Killer Queen

Killer Queen
Episode 3


__ADS_3

...Putra Mahkota Yun Sian...



Semalam tidak terjadi apapun, pangeran kaisar hanya mengerjai Xiao Nuan sampai benar-benar marah. "Permaisuri, pangeran mengajak anda untuk berkunjung ke kerajaan sekarang."


Xiao Nuan yang sedang membaca buku hanya mendesah kesal. Ia merasa kegiatannya selalu di ganggu semenjak berada di kediaman ini.


"Pangeran kaisar, kenapa mendadak?" tanya Xiao Nuan menerobos masuk.


Di dalam ada pengawal pribadi pangeran, mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang penting. "Permaisuriku, itu karena perintah baru saja datang."


Pengawal itu memberi hormat kepada Xiao Nuan. "Ck, kau mengganggu waktu membacaku!" ketus Xiao Nuan langsung duduk di kursi seberang pangeran Kaisar.


Pengawal mengerutkan kening namun entah apa yang ia pikirkan. "Lebih baik sekarang kamu bersiap. Fei siapkan kereta untuk aku dan permaisuri."


Pengawal mengangguk lalu memberi hormat sebelum pergi. Xiao Nuan hanya menompang dagu ia tidak bersemangat apalagi saat waktu membaca di ganggu.


"Haruskah aku membantumu berganti pakaian?" tanya pangeran kaisar.


Xiao Nuan mengangguk lagipula semalam ia sudah berani menggoda dirinya. "Begitu hmm?", pangeran Kaisar mendekati Xiao Nuan.


Ketika tangan pangeran Kaisar ingin menyentuh pundak Xiao Nuan. Dengan kecepatan kilat Xiao Nuan bangun lalu berlari ke arah pintu.


"Tunggu aku di depan saja!" seru Xiao Nuan.


Melihat permaisuri berlari meninggalkan tempatnya pangeran kaisar hanya terkekeh. Kadang wanita ini bersikap lucu kadang juga bersikap semena-mena.


Beberapa saat kemudian Xiao Nuan berjalan ke arah pangeran kaisar yang sudah menunggunya di depan. Banyak pelayan membicarakan Xiao Nuan.


Mereka tidak menyangka jika nyonya kediaman pangeran kaisar sangatlah tidak sopan. Xiao Nuan membiarkan pangeran Kaisar menunggu lebih dari 30 menit.


"Padahal cuma 30 menit." gumam Xiao Nuan.


Pangeran kaisar hanya tersenyum tipis. Permaisuri membuat kediamannya cukup ramai dengan gosip, tapi tidak ada yang berani mengusik Xiao Nuan dan mungkin karena ada dirinya di kediaman.


"Maaf," kata Xiao Nuan.


Pangeran membantu Xiao Nuan masuk ke dalam kereta. "Kamu ganti baju seperti sedang di hukum berlutut." ujar pangeran Kaisar.


Xiao Nuan hanya menoleh lalu mengomel.


"Salahkan pelayanmu, mereka tidak bisa merapihkan rambutku dan harus aku sendiri yang melakukannya." balas Xiao Nuan.


"Fei Hung." panggil pangeran kaisar. Lalu ia membisikkan sesuatu dan Fei Hung mengangguk patuh.


Mereka sampai di kerajaan. Seorang Kasim datang untuk memberitahu tempat mereka akan bertemu. Xiao Nuan dan pangeran kaisar di bawa ke sebuah paviliun sangat nyaman dan indah.


"Ini paviliun tempat ibu suri berada." kata Pangeran Kaisar.


Pantas saja sangat terawat sekali pikir Xiao Nuan. "Hormat ibu suri." Pangeran Kaisar dan Xiao Nuan memberi salam hormat.


"Bangunlah."


Ibu suri sangat berbeda itu membuat Yan memberi tahu sesuatu. "Jangan-jangan dia yang telah memanggilku ke sini?"


