
Xiao Nuan sedikit marah karena raja tidak membiarkan mereka berdua pulang ke kediaman. Sedangkan dirinya malas bertemu lagi dengan keponakan Liu Xingsheng.
"Hanya satu malam saja." ujar Liu Xingsheng saat melihat Xiao Nuan memasang wajah kesal.
Xiao Nuan melirik Liu Xingsheng dengan malas lalu kembali menatap lurus. "Aku akan masak kesukaanmu bagaimana?" tawar Liu Xingsheng berharap istrinya senang.
Terdengar Xiao Nuan menghela nafas lambat.
"Ok, tapi ikut!" Liu Xingsheng mengangguk saja lagian melarang Xiao Nuan sama saja seperti membuat masalah.
Xiao Nuan hanya melihat Liu Xingsheng yang sedang sibuk dengan masakannya, ia duduk memegang dagu dengan malas. Setidaknya ia bisa melihat wajah tampan Liu Xingsheng saat kesal seperti ini.
Beberapa menit berlalu wajah Liu Xingsheng berkeringat karena panas dari tungku, Xiao Nuan merasa Liu Xingsheng semakin menggoda saja.
Tidak di sangka pikiran Xiao Nuan menjadi terbang kemana saja sampai dirinya memukul pelan kepalanya. "Apa-apaan sih, ngapain lagi pikir dia telanjang." lirih Xiao Nuan.
Ia berusaha untuk berpikir lain daripada memikirkan hal malu seperti ini. Liu Xingsheng melirik Xiao Nuan yang berbicara sendiri sambil memukul kepalanya ringan.
"Ada apa? Kamu pusing?" tanya Liu Xingsheng.
Xiao Nuan gelagapan mendengar pertanyaan dari Liu Xingsheng yang sedang masak, "Kalo capek kembali aja ke kamar, nanti aku bawa makanannya ke sana."
"Nggak, cuman pikiranku sedang berjalan-jalan."
Liu Xingsheng mengerutkan dahi bingung, "Berjalan kemana? Kenapa gak di cari?" tanya Liu Xingsheng bercanda.
Xiao Nuan hanya mendengus lalu berdiri dan berjalan menghampiri Liu Xingsheng, "Malas mencari, ada yang bisa aku bantu?" tanya Xiao Nuan.
Liu Xingsheng menunjuk bawang yang baru setengah di kupas. "Mau berapa butir?"
"Tambah 4 lagi udah cukup."
Liu Xingsheng meninggalkan Xiao Nuan, ia perempuan pasti bisa mengupas bawang. "Apa enak makan ini?" Liu Xingsheng menoleh ke arah Xiao Nuan yang mengupas bawang.
"Itu hanya pelengkap,"
Xiao Nuan merasa heran kenapa bisa urusan dapur sedangkan dirinya yang sejak lahir berjenis kelamin wanita tidak bisa? Yang benar saja.
Liu Xingsheng selesai menggoreng lalu berbalik untuk melihat apa pekerjaan Xiao Nuan sudah selesai apa belum. "Ya ampun, kenapa seperti ini?"
Liu Xingsheng terkejut karena Xiao Nuan mengupas bawang sampai dalam bahkan hanya tersisa bawang paling dalam. "Bawang cuman dikupas luarnya yang tipis ini bukan di kupas sampe dagingnya."
Xiao Nuan menatap Liu Xingsheng yang kesal dengan polos sekali, "Kamu suruh kupas doang, gak bilang kupas sampai mana."
Liu Xingsheng menatap tidak percaya, kupas sampai mana? Wanita di hadapannya benar manusia? Liu Xingsheng menggaruk kepalanya tidak gatal.
"Apa kamu pernah ke dapur?" Xiao Nuan mengangguk.
"Lalu kenapa kamu gak bisa kupas bawang?!"
"Aku malah baru tau kalau ini namanya bawang."
Liu Xingsheng menarik nafas berat. "Sayang, kamu ke dapur ngapain aja?" tanya Liu Xingsheng dengan sabar.
"Ngambil piring." jawab Xiao Nuan polos.
Pix, Liu Xingsheng akan membawa wanita ini ke ujung rawa untuk di jadikan tumbal. Bisa-bisa wanita ini tidak tahu jenis apaan ini sayur.
"Lagian kamu ngapain coba nyuruh aku kupas bawang kalo ujung-ujungnya gak guna."
"Yang gak berguna itu kamu." balas Liu Xingsheng.
__ADS_1
"APA KAMU BILANG?" teriak Xiao Nuan.
