
Liu Xingsheng terbangun, yang pertama ia cari adalah Xiao Nuan karena sebelum tidur ia memeluk Xiao Nuan. Semalam mereka membicarakan hal penting.
Liu Xingsheng keluar dari kamar dan menanyai beberapa pelayan yang berada di luar ruangan. "Kemana dia?" gumam Liu Xingsheng.
Ia berjalan keluar paviliun mencari Xiao Nuan, namun tidak ada setelah beberapa saat ia berdiri tepat di depan paviliun Xiao Nuan. Pelayan yang sedang membersihkan tempat itu pun mengatakan kalau Xiao Nuan sudah pergi dari sini beberapa menit lalu.
"Kemana perginya dia?"
Terlihat jelas Liu Xingsheng sangat uring-uringan saat tidak melihat Xiao Nuan di sampingnya, tidak hanya itu ia juga bertanya pada beberapa pelayan yang lewat.
Lama mencari Liu Xingsheng terduduk di depan tanam, rasanya ia ingin menangis karena tidak menemukan madunya. "Tuan," panggil Feng shui.
Liu Xingsheng langsung menanyakan apakah Feng shui melihat Xiao Nuan. "Hamba tidak melihatnya," jawab Feng shui, Setelah mendengarkan itu.
Liu Xingsheng langsung pergi bahkan Feng shui yang ingin melaporkan juga hanya bisa ternganga heran. "Nona muda memberikan apa sehingga tuan jadi berbeda."
Liu Xingsheng berjalan kembali ke kediamannya, ia tidak sengaja mendengar suara air lalu melihat ke sumber suara. Ternyata Xiao Nuan berada di sana.
Merasa telah menemukan Xiao Nuan, Liu Xingsheng menghela nafas lalu tersenyum tipis. Berkeliling mencari istrinya padahal berada di tempat mandi miliknya.
Sadar sedang di perhatikan Xiao Nuan menatap ke arah Liu Xingsheng dengan wajah yang menggoda bahkan ia memainkan bibirnya dengan sengaja.
"Apa kamu sedang menggoda suamimu sendiri?" tanya Liu Xingsheng menghampiri Xiao Nuan yang sedang menggodok tubuhnya dengan lembut
"Salahkan dirimu tuan, karena sifatmu ternyata nakal." timpal Xiao Nuan terus mengusap badannya.
"Siapa yang kamu panggil nakal, permaisuriku?" tanya Liu Xingsheng perlahan berjalan ke arah Xiao Nuan.
"Nakal." ketus Xiao Nuan
"Aku tidak ...
"Barusan kamu mengintipku mandi, sayang." kali ini Xiao Nuan sangat berniat menggoda Liu Xingsheng bahkan ia meraih tangan Liu Xingsheng.
"Wah, ternyata kamu semakin baik." puji Liu Xingsheng menyentuh rambut Xiao Nuan yang harum.
Liu Xingsheng menyentuh lembut leher Xiao Nuan dengan jari telunjuknya. Mendapatkan respon berbeda tubuh Xiao Nuan merinding di tambah tatapan Liu Xingsheng.
"Lebih baik kau istirahat, aku segera menyelesaikan mandi." ucap Xiao Nuan karena merasa akan berbahaya jika Liu Xingsheng terus berada di sini.
Liu Xingsheng malah masuk ke dalam bak air hangat, Xiao Nuan terkesiap melihat kelakuan Liu Xingsheng yang menyambutnya. Sepertinya pikiran Xiao Nuan semakin liar hingga ingin mengusir Liu Xingsheng dari sana. "Keluar, aku akan segera selesai."
"Kenapa terburu-buru?" tanya Liu Xingsheng.
Xiao Nuan menggeleng, ia menutupi dadanya dengan kain. "Memang biasa bukan seorang ratu melayani raja di bak mandi?" tanya lagi Liu Xingsheng.
"Ya emang iya! Tapi kan kita bukan raja dan ratu!" sentak Xiao Nuan.
"Siapa yang bilang? Kamu? Kau kan ratu di kediaman ini tentu saja harus melayaniku!" kata Liu Xingsheng menarik kain yang sedang di pegang Xiao Nuan.
"Brengsek! Kau mesum!" bentak Xiao Nuan.
Liu Xingsheng menutup mulut Xiao Nuan karena suaranya sudah melebihi stereo. "Aku tau kau sangat senang aku temani, tapi jangan berteriak-teriak seperti itu nanti pelayan menyangka hal lain."