^^^"*Belum tentu, tapi dari tatapan dia sepertinya sudah mengetahui kalau kau bukan asli jiwa Alcie Wang." Balas Yan^^^


"Sudahlah kita ikuti saja alur ceritanya*."


Mereka duduk di tempat yang di sediakan. Kaisar dan ratu datang terlihat juga ada putra mahkota dan pangeran Yun Taen. "Kalian sangat rukun." puji Ratu.


Xiao Nuan hanya tersenyum lalu berterimakasih. "Pangeran, sepertinya kamu telah menemukan istri tepat." kata kaisar. Walau dalam hatinya merasa iri.


"Aku sudah lama melihat Alcie Wang namun pangeran Kaisar yang mendapatkannya. Jika saja dulu ibu Alcie Wang tidak memiliki kesepakatan pernikahan mungkin aku bisa mengerjakannya." batin Yun Taen.


Wanita cantik namun sangat berbeda dengan wanita cantik yang berada di negara ini sungguh harta Karun berharga. Xiao Nuan memiliki kecantikan yang sama persis seperti ibunya.


"Bagaimana kediaman pangeran kaisar?" tanya ibu suri.


"Sangat nyaman."


"Tidak sangka, putri tertua Wu sangat cantik padahal kita pernah bertemu beberapa minggu lalu." ratu mengingatkan kejadian yang waktu itu ia tersesat.


"Hamba tidak akan lupa tentang itu, dan sangay berterimakasih pada yang mulia pangeran Yun Taen."


Pangeran kaisar melihat ke arah Yun Taen lalu. "Terimakasih pangeran Yun Taen, berkatmu permaisuriku bisa sampai di kediamannya dengan selamat."


"Paman pangeran, jangan sungkan kita satu keluarga."


Mereka terlibat obrolan ringan, sampai kaisar memanggil Kasim untuk membawa para selir mereka juga wajib mengetahui kedatangan pangeran Kaisar dan permaisurinya.


Selir agung memberi pujian karena pangeran kaisar telah mendapatkan wanita cantik. "Tapi aku mendengar rumor yang beredar di kalangan masyarakat." kata selir agung.


Pangeran kaisar menoleh ke arah Xiao Nuan yang terlihat biasa saja bahkan tidak tersinggung. Padahal selir agung dengan terang-terangan membongkar aib.


"Selir agung, aku hanya menuruti perintah pangeran kaisar. Dulu kami pernah bertemu ia menyuruh aku ketika muda harus banyak belajar."


Mereka terkejut karena Xiao Nuan menjawab perkataan selir agung yang mencemooh. "Betulkah, pantas saja rumor mengatakan kamu putri tidur."


"Selir agung, saya pernah mendengar pepatah kuno mungkin anda pernah mendengarnya 'Orang-orang yang kuat mencari sesuatu (potensi) di dalam dirinya sendiri. Sementara orang yang lemah mencari sesuatu (potensi) pada diri orang lain,' "


Pangeran kaisar kagum ia benar-benar tidak perlu membantu Xiao Nuan untuk melawan selir agung. "Ternyata permaisuri pangeran Kaisar sangatlah pintar." sindir selir agung.


"Anda terlalu menyanjungku."


"Sudahlah, pangeran datang ke sini karena undanganku sebaiknya kita menyambutnya dengan ramah jarang sekali pangeran datang berkunjung." ujar kaisar.


***


Xiao Nuan sekarang berjalan-jalan bersama pangeran kaisar. Ia menikmati pekarangan yang indah milik paviliun ibu suri. "Keluarga kerajaan sangatlah berbahaya." kata Xiao Nuan.


"Lalu?"


"Kenapa kamu mau menjadi keluarga kerajaan." jawab Xiao Nuan.


Pangeran kaisar terkekeh.


"Aku bukanlah bagian kerajaan, almarhum ibuku datang bersamaku sebagai sandera namun kebaikan ibu suri membuat ibuku menjadi bagian dari keluarga kerajaan."


"Lalu dari mana asal kalian?" tanya Xiao Nuan.


