
Pangeran Cheng Fengyin datang ke kediaman Xiao Nuan. Terlihat wajahnya lebih panik. "Pangeran ada apa?" tanya Xiao Nuan.
"Aku tidak tahu apa yang membuat ratu marah, tapi sekarang sangat berbahaya untuk tinggal di istana."
"Lalu?"
"Aku akan membantumu keluar dari sini." Xiao Nuan bangun dari duduknya ia menghampiri pangeran Cheng Fengyin.
"Pangeran, tidak usah khawatir aku akan bicara dengan ratu." Xiao Nuan langsung keluar dari kediaman.
Ia tersenyum tipis selama perjalanan, beberapa pelayan yang melewati Xiao Nuan menunduk ketakutan. Sepertinya semua orang berada di istana mendapatkan imbasnya.
Xiao Nuan menunggu di luar.
"Yang mulia ratu agung, nona Xiao ingin menemui anda."
Dari dalam ratu memintanya masuk. Langkah Xiao Nuan saat ini sangat keras bagaimana tidak dengan keberanian penuh ia mendatangi kediaman ratu yang sangat aneh.
"Nona Xiao, ada apa menemuiku."
Xiao Nuan memberi hormat, dalam hati memaki ratu agung dengan benci. "Bahkan kau buta, apa seperti ini ratu siluman rubah."
"Aku dengar suasana hati yang mulia, sedang buruk." ucap Xiao Nuan.
Ratu menatapnya dengan tajam, di istana ini tidak ada yang berani bertanya apapun ketika dirinya marah. Bahkan mereka terkesan seperti menghindari.
"Nona Xiao, sepertinya kamu mempunyai hal baik untuk mengubah suasana hatiku." balas ratu agung.
"Tentu, bagaimana bisa aku membiarkan Anda terlarut dalam suasana hati buruk."
Akhirnya ratu membawa Xiao Nuan untuk jalan-jalan sampai mereka berhenti di paviliun depan sungai kecil. "Yang mulia, aku punya teh lotus merah. Ini sangat baik untuk mengubah mood."
Ratu mempersilahkan, Xiao Nuan menyajikan teh tersebut lalu mereka berbincang sebentar. "Kedatangan kali ini, Xiao pamit pada ratu."
"Kenapa? Apa istanaku tidak nyaman?"
"Xiao akan berkunjung lagi, saat ini ada bisnis keluarga yang harus Xiao tangani." Ratu terdiam saat bertemu pertama kali ratu menginginkan darah dan jantung Xiao Nuan.
Makanya ia menyebar sihir hipnotis, namun ia juga heran kenapa Xiao Nuan tidak kenapa-kenapa. Ratu berpikir kalau ini semua karena air roh yang menghilang.
Sekarang memang saat yang bagus untuk menerkam Xiao Nuan tapi energi rubah yang dimiliki ratu sedang tidak stabil. Karena permasalahan kemarin.
Secara brutal juga ia membunuh kepercayaan yang telah memberikannya jantung hewan. "Yang mulia, Xiao akan berkunjung minggu depan."
Ratu terlihat setuju, Xiao Nuan tersenyum namun memiliki arti berbeda.
"Kalau begitu yang mulia, Xiao undur diri."
Xiao Nuan meninggalkan ratu agung setelah salam hormat. Ratu terlihat melihat Xiao Nuan sampai menghilang rasa laparnya sangat besar tapi akan ada resiko jika bergerak sekarang.
***
"Nona Xiao, apa kamu akan meninggalkan istana?"
Xiao Nuan menoleh lalu tersenyum, "Pangeran, sejak awal aku hanya tamu sudah lama aku tinggal di sini." ucap Xiao Nuan.
Pangeran terlihat sedih saat mengetahui Xiao Nuan akan pergi. "Aku akan berkunjung lagi secepatnya." kata Xiao Nuan menghibur pangeran Cheng Fengyin.
"Baiklah, aku juga tidak bisa memaksamu."
"Baik pangeran."
Pangeran menatap sendu.
"Aku mengenalnya kurang dari 3 minggu, tapi sangat sulit menerima kalau dia akan pergi. Ayolah Cheng Fengyin sejak kapan kamu seperti ini dengan wanita." pikir pangeran.
Xiao Nuan merapihkan diri lalu memakai cadarnya. "Pangeran, aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa hubungi saja tuan Heng." Setelah mengatakan itu Xiao Nuan langsung pergi.
