
Xiao Nuan terkejut ia kembali dari lamunannya. Liu Xingsheng menyentuh tangan Xiao Nuan, ia melamun sejak di persilahkan duduk oleh kaisar.
"Kau mengganggu!" lirih Xiao Nuan.
Kaisar meminta para pelayan untuk menyajikan makanan malam ini. "Adik, kamu membuatku khawatir karena kembali pulanh secara tiba-tiba."
"Maaf, aku khawatir karena istriku pergi waktu itu." jawab Liu Xingsheng. Sedangkan sang istri yang mereka maksud memasang wajah tidak berdosa dan terkesan tidak peduli.
"Adik, apa yang membuatmu pergi?" tanya kaisar.
Xiao Nuan diam lalu menjawab, "Aku mendengar ibuku masih hidup." jawab Xiao Nuan dengan santai bahkan terlihat tatapan kaisar yang tidak menyukai Xiao Nuan.
"Bukannya ibumu sudah lama meninggal?" tanya lagi kaisar seakan tidak puas dengan jawaban Xiao Nuan.
"Aku pikir begitu, tapi kabar yang aku dapatkan sangat mirip dengan ibuku yang di sekap." Xiao Nuan mengalihkan pandangannya ke pangeran Yun Taen.
"Memang keparat, siapa yang mengirim kabar itu?" tanya kaisar geram.
Xiao Nuan hanya tersenyum. "Yang mulia jangan khawatir, saya sudah membereskan orang yang memberikan berita palsu." ucap Xiao Nuan.
"Adik, syukurlah istrimu bisa kembali dengan selamat." Liu Xingsheng mengangguk ia menceritakan banyak kejadian yang membuat mereka harus di luar negri Yuoyui selama beberapa bulan.
"Aku dengar kamu terluka parah."
Liu Xingsheng membenarkan ucapan kaisar.
"Beruntung istriku bisa dalam mengobatan. Jadi tidak terlalu parah."
"Baiklah, aku akan meminta tabib istana untuk mengecek lebih lanjut besok."
"Terima kasih."
Xiao Nuan duduk meminum teh dengan wajah acuh tak acuh, hal itu membuatnya menjadi perhatian putra mahkota dan pangeran Yun Taen.
"Adik Wang, apa kamu tidak terluka?" tanya ratu mencari topik. Xiao Nuan menggeleng kepala. "Hamba baik-baik saja."
Putra mahkota terus memerhatikan Xiao Nuan, ia seakan curiga akan sesuatu. "Selama kepergian kalian, banyak kerajaan tetangga mengalami hal sulit salah satunya kerajaan merah. Ratu mereka menghilang secara misterius."
"Benar, aku takut kalian kenapa-kenapa. Banyak rumor beredar kalau ada pendekar wanita yang memiliki hati kejam bahkan tidak segan untuk menghancurkan satu negri.'
Liu Xingsheng melirik Xiao Nuan dengan senyum miring. Ia tahu itu perbuatan isterinya, "Kami tidak mendengar apapun, karena berada di tengah hutan."
"Sudah, sekarang kalian sudah kembali. Sangat bersyukur pada dewa yang menyelamatkan kalian hingga sampai ke rumah." Liu Xingsheng mengangguk.
Mereka terlibat pembicaraan panjang, sampai Xiao Nuan pamit untuk jalan-jalan karena merasa sesak. Sekarang Xiao Nuan sedang melihat beberapa prajurit yang berjaga.
"Bibi Wang, sepertinya anda sedang memikirkan sesuatu hingga tidak fokus di dalam.
Xiao Nuan melirik ternyata putra mahkota.
"Tidak, hanya saja negri ini menjadi asing bukan begitu, putra mahkota."
Putra mahkota terkekeh, "Bibi Wang anda bisa saja. Di sini sama mungkin perasaan bibi yang telah meninggalkan jauh tempat ini." balas Liu Xingsheng.
Xiao Nuan mengangguk, ia mengatakan kalau dirinya dan Liu Xingsheng bertengkar sebelum kembali. "Sepertinya rasa nyaman bibi sudah tidak berada di negri Yuoyui."