...'Bajingan, dia menggodaku terang-terangan!'...
...****...
Terdiam dengan wajah kesal Xiao Nuan membiarkan suaminya menyisir rambutnya dengan lembut. "Ikut menikmati tapi kesel udahnya?" tanya Liu Xingsheng.
"Lah, siapa yang duluan nyentuh?!"
Liu Xingsheng hanya terkekeh dan kembali menyisir rambut Xiao Nuan setelah airnya turun. "Jangan di tutupi, lagipula di kediaman ini mereka sudah tau milik siapa tanda itu."
Xiao Nuan menatap tajam Liu Xingsheng di pantulan cermin, sekarang ia sedang berusaha untuk menutupi tanda merah keunguan di lehernya.
Jangan tanya ulah siapa, kalian pasti tau siapa yang menciptakan tanda aneh seperti ini. "Wajahmu walaupun kesal tetap saja menarik." ucap Liu Xingsheng tanpa sadar.
"Hah? Kamu ngomong apa?"
Segera Liu Xingsheng menggeleng ia hanya asal bicara dan Xiao Nuan tidak usah pikirkan apa yang ia ucapkan barusan. "Aneh, bisa-bisanya aku menikah dengan pria seperti dirimu ini."
"Kenapa aneh, malah bagus loh."
"Heh! Apanya yang bagus!" ujar Xiao Nuan menatap Liu Xingsheng kesal.
"Di seluruh penjuru masyarakat perempuan kerajaan Yuoyui pasti menginginkan aku menjadi suami mereka." balas Liu Xingsheng dengan narsis akut.
Xiao Nuan mengangkat sudut bibir jijik. "Mungkin mereka semua gelap mata." gumam Xiao Nuan. Liu Xingsheng mendengarnya hanya mengulum senyum tipis.
Xiao Nuan masih fokus menutupi karya Liu Xingsheng, sedangkan sang suami sedang memasang aksesoris setelah menyanggul rambut panjang Xiao Nuan.
***
Xiao Nuan duduk bersama Liu Xingsheng di depan kolam. Mereka menikmati secangkir teh dan beberapa makanan ringan, terlihat mereka sibuk dengan urusan masing-masing.
Liu Xingsheng fokus melihat buku-buku penting sedangkan sang istri sibuk melihat seberapa tajam pisau buah yang ia pegang. "Hati-hati setumpul apapun pisau mereka bisa membuat lukai."
Xiao Nuan menoleh lalu tersenyum tanpa sadar. "Memang makanya aku suka dengan benda tajam." timpal Xiao Nuan dengan santai.
Feng shui dan Niu Mayleen berada di kejauhan hanya mengidik ngeri. "Sepertinya mereka bertukar jiwa." kata Feng shui tanpa sadar memegang bahu Niu Mayleen.
"Mungkin, aku belum lihat nona memainkan benda tajam seperti itu."
Mereka tersadar saling pegang. "Kenapa kamu memegang tanganku!" bentak Feng shui.
"Bodoh! Kau yang memegang duluan."
"Terus kenapa kau memegang balik?"
"Karena ... Karena kau lah!"
"Dasar aneh."
"Kau juga."
Mereka kesal lalu saling membelakangi seperti anak kecil berantem. Ho Hien datang merasa heran karena seperti ada pertengkaran yang terjadi barusan.
"Kenapa kalian?"
"Temanmu dia sangat genit!" jawab Feng shui.
"Hah? Kau tak percaya dia sangat manipulasi, Ho Hien."
Ho Hien mengerutkan dahi karena bingung, lagipula kenapa mereka mengatakan kebenaran padanya secara rinci. "Lalu yang kalian lakukan apa hubungannya denganku?"
__ADS_1
Seketika kedua pria itu terdiam, Niu Mayleen lupa kalau Ho Hien bukan manusia tentunya tidak punya hati dan sangat sulit untuk menjadi penengah.
"Wah, kamu sungguh tak punya hati nona Ho."
"Sudahlah, percuma kau mengatakan apapun padanya." ketus Niu Mayleen melirik Feng shui malas. Dan lebih malas lagi saat melihat wajah Feng shui yang sangat datar.
Liu Xingsheng menaruh buku lalu menatap istrinya yang telah mengubah kesehariannya, Sungguh aneh wanita di hadapannya memiliki banyak misteri bahkan sampai menjadi buah bibir masyarakat.