Ia akan menunggu hal baik dari kejauhan. Ia menuju jalan ramai ibukota. Saat sedang berjalan Xiao Nuan tidak sengaja menemui seseorang.
"Ternyata Lien Hua tidak mempercayai kita."
"Sudah kuduga." sahut Yan.
"Kemana saja kalian, aku sendirian sejak kemarin." kata Xiao Nuan marah.
Yan dan Leng hanya menggumam. "Kami hibernasi karena air roh kemarin membuat kita merasa kekenyangan." jawab Leng. Xiao Nuan merasa mereka berdua tidak hibernasi.
"Itu adalah pengawal tingkat tinggi suruhan Lien Hua." Yan dan Leng tahu karena dari aromanya sangat kuat.
Xiao Nuan berdiri tepat di toko perhiasan. "Rasanya aku ingin mengerjainya." kata Xiao Nuan. Ia segera masuk lalu membeli perhiasan.
Karena pengawal itu melihat dari jauh tentu saja tidak begitu jelas. Xiao Nuan masuk ke toko pakaian ia sengaja mengganti pakaian lalu memakai perhiasan baru.
"Sangat tidak nyaman, tapi ini lebih baik jika mengerjai dia." ujar Xiao Nuan menyematkan jepit rambut di sanggul.
"Hanfu, yang kalian pilih kenapa warna ini." ucap Xiao Nuan berjalan keluar dari toko pakaian.
"Kami tahu kalau kamu membenci baju nuansa feminim."
"Bukan benci, tapi kurang menyukainya." balas Xiao Nuan. Kenapa dua binatang ini sangat seenaknya jika melakukan sesuatu.
"Lihatlah, dia masih diam dekat toko itu. Mungkin menyangka kalau kita belum keluar." tawa Leng.
Xiao Nuan hanya menggeleng kepala lalu mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju penginapan tempat kelompok bulan kembar tinggal.
"Lily merah, akhirnya kita menemukan anda." ucap tetua ketika bertemu di depan toko penggandaian.
Xiao Nuan menghela nafas lega karena sebelumnya ia telah memakai cadar lagi, "Kenapa kalian mencariku?" tanya Xiao Nuan berjalan.
"Pekerjaan kita sudah selesai, kita akan kembali."
Xiao Nuan baru ingat ia telah berjanji untuk pulang bersama. "Maaf, aku ada urusan selama beberapa hari ini." Tetua memakluminya lalu bertanya.
"Lily merah, anda ingin pulang sekarang?" Xiao Nuan mengangguk.
"Tujuan kita searah,"
Mereka pun menuju kereta, Xiao Nuan beruntung karena di hormati oleh kelompok bulan kembar. Walaupun kelompok ini kecil namun semua orang sangat takut.
Bulan kembar, adalah nama untuk kelompok ini yang berarti ia akan membunuh tanpa memandang bulu. Banyak korban sebelum bertemu dengannya.
Memang sangat rumit jika di jelaskan, mereka bertemu tidak sengaja saat kelompok ini ingin di netralkan oleh negerinya. Xiao Nuan membantu mereka untuk berontak.
Lagipula kelompok bulan kembar tidak menyakiti orang, mereka hanya bekerja dengan pekerjaan kotor seperti menagih hutang dan membunuh.
Bagi Xiao Nuan pekerjaan itu memang kotor tapi mereka juga punya alasan sendiri kenapa memilih jalan ini. "Lily merah, sekarang tujuan anda kemana?"
Xiao Nuan yang sedang memainkan ekor Leng terkejut. "Negri hitam.", Seketika kelompok bulan kembar terkejut bagaimana bisa Xiao Nuan menembus perisai yang di buat oleh negri itu.
__ADS_1
"Lily merah, tapi sangat mustahil."
Hanya sebuah trik bagi Xiao Nuan bisa menembus perisai itu dulu. Tapi ia tidak tahu sekarang seperti apa ketebalan negri hitam.
"Tetua, apa kau memiliki info dari negeri Yuoyui?" tanya Xiao Nuan. Tetua yang sedang menunggang kuda pun berpikir sejenak.
"Kalau tidak salah, ada pria yang sedang mencari istrinya sampai ke negri sebrang. Menurut banyak orang pria itu seorang pendekar hebat."
Xiao Nuan mengerutkan dahi, "Seorang pria mencari istrinya?" lirih Xiao Nuan. Mata Xiao Nuan langsung terbelalak jangan-jangan Liu Xingsheng.