"Benar sekali putra mahkota, di sini terlalu banyak orang bermuka dua untuk mendapatkan perhatian." sindir Xiao Nuan.
"Hahaha, bibi Wang kamu terlalu jeli melihat hal seperti itu." ujar putra mahkota.
Xiao Nuan hanya diam, bagaimana tidak jeli memang terlihat jelas tanpa perlu dirinya perhatikan bukan begitu. Xiao Nuan berdiri menatap langit yang berbeda dengan langit di hutan.
Perlahan ia membuka cadarnya.
"Bibi Wang, wajahmu sangat cantik kenapa kau menutupinya?" Xiao Nuan melihat cadar yang ada di genggaman. ia hanya berkata lirih yang membuat putra mahkota terdiam
"Seberapa cantik diriku ini, aku tidak bisa mengembalikan orang yang ingin aku temui selama hidupku ini."
"Siapa yang ingin bibi temui?"
"Ibuku!"
Putra mahkota berpikir, kenapa Xiao Nuan ingin sekali bertemu dengan ibunya. Bukankah detik-detik terakhirnya Xiao Nuan bersama dengan ibunya.
"Yang telah pergi tidak mungkin kembali."
"Karena itu, aku harus membuat sama pada orang yang telah membuat ibuku pergi." Seketika putra mahkota terkejut karena kalimat terakhirnya sangat dingin.
"Siapa yang berani membuat ibumu pergi, bukankah kematiannya karena penyakit?" Xiao Nuan tersenyum tipis lalu menoleh ke arah putra mahkota.
"Iya, penyakit."
Xiao Nuan berjalan perlahan melewati beberapa taman bunga malam seperti ini selalu melihat bunga-bunga, kenapa tidak siang hari? Karena malam hari bunga ada yang layu dan berkembang.
"Apa bibi menyukai bunga yang di tanam oleh ibu ratu?"
Xiao Nuan berjongkok, "Tentu bunga ini sangat cantik, siapa yang menolak jika di berikan bunga indah dan harum." Ucapan Xiao Nuan bukan sekedar ucapan.
Putra mahkota mengerutkan dahi karena arti dari ucapannya sungguh tertuju pada siapa. "Pangeran Yun Taen, jika kamu melihat dari kejauhan akan ada penjaga yang memergoki." kata Xiao Nuan.
Putra mahkota melihat ke sekeliling kenapa Xiao Nuan berbicara tentang adiknya. "Bibi Wang, indramu sungguh hebat bahkan aku dalam jarak jauh pun bisa di ketahui."
Xiao Nuan bangun lalu menatap dua putra kaisar. Jika berniat balas dendam ia mampu membuat mereka berdua mengambang di sungai buatan.
"Tentu, parfum yang pangeran Yun Taen kenakan membuatku hapal dalam jarak jauh."
Pangeran Yun Taen tertawa. "Bibi, kamu bisa saja." mereka terkekeh Xiao Nuan memegang setangkai bunga yang ia petik dari taman.
"Ini Krisan putih, kenapa bisa menjadi merah?" tanya putra mahkota bingung karena bagian bawah bunga berwarna merah.
"Jika anda penasaran, pangeran Yun Taen bisa jelaskan." ucap Xiao Nuan menatap pangeran Yun Taen dengan senyuman yang penuh arti.
"Krisan merah? Emmm aku tidak tahu kenapa bisa terjadi perubahan setelah di petik. Tapi ada pepatah mengatakan kalau Krisan putih yang suci berubah merah akan terjadi pertumpahan darah." gumam putra mahkota.
"Betul, putra mahkota anda memang hebat. Bukan begitu pangeran Yun Taen?" Beberapa kalimat mampu membuat pangeran Yun Taen terdiam mati kutu.
"Sudah, itu hanya bunga kenapa permasalahan sampai serius." kata putra mahkota karena melihat wajah pangeran Yun Taen berubah.
"Hahahah, benar sekali. Putra mahkota ini sudah malam aku harus kembali ke suamiku." ujar Xiao Nuan melihat ke arah mereka.
