
Niu Mayleen dan Xiao Nuan membanting Ho Hien ke depan pintu kediaman orangtuanya. Mendengar suara gaduh mereka semua keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Ibu Ho Hien berlari karena anaknya tersungkur ke tanah sedangan Niu Mayleen menatap marah ke arah mereka semua. "Siapa kalian, kenapa melukai anakku!"
Ayah Ho Hien langsung mengatakan untuk menangkap Niu Mayleen dan Xiao Nuan karena berani menyentuh anaknya. Mereka bertarung hebat.
Karena emosi meledak Niu membantai habis pengawal orangtuanya Ho Hien. "Maju kau rubah sialan," teriak Niu Mayleen marah.
Xiao Nuan tidak bisa apa-apa karena pada dasarnya kedua orang itu salah. "Apa tujuan kalian datang dan membunuh kami semua?" tanya ayah Ho Hien.
"Kalian memang pantas mendapatkan semuanya!", Niu Mayleen menyerang ayah Ho Hien. Ia terus mengeluarkan jurus-jurus yang sangat besar hingga ayah Ho Hien terpukul mundur.
"Niu Mayleen, tenang dulu. Kita akan memulai permainan jangan terburu-buru."
Xiao Nuan maju ke depan perlahan. "Ayah, ibu, Kalian pasti mengenal pria itu!" ucap Ho Hien. Namun ibunya malah mengatakan siapa mereka.
"Ibu sekarang jawab aku, apa obat yang kamu berikan untuk mengobati diriku?" Ibunya kembali menjawab kalau ia memberikan hati binatang roh.
Niu Mayleen mengangkat pedang namun Xiao Nuan menahannya. Biarkan Ho Hien yang bertanya langsung pada ibu dan ayahnya.
"Ibu ayah, apa benar obatku hati Binatang roh bukan jantung hati seorang gadis manusia?"
Pernyataan itu membuat kedua orangtuanya langsung kaget. "Tidak, itu benar obatmu adalah hati binatang roh." jawab ayahnya tegas.
"Badebah!" Niu Mayleen langsung menyerang ayah Ho Hien. Ia marah besar karena berani melakukan hal sekeji itu pada adiknya yang masih belia.
"Apa yang ia perbuat itulah yang kamu tuai, Niu Mayleen kamu bekerja membunuh orang lain maka keluargamu harus merasakan yang sama." batin Xiao Nuan.
Xiao Nuan sendiri merasakan hal sama, dulu paman dan bibinya meninggal karena sebuah perampokan. Karena kakek dan dirinya seorang pembunuh bayaran tentunya keluarga yang tidak tahu apapun harus merasakan.
Sakit dan kecewa Xiao Nuan merasakan itu dulu. Makanya dia memilih untuk berhenti dan menjadi pelatih pembunuh bayaran. Sekarang ia melihat Niu Mayleen sangat mengerti dengan keadaannya.
Apalagi adik Niu Mayleen adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki sangat sulit untuk ikhlas. "Niu Mayleen, berhenti kamu ingin membunuhnya di hadapan istri dan anaknya?"
"Dia sudah membunuh adikku kenapa aku ragu membunuhnya di hadapan keluarga?" bentak Niu Mayleen.
Jiwa pembunuh yang Niu Mayleen miliki bangkit. Xiao Nuan hanya menaytao pertarungan tersebut tanpa memiliki niat untuk menghentikan semuanya.
"Nona, tolong jangan bunuh ayahku. Aku bisa melakukan apapun hentikan mereka." kata Ho Hien memeluk kaki Xiao Nuan. Tidak lama ibunya Ho Hien melakukan hal sama.
"Tolong hentikan, kami membutuhkan dia sebagai kepala keluarga!"
Xiao Nuan diam. "Jawab pertanyaannya, apa kalian membunuh adiknya?" Xiao Nuan mencari keadilan untuk adik Niu Mayleen.