"Sekarang pria itu dimana?" tanya Xiao Nuan.
"Entahlah, kami tidak begitu mendengarkan hal seperti itu. Yang jelas selama beberapa bulan dia banyak mengalami hal sulit karena mencari istrinya. Sangat buruk sekali."
Xiao Nuan tiba-tiba kepikiran ia takut kalau pria itu adalah suaminya. Sebelum pergi ia meninggalkan sebuah surat singkat agar suaminya mengerti dan tidak mencarinya.
"*Yan, apa aku harus kembali ke Yuoyui?"
^^^"Itu terserah kamu."^^^
"Ya! Aku juga butuh rekomendasi kalian!"
^^^"Dewi master, kami adalah peliharaanmu. Kemanapun tujuanmu itu akan jadi tujuan kita." Jawab Leng*.^^^
Xiao Nuan mengangguk samar namun urusannya dengan monster mutasi Lien Hua belum selesai, jadi bagaimana bisa ia bertemu dengan suaminya.
"Lupakanlah, lagipula suamiku tidak akan mengejarku sampai ke negri hitam."
Yan mengumam pelan. "Belum tentu, lagipula dia memiliki ilmu tinggi." Xiao Nuan mengabaikan ucapan Yan lagipula ia telah menutupi identitasnya.
Selama 2 hari mereka melakukan perjalanan tanpa lelah, Xiao Nuan meminta untuk istirahat. "Kita akan segera sampai di negri hitam."
Xiao Nuan menoleh lalu kembali fokus pada air di hadapannya. "Kalian memang kuda, apa tidak lelah?" tanya Xiao Nuan kesal. Walaupun dia hanya duduk di kereta tapi sangat kelelahan.
"Ini pekerjaan kami sejak beberapa tahun, tentu sangat terbiasa." ujar anak buah kelompok bulan kembar.
Xiao Nuan menggeleng kepala, benar saja mereka memiliki julukan aneh. "Terserah, aku lelah ingin berendam.", Seketika itu kelompok bulan kembar langsung bubar.
Mereka tahu Xiao Nuan seorang wanita dan sangat menghargai dirinya. Mereka malu jika harus melihat nona baik hati ini sedang mandi.
Xiao Nuan merasa air ini sangat murni. "Airnya murni sekali." Yan keluar dari tempat bersembunyi.
"Ini adalah tempat para binatang roh mensucikan diri." ujar Yan. Xiao Nuan melempar batu ke arah Yan.
"Aku sedang mandi, kau keluar begitu saja!" Leng ikut keluar mereka terlihat malu melihat Xiao Nuan berada di dalam air dalam keadaan memakai pakaian tipis.
"Jangan melihat ke arahku!" bentak Xiao Nuan.
Leng dan Yan membalikan badannya mereka meminum air namun membelakangi Xiao Nuan. "Pakaian feminim membuatku seperti gadis lemah."
"Itu bagus, karena memang kau seorang gadis."
"Statusku istri orang."
Xiao Nuan kembali memakai hanfu tadi setelah mandi, ia memakai cadar dan bercermin ke air yang jernih. "Kekuatan roh sangat bagus untuk kulit."
"Ada yang lebih bagus."
Xiao Nuan menarik Yan dan Leng masuk kembali.
"Itu adalah buah roh suci yang ada di halaman Lien Hua." kata Leng melanjutkan ucapan Yan.
"Buah roh suci?"
Yan mengatakan sesuatu. "Buah itu berbuah sekali dalam 1000 tahun, buah itu membuat iblis menjadi kuat dan tetap di umur muda selamanya."
"Lupakan saja, kau tidak akan bisa mengambil buah itu."
"Memang siapa yang ingin mengambil."
"Ck, pasti kau ingin mencuri."
"Bukan lebih tepatnya meminta diam-diam." Yan dan Leng mencibir sinis. Bisa-bisanya Xiao Nuan memiliki ide gila tentang pencurian buah suci.
"Lien Hua menjaganya dengan kekuatan iblis, tidak bisa di tembus oleh apapun. Jika itu jiwa manusia maka akan memperkuat pelindung."
Xiao Nuan malah semakin penasaran ia berencana untuk melakukan hal gila. "*Yan, apa kau benar mengambil jiwa? Dia sepertinya sudah gila!"