"Kami antar,"
Mereka kembali ke aula namun sebelum masuk sudah melihat Liu Xingsheng dan kaisar keluar dari aula. "Aku tadinya mau menyusul eh udah di sini." ucap Liu Xingsheng.
Xiao Nuan tersenyum kecil.
"Bibi Wang, semoga kami bisa menyempatkan waktu."
"Baik, aku akan berusaha." jawab Xiao Nuan tersenyum pada putra mahkota.
Mereka pergi setelah berpamitan. Kaisar menatap kereta yang menjauh. "Apa yang kalian lakukan?" tanya kaisar.
"Hanya mengajak bibi Wang untuk jalan-jalan besok."
"Jangan terlalu dekat."
"Kenapa?"
"Liu Xingsheng, sepertinya dia menginginkan tahta." ucapan kaisar membuat putra mahkota terdiam. Ia sedikit tidak percaya dengan ucapan ayahnya.
"Baik ayah."
__ADS_1
Kaisar pergi meninggalkan putra mahkota dan pangeran Yun Taen. "Apa kau percaya paman kaisar ingin tahta?" tanya putra mahkota.
Pangeran Yun Taen menggeleng.
"Sejauh ini tidak, kalaupun ia dari dulu sudah di dapatkan bukan begitu?" Putra mahkota mengangguk tapi tidak salah juga mengikuti perintah ayah kaisar.
***
"Kalian dari mana tadi?" tanya Liu Xingsheng saat di dalam kereta. Xiao Nuan menjawab hanya menikmati taman aula, Namun Liu Xingsheng terlihat tidak menyukai hal tersebut.
"Jangan terlalu dekat dengan mereka."
"Kenapa?"
"Tidak ada salahnya kamu menuruti apa kata suamimu sendiri." kata Liu Xingsheng.
Xiao Nuan yang menompang dagu menatap keluar pun membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Liu Xingsheng. Tapi ia terkejut karena ketika berbalik Liu Xingsheng sudah berada tepat di belakangnya.
Otomatis tubuh mereka saling berhadapan dan tidak ada jarak diantara mereka. "Kenapa kamu tidak mau menurut?" tanya Liu Xingsheng.
Xiao Nuan terbata menjawab pertanyaan dari Liu Xingsheng.
"Ya ... kenapa kamu juga selalu memerintah aku?!"
Liu Xingsheng menyudutkan Xiao Nuan, ia terus menanyakan kenapa Xiao Nuan selalu bertindak sendiri. Tidak pernah patuh dengan perkataannya.
"Aku akan jelaskan, tapi mundur dulu."
Liu Xingsheng malah membuat mereka tidak ada jarak apapun. Nafas Liu Xingsheng menerpa wajah Xiao Nuan, wajah istrinya sudah merah entah karena apa.
"Kita sudah legal dalam apapun, kenapa berbicara harus dengan serius?" Xiao Nuan menahan dada Liu Xingsheng agar tidak terus menyudutkan dirinya.
"Aku ... "
Tahu akan mendapat alasan lagi Liu Xingsheng membungkam mulut Xiao Nuan dengan ciuman lembut. Seketika tubuh Xiao Nuan menegang, ciuman? Ciuman pertama kali selama 22 tahun.
Tubuhnya terdiam tanpa reaksi sedangkan Liu Xingsheng merasa heran karena Xiao Nuan tidak bergerak. "Apa ini kurang?" tany Liu Xingsheng sengaja menggoda.
Bukannya menjawab Xiao Nuan malah pingsan. "Hah? Tidak sadarkan diri?" tanya Liu Xingsheng pada dirinya sendiri. Ia menyandarkan Xiao Nuan pada pundaknya.
Sampai di kediaman pelayan menyambut mereka, tapi mata mereka tak sengaja melihat Liu Xingsheng yang menggendong Xiao Nuan.
Bahkan mereka terkejut karena Liu Xingsheng membawa Xiao Nuan ke kamarnya. "Sepertinya hubungan tuan dan nyonya semakin baik."
"Semoga."