"Tujuanmu apa sih?" tanya Xiao Nuan tiba-tiba. Liu Xingsheng mengerutkan dahinya, Xiao Nuan menyingkirkan buku di meja menggunakan pisau.
"Apa?" tanya Liu Xingsheng bingung.
Xiao Nuan tersenyum miring sangat misterius dan sedikit psikopat. "Jauhkan pisau itu." ujar Liu Xingsheng saat melihat pisau bermain cukup dekat dengan wajahnya.
Terdengar dengusan kesal dari Xiao Nuan, ia melipat tangannya di depan dada lalu mengerucutkan bibirnya dengan kesal. "Bukannya kamu iblis peperangan, kenapa melihat pisau dekat saja seperti itu."
Liu Xingsheng menoleh lalu menatap pisau tajam dan kecil itu, "Bukan kulitku yang takut tersayat tapi kulitmu." ucap Liu Xingsheng mengambil pisau dari tangan Xiao Nuan.
Tangan Liu Xingsheng mengambil buku-buku lalu menaruhnya di tangan Xiao Nuan. "Buku-buku ini akan lebih berguna untukmu." Xiao Nuan tahu buku-buku ini tentang pengetahuan dan politik memang berguna tapi tidak menarik.
"Liu Xingsheng, aku melakukan apa yang menarik untukku!"
Liu Xingsheng mendengar suara melengking itu lantas mengangguk paham, ia sangat mengerti istrinya yang aneh ini. "Aku tahu, makanya aku diam."
Xiao Nuan hanya terkekeh saat mendengar jawaban dari Liu Xingsheng, seakan Liu Xingsheng tahu tentang Xiao Nuan lebih dalam.
"Jika kamu tahu duniaku yang sebenarnya, sudah di pastikan kamu akan tertarik." ujar Xiao Nuan
Seketika Liu Xingsheng memasang wajah tertarik mendengar ucapan dari Xiao Nuan. "Duniamu? Bukannya kamu terkenal dengan gadis pendiam bahkan di rundung habis-habisan pun tidak membalas apalagi melawan."
Xiao Nuan memutar bola matanya malas, tentu saja ia tidak membalas dulu yang berada di dalam tubuh ini bukanlah Xiao Nuan tapi Alcie.
"Kau hanya tahu itu, jadi diam saja." ujar Xiao Nuan beranjak dari duduk namun di tahan oleh Liu Xingsheng.
"Jangan marah, aku hanya bercanda."
"Aku tidak marah, hanya malas saja."
"Malas oleh apa? Kamu malas melihatku?" tanya Liu Xingsheng menunjuk dirinya sendiri.
Xiao Nuan melepaskan pegangan tangan Liu Xingsheng, "Iya, wajahmu membuatku malas juga mual." ketus Xiao Nuan lalu pergi dari sana.
Liu Xingsheng terkekeh geli melihat tingkah laku Xiao Nuan, namun sedikit bersyukur karena Xiao Nuan tidak sebrutal dahulu. Sayangnya Liu Xingsheng belum tahu siapa istrinya yang sebenarnya.
...***...
Xiao Nuan duduk di ranjang, dirinya sedang bermeditasi untuk melihat keadaan tenaga dalam dan mengontrol kekuatan Liu Xingsheng.
"Sepertinya penyatuan Yan dan Liu Xingsheng akan gagal, darah mereka tidak mau bersatu bahkan ini sudah beberapa bulan." gumam Xiao Nuan.
Leng tiba-tiba menghampiri Xiao Nuan lalu berkata, "Latar belakang kelahiran adalah penyebab mereka tidak bisa bersatu."
"Maksudmu?" Xiao Nuan menoleh.
"Bukan hanya hubungan darah, tapi kelahiran Liu Xingsheng tidak cocok. Harusnya kelahiranmu yang pantas."
Xiao Nuan terdiam beberapa saat lalu mengatakan hal aneh, "Masa karena beda kelahiran bisa menyebabkan penyatuan mereka gagal."
"Memang kamu harapkan apa?"
"Tetap saja dia tidak bisa lari dari kematian!"
"Yan adalah makhluk abadi dan suci, kenapa tidak bisa melindungi Liu Xingsheng."
Leng mendecih kesal. "Liu Xingsheng adalah manusia biasa, dia tidak sama dengan kamu apalagi kita?!" Xiao Nuan terdiam. Benar yang di katakan oleh Leng.
"Aku bukan manusia biasa?"
"Kau adalah keturunan raja dewa tentu saja bukan manusia, kenapa manjadi bodoh seperti ini."
