Killer Queen

Killer Queen
Episode 26


__ADS_3

4 hari berlalu, namun Liu Xingseng tidak melihat Xiao Nuan. Pelayan berkata jika Xiao Nuan ada di kediamannya dan enggan untuk keluar.


Ho Hien berusaha untuk membuat Xiao Nuan keluar kediaman untuk sekedar makan namun tidak berhasil. Ia hanya bermeditasi dan kultivasi.


Khawatir terjadi hal-hal lain Ho Hien membawa makanan namun selalu utuh. "Nona, apa perlu aku nyuapimu?"


Xiao Nuan meminta agar Ho Hien jangan mengganggu karena ia sedang fokus. "Baiklah nona." Ho Hien menutup tirai ranjang.


Energi spiritual di tubuh Xiao Nuan sangatlah kuat bahkan siluman rubah seperti Ho Hien pun sangat nyaman berada di dekat Xiao Nuan.


Ia hanya bisa menyerap spiritual dari kejauhan karena Xiao Nuan memintanya. Di luar kediaman Liu Xingseng berjalan terburu-buru menuju kamar Xiao Nuan.


Saat berpapasan dengan Ho Hien, Liu Xingseng di hadang. Dengan sangat sopan Ho Hien meminta Liu Xingseng jangan mengganggu Xiao Nuan yang sedang berada di dalam.


Liu Xingseng menyuruh bawahannya untuk menahan Ho Hien, ia ingin masuk ke dalam untuk bertemu dengan istrinya. Ia sangat tahu jika Xiao Nuan sangat kesal dengan kejadian beberapa hari lalu.


"Ingin merajuk? Tapi kamu harus perhatikan kondisi tubuh kamu sendiri." kata Liu Xingseng membuka tirai ranjang.


Xiao Nuan yang sedang duduk memejamkan mata hanya menghela nafas. "Saat ini aku sedang tidak ingin di ganggu!"


Liu Xingseng menarik tangan Xiao Nuan untuk keluar dari kamar. Ia membawa Xiao Nuan untuk makan di halaman rumah.


"Aku memasaknya sendiri untukmu."


Xiao Nuan masih muak dengan Liu Xingseng hanya menarik nafas lalu mengambil sendok yang Liu Xingseng pegang. "Aku sudah kenyang." ucap Xiao Nuan saat di suapan ke tiga.


Liu Xingseng menarik tangan Xiao Nuan untuk kembali duduk. "Sampai kapan kamu mau merajuk?" Xiao Nuan menyipitkan matanya.


"Aku gak merajuk, hanya kesal jadi jangan bertingkah."


"Aku minta maaf!"


Xiao Nuan menatap remeh pria di hadapannya, "Untuk apa minta maaf, itu wajar bagi suami istri." jawab Xiao Nuan. Terdengar sangat tidak sama dengan kata yang di ucapkan.


"Apa yang membuatnya marah?" tanya Niu Mayleen menyikut lengan Feng shui.


Mereka melihat Liu Xingseng sedang membujuk istrinya, lama kelamaan mereka sadar dan jenuh lalu meninggalkan tempat tersebut.


Di sisi lain Xiao Nuan hanya kesal dan enggan bertemu dengan Liu Xingseng beserta antek-antek lainnya, lagipula ia sudah melupakan masalah itu. Makanya Xiao hanya mengangguk saat suaminya meminta maaf.


Sepulang dari kamar Xiao Nuan, ternyata Liu Xingseng masih berpikir kalau Xiao Nuan masih merajuk. Ia harus segera membalikkan keadaan seperti semula tekadnya. Padahal Xiao Nuan sudah baik-baik saja.


Tanpa izin dari Liu Xingseng, Xiao Nuan pergi jalan ke pasar. Ia di temani oleh Ho Hien. Bahkan Niu Mayleen di tinggalkan. "Nona, apa anda suka?" tanya Ho Hien.