Di dalam Liu Xingsheng menaruh Xiao Nuan di ranjang dengan hati-hati. Liu Xingsheng menyentuh dahi Xiao Nuan dan terkekeh.
"Ciumanku mengandung racun hingga membuatmu demam." gumam Liu Xingsheng.
Esok pagi
Xiao Nuan bangun merasa tubuhnya tidak enak, kepalanya pusing dan terasa hangat. "Demammu baru turun, jangan dulu bangun." kata Liu Xingsheng.
Xiao Nuan melihat ke samping, ternyata Liu Xingsheng sedang tiduran dengan mata terpejam. Xiao Nuan ingin memarahi namu. Liu Xingsheng keburu mengatakan hal lain.
"Marah hanya akan membuatmu semakin pusing."
Xiao Nuan membenarkan memang seperti itu. "Tapi untuk apa kamu berada di kamarku?" tanya Xiao Nuan.
"Kamarmu?"
Xiao Nuan menatap sekeliling, ranjang dan tata letak barang di sini sangat berbeda dan juga ruangan yang sangat luas. "Ah? Kenapa gak bawa ke kamarku saja?" tanya Xiao Nuan.
"Semalam tiba-tiba pingsan, dengan tubuhmu ini aku harus membawa ke kamarmu yang jauh?"
Xiao Nuan mengumam kesal. Liu Xingsheng menarik Xiao Nuan untuk kembali tiduran. "Istirahat yang cukup, jangan sungkan aku suamimu!"
Xiao Nuan berontak namun dengan cepat ia di peluk oleh Liu Xingsheng membuatnya tidak bisa bergerak. "Biarkan aku tidur, semalaman ini aku menjagamu!"
Xiao Nuan melemah ia tidak berontak lebih ke diam seperti patuh. "Apa semua ciuman pertama akan berakhir dengan demam?" ujar Liu Xingsheng.
"Aku gak bertanya semalam kamu, aku hanya bertanya apa semua ciuman pertama berakhir dengan demam?" Wajah Xiao Nuan semakin merah ia menatap Liu Xingsheng.
"Istirahat, nanti siang ada tabib."
...****...
Liu Xingsheng menatap wajah Xiao Nuan yang terlelap, kondisi kesehatan Xiao Nuan sedang kurang baik. Setelah mengatakan untuk istirahat tidak lama ia tidur.
"Sangat cantik, andai izinkan aku buat selalu di sampingmu sampai kapanpun." kata Liu Xingsheng.
Ia bangun dari tempat tidur memeluk Xiao Nuan saat tidur membuatnya nyaman, tapi ia harus menyiapkan makanan dan obat untuk Xiao Nuan.
Tidak lama tabib datang, ia memeriksa Xiao Nuan. "Yang mulia, permaisuri anda terlalu banyak pikiran hingga membuatnya jatuh sakit."
"Tidak ada penyakit berbahaya?"
"Menjawab, tidak ada istirahat yang cukup dan minum obat secara teratur akan mengembalikan staminanya." Tak lama tabib pamit pergi.
Liu Xingsheng menaruh semangkuk sup nasi dan air minum. "An'Er, bangun makan dulu." kata Liu Xingsheng menepuk lengan Xiao Nuan pelan.
Merasa terganggu, Xiao Nuan membuka mata perlahan. "Aku masih pusing." Liu Xingsheng membantu Xiao Nuan duduk karena ia berusaha bangun.
"Makan dulu, ini sudah lewat siang." Liu Xingsheng menyodorkan sendok berisi sup nasi. Xiao Nuan menolak ia mengatakan bisa makan sendiri.
"Buka mulut!"
Xiao Nuan mengangguk lalu memakan sup nasi dari suapan suami. "Biasanya di suapin bibi, sekarang kok berasa aneh di suapin suami."
Hanya beberapa sendok Xiao Nuan menolak lagi karena perutnya terasa begah. "Minum obat, ini akan mempercepat proses penyembuhan."
Xiao Nuan mengangguk lagi.
"Ini sangat pahit." gumam Xiao Nuan saat satu sendok obat masuk ke mulutnya.
