung Xiao Nuan.
"Hah? Kemana mencari roh abadi?"
Xiao Nuan memberikan sebuah peta berisi tempat-tempat yang ada roh abadi.
"Tidak usah khawatir, aku akan menyuruh Leng untuk menemani kalian."
Mereka mengangguk setuju lalu segera pergi dari sana, sedangkan Xiao Nuan masih memikirkan hal lain. Selepas itu ia keluar dan menghirup udara dalam dalam.
***
Setelah perjalanan, Xiao Nuan kembali ke rumah. Ia mengendap-endap karena takut di ketahui oleh Liu Xingseng.
Tanpa sengaja bertemu pelayan-pelayan kepercayaan Liu Xingseng hal itu membuatnya panik dan segera bersembunyi.
"Enak sih kalau gak ada mata lain Liu Xingseng." gumam Xiao Nuan.
"Sedang apa kamu berdiri di semak-semak." Seketika itu tubuh Xiao Nuan terperanjat kaget dan jatuh.
Ia memutar kepala melihat siapa yang bertanya, ternyata Liu Xingseng. Tidak hanya itu ada beberapa teman dan pengawal bersama dirinya.
"Sial." lirih Xiao Nuan.
Liu Xingseng ingin membantu namun melihat Xiao Nuan berdiri tergesa-gesa membuatnya mengurungkan niat itu.
"Apa? Ngapain juga kamu ngagetin orang."
Liu Xingseng mengerutkan dahi, "Kamu bertingkah seperti maling yang bersembunyi memang salah aku bertanya."
Xiao Nuan mengangkat sudut bibirnya kesal, "Udah tau nanya, emang kamu ngapain sih di paviliun aku?!" sarkas Xiao Nuan.
Yang berada di sana hanya membisu karena Xiao Nuan tidak memandang tinggi Liu Xingseng dengan cara membentaknya.
"Aku ada beberapa pertemuan dan mereka juga membawa istri dan selir, untuk membuat pertemuan tidak bosan akan mengadakan jamuan teh lotus di taman nanti."
Xiao Nuan memutar mata, ia kesal karena Liu Xingseng tahu betul dirinya malas berada di keramaian mengapa masih mengatakan hal tersebut di depan banyak orang biar dirinya tidak bisa menolak.
"Iya aku datang nanti, setelah moodku baik." jawab Xiao Nuan lalu membungkuk pergi, ya sedikit menghormatinya sebagai suami bukan.
***
Setelah masuk ke paviliun, Xiao Nuan mengomel banyak. Mengapa ada pertemuan dadakan dan banyak istri dan selir teman Liu Xingseng yang datang.
"Apa dia sengaja melakukan hal itu."
Xiao Nuan terlalu pusing hingga membaringkan tubuhnya di atas lantai dekat ranjang, "Apa kabur lagi?" pikir Xiao Nuan karena merasa terkurung.
Tiba-tiba sesosok muncul di hadapan Xiao Nuan membuatnya terkejut karena sedang melamun. Ia melihat sosok itu langsung memberi hormat.
Xiao Nuan menyuruh sosok itu untuk bangun, "Hamba memberi laporan untuk nona besar." Xiao Nuan memintanya untuk melapor apa yang terjadi.
"Kediaman komandan Zhan sudah memulai strategi awal. Kemungkinan akan di lakukan tepat saat pertemuan para wanita bangsawan."
__ADS_1
"Hari ini?"
Ia mengangguk tegas, ternyata selama beberapa tahun baru ada pergerakan dari musuh-musuh ini. "Ini terlalu lama. Apa kamu tidak melihat strategi selama 4 tahun terakhir."
Mata-mata itu mengangguk, "Komandan Zhan menjadikan kediaman pangeran Liu sebagai target terakhir. Mereka sudah menyingkirkan semuanya sekarang keluarga pangeran Liu menjadi titik terberat dari politik ini."
"Manusia memang sangat haus akan sesuatu yang ada di dunia ini." gumam Xiao Nuan.
Mata-mata itu mengundurkan diri lalu menghilang dalam hitungan detik, Xiao Nuan merasa heran kenapa titik terakhirnya berada di pangeran Liu.
"Kali ini mereka berkolaborasi begitu besar, aku sangat ingin tahu apa yang akan kaisar lakukan."
Di sisi lain Liu Xingseng sedang berada di ruang baca bersama pelayan pribadinya, mereka sedang berdiskusi permasalahan politik dan perang yang semakin keruh.