^^^"Berdoa saja agar kita selamat tanpa ketahuan oleh Lien Hua" sahut Yan.^^^
Ucapan Yan menandakan kalau Xiao Nuan berbicara bukan hanya omong kosong saja. Leng merasakan energi besar ketika berkeliling ke tempat Lien Hua.
Sayangnya Xiao Nuan tidak akan mendengar ucapan siapapun bahkan sangat mustahil bagi mereka melarang Xiao Nuan. "Kalian semua, kita berpisah di sini saja. Aku tahu pekerjaan kalian banyak."
"Nona Lily, tapi kami sudah berjanji."
Xiao Nuan terkekeh,
"Aku bisa jaga diri. Lain kali kalau ada apa-apa beritahu aku." Xiao Nuan langsung melompat terbang, karena sudah lama tidak mengasah ilmunya.
Beberapa saat kemudian ia sudah merasa jauh, "Keluarlah, aku tahu kau di sini." seru Xiao Nuan.
Suara tawa dan seseorang keluar. "Ternyata ilmu nona Xiao semakin baik." Xiao Nuan menatap malas pria di hadapannya.
"Tuan agung, kenapa anda berkeliaran jauh?" tanya Xiao Nuan.
Ternyata ia merasa di ikuti oleh seseorang. Benar saja Lien Hua mengikuti Xiao Nuan dari semenjak berpisah dengan kelompok bulan kembar.
"Nona Xiao Xiao, aku tidak menyangka kamu memiliki hubungan baik dengan klan bulan kembar."
Xiao Nuan hanya menatap datar lalu berbalik malas meladeni Lien Hua. "Sudahlah, aku tahu apa yang mau kau bicarakan. aku yakin pengawalmu sudah bercerita."
Lien Hua tersenyum aneh,
"Waw, kamu mengetahui pengawalku mengikutimu?" Lien Hua bertepuk tangan.
Xiao Nuan menghentikan langkahnya. "Tuan agung, sesuai namamu harusnya kau bermartabat." kata Xiao Nuan dingin.
Merasa dirinya di jatuhkan Lien Hua menyerang Xiao Nuan, dengan lincah Xiao Nuan menghindar. "Kau belum puas dengan hasilku?"
"Tentu puas, hanya ingin melihat kemampuanmu."
Lien Hua menggunakan kekuatan iblis untuk menyerang Xiao Nuan bertubi-tubi. Xiao Nuan mengeluarkan pedang suci, ia menangkis sekian banyak serangan.
"Sangat kuat."
Lien Hua memberikan serangan besar, Xiao Nuan tidak di beri kesempatan untuk bereaksi. Secepat mungkin Xiao Nuan mengelak alhasil serangan mengenai bahunya.
"Ternyata mempunyai titik kelemahan." kata Lien Hua.
Xiao Nuan memegang lukanya, ternyata Lien Hua berniat menyingkirkan Xiao Nuan. "Terima kasih karena telah membuat siluman itu runtuh."
Xiao Nuan berdiri. "Runtuh, Dia adalah siluman 1000 tahun tidak mungkin kalah begitu saja." teh yang di berikan Xiao Nuan pada ratu agung siluman memang memiliki efek besar.
__ADS_1
Di sana Xiao Nuan memberikan sedikit racun membuat tubuh siluman rubah melemah bukan runtuh. Karena beberapa hari lalu Xiao Nuan telah menggantikan makanannya tentu hal itu membuat siluman rubah terjatuh.
Xiao Nuan sengaja pergi untuk melihat hasilnya, ternyata Lien Hua orang pertama yang mengetahui jika siluman rubah telah jatuh ke bawah energinya.
"Lagipula sekarang siluman itu bukan tandinganku. Sekarang dia jauh di bawah." ucap Lien Hua sombong.
Xiao Nuan pelan-pelan melepaskan Leng dari tempat persembunyiannya. Ia berdiri tegak dan tersenyum datar ke arah Lien Hua.
"Kamu hanya gadis lemah, dengan kekuatanku sekarang. Kamu hanya akan menjadi abu."
Xiao Nuan memang tahu kalau Lien Hua menjadikannya sebagai kambing hitam. Ia juga merasakan aura siluman rubah, tindakannya telah di ketahui tentu saja bukan hal baik.
"Cerdas, itu pujianku untukmu. Tapi kita lihat saja. " Xiao Nuan merapalkan mantra tiba-tiba Siluman rubah datang dengan aura yang kental.