Xiao Nuan menyentuh sebuah hiasan rambut, di jaman modern mungkin ini adalah perhiasan mahal dan sangat bersejarah tapi di sini ini perhiasan mewah sama seperti emas dan berlian pada umumnya.


"Aku sudah bersuami, jika berpakaian mencolok apa tidak akan membuat orang berpikir kalau aku senang menggoda pria?" Perkataan itu hanya membuat Ho Hien bingung.


Namun Xiao Nuan tetap mengambil hiasan tersebut ada satu set dengan hiasan lainnya. Tak lupa ia juga memilih gaun paling bagus untuk di coba, Ho Hien sendiri masih terpaku dengan omongan tadi.


"Bagaimana?"


Ho Hien menoleh dan terkejut.



"Seperti wanita penghibur."


Dengan spontan Ho Hien mengatakan itu, karena tidak pernah melihat Xiao Nuan memakai banyak perhiasan. "Ini gaya baru, banyak wanita bangsawan yang menyukai tapi mereka tidak bisa memakainya terlalu lama."


"Pasti karena berat."


Bahan dari emas dan giok pasti membuat perhiasan itu terasa berat, kali ini Xiao Nuan melihat kembali dirinya di cermin yang buram.


"Aku bahkan gak bisa kenalin diri sendiri karna cermin ini."


Ho Hien membantu Xiao Nuan duduk, ia melepas beberapa perhiasan di atas kepala Xiao Nuan. Agar tidak membuatnya berat dan lebih penting gak rame aja sih.


"Selera kita sama." gumam Xiao Nuan saat salah satu jepit rambut di lepas membuat rambutnya tergerai. Ia lebih suka penampilan yang tidak mencolok tapi hari ini ia ingin mencobanya.


"Bahunya terbuka lebar, apa tidak masalah?" tanya Ho Hien.


Dirinya takut kalau pakaian ini menjadi masalah baru bagi hubungan antara tuan dan nonanya ini. Akan tetapi Xiao Nuan mengatakan kalau ini tidak akan ada masalah apapun.


Setelah itu mereka membayar dan langsung pergi untuk melihat hal menarik yang ada di pasar. Mereka berjalan cukup lama membuat beberapa pria melihatnya.


"Hanya pakaian seperti ini mereka seakan melihat wanita telanjang. Apa yang terjadi kalau mereka berlibur ke Hawaii?!" pikir Xiao Nuan.


Ho Hien mengajak Xiao Nuan untuk makan karena ingat tadi hanya makan sedikit, mereka mampir ke sebuah restoran dan memesan tempat khusus.


"Nona bangsawan dari mana?" tanya basa-basi pemilik restoran.


"Maaf, nona saya tidak suka di tanya." kata Ho Hien tegas.


Berbeda dengan Xiao Nuan. "Aku dari kediaman Liu." singkat namun membuat pemilik restoran yang cukup ramai itu langsung melotot.


Wanita yang berada di kediaman Liu hanya ada satu yaitu permaisuri Liu. "Salam hormat, maaf sebelumnya hamba lancang."


Xiao Nuan hanya memberi isyarat agar segera pergi. Ho Hien bertanya kenapa Xiao Nuan mengatakan hal tersebut pada pemilik restoran. "Hanya ingin tahu responnya saja."


****


Di kediaman Liu, saat ini sedang kacau karena Liu Xingseng marah besar setelah mendapat kabar kalau istrinya berada di restoran mewah milik salah satu rekannya.


"Dia ingin membuat perhitungan denganku?" lirih Liu Xingseng.


Ia segera pergi, Feng shui mengejar dari belakang karena tiba-tiba pergi dengan cepat. Di restoran Xiao Nuan sedang menikmati makanannya bahkan sangat lahap.


Pantas saja sangat ramai makanan di sini sangatlah lezat pikir Xiao Nuan. Ho Hien memperingatkan Xiao Nuan jangan terlalu makan banyak karena pakaiannya sangat pas di badan takut akan robek jika Xiao Nuan makan tanpa perhitungan.