"Entahlah, kata ibu suri aku datang dari negri yang jauh dan sekarang negri itu sudah hancur."


Xiao Nuan menatap pangeran Kaisar. "Namaku Liu Xingsheng.", untuk pertama kalinya ia mengatakan nama aslinya pada Xiao Nuan.


"Baiklah Sheng'Er, namaku juga bukanlah nona Wang seperti orang lain bilang."


"Lalu siapa namamu?"


"Xiao Nuan."


Pangeran kaisar atau Liu Xingsheng menatap Xiao Nuan dengan bingung. "Tunggu, namamu itu seperti ibuku." Xiao Nuan ikut terkejut.


"Benarkah?"

__ADS_1


Liu Xingsheng menatap teratai yang hijau di danau. "Ibuku adalah bangsawan terkenal Xiao. Namun di tanah carta ini keluarga Xiao sudah musnah tinggal keluarga Xiao dari bangsawan biasa."


Xiao Nuan merasakan kalau kedatangannya pasti ada hubungannya dengan ibu Liu Xingsheng. "Jauh di negara ini itulah aku berasal." lirih Xiao Nuan.


Liu Xingsheng tertawa.


"Kau ini berasal dari negri Yuoyui, bagaimana bisa berasal dari negeri jauh."


"Pasti kamu pernah mendengar kalau aku adalah anak haram yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Wu. Itu adalah kenyataan."


Liu Xingsheng pernah mendengar rumor itu dahulu ketika ibu Xiao Nuan meninggalkan namun seiring waktu berjalan rumor itupun lenyap begitu saja.


"Bagiku negri Yuoyui hanyalah sebuah tempat aku besar." Xiao Nuan melihat kosong ke arah danau yang di penuhi oleh teratai. Liu Xingsheng melihat Xiao Nuan sangatlah cantik.



Pangeran Yun Taen dan putra mahkota datang mereka melihat Xiao Nuan dari kejauhan. Ternyata wanita cantik dan misterius ini sangat cantik namun sayang sudah milik paman kaisar.


"Salam paman kaisar." serempak pangeran Yun Taen dan putra mahkota Yun Sian.


Liu Xingsheng menoleh ia mengangguk lalu membantu Xiao Nuan bangun dari duduknya. "Mari kita minum teh, sudah lama kami tidak melihat paman kaisar."


Liu Xingsheng mengangguk lalu mengandeng Xiao Nuan untuk duduk di gazebo di atas danau. "Kalian membuatku iri." ujar Putra mahkota Yun Sian.


"Hamba berterimakasih atas pujiannya, Yang Mulia putra mahkota juga sangat romantis dengan putri Ming." jawab Xiao Nuan.


Liu Xingsheng menatap Xiao Nuan, ternyata wanita di hadapannya sudah tahu kalau putra mahkota akan menikah dengan putri Ming.


"Nona Wu, anda sangat hebat bahkan keluarga kerajaan masih menyembunyikan hal tersebut." kata pangeran Yun Taen.


"Pangeran Yun Taen, aku melihat yang mulia bertemu dengan putri Ming saat bunga persik berguguran." balas Xiao Nuan.


Putra mahkota terdiam, jujur ia bertemu dengan putri Ming dengan rahasia karena keluarga kerajaan tidak mengijinkan. "Maaf, permaisuriku sedikit lancang." kata Liu Xingsheng.


"Paman kaisar, anda tidak salah aku memang datang ke sana secara pribadi." ucap putra mahkota.


Xiao Nuan hanya diam seolah dirinya tidak melakukan kesalahan. Mungkin kalau orang lain di posisinya pasti ketakutan karena telah membocorkan hal penting.


"Pernikahan kami akan di laksanakan beberapa bulan lagi." ujar putra mahkota.


Walaupun istri sahnya akan datang dalam beberapa bulan lagi, namun putra mahkota sudah memiliki beberapa selir untuk menemani.