"Sialan, kau yang telah membuatku seperti ini."
Xiao Nuan menatap kedua musuhnya, kalau di lawan sendirian ia akan kalah. "Aku hanya menuruti perintah dari tuanku." Xiao Nuan menatap Lien Hua.
Siluman rubah ikut menatap Lien Hua. "Aku tidak memiliki dendam apapun pada kalian. Kenapa mengganggu ku?" bentak siluman rubah.
"Tunggu, aku memilih perjalanan selama 1 minggu agar sampai di sini. Kamu? Dalam beberapa jam sudah sampai." ucap Xiao Nuan pada siluman rubah.
"Karena aku mengikuti batu yang sengaja ku kirimkan pada orang yang telah menghancurkan lingkarannya." Xiao Nuan tersenyum miring.
Tatapannya berubah dingin, wajahnya menjadi serius. Perlahan ia menghampiri siluman rubah. "Indra penciumanmu sangat tajam bukan, sekarang apa kau mencium batu itu?"
Siluman rubah terdiam namun penciumannya menangkap dari Lien Hua. Ia segera mengeluarkan serangan, Lien Hua berharap jika serangan itu untuk Xiao Nuan.
DUARRRRR
Siluman rubah mengeluarkan serangan besar pada Lien Hua, beruntung Lien Hua segera terlampaui. "Makhluk sialan, kenapa menyerang ku!"
"Kau, semua ini salah kau. Batu kehidupanku mengarah padamu!" Siluman rubah mengeluarkan banyak serangan bahkan tidak sedikit Lien Hua hampir terkena.
Xiao Nuan tersenyum senang, akhirnya dia bisa memanipulasi semuanya. Tadi dia di serang sampai terluka sekarang ia melihat Lien Hua di serang berutal oleh siluman rubah.
Sebelum pertarungan.
Xiao Nuan merasakan ada energi rubah mendekat, ia tahu rencananya telah di ketahui oleh ratu itu. Ketika Lien Hua menyerang terus-menerus. Dengan sedikit trik Leng. Mereka berhasil menaburkan bau yang akan mendatangkan batu kehidupan.
Batu itu pengunjuk dari para siluman rubah, batu tidak pernah salah bahkan ia selalu menangkap orang yang berani melakukan kejahatan pada rubah siluman.
Bubuk teh dan senjata penghancur lingkaran sudar di leburkan, Leng terbang untuk menaburkan secara perlahan pada Lien Hua. Sangat licik namun Xiao Nuan sangat senang.
Sekarang siluman rubah meminjam kekuatan raja iblis, untuk membalas perbuatan seseorang yang membuatnya hancur. "Lien Hua, maksudku tuan agung. Kau terlalu naif karena percaya akan kemenangan fana."
Lien Hua menatap Xiao Nuan marah, "Wanita sialan,". Lien Hua mengeluarkan kekuatan sebenarnya untuk melawan siluman rubah.
Lien Hua tahu kalau kekuatan siluman rubah bertambah karena meminjam kekuatan raja iblis. Ia tidak bisa meremehkan kekuatan pinjaman ini.
Sekarang level mereka sama, sulit mengalahkan siluman rubah. Xiao Nuan pergi meninggalkan Lien Hua yang bertarung dengan siluman rubah.
Ia menuju kediaman Lien Hua, untuk apa? Ia ingin buah roh suci. Karena Yan mengatakan itu sangat bagus tentu jiwa Alcie sang pembunuh bayaran bangun kembali.
"Kau sangat nekat." kata Yan.
Xiao Nuan melompat turun dari Leng, ia langsung masuk ke kediaman Lien Hua. "Ada di kamar sebelah barat," Yan membantu Xiao Nuan.
Xiao Nuan tersenyum bahagia melihat buah yang bercahaya. Pohon sangat kecil namun buahnya bersinar seperti matahari. "Sulit untuk mengambilnya, kau harus menembus labirin yang di bentuk Lien Hua."
"Labirin!"
Xiao Nuan menyentuh ternyata benar labirin ini menyerap energi siapapun yang menyentuhnya. "Kau tahu apa lawan benda yang selalu menyerap?"
"Tidak, aku tidak tahu."
Xiao Nuan tersenyum, "Ada 4. Melebur, menyembur, tenggelam dan tabur." Yan tidak mengerti karena Xiao Nuan membahas hal seperti ini bagaikan barang.