Xiao Nuan kesal karena di Katai bodoh oleh seekor burung dewa. "Kalau aku keturunan dewa lalu kenapa gak bisa keluar dari dunia ini, Bego!"
"Karena ini dunia aslimu!" bentak Leng tak kalah keras.
"Dunia ku tidak sekulot ini! Tidak ada akses apapun termasuk internet apalagi gadget!" teriak Xiao Nuan.
"Ya sudah tidak usah tinggal di sini, sana pergi!"
"SIAPA JUGA YANG MAU TINGGAL DI TEMPAT SEPERTI INI? DASAR BURUNG SIALAN!" teriak Xiao Nuan mengeluarkan suara lebih tinggi.
Leng terbang di atas langit, "Harusnya kamu bersyukur bukan berontak! Tugasmu di sini jauh lebih besar dari pencarian orang yang melahirkan dirimu!"
Setelah mengatakan itu Leng terbang pergi menjauh. Xiao Nuan termenung setelahnya, ini kali pertama dirinya melihat Leng begitu kesal dan marah.
Hanya karena kelahiran mereka berdua menjadi ribut. "Tunggu, burung sialan itu bilang tugasku bukan mencari orangtuaku?" Xiao Nuan baru ingat kata-kata Leng setelah beberapa saat.
"Kalau begitu, apa tugas sebenarnya yang harus aku lakukan agar cepat selesai di dunia yang bukan tempat tinggalku ini?!" Xiao Nuan langsung berdiri dan berniat untuk mencari Leng meminta penjelasan.
Namun belum keluar kamar ia berhenti, "Tidak, Xiao Nuan kamu harus jaga harga diri. Masa harus deketin burung sialan itu duluan."
Xiao Nuan kembali duduk dan kasur dan bersemedi semoga segera sadar Leng dan kembali mengajaknya berbicara. Menstabilkan energi, emosi dan keseimbangan sangatlah sulit dalam keadaan marah.
***
Liu Xingsheng mendengar suara teriakkan yang cukup keras, ketika melihat ke depan paviliun milik Xiao Nuan. Banyak pelayan yang menunduk takut.
"Ada apa ini? Kenapa an'er teriak?"
Pelayan menggeleng kepala mereka tidak tahu apa-apa tiba-tiba saja Xiao Nuan teriak sekeras-kerasnya mereka juga sedikit ketakutan. "Kepala pelayan sudah masuk, namun tidak ada jawaban dan pintu tertutup rapat."
Liu Xingsheng langsung masuk dengan tergesa-gesa, ia membuka pintu kamar Xiao Nuan dengan paksa. Seketika menghela nafas melihat Xiao Nuan menutup matak dengan posisi duduk sila di bawah jendela.
"Kamu sedang apa?" tanya Liu Xingsheng pelan.
Ia menghampiri Xiao Nuan, bisa di lihat jelas jika Xiao Nuan sedang tertidur. "Apa yang membuatmu kesal sampai tertidur dengan posisi sangat marah?"
Setelah mengatakan itu Liu Xingsheng mengangkat Xiao Nuan ke atas ranjang, kenapa Liu Xingsheng bisa menebak Xiao Nuan sedang marah? Karena terlihat jelas dari kerutan di dahinya.
"Sangat sulit di tebak, tadi biasa saja dalam beberapa jam kau sudah berubah menjadi iblis."
"Jangan memakiku saat tidur." gumam Xiao Nuan menyahuti ucapan Liu Xingsheng.
Liu Xingsheng terkekeh lalu mengecup kening Xiao Nuan secara tiba-tiba, "Karena kamu sangat berbeda." ucap Liu Xingsheng terus memberi kecupan keseluruhan.
"Berhenti!" tahan Xiao Nuan saat melihat gerakan Liu Xingsheng ingin mencium bibirnya. Tangan Xiao Nuan menahan dada Liu Xingsheng.
"Kenapa?" tanya Liu Xingsheng bingung.
__ADS_1
"Jangan macam-macam ak-
Xiao Nuan melotot karena ucapannya terhenti karena bibirnya di kecup dengan paksa, perlahan bibir Liu Xingsheng mencap dengan lembut membuat pertahanan Xiao Nuan melemah.
Karena kelembutan Liu Xingsheng perlahan Xiao Nuan melemah dan menikmati apa yang di perbuat oleh suaminya ini. Melihat tanda tidak keberatan Liu Xingsheng menyeludupkan lidah masuk lebih dalam lagi.