Makanan masih tersisa namun, sudah datang menu lain. Nyatanya perkataan Ho Hien tidak di anggap, Xiao Nuan hanya fokus makan. Sampai ia meminum arak satu cangkir untuk penutup.


"Sangat kenyang."


Ho Hien langsung memberitahu Xiao Nuan jika bajunya sudah sangat ketat karena Xiao Nuan kekenyangan.


Namun sangat santai Xiao Nuan menjawab jika sistem pencernaannya sangatlah cepat sebentar lagi akan kembali semula. Ia sendawa dan terkekeh karena senang makan.


"Sangat menyenangkan berada di luar tanpa sepengetahuanku?!" Xiao Nuan mengangguk antusias dan melirik syok.

__ADS_1


Raut wajah Liu Xingseng benar-benar sangat merah, entah karena capek karena gerak cepat ke sini atau marah tidak ada yang tahu. Sedangkan Xiao Nuan hanya terdiam saja.


"Kenapa pakaianmu?"


Lagi-lagi Xiao Nuan tidak menjawab rasanya bibir ini kelu untuk menjawab pertanyaan. Karena tidak menjawab Liu Xingseng menarik tangan Xiao Nuan untuk keluar dari sana.


Xiao Nuan yang kekenyangan hanya mengikuti dengan nafas yang terengah-engah. SREKKK. Liu Xingseng berhenti menari tangan Xiao Nuan lalu menoleh untuk melihat suara sobek apa.


Ternyata jahitan di bagian pinggang Xiao Nuan sobek karena tertarik perut kenyang di tambah tarikkan kuat dari lengan. Xiao Nuan menghempaskan tangan Liu Xingseng dengan kasar.


"Dasar gila!" makinya.


Sekarang ia di bantu oleh Ho Hien mencoba menutupi robekan yang cukup lebar. Tetapi Liu Xingseng mematung seolah sama-sama syok dengan kejadian barusan.


"Ini tidak tertolong." kata Xiao Nuan langsung mengangkat baju bagian rok dan berlari ke arah pertokoan.


Ia sudah malu karena beberapa orang melihat kejadian tersebut. Tapi sampai Xiao Nuan masuk ke toko pakaian Liu Xingseng masih tidak bergerak.


"Tuan."


Liu Xingseng tersadar dan mengatakan kalau dirinya melakukan kesalahan. "Tapi ... " Feng shui yang kebingungan hanya mengerutkan dahi.


Kenapa dengan tuannya bukan membantu ia hanya mematung di tempat dan tidak peduli dengan Xiao Nuan yang sudah di permalukan di depan umum.


"Bajingan! Dia sudah membuatku malu di publik."


"Hah?"


Xiao Nuan masih mengoceh kesal seraya di ukur badan oleh penjahit, sedangkan Ho Hien hanya terbengong dengan kata-kata Xiao Nuan yang separuhnya tidak bisa di mengerti.


****


Beberapa jam berlalu.


Mereka bertemu di jembatan. Lebih tepatnya Liu Xingseng menunggu Xiao Nuan di jembatan sebelum menuju kediaman Liu.


Raut wajah Xiao Nuan menjadi masam, ia kembali marah dengan Liu Xingseng. Padahal ia sudah baik-baik saja tadi memang sangat pantas untuk di benci batin Xiao Nuan.


"Aku minta maaf." Spontan Liu Xingseng mengatakan itu ketika di Xiao Nuan berada satu langkah di depannya. Merasa masih malu karena kejadian di pasar.


"Apa minta maaf bisa membuatku tidak jadi malu di depan umum? Otak kamu berada di mana sih?!" hardik Xiao Nuan.


Liu Xingseng mengatakan kalau untuk saat ini ia tidak bisa mengendalikan diri terkadang itu terjadi begitu saja tanpa di kontrol.