"Aku berani bersumpah, aku tidak tahu apapun. Suamiku datang dengan membawa obat dari peramal."
Xiao Nuan melompat dan menghentikan Niu Mayleen yang bertarung. Xiao Nuan melempar tubuh ayah Ho Hien ke arah istri dan anaknya.
"Kenapa kau hentikan?" bentak Niu Mayleen.
Xiao Nuan turun ia menatap satu keluarga yang memeluk pria yang sudah berlumuran darah karena Niu Mayleen. "Sekali lagi, dari mana kalian mendapatkan obat tersebut."
"Hewan roh ...
"Berani omong kosong?"
Xiao Nuan mengeluarkan pedang suci, hal itu membuat satu keluarga itu ketakutan sampai hampir mati. "Dewi, aku kan jujur tapi lepaskan istri dan anakku."
"Nyawa mereka tergantung dengan jawabanmu."
"Baiklah, aku berkata jujur. Obat anakku adalah jantung hati seorang wanita. Aku mengintainya selama berbulan-bulan. Ia hidup di selatan sendirian."
Wajah Niu Mayleen mengeras. "DIA ADALAH ADIKKU KAU BERANI BERBOHONG DAB MEMBUNUHNYA!" Niu Mayleen sudah habis kesabaran ia ingin memenggal kepalanya.
"Niu Mayleen, jangan gegabah." sekali lagu Xiao Nuan menghentikan Niu Mayleen. Ia mengatakan kalau selalu ada hukum alam.
"Kau membunuh gadis tidak bersalah, apa kamu siap menerima konsekuensinya?"
"Jangan ku mohon, biarkan aku mengganti ayahku karena aku yang memakan jantung itu." sela Ho Hien.
Ayah menahan Ho Hien lalu mengatakan. "Dewi aku memang salah, jangan biarkan mereka menanggung akibat yang ku perbuat."
Xiao Nuan mengerutkan dahinya, ia tidak bisa memberikan keadilan karena dulu juga dirinya membunuh jika membalaskan dendam.
"Membunuh memang bukan jalan keluar, tapi Niu Mayleen. Kamu berhak untuk meminta keadilan." kata Xiao Nuan melirik.
Xiao Nuan berjalan ke arah tempat duduk. "Niu Mayleen, kamu bisa membebaskan rasa marah dan kesal tapi tidak membunuhnya."
"Kenapa?"
"Sebagai pembunuh bayaran, kamu juga harus merasakan apa yang keluarga korban rasakan bukan begitu?" Niu Mayleen teringat banyak korban yang telah ia jatuhkan.
Kematian adiknya adalah bentuk hukuman untuknya agar merasakan sakit di tinggalkan mati. "Benar, membunuh rubah tua ini tidak bisa membuat adikku kembali." balas Niu Mayleen menarik nafas panjang.
Melihat keluarga rubah yang terdiri dari tiga orang itu saling berpelukan untuk menerima apa yang Niu Mayleen berikan. "Huh, pantang bagiku untuk membiarkan mereka hidup tapi kamu benar aku tidak bisa membalaskan dendam dengan membunuh."
Xiao Nuan terkekeh.
"Keluarga ini adalah pemimpin dari desa siluman rubah." kata Xiao Nuan.
"Aku tidak peduli manusia mana yang kalian jadikan santapan tapi ini terakhir kalinya kalian membuat masalah denganku." lanjut Xiao Nuan.
****
Hingga pada akhirnya Xiao Nuan dan Niu Mayleen meninggalkan keluarga itu. Niu Mayleen merasa kalau memukulinya sampai babak belur sudah cukup.
"Apa bebanmu menghilang?" tanya Xiao Nuan.
"Belum, setidaknya jantung adikku masih berada di dalam diri Ho Hien."
Mereka berjalan beberapa kilo meter. "Dia mengikuti kita." ujar Xiao Nuan. Niu Mayleen langsung menoleh ternyata Ho Hien mengikuti mereka.