Karena hal tersebut Xiao Nuan mengeluarkan suara-suara lembut dan tertahan. Liu Xingsheng semakin semangat dan terus membuat Xiao Nuan melemah.
Tidak terasa tangan Liu Xingsheng sudah membuka setengah dari pakaian Xiao Nuan. Karena sudah terlanjur Xiao Nuan juga tidak bisa melawan kelembutan yang di berikan.
Kali ini Liu Xingsheng benar-benar dengan kelembutan melakukannya bahkan membuka pakaian Xiao Nuan dengan sangat hati-hati sampai pemilik tubuhnya tidak merasakan apapun.
"Pelan-pelan!" suara Xiao Nuan tertahan saat Liu Xingsheng mencoba menyatukan diri.
Tersenyum dengan lembut. "Kamu tahu aku seperti apa." ucap Liu Xingsheng lalu kembali mencium Xiao Nuan. Kali ini ia menyambut ciuman dari Liu Xingsheng.
Bahkan membalas setiap kecupan yang di berikan Liu Xingsheng. "Sayang, kamu sangat pintar." ucap Liu Xingsheng saat posisi Xiao Nuan sudah di atas tubuhnya.
Tangan lentik Xiao Nuan menyentuh dada dan perut Liu Xingsheng yang seperti balok batu yang berjajar. "Jangan membuatku menunggu sayang." ujar Liu Xingsheng dengan suara serak.
Xiao Nuan enggan bergeming ia terus berada di posisi sama dengan tangan yang terus mengusap lembut dan pelan. Bibirnya mengecup belakang telinga Liu Xingsheng, semaki. turun hingga di leher.
"Ternyata kamu sedang bermain-main." kaluh Liu Xingsheng karena tidak tahan bahkan wajahnya sudah sangat merona. Karena rangsangan dari Xiao Nuan.
Liu Xingsheng langsung membalikkan posisi sehingga dirinya berada di atas tubuh Xiao Nuan. Sekarang gilirannya melakukan hal sama.
Baru beberapa saat, Xiao Nuan sudah sangat gelisah bahkan setiap sentuhan Liu Xingsheng yang sangat pelan membuat suara tertahan keluar jelas dari mulut Xiao Nuan.
"Hentikan, Mmmhhhh ... "
Liu Xingsheng terhenti lalu wajahnya tepat berada di depan dada Xiao Nuan. "Kenapa? Aku baik-baik saja tadi."
"Bukan itu ... "
"Apa?"
"Cepat selesaikan!"
"Tidak, aku suka seperti ini dulu."
"Ahh, ayolah ... Jangan membuatku sep ... Mmmmhhhh ... "
Liu Xingsheng berada di sana seperti bayi yang kehausan tubuh Xiao Nuan sudah mengejang karena kelakukan Liu Xingsheng di atas tubuhnya.
Jari-jari yang besar itu bermain dimana saja sehingga tubuhnya Xiao Nuan kembali terangkat. "Sudah ... Aku sangat lemas ... "
"Hmmm? Bukannya kamu suka seperti ini sayang?!" Jarinya semakin lincah di bawah sana. Xiao Nuan mendesah seperti memakan cabe banyak.
Desahannya semakin kuat seiring dengan kecepatan tangan Liu Xingsheng yang bertambah. "Ahhhhhkkkk!" tubuh Xiao Nuan mengejan sampai kakinya meremas sendiri.
Setelah beberapa detik Xiao Nuan kembali terbaring lemas menghirup udara banyak-banyak seperti kehabisan udara. Tatapan matanya sangat sayu namun membuat Liu Xingsheng puas.
"Bagaimana? Aku serius kalau bermain." Xiao Nuan hanya menggeleng karena tidak sanggup bicara. Kali ini Liu Xingsheng tidak memberi kesempatan langsung menyatukan dirinya bersama Xiao Nuan.
"Hek ... " suara Xiao Nuan tertahan seperti tercekik saat mereka berhasil bersatu. Wajah Liu Xingsheng sangat menikmati hangatnya sesuatu yang istimewa di bawah.
perlahan Liu Xingsheng bergerak langsung mendapat sahutan yang merdu dari Xiao Nuan, lembut namun sangat menikmati itulah suara Xiao Nuan.
"Emmmmhhhhhhh .... " suara Xiao Nuan berbeda saat ritme kecepatan bertambah. Liu Xingsheng ikut mengeluarkan suara karena tubuh Xiao Nuan ikut bergerak.