Masih ada satu mangkok obat yang belum ia habiskan. "Sini jangan sedikit-sedikit pahit sekali." kata Xiao Nuan mengambil mangkuk obat.
Ia meneguk habis satu mangkok obat tersebut. Lalu memberikannya pada Liu Xingsheng, "Sekarang kembali istirahat, "
"Tadi kau mengganggu sekarang menyuruh istirahat, aku kalau bangun gak bisa tidur lagi."
Liu Xingsheng menarik selimut sampai dada Xiao Nuan. "Kamu sedang sakit, tentang keras kepalamu bisa kau lanjutkan kalau sudah sembuh."
Xiao Nuan langsung bungkam mendengar ucapan Liu Xingsheng. "Ini jam berapa?" tanya Xiao Nuan.
Liu Xingsheng menatap ke luar.
"Sekitar menjelang sore." jawab Liu Xingsheng.
Melihat raut wajah Xiao Nuan, Liu Xingsheng menawarkan sesuatu. "Nanti aku ajak jalan-jalan untuk menghirup udara segar."
Xiao Nuan mengangguk, "Berapa lama aku pingsan semalam?" Liu Xingsheng tersenyum geli mendengar pertanyaan yang ini. Ia menaruh mangkuk di meja sebelum menjawab.
Karena semalam Xiao Nuan demam tinggi membuatnya tidak sadar hingga meracau tidak jelas. Liu Xingsheng sempat berpikir karena beberapa kali Xiao Nuan memanggil nama 'Kakek ... kakek ...'
Liu Xingsheng meminta Feng untuk menyelidiki siapa kakek Xiao Nuan. Karena marga Wang hanya ada satu yaitu Xiao Nuan sendiri.
Sedangkan ia di besarkan di keluarga Wu tentu saja mereka tidak ada hubungan. Bahkan kakek Wu sudah lama meninggal dunia, "Semalam kamu meracau karena demam."
Xiao Nuan terkejut ia menatap Liu Xingsheng. "Apa aku mengatakan hal bodoh?" Liu Xingsheng menggeleng kepala tanda tidak.
"Hanya saja beberapa kali kamu memaki suamimu sendiri, sepertinya ciuman kemarin membuatmu mabuk." ujar Liu Xingsheng.
Xiao Nuan menahan semu merah di wajah, ia malu karena ketahuan grogi gara-gara ciuman pertama. "Aku sangat bersyukur kalau ciuman pertamamu untukku!"
__ADS_1
"Bukan untukmu tapi kau merebutnya."
"Kamu permaisuriku, tentu saja apa milikmu harus menjadi milikku." Kata Liu Xingsheng membuat Xiao Nuan berpikiran hal lain.
Melihat ekspresi Xiao Nuan yang tambah memerah Liu Xingsheng mengatakan hal lain. "Sudah berpikir mesumnya nanti, sekarang demammu belum sembuh."
Xiao Nuan bersiap memukul Liu Xingsheng dengan bantal namun terlambat karena Liu Xingsheng menangkap tangannya. "Kamu sakit jangan macam-macam."
"Kamu duluan yang buat ulah!"
Liu Xingsheng terkekeh lalu menidurkan Xiao Nuan, ia memasangkan selimut dengan benar, melihat hal tersebut Xiao Nuan malah berpikir lain.
"Aku akan melakukannya setelah kamu sembuh." lirih Liu Xingsheng.
Seketika Xiao Nuan terkejut hingga tidak sadar bangun lagi. "Aku sehat." katanya.
Liu Xingsheng tertawa terbahak-bahak.
"Sayang, ternyata kamu memang sangat ingin aku sentuh."
Merasa dirinya salah berucap Xiao Nuan melarat ucapannya. "Maksudku demamku semakin tinggi lebih baik kamu keluar." Melihat kegugupan Xiao Nuan, Liu Xingsheng malah tertawa.
***
Liu Xingsheng menepati janjinya untuk membawa Xiao Nuan jalan-jalan. Mereka sekarang berdiri di dekat bukit yang memperlihatkan indahnya ibukota Yuoyui.