"Pangeran Yun Taen, kenapa anda belum memperkenalkan istrimu?" tanya Liu Xingsheng mengalihkan pandangan.


"Itu, permaisuriku lebih suka sendiri. Kecuali undangan dari yang mulia ayahanda."


"Sangat di sayangkan."


"Paman kaisar jangan khawatir, kalau ada waktu senggang kami berkunjung ke kediaman anda." kata pangeran Yun Taen.


Xiao Nuan malas ikut campur masalah keluarga apalagi tentang wanita jadi ia memilih menikmati teh yang di sediakan oleh putra mahkota.


Mereka berbincang hal lain hingga tidak terasa langit sudah mulai sore. "Yang mulia kaisar, kami pamit undur diri." kata Liu Xingsheng pamit.


Setelah berpamitan mereka pergi dari istana kerajaan. "Huh, kenapa bersama mereka merasa sandiwara." keluh Xiao Nuan.


"Itu karena sifatmu yang tidak mau ikut campur."


Xiao Nuan menompang dagu ia melihat kota yang di lewati. Ternyata semakin malam semakin ramai, tentu saja inikan ibu kota. "Mau mampir dulu?" tanya Liu Xingsheng.


Xiao Nuan mengangguk, seharian ia tidak makan dan hanya meminum teh. Mereka mampir ke sebuah restoran, bukan Liu Xingsheng kalau tidak memanjakan Xiao Nuan.


"Bagaimana dengan kasino?" tanya Xiao Nuan.


Xiao Nuan mengerti kalau Kasino itu hanya informasi yang di sembunyikan dengan sebutan tempat Kasino. "Apa kamu tidak ingin kultivasi lebih lanjut."


"Sheng'Er, gimana kamu tahu aku sedang kultivasi."


"Tentu, setiap bertemu aku selalu mencium aroma obat-obatan alchemist."


Xiao Nuan menghela nafas. "Ini karena ibuku dulu, mereka membuatku tetap lemah dan menghancurkan Meridian yang telah ibuku berikan."


"Seharusnya pil dewa sudah menyembuhkannya bukan?"


"Tentu, tapi pil dewa hanya menyembuhkan bukan mengembalikan Meridian awalku seperti apa."


"Nanti akan ku bantu bagaimana mengembalikan kekuatanmu."


Xiao Nuan tidak mengerti jalan pikiran Liu Xingsheng. Bahkan dirinya tidak bisa menebak tujuan hidup Liu Xingsheng. "Kamu tidak mau jadi kaisar lalu apa tujuanmu?"


"Hanya ingin menemukan siapa yang sudah membunuh ibuku dan menghancurkan semua keluarga Xiao."


"Itu membuang waktu." sela Xiao Nuan mengejek ia langsung makan makanan karena sudah sangat lapar. Liu Xingsheng juga tidak mengindahkan ucapan Xiao Nuan.


...***...


Sampai di kediaman pangeran kaisar, pelayan berkumpul semuanya di sini bahkan penjaga sepertinya ingin menyampaikan sesuatu.


"Tuan, itu ... putri Cia Yin berada di kediaman." Raut wajah Xiao Nuan langsung berubah ia tidak suka ada seorang wanita berada di kediaman Liu Xingsheng.


Tanpa menunggu lagi Xiao Nuan langsung bergegas ke tempat Liu Xingsheng. Menurut seorang pelayan putri Cia Yin berada di ruang baca Liu Xingsheng.


Brak, Xiao Nuan membuka pintu dengan kasar ia ingin melihat wanita yang berani menerobos kediaman pangeran kaisar tanpa izin.


"Tuan putri, maaf wanita ini tidak bisa di hentikan." ujar pelayan yang sudah Xiao Nuan lempar karena menghalangi dirinya masuk. Putri Cia Yin menatap Xiao Nuan dengan sinis.


"Beraninya wanita rendahan menerobos." ucap putri Cia Yin.