"Ada apa lagi?" bentak Niu Mayleen marah.
"Maafkan aku, sebagai ganti aku telah memakan jantung adikmu maka aku akan ikut bersama kalian." Xiao Nuan mengerutkan dahi.
"Aku tidak ada urusan denganmu."
Ucapan dingin Xiao Nuan membuat Ho Hien tertunduk lesu. "Melihatmu aku seperti ingin membunuh!" kata Niu Mayleen lagi
"Niu Mayleen, setidaknya kamu bisa mengenang adikmu dengan adanya dia."
Niu Mayleen tidak mau tahu ia pergi meninggalkan Xiao Nuan dan Niu Mayleen. "Tenang, dia hanya marah karena tidak dapat menerimanya."
Sampai di rumah Niu Mayleen.
Niu Mayleen sudah sampai duluan, sebagai tanda perpisahan yang menyedihkan Niu Mayleen memainkan alat musik dengan nada yang menyayat hati.
__ADS_1
"Aku telah memberikan luka dalam." gumam Ho Hien.
Xiao Nuan meliriknya lalu berjalan. "Sudahlah, baik-baik dengannya siapa tahu Niu Mayleen memaafkanmu." ujar Xiao Nuan.
Niu Mayleen melihat Xiao Nuan membawa Ho Hien langsung marah. "Kenapa kamu membawa rubah sialan ini?" bentak Niu Mayleen marah.
Xiao Nuan duduk dengan acuh tak acuh. "Dia akan mengabdi untuk menebus kesalahannya." , Xiao Nuan menyandarkan punggungnya.
Malam ini ia tidak ingin tidur, ia harus cepat menyelesaikan pengobatan agar segera pulang kembali. "Dia sangat tidak menyukaiku!"
Xiao Nuan membuka matanya. "Sudah ku bilang berbaiklah hati manusia akan berubah kapan saja." Ho Hien mendapat ide ini dari Xiao Nuan.
Karena rasa bersalah bisa mendapatkan maaf, maka yang Ho Hien harus dapatkan adalah maaf dari Niu Mayleen. Xiao Nuan melakukan kultivasi lagi.
Melihat Xiao Nuan sedang bermeditasi Ho Hien menunggunya di samping, sedangkan Niu Mayleen karena marah ia masuk ke dalam rumah.
Ia meninggal dua wanita berada di luar semalaman. Pagi pun datang Xiao Nuan membuka mata. Tubuhnya sudah benar-benar kembali seperti semula.
"Apa dia benar-benar siluman rubah?" gumam Xiao Nuan melihat Ho Hien tertidur bersandar ke pohon. Sangat jarang siluman rubah memiliki rasa bersalah.
"Kenapa kamu membawanya?" tanya Niu Mayleen berdiri di hadapannya Xiao Nuan. Ia tidak terkejut dengan kedatangan Niu Mayleen secara tiba-tiba.
Xiao Nuan memberikan jubahnya pada Ho Hien untuk menyelimutinya. "Sangat jarang siluman rubah seperti dia, kenapa kamu tidak mencoba menerimanya?"
"Dia hidup karena jantung adikku!"
"Karena itu, kenapa kamu gak coba untuk berdamai!" Niu Mayleen mengatakan ia tidak bisa menerima Ho Hien karena terus mengingatkan tentang adiknya.
"Kamu tidak tahu rasanya merindukan seseorang lebih dari 10 tahun." ucap Niu Mayleen.
Xiao Nuan mengarahkan kekuatannya untuk membenturkan tubuh Niu Mayleen ke sebuah tembok. "Lebih 10 tahun? Lalu apa kabarku yang selalu mencari alasan kenapa orangtuaku meninggalkan secara tragis."
Tatapan mata menyala Xiao Nuan membuat Niu Mayleen merasakan tekanan besar. "Aku ... "
Xiao Nuan membantingkan tubuh Niu Mayleen. "Sebagai sesama manusia yang pernah menjadi pembunuh sudah saatnya alam melakukan hukuman."