Xiao Nuan duduk bersandar ke punggung Liu Xingsheng. "Kenapa ke sini?" tanya Liu Xingsheng bingung.
"Lalu kamu membawaku kemana? Pasar? Sama saja membuatku semakin pusing." balas Xiao Nuan.
Liu Xingsheng terkekeh geli, ternyata jika bukan mode serius. Xiao Nuan nampak seperti gadis pada umumnya. Manis dan ceria, "Aku akan membelikan makanan untukmu."
Xiao Nuan menoleh lalu mengangguk perlahan.
"Kamu jangan kemana-mana!" Xiao Nuan mengatakan tidak akan di sini menunggu.
Setelah Liu Xingsheng pergi Xiao Nuan duduk termangu di sana. Ia menata ibukota dengan perasaan yang aneh, "Tubuhku lemah, sepertinya aku terlalu memikirkan Liu Xingsheng dan Lien Hua."
Gaun merah serta aksesoris merah membuat Xiao Nuan terlihat mencolok. "Hai gadis," sama seorang pria. Xiao Nuan tidak menanggapi seolah menulikan telinganya.
"Sombong sekali."
Pindah Xiao Nuan di sentuh seketika Xiao Nuan langsung menyerang pria tersebut. "Wah ternyata bukan gadis biasa." ucap pria tersebut langsung di sambut gelak tawa.
Mereka ingin membawa Xiao Nuan namun dengan gesit ia mengelak dan melawan mereka. "****, aku harus kabur.", Xiao Nuan berlari dari sana hingga tidak sadar hiasan rambut jatuh.
Pria-pria itu berlari mengejar Xiao Nuan hingga menginjak jepit Xiao Nuan sampai patah. Energi tubuh tidak serabi Xiao Nuan tidak ingin menggunakan sihir yang beresiko untuk tubuhnya.
Ia berlari sampai merasa kalau jalan ini menuju hutan. Tidak ada cara lagi Xiao Nuan berlari ke dalam hutan, "Ck, aku lupa membawa Leng."
"Mau kemana? Ini hutan."
"Jangan mendekat."
Xiao Nuan merasa dadanya tiba-tiba sakit bahkan sesak hingga terjatuh. "Jangan mendekat.", Karena melihat pria-pria itu terus mendekat Xiao Nuan terpaksa mengeluarkan sihirnya.
Pria-pria itu terpental karena sihir yang di keluarkan Xiao Nuan sangatlah besar. Dengan menahan sakit di dada Xiao Nuan mengarahkan serangan yang besar.
Semuanya terpental karena serangan Xiao Nuan, ia berdiri dengan lemas. "Ini membuatku kesakitan.", tubuh Xiao Nuan seketika ambruk tersungkur.
***
Xiao Nuan membuka mata, ia tidak bisa menggerakkan tangannya karena di ikat. Bahkan kakinya juga sama, "****, kenapa bisa seperti ini."
Xiao Nuan ingin menggunakan energi roh untuk melepaskan tali tapi baru memfokuskan dadanya sakit seperti tertikam pedang. "Aku lupa telah mengeluarkan energi di hutan."
Tiba-tiba ada yang masuk, Xiao Nuan berpura-pura pingsan dan belum sadarkan diri. "Dimana kamu mendapatkan dia?"
"Di tengah hutan, sepertinya dia telah di kalahkan seseorang."
"Memangnya kenapa?"
"Di sekitarnya banyak mayat dan hanya dia yang masih hidup."
"Buka cadarnya!"
"Tidak bisa, aku sudah berusaha mengguntingnya. Kayaknya dia bukan wanita sembarangan."
"Maksudmu."
"Tubuhnya terluka parah tapi dia masih hidup."
"Oh tadi tabib bilang kalau energi rohnya bocor, seperti memang dia terluka karena terlalu memaksakan diri."
"Entahlah, tunggu master besar saja."
Mereka keluar dari kamar tersebut. Xiao Nuan langsung berusaha untuk melepaskan diri karena ini bukan tempat benar. "Sial, ikatannya sangat kuat!"