Xiao Nuan menatap tuan putri dengan sorot dingin. "Seharusnya saya yang mengatakan anda berani menerobos masuk, saat pangeran Kaisar tidak berada di kediaman." balas Xiao Nuan.


"Aku adalah kekasih masa kecil paman kaisar."


Xiao Nuan mendesah kecil. "Hanya kekasih masa kecil apa yang perlu di sombongkan? Bahkan dia berani mengatakan itu di hadapan istri sahnya." batin Xiao Nuan.


"Lalu aku harus patuh karena kamu kekasih masa kecilnya?" tanya Xiao Nuan membuat putri Cia Yin kesal.


"Dasar pelayan rendahan, aku ini putri dari pangeran." bentak putri Cia Yin.


Xiao Nuan tahu kalau putri Cia Yin adalah keponakan kaisar sekaligus anak dari gubernur selatan. Tapi dia tidak bisa menyombongkan diri di kediaman yang sekarang Xiao Nuan menjadi nyonya nya.


"Pelayan, seret wanita ini beri hukuman cambuk." perintah putri Cia Yin.


"Ada apa? Siapa yang berani menghukumnya?" Liu Xingsheng datang langsung membuat putri Cia Yin merubah wajah menjadi gadis manis.


"Paman kaisar, Cia Yin datang berkunjung malah di tuduh menerobos ke sini. Padahal Cia Yin sering ke sini." putri Cia Yin bergelantungan manja di tangan pangeran kaisar.


"Siapa yang memfitnahmu?" tanya Liu Xingsheng.


"Dia, pelayan rendahan itu." putri Cia Yin menunjuk Xiao Nuan yang berdiri acuh tak acuh. Liu Xingsheng tersenyum tipis ia melepaskan diri dari putri Cia Yin.


"Pelayan rendahan? Kepala pelayan Ding, apa kamu berani menghukumnya?" tanya Liu Xingsheng pada pria yang berdiri di depan pintu.


"Tidak berani tuan." Tuan putri Cia Yin langsung menekuk wajahnya ia heran kenapa kepala pelayan Ding tidak mau menghukum wanita yang menurutnya rendahan.


"An'Er, katakan sesuatu apa kamu menerima semua ini?" tanya Liu Xingsheng.

__ADS_1


Xiao Nuan menghela nafas panjang, ia malas berurusan jika Liu Xingsheng berada di sini. "Aku hanya menegurnya, beruntung saja putri Cia Yin tidak aku tendang keluar dari kediaman pangeran kaisar."


"Paman kaisar, lihat dia berani berkata." rengek putri Cia Yin.


Xiao Nuan melangkah pergi namun di hentikan oleh putri Cia Yin. "Jangan sampai tuan putri benar-benar saya tendang keluar dari sini." tatapan matanya sangat mengintimidasi membuat putri Cia Yin dan kepala pelayan Ding tertekan.


"Bukan hanya tuan besar, tapi permaisurinya juga terlihat kejam. Memang pasangan serasi." batin pelayan Ding.


"An'Er, Kamu ingin pergi begitu saja?" Liu Xingsheng memeluk Xiao Nuan membuat putri Cia Yin menahan marah. Xiao Nuan melepaskan tangan Liu Xingsheng.


"Urus saja kekasih kecilmu ini, aku menunggu di kamar." ucap Xiao Nuan.


Seketika pikiran putri Cia Yin kacau, ia perpikir kalau paman kaisarnya telah memiliki selir. "Paman kaisar, kenapa kamu gak bilang punya gadis lain?" tanya putri Cia Yin.


Liu Xingsheng hanya diam lalu duduk. "Ada keperluan apa, tuan putri Cia Yin datang ke sini?" tanya Liu Xingsheng seakan membuat misteri bagi putri Cia Yin.


"Aku dengar paman kaisar sudah menikah. Jadi aku datang untuk melihatnya tapi ternyata paman kaisar malah menikahi selir." Senyuman mengembang di wajahnya.