"Kaisar sepertinya sengaja membuat tuan pergi berperang."
"Benar, tapi dia juga takut karena tuan berperang selalu bisa menimbulkan pemberontakan nantinya karena pasukan kita yang cukup kuat."
Liu Xingseng hanya diam memegang kuas di atas tinta, ia merasa bingung karena tidak pernah ada yang menyinggung dirinya di istana tentang politik.
"Penasehat, apa kamu merasa kalau di istana seperti sedang merencanakan sesuatu." ungkap Liu Xingseng.
Penasehat pun mengangguk, "Beberapa tahun ini, tuan terlalu fokus berperang sehingga tidak ada yang berani menyinggung tentang kedudukan politik anda."
"Namun, saya merasa itu tidak benar karena beberapa kali saya melihat para menteri mencoba untuk menggeser kedudukan politik anda dengan bebagai cara. Hasilnya pun tidak tergeser tanpa tuan melakukan apapun.
Pikiran Liu Xingseng semakin dalam, ia mengingat setiap orang-orang yang ia tanam di politik tidak pernah melakukan hal besar namun seharusnya masalah menteri yang menyerang ia pasti tahu.
Sampai detik ini ia hanya menerima kabar yang tidak penting dari orang-orangnya, merasa seperti ada orang lain yang mengendalikan kedudukan politik dirinya di istana.
"Penasehat, sekarang aku tugaskan kamu untuk mengawasi setiap orang yang berhubungan dengan politik istana. Kali ini masalahnya lebih rumit dari peperangan."
Penasehat mengangguk patuh lalu mengundurkan diri, mereka pun bubar hanya menyisakan pengawal pribadi Liu Xingseng yang berjaga di luar.
Dirinya merasa di kontrol oleh orang lain, tapi ia tidak tahu siapa itu. "Kali ini dia salah ngontrol orang."
****
Hatchih ....
Pelayan pribadi segera menghampiri Xiao Nuan dengan panik. "Nona, apa anda merasa tidak enak badan? Apa perlu saya panggilkan tabib."
Xiao Nuan mengangkat tangannya tanda tidak perlu, ia mengusap hidungnya. Dalam hati mengatakan siapa yang berani ngumpat padanya.
"Hanya debu biasa,"
Pelayan melaporkan kalau persiapan sudah selesai karena banyak orang utusan istana kekaisaran untuk membantu acara besar ini. Xiao Nuan merasa hal tidak enak akan hal itu.
Karena dugaannya pasti benar, Xiao Nuan harus menyiapkan beberapa rencana untuk antisipasi akan hal yang tak di inginkan.
Karena Ho Hien tidak berada di sini, ia harus melakukan semuanya sendiri. Di perbatasan antara hutan belantara dan perkotaan Ho Hien bersama Niu Mayleen terus berjalan tanpa henti.
Mereka ingin mencari roh abadi, tapi petunjuk dari Xiao Nuan sangatlah minim. Niu Mayleen kelelahan ia meminta Ho Hien untuk beristirahat sebentar di sebuah pondok.
Sampai di pondok tersebut mereka berdua cukup tertarik karena tempat ini bukan pondok biasa melainkan sebuah tempat peristirahatan orang-orang yang melakukan perjalanan luar kota.
Setiba di sana pelayan langsung menyambut ramah Ho Hien dan Niu Mayleen. Tanpa di minta mereka menyajikan minum dan beberapa cemilan.
"Ada pesanan khusus?" tanya pelayan dengan wajah ramah. Seketika Niu Mayleen mengerti ternyata pondok ini tempat transaksi informasi sisi gelap kerajaan-kerajaan.
Dari mimik wajah pelayan dan orang sekitar membuat Niu Mayleen cukup terkejut, "Kami hanya singgah untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan lagi."
"Apa yang tuan dan nona tuju."
"Kami sedang mencari roh abadi." jawab Niu Mayleen santai. Berbeda dengan Ho Hien sangat terkejut sehingga menoleh ke arah Niu Mayleen ia terkejut karena ucapan barusan.
"Setelah sekian lama, ternyata masih ada orang yang percaya roh abadi itu ada." kekeh pelayan tersebut. Ho Hien merasa kalau orang di hadapan mereka bukanlah pelayan sembarangan.
"Betul, aku juga berpikir demikian tapi berbeda dengan tuanku. Ia yakin roh abadi masih tersisa di dunia ini." ucap Niu Mayleen sembari menyicipi minuman.