Tidak ada yang salah dari ucapan Xiao Nuan. Namun Niu Mayleen masih tidak bisa menerima apa yang terjadi apalagi semuanya terlalu cepat.
...****...
Siang hari Xiao Nuan sudah siap, ia akan meninggalkan tempat ini. "Aku harus pergi, terima kasih untuk dua hari ini." kata Xiao Nuan siap pergi.
Niu Mayleen mengejar Xiao Nuan.
"Tolong jadikan aku pengikutmu!" ucap Niu Mayleen memohon.
Ho Hien hanya diam, karena tujuannya kemanapun Niu Mayleen pergi maka dirinya akan ada di sana. "Aku tidak mempercayai orang lain."
"Terserah, tapi izinkan aku menjadi pengawalmu!" ujar Niu Mayleen.
Beberapa perkataan Xiao Nuan membuatnya sadar dan hidupnya tidak bisa di sia-siakan dengan rasa penyesalan. Ia memutuskan untuk menjadi pengawal Xiao Nuan.
Melihat ke seriusnya Niu Mayleen, Xiao Nuan menghela nafas. "Baiklah, tapi aku tidak bisa menggaji tenagamu!" ujar Xiao Nuan melanjutkan jalannya.
Akhirnya Xiao Nuan kembali ke Yuoyui bersama dengan Niu Mayleen dan Ho Hien. Baginya kedua orang ini bisa diandal dan tidak terlalu merepotkan.
Satu siluman rubah yang sangat pintar, satunya lagi seorang mantan pembunuh bayaran. Keduanya menguntungkan namun akan sulit jika bepergian.
Jarak dari Xili ke Yuoyui hanya 3 hari berjalan kaki, berhubung Niu Mayleen mempunyai dua kuda jadi mereka berkuda untuk mempersingkat waktu.
Tidak butuh lama ketika malam mereka sudah hampir sampai di gerbang kerajaan Yuoyui. "Astaga!", kuda mereka hampir bertabrakan dengan kuda lain.
Xiao Nuan melihat dengan jelas ternyata Feng shui. "Iya ini aku," jawab Xiao Nuan.
"Akhirnya kita menemukan anda!"
"Dimana Liu Xingsheng?" tanya Xiao Nuan. Feng shui mengatakan kalau Liu Xingsheng berada di hutan terakhir bertemu dengannya.
"Tuan masih mencari anda di tempat itu."
Xiao Nuan langsung memacu kudanya menuju hutan itu. Ia takut Liu Xingsheng semakin kacau dan merusak proses penyatuan. Beberapa saat kemudian tepat hampir subuh Xiao Nuan sampai hutan tersebut.
Ia turun dari kuda, berjalan perlahan melihat dengan detail dengan memanfaatkan cahaya bulan. "Liu Xingsheng!" panggil Xiao Nuan.
Ia terus memanggil nama Liu Xingsheng selama beberapa jam. Sudah hampir pagi tapi mereka belum bertemu, Xiao Nuan terduduk lelah.
Perjalan dari Xili ke Yuoyui cukup jauh di tambah ia mencari Liu Xingsheng yang sedang mencari dirinya. Xiao Nuan menatap ke atas dan berdoa dalam hati agar cepat bertemu.
"An'Er?"
Xiao Nuan langsung menoleh. Ternyata Liu Xingsheng ia langsung turun dari kuda dan memeluk Xiao Nuan yang bersandar. "Akhirnya aku menemukanmu!"
Di susul puluhan prajurit dan Feng shui. Melihat Liu Xingsheng yang lelah mencari Xiao Nuan selama 3 hari Feng shui menyarankan untuk kembali ke kediaman.
Kediaman pangeran kaisar
Liu Xingsheng langsung menanyakan kemana saja Xiao Nuan, beberapa pertanyaan yang sangat khawatir dengan keadaan Xiao Nuan.