"Kamu kira aku bodoh? Itu alasan tidak masuk akal." lagi-lagi Xiao Nuan membentak Liu Xingseng dengan wajah marah. Terkejut dengan respon Xiao Nuan, Liu Xingseng berusaha untuk menjelaskan namun ucapan terbata-bata.


"Jangab ganggu aku!" peringat Xiao Nuan lalu meninggalkan Liu Xingseng di atas jembatan.


Ia menatap nanar punggung Xiao Nuan yang semakin menjauh, tanpa sadar mengusap wajahnya kasar Liu Xingseng benar-benar tidak bisa mengendalikan otak dan hatinya sehingga membuat masalah.


Liu Xingseng tidak terkendali dan tujuan Xiao Nuan semakin melenceng dari awal. Sekarang ini Leng menertawakan Xiao Nuan yang sudah nyaman berada di dunia ini.


"Aku ini masih punya perasaan, tapi kenapa kamu tahu semuanya?" Leng menjelaskan jika ia pergi karena melakukan suatu hal dulu. Untuk perubahan Liu Xingseng ia tidak bisa memprediksi lebih jauh.


Lebih jelasnya Liu Xingseng semakin terpengaruh dengan kekuatan Yan. Dan pergerakan Xiao Nuan yang sudah melambat dari sebelumnya.


"Lebih cepat lebih baik."


Leng sudah berada di sana saat Xiao Nuan sampai, ia menyampaikan banyak hal termasuk yang barusaja di katakan. "Roh abadi sudah bergabung dengan spiritualmu lalu apa yang kamu tunggu."


"Kita harus memulai dari istana lebih dulu."


****


Kali ini demi mendapatkan maaf dari Xiao Nuan, ia datang di malam hari. Selama 1 jam di dalam satu ruangan mereka tidak ada pembicaraan sama sekali.


Liu Xingseng ingin mengeluarkan suara tapi ragu karena sejak masuk Xiao Nuan hanya fokus pada buku. "Aku benar-benar menyesal."


Akhirnya suara Liu Xingseng keluar karena sudah tidak tahan lagi. Xiao Nuan hanya melirik sebentar lalu kembali fokus pada bukunya. Hal tersebut membuat Liu Xingseng pasrah.


"Tadi hanya kesalahpahaman saja, gak usah di besar-besarkan." ujar Xiao Nuan masih fokus dengan buku.


"Ya ... beberapa hari terakhir emosiku sedang tidak stabil." lirih Liu Xingseng nadanya pun terdengar sangat pelan.


Xiao Nuan menarik nafas lalu menghembuskan dengan kasar. "Kenapa? Apa yang membuatmu gelisah?" tanya Xiao Nuan menaruh buku.


Liu Xingseng yang duduk bersandar di ranjang hanya diam menatap kosong ke arah jendela, memang sangat jelas kalau dirinya banyak sekali beban pikiran.


Namun tidak menjadi alasan jika pelampiasan semuanya kepada Xiao Nuan, "Perang? Istana? Atau ... "


Liu Xingseng menggeleng, ia menghela nafas berat lalu tersenyum tipis. "Bicaralah, walaupun aku sedang kesal tapi aku punya toleransi." Xiao Nuan berjalan ke arah Liu Xingseng.


Ia duduk di samping Liu Xingseng dan menaruh buku di atas ranjang, "Kaisar ... Dia takut aku memberontak lalu mengambil token pasukan khusus."


"Tahu darimana?"


Liu Xingseng menunjukkan sebuah liontin kecil, benda tersebut biasanya berada di baju. "Ini?" Xiao Nuan tidak mengerti hubungan antara token dan sebuah gantungan.


"Liontin ini hanya di miliki oleh pengawal pribadi milik kaisar, bahkan aku sendiri yang membuatnya." Xiao Nuan tertegun sebentar.


"Jadi token itu di curi?!" Liu Xingseng mengangguk, Memang token itu ada duplikat namun hanya 3 orang yang tahu seperti apa bentuk token pemimpin pasukan khusus.