"Saya ada informasi sedikit tentang roh abadi, sebelum itu perkenalkan saya adalah Jiu Hu pemilik pondok kecil ini."
"Pemilik? Sungguh sangat tersanjung bisa di layani oleh pemiliknya langsung."
"Tuan jangan menghina, ini pondok kecil akan memerlukan banyak dana jika saya memperkejakan banyak orang."
"Tuan pondok sangat rendah hati, tempat ini begitu ramai sekali." sindir Ho Hien dengan sinis. Jiu Hu terkekeh lalu meminta maaf karena tempat terpencil ini tidak begitu banyak pendatang setiap hari.
"Langsung pada intinya, tadi kami bilang tahu tentang roh abadi."
Jiu Hu mengambil sesuatu dari balik bajunya, mengeluarkan sebuah kertas kecil lalu memberikannya pada Ho Hien.
"Hanya ini petunjuk yang tersisa itupun kalau kalian bisa mendapatnya."
"Aku yakin ini tidak gratis." balas Ho Hien tajam.
__ADS_1
Jiu Hu tertawa ia langsung mengubah mimik wajah menjadi serius. "Berapa uang yang kami butuhkan?!" tanya Ho Hien ketus.
"Nona terlalu sungkan, saya tidak tertarik dengan uang. Tapi jika di ijinkan saya ingin tahu seperti apa orang yang menginginkan barang langka yang sudah punah ini."
Niu Mayleen menaruh cangkir perlahan, "Nanti jika barang langka ini sudah di dapatkan aku akan membawamu untuk bertemu tuanku."
Setelah mengatakan itu ia menarik tangan Ho Hien untuk pergi dari tempat itu, dengan hati kesal Ho Hien pergi padahal ingin sekali ia mengatakan banyak hal tentang ketidak sopanan tuan pondok tadi.
Selepas pergi Jiu Hu memberi isyarat pada bawahannya untuk mengikuti Ho Hien dan Niu Mayleen, "Meridianku hampir hancur ketika ingin mengambilnya, kita lihat apa kalian bisa mengambilnya atau tidak."
****
2 Minggu berlalu
Xiao Nuan mendapatkan surat dari burung, ia tersenyum puas saat membaca tulisan singkat di sana. Berhubung Liu Xingseng sedang pergi ke area perbatasan untuk hal mendesak.
Ia memejamkan matanya seketika badannya terbagi menjadi dua. "Ini sudah cukup untuk mengelabui mata mata suamiku." kata Xiao Nuan dengan licik.
Ia langsung bergegas pergi dari kediaman untuk menyusul pengirim surat. Tak lain adalah Niu Mayleen akhirnya setelah 3 Minggu mereka menemukan tempat keberadaan roh abadi itu.
Karena perintah Xiao Nuan adalah menemukan barang langka itu jadi mereka tidak bisa mendekati roh abadi.
Karena kultivasi Xiao Nuan sudah membaik ia hanya butuh waktu 4 hari untuk menemukan keberadaan bawahannya dan roh abadi. "Sangat memuaskan!" ucap Xiao Nuan puas saat melihat Niu Mayleen dan Ho Hien sedang duduk tak jauh dari tempat roh abadi.
"Nona!"
Ho Hien memeluk tubuh Xiao Nuan erat, ia begitu rindu dan khawatir jauh dari Xiao Nuan. "Kamu tidak bilang kalau roh abadi adalah sebuah persik merah." ucap Ho Hien.
Niu Mayleen setuju dengan ucapannya, mereka pikir roh abadi itu semacam hewan atau bentuk yang sakral. Ternyata sebuah tanaman yang berbuah, "Bodoh, jika makhluk hidup kalian tidak akan pernah bisa menemukannya."
Xiao Nuan merasakan pembatas kuat diantara tanaman dan dunia luar. Memang pantas di sebut roh abadi, bahkan tanaman di sekitarnya pun memiliki spiritual yang kental efek dari pertumbuhan buah ini.
Xiao Nuan merapallan beberapa kata lalu berjalan masuk melewati pembatas spiritual yang sangat kuat ketika lebih dekat dengan buah itu. Tanaman ini berbuah ratusan tahun lalu tapi tidak jatuh atau busuk malah menyerap banyak energi spiritual yang menyerangnya.
Tiba-tiba tekanan kuat menuju ke arahnya, beruntung Xiao Nuan sudah persiapan sejak tadi itu membuatnya tidak terkejut. Tanpa basa-basi ia mengeluarkan pedang roh dan mulai menyentuh tanaman yang menghalanginya.