"Sangat berbeda." keluh Liu Xingsheng dengan suara yang begitu menikmati. Karena terbawa suasana Xiao Nuan semakin lincah bahkan sambutan dari gerakan Liu Xingsheng membuat keduanya benar-benar terbang.
Merasa akan sampai, Liu Xingsheng mempercepat agar bisa bersamaan dengan Xiao Nuan. Karena hal itu Xiao Nuan semakin blingsatan.
"Ahhh ... Mmmmhhhh ... Liu Xingsheng Mmmmhhhh ... " mendengar Xiao Nuan memanggil dengan suara yang begitu menggoda Liu Xingsheng mempercepat kembali sehingga tubuh Xiao Nuan terangkat karena akan segera sampai.
"Ahhhhhhkkkkk!"
Suara mereka bersatu bersamaan naik ke terbang bersama. Beberapa saat kemudian hanya ada deru nafas diantara mereka, seperti ikan mereka mencari nafas banyak-banyak.
Keringat di tubuh mereka terterpa angin pelan dari jendela yang tertutup tirai. "Terimakasih!" kecup Liu Xingsheng di kening Xiao Nuan yang penuh keringat.
Biasanya Xiao Nuan malu namun kali ini ia tidak peduli tubuhnya sampai keringat pun bersatu dengan Liu Xingsheng. Sibuk mencium setiap inci wajah Xiao Nuan, Sedangkan Xiao Nuan sendiri sibuk mencari udara karena benar-benar seperti orang habis tercekik.
"Apaan?!" bentak Xiao Nuan setelah 1 jam mereka bersama. Tatapannya sangat galak saat melihat Liu Xingsheng yang terus tersenyum di sampingnya.
"Kamu berbeda tadi." jawab Liu Xingsheng polos.
Ada sedikit malu namu Xiao Nuan membiasakan diri seolah tidak peduli. Liu Xingsheng kembali memeluk Xiao Nuan mereka sama-sama hanya tertutup satu selimut yang menutupi tubuh tanpa sehelai benang.
"Aku ingin keharmonisan di antara kita."
"Maksudmu anak?" tiba-tiba Xiao Nuan mengeluarkan ucapan tersebut membuat Liu Xingsheng terdiam beberapa saat mereka sama sama hening.
"Tidak, aku tidak mengharapkan itu hanya saja bersama mu menikmati rasa sebagai suami-istri pada umumnya." ucap Liu Xingsheng.
Walau sejujurnya dirinya memang menginginkan keturunan untuk meneruskan dirinya suatu saat nanti. Namun rasa sayang dan cinta yang sudah muncul membuatnya lebih mementingkan kenyamanan Xiao Nuan.
Mendengar Liu Xingsheng tidak mengharapkan sesuatu yang cukup menakuti dirinya Xiao Nuan menghela nafas. "Aku belum jatuh cinta padamu."
"Belum bukan berarti tidak mungkin, selama aku bisa berada di sampingmu perasaan kamu pasti perlahan berubah." kata Liu Xingsheng.
Xiao Nuan berpikir sejenak lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Liu Xingsheng. "Berada di sanalah sampai kamu benar-benar bisa membuatku jatuh cinta." balas Xiao Nuan.
Liu Xingsheng tersenyum senang karena mendapatkan restu untuk mencintai Xiao Nuan. "Baiklah, seperti yang kamu katakan sayang."
"Liu Xingsheng! Aku memperbolehkan dirimu mengejarku!" ketus Xiao Nuan menahan tangan Liu Xingsheng yang langsung bermain di bawah sana.
"Memang kenapa?"
"Bukannya kita baru selesai Beberapa jam lalu."
"Lalu? Memang suamimu ini tidak boleh meminta lebih?" tanya Liu Xingsheng sembari tangannya sudah bermain ke sana-sini. Xiao Nuan tidak bisa melawan karena kelincahan Liu Xingsheng seperti pemain.
Tirai ranjang kembali Liu Xingsheng tarik, dan langsung menutup seluruh ranjang. Suara-suara lembut dan tertahan pun kembali terdengar bahkan sampai ke halaman paviliun.
Beberapa pelayan langsung keluar dan menutup pintu paviliun seolah mengerti dan memberikan waktu untuk tuan dan nyonya mereka menikmati waktu.
.
.
.
.
Maaf bagi para pembaca novelnya sedikit terhambat untuk update karena ada halangan, author mengucapkan selamat Eid Mubarak untuk yang melaksanakannya 🙏🙏🙏
__ADS_1