"Sudah mencari tahu dengan detail?!" Kali ini Liu Xingseng menggeleng karena liontin itu sudah menjadi bukti kuat untuk apa menyelidiki.


"Tapi siapa tahu bukan kaisar yang menginginkan itu," Liu Xingseng menjawab ia memang sudah menyuruh orang menyelidiki namun sampai hari ini belum ada kepastian apapun.


"Tenanglah, kamu baru pulang dari perbatasan. Sebaiknya istirahat dan jangan melakukan hal aneh." Xiao Nuan mengambil buku yang tadi ia taruh di atas ranjang.


Ia berniat melanjutkan membaca buku, "Bolehkah aku menginap di sini malam ini?" Tanya Liu Xingseng. Xiao Nuan menoleh lalu mengangguk pelan.


Ia pindah ke kursi untuk membaca buku memang malam ini tidak mengantuk, lagipula ia bukan membaca buku biasa melainkan pemasukan dan pengeluaran bulanan kediaman Liu.


Tanggung jawab Liu Xingseng, sebagian di bantu olehnya karena sebelum ke perbatasan Liu Xingseng melimpahkan semuanya padanya dan sampai hari ini juga Liu Xingseng belum menarik otoritas itu.


Otaknya bekerja ekstra karena label perhitungan di buku ini sangatlah kulit sekali sampai ia harus menerjemahkan ke perhitungan modern agar lebih gampang.


"bahkan aku yang malas berhitung pun harus melakukannya di sini, apa tugas istri di modern juga sama?!"


Perlahan mata Xiao Nuan mulai mengantuk dan ia pun menaruh bukunya, tanpa sadar juga meregangkan tubuhnya karena pegal.

__ADS_1


"Apa aku tidak nampak seperti orang asing? Bahkan kamu melakukan hal itu?"


Xiao Nuan menatap ke arah Liu Xingseng ternyata dia belum tidur pikir Xiao Nuan. "Ini sudah malam masih saja belum tidur?"


"Aku gak bisa tidur jika istriku sedang bekerja keras untuk rumahku." Perkataan itu membuat Xiao Nuan terkekeh geli. Lagipula itu hal biasa terjadi di kediaman besar apalagi jika pemasukan besar seperti istana mungkin akan sangat mustahil untuk orang lain kelola.


Liu Xingseng menahan nafas saat Xiao Nuan melepas baju luaran dan berjalan menuju ranjang, tangannya mematikan lilin tanpa halangan apapun. Liu Xingseng pikir Xiao Nuan akan melakukan hal yang menyenangkan.


"Apa? Aku juga lelah mau tidur." kata Xiao Nuan tepat saat Liu Xingseng ternganga di atas ranjang. Ia pikir Xiao Nuan sedang menggoda dirinya padahal bukan.


Pagi hari


Pelayan menjadi ribut karena matahari belum sampai di ujung barat tapi sudah harus mempersiapkan semuanya, bagaimana tidak tiba-tiba keluarga Wu datang berkunjung membuat semuanya ramai kecuali sepasang suami istri yang masih tidur.


Lalu siapa yang membuat ributnya? Jawabannya adalah Ho Hien dan pengawal Feng shui. Mereka mendapatkan kabar di malam hari dan baru membuka surat di pagi hari jadilah ini semua.


Untuk apa keluarga Wu berkunjung ke sana? Lebih tepatnya kita akan tahu apa yang di lakukan oleh Xiao Nuan. Selain membuat masalah dengan keluarga kekaisaran dirinya juga berseteru dengan keluarga kandungnya sendiri.


"Nona! Rubah idiot itu membuatku terluka karna malas datang ke sini!" suara Leng membuat Xiao Nuan terbangung.


Ia melihat burung emas itu sudah bertengger di atas meja, bisa di lihat kalau sayapnya mengeluarkan bercak darah. "Ada apa? Kenapa ribut sekali."