Xiao Nuan melemparkan kipas sihir, seketika buah suci jatuh. "Lihatlah labirin melemah." Jadi ia menciptakan sihir tersebut dari penguapan air suci dan meleburkan racun.
Jadi sihir itu tidak bisa di serap labirin dan mampu menurunkan kadar penyerapan. "Saat ini hanya menggunakan pedang suci."
Trrraaaassss
Labirin tersebut langsung pecah, Xiao Nuan mengambil buah tersebut ia berpikir buah ceri. "Ini buah roh yang paling berharga di seluruh tanah carta."
Xiao Nuan malah meledek. "Buah roh? Kenapa seperti buah ceri." Xiao Nuan ingin keluar dan pergi namun serangan dadakan membuatnya terpental ke luar.
"Sialan."
Ternyata Lien Hua, dia sudah menang melawan siluman rubah. "Wanita brengsek, kau memanipulasi seakan semuanya adalah salahku."
Xiao Nuan tertawa, ia memegang dadanya yang terkena serangan tersebut. "Lien Hua, bukannya kamu menyuruhku untuk memusnahkan pemimpin negri merah?"
"Itu benar, tapi bukan berarti aku harus turun tangan."
"Lien Hua, seharusnya kamu berterimakasih padaku." Xiao Nuan menatap Lien Hua tajam.
Ingatan Lien Hua kembali ke masalalu, ia mengingat tatapan ini dari seorang wanita yang begitu kejam. Wanita itu datang untuk menggagalkan meditasi namun karena Lien Hua sudah hampir selesai.
Wanita itu kabur dengan luka parah, ketika ingin mengejar ada seorang pria yang menghadangnya dengan burung dewa legenda. Kekuatannya memang bukan main.
Lien Hua dan pria tersebut berkelahi secara brutal dan sadis, sampai akhirnya Lien Hua berhasil memenggal kepalanya. Namun sayang wanita yang tadi berusaha mengganggunya telah jauh.
Ingatan Lien Hua kembali ke masa sekarang, Xiao Nuan. Dia sama seperti wanita itu lalu cara bela dirinya sama dengan pria yang telah ia penggal.
"Siapa kau, Kenapa kesayanganmu membuatku repot?"
Xiao Nuan mengeluarkan buah suci. "Aku tertarik dengan ini.", Lien Hua menggertak gigi ia akan marah besar.
"Beraninya tangan kotormu mengambil buahku!" Xiao Nuan tertawa kencang ia mengelap darah yang keluar dari pinggir bibirnya.
"Lien Hua kau sangat bodoh!"
Setelah mengatakan itu Xiao Nuan langsung melarikan diri. Karena Xiao Nuan telah mengambil sesuatu milik Lien Hua maka sebelum Lien Hua mendapatkan potongan kepala Xiao Nuan ia akan terus mengejarnya.
Xiao Nuan melihat ke belakang, ternyata Lien Hua mengejarnya. Bahkan ia merusak apapun yang mengahalangi jalannya. Xiao Nuan tersenyum dingin.
"Akhirnya aku merasakan situasi seperti dulu lagi." ucap Xiao Nuan dengan semangat.
Lien Hua menyerang Xiao Nuan, namun bakat dulu yang ia miliki sangat berguna. Setelah mengelak ia kembali berlari dari kejaran Lien Hua.
"AKAN KU BUNUH KAU!"
Bukannya ketakutan mendengar teriakan yang menggema seperti singa, Xiao Nuan malah semakin bersemangat. Ia malah memberikan serangan kecil membuat Lien Hua semakin marah.
Lien Hua mengepalkan tangan lalu mengeluarkan jurus yang aneh, serangan tersebut terus mengincar Xiao Nuan seperti rudal target.
Xiao Nuan turun ke tanah, ia meledakan serangan itu. "Berhenti? Kau memang ingin aku musnahkan." Xiao Nuan malah tertawa terbahak-bahak.
"Lien Hua, kau memang sangat bodoh!"
Lien Hua marah lalu menyerang Xiao Nuan. Seperti biasa Xiao Nuan menahannya dan kembali menyerang balik. Mereka bertarung sengit.
__ADS_1
Lien Hua mengeluarkan jurus baru, "Terimalah ini, badai pedang." ribuan pedang melayang dan mengarah ke Xiao Nuan. Kali ini Xiao Nuan tidak bisa mengelak, tubuhnya tidak bisa di kendalikan.
Sreett Srettt Duarrrrhhhhh