Xiao Nuan mencoba untuk melepaskan ikat kaki, dan hasilnya berhasil. Ia mencari celah lalu melihat ke arah jendela. Xiao Nuan mundur lalu membuka jendela.
Dengan tangan di ikat ke belakang sangat sulit hi Xiao Nuan untuk kabur. "Ini di tengah hutan. Tempat itu seperti perdagangan wanita."
Xiao Nuan terus berlari ke dalam hutan. Sedangkan pria tadi kembali dan terkejut karena wanita yang ia bawa telah pergi. Ia segera meminta bantuan temannya.
"Ayo cari sebelum jauh."
Xiao Nuan berlari tanpa arah, tujuannya sekarang adalah berlari sejauh mungkin karena mereka banyak sedangkan Xiao Nuan sendirian.
Di sela larinya Xiao Nuan menatap ke atas, ia melihat ini sudah sangat malam. "Semoga berhasil.", Xiao Nuan memejamkan matanya dan mencoba melompat ke atas.
Berhasil, Xiao Nuan Nuan berlari di udara setidaknya dia bisa kabur lebih cepat di bandingkan lari di atas tanah. Merasa sudah cukup jauh Xiao Nuan turun tepat di atas sungai.
"Tenagaku!" gumam Xiao Nuan.
Ia mencari baru tajam untuk membuka ikatan tangannya. "Nona, sepertinya anda dalam kesulitan." ucapan tersebut membuat Xiao Nuan terkejut bukan main.
"Siapa kamu?" bentak Xiao Nuan mundur.
Seorang pria berkuda turun. "Aku melihatmu turun dengan tergesa-gesa. Sepertinya kamu di kejar sesuatu." Xiao Nuan memerhatikan pria itu yang berdiri tepat di bawah pohon.
Pria itu melemparkan belati karena melihat Xiao Nuan kesulitan membuka tali. Xiao Nuan membukanya dengan belati tudak butuh lama tangannya terbebas.
"Nona, tanganmu terluka." Xiao Nuan melihat memang ada beberapa goresan di tangan dan lengannya belum bekas ikatan yang ia paksa lepas.
"Aku baik-baik saja, terimakasih untuk belati aku pinjam dulu." Xiao Nuan langsung melompat dan pergi lagi. Ia harus menemukan Liu Xingsheng.
Karena berada jauh dari tempat sebelumnya Xiao Nuan berdiri kebingungan. "Tidak ada ingatan apapun dari tubuh Ini sebelumnya!" gumam Xiao Nuan.
Hanya bergantung pada ingatan Alcie dulu mungkin mereka akan selamat. Tapi Alcie dulu tidak pernah kemana-mana hingga ingatan tentang hal seperti ini tidak ada.
Karena kelelahan dan energi yang terluka Xiao Nuan terduduk lemas di bawah pohon. "Demam karena hal kemarin mempengaruhi energiku."
Xiao Nuan kelelahan hingga mencoba istirahat sebentar. Namun ia mendengar derap langkah kuda hingga membuatnya bangun, "Nona, larimu sangatlah cepat."
Xiao Nuan mengenali suara ini. "Tuan apa kau mengejarku karena belati?" tanya Xiao Nuan.
Pria itu mengatakan tidak. "Aku hanya ingin membantumu. Kau berasal dari mana?" tanya pria itu turun dari kuda.
Xiao Nuan tertegun karena pria itu terlihat misterius dengan rambut putih seperti Liu Xingsheng yang jiwa rohnya bangkit. "Aku berasal dari ibukota Yuoyui."
Pria di hadapannya mengerutkan dahi.
"Nona, apa anda tahu, ini adalah kerajaan Xili. Yuoyui sangat jauh dari sini."
__ADS_1
Xiao Nuan langsung meminta arah jalan menuju kerajaan Yuoyui. "Aku akan memberitahu tapi apa nona yakin akan kembali denha keadaan seperti ini."
Banyak luka, tubuh lemah, kelelahan, demam yang kembali naik. Xiao Nuan menatap tubuhnya sendiri. "Tapi aku harus kembali ke Yuoyui secepatnya."