"Kamu pergi dengan tubuh masih sakit, andai saja saat itu aku tidak pergi."
"Jangan menyalahkan diri, aku yang tidak bisa menjaga diri." Xiao Nuan menceritakan bahwa dia hampir di jual ke rumah bordil namun berhasil selamat dan di tampung oleh Niu Mayleen.
"Syukurlah, bagaimana bisa kamu sampai di kerajaan tetangga?" Xiao Nuan menggeleng kepala ia hanya ingat ketika bangun dari pingsannya sudah berada di rumah di tengah hutan.
"Sudah, yang penting kamu sudah kembali. Maafkan aku telah lalai menjagamu!" Xiao Nuan terharu karena Liu Xingsheng sampai seperti itu mengkhawatirkan dirinya.
"Beruntung keluarga kerajaan tidak tahu hal ini." ucap Liu Xingsheng membuat Xiao Nuan mengerutkan dahi.
"Memang kenapa?"
"Mereka sedang merencanakan sesuatu agar aku menyerahkan kemiliteran kerajaan." kata Liu Xingsheng. Makanya ia sangat panik saat Xiao Nuan hilang.
Pikirannya tertuju pada keluarganya karena hanya anggota kerajaan yang mengetahui hal pribadi tentang Xiao Nuan dan Liu Xingsheng.
"Maaf, aku tidak langsung kembali karena tubuhku benar-benar terluka." Liu Xingsheng kembali memeluk Xiao Nuan ia tidak perlu minta maaf kembali dengan selamat sebuah kebahagiaan bagi Liu Xingsheng.
****
Di paviliun Niu Mayleen dan Ho Hien terkejut karena mengetahui kalau Xiao Nuan baru berada di sini kurang dari seminggu sudah hilang lagi.
Mereka tidak menyangka wanita seanggun Xiao Nuan melakukan hal seperti melarikan diri hingga menembus kerajaan merah. "Makanya tuan sangat khawatir." ucap Feng shui diakhir.
"Memang siapa pria itu?" tanya Niu Mayleen.
"Dia adalah suami nyonya." Kedua orang itu lebih terkejut mengetahui jika Xiao Nuan sudah menikah. Beberapakali mereka menyebutnya seorang gadis tapi tidak bersuami.
Ketika sedang dalam keterkejutan Xiao Nuan datang menghampiri mereka. "Nona Xiao Nuan, anda ... " Niu Mayleen tidak bisa berkata-kata.
Xiao Nuan kebingungan karena melihat wajah Niu Mayleen dan Ho Hien yang terkejut. "Kenapa mereka?" tanya Xiao Nuan pada Feng shui.
__ADS_1
Melihat dari ekspresi mereka Xiao Nuan menyimpulkan kalau Feng shui telah mengatakan sesuatu. "Apa yang kalian bicarakan sebelum aku ke sini?"
"Tidak ada!" Serempak mereka.
Feng shui teringat dengan burung Phoenix milik Xiao Nuan. Ia mengatakan kalau burung Xiao Nuan tidak mau makan. Xiao Nuan terkejut dan segera berlari dari sana.
"Huuuhhh" mereka menghela nafas lega.
"Feng shui, apa yang di katakan apa semuanya benar?" tanya Niu Mayleen. Feng shui mengangguk yakin.
"Aku melihat dengan mata kepalaku, nyonya terlalu misterius hingga bisa menyembunyikan apapun." Feng shui menceritakan tentang pertarungan antara Lien Hua dan Xiao Nuan.
"Memang pantas dia selalu terlihat diam." gumam Niu Mayleen memikirkan setiap detik keberadaan Xiao Nuan di sekitarnya. Sebelum ke sini Niu Mayleen memperhatikan Xiao Nuan dan memang sangat pendiam.
Xiao Nuan berlari ke arah tempat Leng berada, dengan buru-buru ia melihat Leng namun pikirannya tidak sama dengan realita. Leng sedang bersantai dengan cemilan daging di sampingnya.