"Entahlah, Rubah idiot itu memaksaku dan membuatku terluka." balas Leng mengibaskan sayapnya. Xiao Nuan melirik Liu Xingseng yang masih terlelap.


Lengannya masih melingkar di perut Xiao Nuan, "Apa yang terjadi di luar? Kenapa banyak pelayan?" tanya Xiao Nuan sambil melepaskan pelukan Liu Xingseng.


Leng menjelaskan waktu dia mengambil kelinci di belakang tidak sengaja mendengar koki yang masak, jika keluarga Wu sedang perjalanan kemari. Xiao Nuan agak terkejut namun tersenyum senang setelahnya.


"Rencana jahat apalagi yang kamu buat?" tanya Leng. Xiao Nuan menyuruhnya untuk bertelur daripada mencari tahu apa yang akan dirinya lakukan.


Sembari mencibir Leng terbang keluar kamar, Xiao Nuan ingin bangun akan tetapi di halangi. "Kenap? Ini masih pagi aku ingin bermalas-malasan denganmu!"


Xiao Nuan menjawab jika malas-malasan bagaimana ia menyambut keluarga mertuanya. Seketika Liu Xingseng terbangun dan duduk. "Tuan Wang datang?" Xiao Nuan mengangguk pelan.


"Kabar seperti ini tidak ada yang memberitahukan aku?!" Xiao Nuan membalas jika keluarganya sengaja melakukan pernikahan ini untuk apa Liu Xingseng tahu kabar ini.


"Setidaknya aku harus terlihat baik di depan keluargamu."


"Jangan seperti itu, kamu hanya akan membuat mereka curiga." sahut Xiao Nuan.


Lalu Xiao Nuan memanggil pelayan untuk membantu menyiapkan pakaiannya dan Liu Xingseng, "Tidak perlu, aku akan kembali ke kamarku."


Beberapa saat kemudian Xiao Nuan sudah selesai dengan dirinya dan sedang di bantu merias wajah, "Mereka sudah menunggu di aula utama."


"Suamiku sudah berada di sana?" Ho Hien menjawab jika Liu Xingseng baru saja masuk kamar mandi mungkin sengaja ingin melakukan penyambutan terlambat.


Mendengar hal tersebut Xiao Nuan hanya tersenyum merekah, ternyata suaminya peka juga. Mungkin saja Liu Xingseng tahu apa yang di lakukan oleh Xiao Nuan.


****


Xiao Nuan berjalan dengan anggun, ia masuk ke aula utama. Di sana sudah ada keluarganya lengkap bahkan, "Salam permaisuri Liu." mereka memberi hormat kecuali saudari Xiao Nuan.


Namun nyonya Wu membuat kode dan akhirnya mereka memberi salam juga, mereka tidak bisa pungkiri kalau status Xiao Nuan sekarang sudah jauh di atas.



Xiao Nuan meminta mereka untuk jangan terlalu formal selagi tidak ada suaminya, Ia lalu bertanya dengan nada yang polos. "Ini pertama kalinya ayahku berkunjung. Kenapa aku merasa kalau kalian ingin mengatakan sesuatu hal penting."


"Alcie Wang! Kamu jangan keterlaluan kepada ayah!" sentak Wu Ruan. Namun tuan Wu mengatakan untuk diam, ia merasa jika anaknya ini sudah berubah banyak.


"Aku sudah mendengar banyak rumor tentangmu, hanya memastikan kamu baik-baik saja." ujar tuan Wu.


Xiao Nuan tersenyum lalu mengatakan jika rumor itu benar. "Sepertinya kamu bagai burung lepas ketika menikah dengan tuan besar Liu." ujar Nyonya Wu.


"Benar sekali nyonya, aku memang terbebas dari tekanan selama ini." mendengar hal itu Wu Nian dan Wu Ruan menjadi kesal. Karena seakan mereka tidak ada harga dirinya sekarang.