Liu Xingsheng berdiri. "Kedepannya kamu harus hormat pada An'Er." Setelah mengatakan itu ia meminta pelayan Ding untuk mengantarkan putri Cia Yin kembali ke kediamannya.


...***...


"Sialan, beraninya dia mengatakan aku pelayan?!"


^^^"Xiao Nuan, penampilan dirimu sangatlah sederhana pantas saja putri Cia Yin menganggapmu pelayanan"^^^


"Diam kau iblis, lagipula menilai sesuatu dari penampilannya bukannya itu sama saja menjatuhkan harga diri."


^^^"Xiao Nuan, bagi tuan putri seperti dia hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari."^^^


"Mana ada makanan sehari-hari membuat orang lain kesal. Sudahlah aku punya cara untuk membalasnya."


^^^"Gadis ini, masih saja tidak bisa rela."^^^


Xiao Nuan seumur hidup belum pernah menerima penghinaan apalagi ia di samakan dengan pelayan. Ia juga belum membalas dendam pada keluarga Wu karena sudah membuat Alcie Wang mati.


Yan mengatakan kalau membalas dendam pada keluarga Wu sangatlah gampang, banyak cela untuk melakukannya. Sekarang dia harus fokus pada kekuatan karena itu kunci meninggalkan tempat ini.


"An'Er," panggil Liu Xingsheng. Xiao Nuan menoleh ternyata ada suaminya yang sedang berdiri menatap dirinya. Liu Xingsheng mendengar ucapan Xiao Nuan.


"Kalau kamu marah, kenapa tidak lawan dan malah pergi."


"Itu karena ada kamu."


"Aku?"


Xiao Nuan malah berdebat ia pergi meninggalkan Liu Xingsheng, ia sekarang ingin tidur persetan dengan penampilannya yang belum berganti pakaian.


Melihat istri marah, Liu Xingsheng mendekati ranjang tangannya mengelus wajah Xiao Nuan dari samping. "Dia yang menghinamu, kenapa aku yang kena marah?"


"Liu Xingsheng, berani kamu bicara lagi akan ku buat kau tak tidur semalaman."


"Caranya?", tatapan Liu Xingsheng membuat bulu kuduk Xiao Nuan merinding. Jemari Liu Xingsheng mengelus lembut pipi Xiao Nuan.


Seketika wajah Xiao Nuan memerah, bagaimanapun ia istri dari Liu Xingsheng. Keadaan seperti ini membuat Xiao Nuan gugup apalagi jarak mereka semakin dekat.


"Liu Xingsheng, berani kau menggodaku!" Duak! Xiao Nuan membenturkan kepalanya ke wajah Liu Xingsheng. Seketika itu darah keluar dari hidung Liu Xingsheng.


"Pangeran kaisar, itu darah ... "


Liu Xingsheng menutup hidungnya. Ia menatap Xiao Nuan kesal barusan ia hanya berniat menggoda tapi malah di aniaya seperti i ini.


Sekarang Xiao Nuan sedang mengobati hidung Liu Xingsheng. "Sepenggal tidak fatal tapi darahnya mulai berhenti." gumam Xiao Nuan.


"Permaisuriku, sangatlah buas." sindir Liu Xingsheng.


Xiao Nuan menatap sebentar lalu menghela nafas lagi. Ia memang salah tapi tidak sepenuhnya salah. "Kalau pangeran Kaisar tidak menggodaku mana mungkin sekarang ini berdarah."


"Masih berani membela diri." Sahin Liu Xingsheng.


"Sheng'Er, sudah malam lebih baik tidur yang ada hidungmu tambah parah." Liu Xingsheng mendeham lagi-lagi Xiao Nuan mengatakan hal bodoh agar ia menurutinya.


^^^***^^^


Liu Xingsheng bangun ia melihat tubuhnya sudah di timpa oleh kaki jenjang milik Xiao Nuan. Bahkan kakinya sangat mulus. Melihat ke arah lain ternyata Xiao Nuan sudah melepaskan pakaian luar dan hanya ada pakaian tipis miliknya.