"Pembohong!" bentak Xiao Nuan melempar Leng keluar dari tempatnya.
Leng yang terkejut karena kedatangan Xiao Nuan tidak mempunyai persiapan hingga terlempar ke tanah. "Kenapa kau melempar diriku?" tanya Leng.
Xiao Nuan mengepalkan tangannya. "Feng shui bilang kamu tidak mau makan!" bentak Xiao Nuan emosi. Leng tidak mengatakan apapun membuat Xiao Nuan marah.
"Burung sialan, ternyata kamu melakukan itu untuk makanan gratis!" Xiao Nuan bersiap melemparkan sendal namun Leng terbang membuatnya sulit untuk di lempar.
"Kembali kau burung sialan!"
"Aku tidak tahu apapun, kenapa kau tiba-tiba datang dan mengamuk!" teriak Leng meninggalkan tempat tersebut.
...****...
Liu Xingsheng keluar kamar, ia bertemu dengan Niu Mayleen dan Ho Hien. "Terimakasih telah menjaga istriku." ucap Liu Xingsheng sopan.
"Itu tugas saya sebagai pengawal." balas Niu Mayleen membuat Liu Xingsheng terkejut karena Xiao Nuan tidak mengatakan apapun tentang status mereka berdua.
"Ah, dimana An'Er?"
Mereka menggeleng kepala tanda tidak tahu, "Istirahatlah, biarkan para pelayan menyiapkan tempat kalian. Aku harus bertemu dengan Xiao Nuan dulu."
Setelah mengatakan itu Liu Xingsheng langsung pergi. "Dia sangat perhatian dengan nona, tapi kenapa nona sangat dingin." kata Niu Mayleen.
Jangan tanya Ho Hien, ia akan bersuara jika di tanya. Kalau semuanya tidak ada yang bertanya maka Ho Hien diam seperti bisu. Ia juga mengikuti Niu Mayleen kemanapun seperti lem.
Liu Xingsheng berjalan masuk ke paviliun milik Xiao Nuan. Namun terlihat sepi, ia tahu kalau Xiao Nuan ada di sini kondisi tubuhnya pasti lelah.
Setelah mencari di kamar tidak ada Liu Xingsheng sengaja berjalan ke arah taman belakang. Matanya langsung terbelalak melihat penampilan Xiao Nuan.
Xiao Nuan sedang berjemur di bawah matahari menjelang siang, dengan pakaian seperti ini. Jangan tanya bagaimana cara membuatnya, Xiao Nuan hanya merobek beberapae pakaian.
Karena malu Liu Xingsheng memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kenapa pakaianmu di tanggalkan?!" tanya Liu Xingsheng.
Xiao Nuan yang menikmati matahari pun membuka matanya. Melihat Liu Xingsheng membuang muka ia terkekeh. "Kenapa? Aku ingin merilekskan tubuhku "
"Banyak hal yang bisa kamu lakukan tapi jangan membuka baju sampai seperti ini."
"Kenapa? Ini tempat khusus mandi tidak ada yang berani masuk kecuali kamu." Liu Xingsheng memerah ucapan Xiao Nuan seakan mengatakan kalau Liu Xingsheng menerobos masuk.
"Aku mencarimu."
"Sekarang sudah bertemu, mau apa?"
"Pakai dulu pakaianmu!" perintah Liu Xingsheng.
Xiao Nuan bukannya mengambil pakaian ia malah berdiri menghampiri Liu Xingsheng. "Kita suami-istri apanya yang harus malu."
Xiao Nuan mengambil air yang berada di dekat Liu Xingsheng. Dalam pikirannya salah Liu Xingsheng sendiri datang tanpa melihat keadaan.
Di dunianya baju seperti ini sangat lumrah dan bahkan tidak sedikit orang memakainya saat party. "Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Aku tidak fokus jika pakaianmu seperti itu." balas Liu Xingsheng.