Liu Xingsheng menggeleng pelan, "Iya bawang ini yang gak guna." ucap Liu Xingsheng mengalah tidak ada gunanya juga ia berdebat dengan Xiao Nuan yang definisi gak mau salah.
***
Drama-drama yang terjadi telah usai, kini mereka sudah di kamar dengan makanan yang dibuat oleh Liu Xingsheng. Pasti kalian tahu apa yang terjadi pada bawang itu.
Pada akhirnya Liu Xingsheng mengupas bawang lain dan memasaknya, sangat menyerah dengan hal itu menurut Liu Xingsheng.
Lihatlah siapa yang lahap makan bawang yang bercampur dengan daging itu. 'Bukannya dia sendiri yang bilang apa enak bawang ini di campur daging?!'
Enggan membuat masalah Liu Xingsheng memilih makan bersama tanpa banyak bicara, makanan habis tak tersisa oleh Xiao Nuan. Liu Xingsheng tersenyum bangga karena masakannya di sukai oleh kekasihnya.
"Jangan langsung tidur kamu baru selesai makan." tegur Liu Xingsheng saat melihat Xiao Nuan berjalan ke arah ranjang. Xiao Nuan menoleh lalu berkata.
"Udah makan ngantuk, lagian aku mau senderan dulu."
Liu Xingsheng diam melihat gerak-gerik istrinya,
"Gak ada kemajuan tentang rumah tangga." lirih Liu Xingsheng melihat tingkah laku Xiao Nuan.
Melihat suaminya berjalan ke arahnya tiba-tiba Xiao Nuan merasa salah tingkah. "Bisa gak, malam ini kita tidur terpisah?" tanya Xiao Nuan.
Liu Xingsheng yang ingin duduk langsung berdiri tegak, tatapannya seperti marah. "Apa salahnya sekamar? Dikediaman kita tidur terpisah dan sekarang harus sama?"
Pertanyaan Liu Xingsheng tidak ramah sama sekali. Xiao Nuan hanya mendengus lalu membelakangi Liu Xingsheng karena apapun yang di katakan olehnya pasti bisa di patahkan.
Beberapa saat kemudian Xiao Nuan sudah tertidur pulas, Liu Xingsheng yang sedang membaca buku mencoba mengecek apa beneran tidur.
"Tadi bilangnya cuman sandaran." ujar Liu Xingsheng sambil membenarkan posisi tidur Xiao Nuan. Tidak lupa ia mengecup kening Xiao Nuan dengan kasih sayang.
"Kamu terlalu berlian untuk aku yang hanya pasir biasa."
Xiao Nuan duduk memangku dagu matanya menatap malas Liu Xingsheng yang memberi makanan ikan yang berada di depan paviliun.
"Makanan mana sih? Lama banget laperrr!' keluh Xiao Nuan.
Liu Xingsheng hanya tersenyum mendengar ucapan Xiao Nuan yang sudah tidak tahan. Padahal ini baru menjelang siang kenapa sangat kelaparan sekali.
"Alihkan rasa laparmu, biasakan karena kamu tidak selalu berada di rumah."
"Berisik, harusnya pelayan kerajaan jauh lebih gesit dan paham jadwal makan dibandingkan di rumah." timpal Xiao Nuan dengan kesal.
Tidak lama beberapa pelayan datang membawa makanan, dulu Liu Xingsheng berada di istana ini jadi mereka terbiasa sarapan jam segini.
"Lama!" ketus Xiao Nuan sambil mengambil sumpit dan melahap beberapa makanan karena sudah sangat lapar.
Liu Xingsheng mencuci tangan dahulu sebelum ikut makan bersama Xiao Nuan. Terlihat pelayan merasa bersalah dan meminta maaf.
Pelayan pergi setelah Liu Xingsheng meminta mereka untuk meninggalkan dirinya bersama Xiao Nuan saja. "Udah ada makanannya jangan cemberut terus."
Xiao Nuan hanya memutar bola matanya malas lalu kembali fokus makan, entahlah mendengar Liu Xingsheng bicara hanya membuatnya kesal saja.
"Makan, kamu membuat perasaan hancur saja." ucap Xiao Nuan berdiri dan meninggalkan Liu Xingsheng yang baru makan sedikit.
"Perasaan apa? Kamu udah makan 3 piring, sayang!" jawab Liu Xingsheng dan masih terdengar oleh Xiao Nuan yang sudah jauh.