Suara ledakan cukup kuat membuat Ho Hien dan Niu Mayleen terkejut. Mereka ingin melihat namun itu hanya bisa membuatnya terluka dan akan merepotkan Xiao Nuan nantinya.
"Tuan kalian memang kuat." kata seseorang dari arah samping. Seketika mereka menoleh ternyata itu Jiu Hu. Dengan sangat tidak ramah Ho Hien menyambutnya hingga membuat Jiu Hu terkekeh.
"Ternyata dugaan selama ini tidak bohong, kau memang bukan manusia biasa." sindir Ho Hien.
"Dan aku tidak punya urusan dengan rubah pecundang seperti dirimu." timpal Jiu Hu.
Naik pitam Ho Hien ingin menyerang Jiu Hu namun di halangi oleh Niu Mayleen. "Dia hanya penasaran, yang terpenting adalah melindungi nona." ujar Niu Mayleen.
Jika mereka menyerang Jiu Hu yang belum mereka tahu sudah level mana, takutnya akan menguras tenaga dan membuat kesalahan nantinya.
Dentuman keras terdengar membuat mereka memegang telinga dan dada, karena kekuatan spiritual besar menyebar ke wilayah lain. Jiu Hu terkekeh lalu meremehkan Xiao Nuan yang berada di dalam.
"Tuan kalian sudah kalah, energi spiritual tual yang menyebar itu bertanda kalau roh abadi menambah satu energi baru setelah beberapa tahun."
Kesal meremehkan tuannya, Ho Hien menyerang Jiu Hu dengan segala titik. Dan kalian tidak percaya jika Jiu Hu hanya membutuhkan waktu menit untuk membuat Ho Hien terpental kesakitan.
"Karena tuan kalian sudah mati, maka kalian juga harus menjadi makanan roh abadi." ucap Jiu Hu dengan mata yang penuh dendam.
Niu Mayleen menghindari serangan dari bawahan Jiu Hu yang tiba-tiba datang lalu menyerangnya. Ia menyeret tubuh Ho Hien ke tempat aman sebelum akhinya menahan serangan.
Bawahan Jiu Hu masih bisa di tangani, namun ketika Niu Mayleen berhadapan langsung dengan Jiu Hu tenaganya sudah berkurang. "Matilah!" Jiu Hu langsung menyerang Niu Mayleen menggunakan pedang.
Duarrrr.
"Beraninya menyentuh orangku?!"
Jiu Hu terpukul mundur orang kekuatan Xiao Nuan. Ia menatap ke arah lain dan melihat seorang wanita berpakaian merah yang tak lain adalah Xiao Nuan.
"Kau!"
Xiao Nuan mengangkat tangannya lalu mengibaskan dengan cepat membuat sebuah serangan yang langsung merobohkan Jiu Hu. "Tidak ada yang mengijinkan mu untuk bicara." tungkas Xiao Nuan tajam.
Jiu Hu yang terluka mengangkat kepala ia ingin lihat dengan jelas wanita yang mengalahkan dirinya. "Nona, kamu baik-baik saja?" tanya Ho Hien dengan kondisi yang terluka.
Melihat luka di perut Ho Hien, tanpa basa-basi ia langsung mengangkat tubuh Jiu Hu dengan kekuatan. "Bahkan seekor rubah pun masih ingin kau tumbalkan?" tanya Xiao Nuan.
"Siapa kau?"
"Bajingan seperti dirimu tidak perlu tahu siapa aku." jawab Xiao Nuan dan langsung menyerang Jiu Hu dengan pukulan keras. Tubuhnya terpental jauh dan memuntahkan darah.
"Petapa jalur iblis sepertimu harus mati." kata Xiao Nuan mengangkat pedangnya. Ia tidak bisa jika mengampuni pria di hadapannya.
Jiu Hu terkejut karena identitasnya di ketahui oleh Xiao Nuan. Hal tersebut membuatnya semakin penasaran dengan siapakan dirinya berhadapan.
Di detik-detik Jiu Hu sekarat oleh pedang Xiao Nuan yang tertancap di dadanya ia mengatakan sesuatu. "Aku rela mati di tanganmu, tapi aku yakin kamu akan mati di tangan suamimu."
__ADS_1
Lalu tubuh Jiu Hu berbuah menjadi api dan terbang tertiup angin.