"Gadis ini sangat berantakan." gumam Liu Xingsheng.


Saat ingin menyingkirkan kaki Xiao Nuan, ia menyentuh kulit halus seketika wajahnya panas. Belum pernah ia menyentuh wanita apalagi keadaan seperti ini.


"Emmmmhhh, pangeran kaisar sudah bangun?!" tanya Xiao Nuan mengucek matanya.


"Pangeran kaisar kenapa hidungmu berdarah lagi?", Liu Xingsheng langsung menyingkirkan kaki Xiao Nuan. Wajahnya sudah sangat malu.


"Apa luka kemarin malam serius?" pikir Xiao Nuan saat melihatku Liu Xingsheng keluar dari kediamannya. Ia merasa bersalah, "Harusnya aku tidak kasar, huh tapi itu spontan."


Ia meminta pelayan untuk membantunya berganti pakaian, ia juga sedikit sulit menata rambut sendiri namun di kediaman ini mereka tidak bisa menata dengan baik.


"Sisir saja," ujar Xiao Nuan saat pelayan menyentuh rambutnya. Ia tidak ingin penampilannya seperti selir-selir di kerajaan sangat tidak enak di pandang.


Beberapa saat kemudian Xiao Nuan selesai menata rambutnya. Ia mengatakan di sini akan cantik dengan kekuatan dan pil dari alchemist.


"Aku harus mencari obat untuk pangeran kaisar." Xiao Nuan meninggalkan kediaman pangeran ia akan ke pasar untuk mencarinya.


Di sisi lain pangeran kaisar mendengar Xiao Nuan pergi dari Fei Hung, "Tujuannya ke pasar ibukota." Liu Xingsheng merasa kalau Xiao Nuan akan melakukan hal lain jadi ia memutuskan untuk mengikuti.


Xiao Nuan mencari obat, ia mencium setiap rempah bahan obat. Dari harumnya ini obat kelas rendah. "Setelah membuat kasino bangkrut tentunya sekarang aku banyak uang."


Xiao Nuan membeli obat mahal, ia juga membeli tungku pembuat obat. Walaupun ia belum paham betul tentang alchemist tapi ada Yan yang akan membantu.


"Tungku itu paling terbaik."


"Nona, ini tidak di jual."


"Berapapun akan aku beli."


"Wah, aku akan memberikannya asal buat obat penghancur nadi ular." ujar seorang pria. Dia adalah Haocun Alchemist terhebat yang sudah di kenal banyak kalangan sampai ke negeri orang.


"Hanya penghancur nadi ular, itu bukan hal sulit." Xiao Nuan langsung mengambil bahan-bahan di sana ia juga masuk ke dalam sebuah bilik.


"Nona, obat penghancur nadi ular sangat sulit apalagi bahan yang kamu ambil kurang satu." Xiao Nuan hanya menatap datar lalu memasukkan obat-obatan tersebut.


Setelah setengah jam, Xiao Nuan mengambil rumput api. Haocun sangat terkejut untuk apa rumput api. Bukannya rumput api hanya untuk mengobati bisa ular.


Bam


Dua butir obat penghancur nadi ular pun jadi. Dari aromanya ini sangat kuat dan berkelas tinggi. "NONA, ANDA MEMBUAT SAYA TERKESAN."


Xiao Nuan hanya terkekeh.


"Tuan Haocun, sebelum anda mengatakan sesuatu lebih baik lihat hasilnya dulu." Xiao Nuan melempar obat exelir tersebut.


"Tungku ini milikku sekarang." Xiao Nuan pergi. Haocun ingin berkenalan namun Xiao Nuan sudah pergi jauh dan tak terlihat. Xiao Nuan malas berurusan dengan pria sombong.


Di kejauhan Liu Xingsheng menatap Xiao Nuan dengan tatapan sulit di artikan. "Alcie atau Xiao Nuan. Kalian pasti orang berbeda."

__ADS_1


__ADS_2