Beberapa saat kemudian
Liu Xingsheng harus berkumpul dengan keluarga kerajaan untuk menyambut tamu penting, mereka pasti sedang membicarakan politik di sela acara ini.
__ADS_1
Xiao Nuan datang bersama dengan ratu dan ibu suri, di belakang mereka di iringi beberapa selir raja. Ini adalah puncak acaranya Xiao Nuan melihat kiri kanan.
"Malah kayak karnaval sumpah."
Namun Xiao Nuan malah mencari Liu Xingsheng duduk dimana, ketika celingukan mencari Xiao Nuan melihat pangeran Yun Taen dan putra mahkota menatap ke arahnya.
"Dua kunyuk itu ngapain liatin." lirih Xiao Nuan.
Xiao Nuan duduk dekat ratu, ia melihat suaminya sedang berbicara ringan dengan beberapa orang penting. Raja pun sama mereka tampak biasa saja saat wanita-wanita kerajaan datang.
"Di era ini bahkan wanita tidak ada harga dirinya." gumam Xiao Nuan.
"Kamu berbicara apa?" tanya ratu saat melihat Xiao Nuan menggumam tidak jelas.
"Tidak ratu, aku senang karena ramai acara ini."
Ratu mengangguk, ia berkata bahkan sebelum putri satu-satunya menikah orang-orang dari kerajaan sebrang berbondong-bondong untuk melihat putrinya.
"Kenapa yang mulia putri tidak ada?"
"Ia sudah menikah dengan pria dari negeri jauh, bahkan tradisi mereka sangat jauh berbeda dengan kita." Xiao Nuan mengangguk saja ia jadi penasaran negeri mana yang di maksud ratu.
Saat ingin mengambil teh Xiao Nuan tiba-tiba menoleh ke arah lain dan langsung berpapasan mata dengan Liu Xingsheng. "Cih, pantesan ada yang liatin ternyata ular cobra lagi cari mangsa."
Liu Xingsheng seakan memberi isyarat agar Xiao Nuan tidak menarik perhatian dengan parasnya yang sedang menjadi berlian diantara bebatuan sungai.
"Maaf kelancangan hamba, apa raja mempunyai putri lain?" tanya seorang raja kerajaan lain.
"Tidak ada, kenapa menanyakan hal itu."
"Saya melihat ada yang berkilauan sejak tadi, demikian pemikiran saya dan memberanikan diri bertanya."
"Wanita mana yang menarik perhatianmu?"
"Wanita di samping ratu, dia sangat berkilau." Xiao Nuan langsung menoleh sambil membulatkan matanya. Sontak tatapannya langsung ke arah Liu Xingsheng.
"Baru aja di peringati, udah kecantol aja. Siap-siap deh." batin Xiao Nuan
Tatapan Liu Xingsheng semakin tajam, seolah mengintimidasi Xiao Nuan agar tidak berkata yang membuat orang lain salah paham. "Ahahahahah, dia adalah Alcie Wang. Wanita paling berharga di istana ini." timpal raja.
Semua orang bingung dengan ucapan ambigu dari raja, Liu Xingsheng pun kesal karena raja seolah tidak membeberkan status Xiao Nuan di sini.
"Sangat mahal, aku tidak akan memberikannya pada kalian." canda raja membuat Liu Xingsheng terbakar. Ia mengontrol emosinya agar tidak membuat keributan.
"Lihat saja, berani menyentuh wanitaku. Akan tahu akibatnya." pikir Liu Xingsheng tidak takut apapun.
Xiao Nuan menyembunyikan wajahnya di balik kipas karena tidak tahan dengan tatapan Liu Xingsheng. Putra mahkota juga merasa gerah dengan pertanyaan beberapa orang dari kerajaan sebrang.
"Bibi begitu mencolok, bahkan tidak seperti wanita yang telah menikah." ucap pangeran Yun Akasha.
"Diam!" serempak dia pangeran yang sedang kepanasan. Mereka bisa tahan dengan kemesraan Liu Xingsheng tapi tidak bisa dengan orang lain.
"Kalian kenapa?" tanya pangeran Yun Akasha.
Mereka hanya meneguk arak dengan gusar.
"Kakak putra mahkota, bukannya kamu memiliki tunangan kenapa tegang?" tanya pangeran Yun Taen.
"Kau juga sama, bodoh!"
__ADS_1
Mereka saling menanyakan aib, padahal di depan Xiao Nuan mereka berdua terang-terangan mengibarkan bendera perang. "Ck, kalian memiliki wanita tapi tetap tergoda dengan istri paman." komentar pangeran Yun Akasha.