Xiao Nuan tersenyum miring lalu mendekati Liu Xingsheng. "Malu? Hemm?", tangannya menyentuh bahu Liu Xingsheng ia ingin menggoda suaminya seperti kemarin dia di goda olehnya.
"Tenyata kelemahanmu melihat wanita ****!" ucap Xiao Nuan.
Liu Xingsheng menatap Xiao Nuan, baru saja ia mendengar Xiao Nuan meremehkannya. "Wanita ****? Itu biasa tapi melihatmu seperti ini. Apa kau yakin hari ini akan lepas?"
Xiao Nuan seperti terjebak dalam rencana sendiri. Liu Xingsheng mendorong tubuh Xiao Nuan sampai jatuh ke tanah. Liu Xingsheng membelai rambut Xiao Nuan.
"Sepertinya kau memang sangat tidak sabaran."
"Apa maksudmu?"
Liu Xingsheng membisikan sesuatu membuat Xiao Nuan menjadi merah merona. Jemari nakalnya menyentuh tali kecil yang berada di bahu Xiao Nuan.
Seketika langsung putus, Xiao Nuan tidak bisa melakukan apapun karena tegang dan menunggu apa yang selanjutnya terjadi.
Melihat Xiao Nuan tegang Liu Xingsheng mengangkat tubuhnya dan masuk ke dalam kamar dari pintu samping. Perlahan Liu Xingsheng menaruh Xiao Nuan di atas ranjang.
"Berhenti, bukannya kamu mau bilang sesuatu?" tanya Xiao Nuan saat penutup pahanya di tarik oleh Liu Xingsheng.
"Masih banyak waktu yang kita miliki." lirih Liu Xingsheng.
Kaki Xiao Nuan saling bergesekan karena terlalu tegang. "Jangan tegang ini sebentar." lirih Liu Xingsheng tepat di telinga Xiao Nuan.
Nada sensual membuat Xiao Nuan merinding. Hatinya ingin berontak dan menjauhkan diri tapi rasanya badan ibu tidak bisa melakukan apapun dan lebih menanti sentuhan Liu Xingsheng.
Desis lirih dari bibi Xiao Nuan ketika tangan Liu Xingsheng nakal menyelusuri tiap lekuk tubuh Xiao Nuan. Hatinya bersorak untuk melawan tapi apalah daya tubuh yang terus menagih yang terjadi selanjutnya.
"Otak hati dan tubuhku tidak mau bekerja sama. God, cepatlah selesaikan ini!" batin Xiao Nuan berteriak.
Xiao Nuan menunggu hal selanjutnya, Liu Xingsheng malah mengulur waktu hingga membuat Xiao Nuan mengatakan hal yang menggelikan.
"Cepatlah;"
Satu kalimat lolos begitu saja, Liu Xingsheng tersenyum menggoda. "Sayang, kamu tidak mau menikmatinya secara perlahan?"
Xiao Nuan malah memejamkan mata, perkataan Liu Xingsheng dan sentuhan tangannya membuat Xiao Nuan terbang ia tidak bisa fokus menjawab.
"Uhhhh ... " rintih Xiao Nuan kesakitan.
Liu Xingsheng mencium bibir Xiao Nuan agar suara-suara eksotis terdengar keluar kediaman. "Tahan, gak akan lama kok." ujar Liu Xingsheng pelan.
Xiao Nuan merintih tertahan setiap Liu Xingsheng bergerak, ia mengigit bibirnya karena tidak ingin sampai mengeluarkan suara. Semakin lama semakin brutal Xiao Nuan tidak mampu menahan rintihannya.
Suaranya lolos begitu saja. Liu Xingsheng tersenyum samar melihat Xiao Nuan yang menggeleng kepala kiri-kanan karena menahan nikmat.
"Uh ... aku ... " Xiao Nuan mengatakan sesuatu dengan terbata-bata Liu Xingsheng malah memacu lebih cepat membuat Xiao Nuan seperti cacing kepanasan karena ulahnya.
__ADS_1