Wu Ruan terus mengatakan jika kebebasan Xiao Tuan hanya akan membuat kediaman Liu saat ini menjadi malu. "Untuk apa? Selagi semuanya hanya rumor masyarakat dan tidak terjadi pada kenyataannya." jawab Liu Xingseng tiba-tiba.


Mereka langsung memberikan salah hormat karena orang berpengaruh ada di sana saat ini. "Maaf atas keterlambatku menyambut keluarga mertua." kata Liu Xingseng.


Tuan Wu berkata tidak apa-apa, mereka paham jika Liu Xingseng baru pulang dari perbatasan. "Kalian mengobrol dengan meja kosong?"


Ia pun menyuruh pelayan untuk membawa hidangannya, "Tuan Liu sangat murah hati." Wu Ruan mengatakan itu dengan malu-malu.


"Bukan aku yang baik hati, tapi kalian adalah keluarga istriku." Jawab Liu Xingseng seakan kalau hubungan mereka tuh baik-baik.


Wu Ruan menjadi malas karena hubungan mereka baik-baik saja, bukannya rumor mengatakan kalau Xiao Nuan menaiki ranjang Liu Xingseng dengan paksa.


Saat ini Xiao Nuan hanya diam melihat perbincangan antara tuan Wu yang notabene adalah mantan komandan militer dahulu. Ya tidak lain membicarakan tentang terjadi di Medan perang.


"Alcie Wang, bagaimana kita berbincang sambil melihat suasana luar." ajak nyonya Wu. Sebenarnya ia basa-basi karena penasaran dengan kemegahan kediaman Liu.


Dengan malas ia mengangguk dan membawa mereka berjalan-jalan, mereka mengobrol tanpa Xiao Nuan yang ikut campur ia malas sekali berbicara kemewahan.


"Sayang sekali, kediaman sebesar ini harus sepi." ujar Nyonya Wu.


Xiao Nuan mengerutkan dahi, "Maksunya?!" Nyonya Wu melanjutkan ucapannya ia mengatakan kediaman Liu yang besar ini sepi karena suatu hal.


"Sepertinya mencari adik untukmu sangat cocok dan membuat suasana baru di kediaman ini." Xiao Nuan tersenyum kaku lalu melirik dengan jijik.


"Aku takut tuan suami tidak mau aku memiliki adik, bagaimana?" Nyonya Wu terus mencari cara agar Xiao Nuan tidak bisa menolak rencana.


"Daripada nyonya Wu memperhatikan kediamanku lebih baik berpikir bagaimana caranya agar Wu Nuan dan Wu Ruan segera menikah."


"Benar, bagaimana mereka ikut tinggal di sini."


Seketika muka Xiao Nuan menjadi keras. Bisa-bisanya nek lampir ini mengatakan hal itu jika bukan karena kedatangannya mungkin nenek tua ini sudah menjadi makanan Leng.


"Tinggal di sini? Apa martabat keluarga Wu sudah hilang?" tanya Xiao Nuan.


"Kamu jangan bicara begitu ke ibuku!"


"Tenang Wu Ruan, Aku hanya mencari ide bagus untukmu."


Mereka berdebat masalah tersebut sampai tuan Wu datang dan ikut ngobrol. Mereka tidak mengatakan apapun pada tuan Wu tentang keinginan nyonya Wu.


Sampailah mereka mengobrol di meja besar, hari pun sudah akan sore, "Aku tahu, setelah kedatangan anakku Alcie Wang ke sini membuatmu kerepotan." kata tuan Wu.


Liu Xingseng membalas jika kedatangan Xiao Nuan bukan merepotkan. "Dia adalah sumber kehangatan di kediamanku, dahulu aku sering di luar untuk berperang dan kembali ke sini dengan suasana yang begitu dingin."

__ADS_1


"Tapi saat dia ada di sini rasanya jauh berbeda, di sini begitu hangat dan nyaman. Akulah yang berterimakasih karena dia sudah berada di sisiku." imbuh Liu Xingseng membuat saudari Wu merenggut kesal.


__ADS_2