Killer Queen

Killer Queen
Episode 23


__ADS_3

"Jangan salahkan aku, mereka saja yang tidak tahan dengan wajahku!" ujar Xiao Nuan membela diri.


"Sudah kubilang, pakai cadar kenapa tidak mendengar?!"


Xiao Nuan mengerutkan dahi, ia tidak ingat kalau Liu Xingseng menyuruhnya untuk memakai cadar. "Sudahlah, kenapa kamu begitu repot!"


Liu Xingseng terdiam di tempat, api cemburu membuatnya hampir gila. Pertemuan penting ini membuat dirinya sadar kalau Xiao Nuan tidak boleh dikagumi oleh orang lain.


"Kenapa kamu begitu menarik!!!" lirih Liu Xingseng.


***


Xiao Nuan berjalan sendirian ia mengomel karena kesel. "Kemarin dia membujukku untuk menginap, sekarang marah-marah karna hal sepele. Untung suami ganteng kalau jelek udah di jual ke tulang daging."


Xiao Nuan tidak sengaja melihat seekor burung terbang, "Eh kenapa baru sadar ya."


Ia menggerakkan tangannya, membuat Leng jatuh dari kotak penyimpanan. "Bisa gak pelan-pelan?! Aku sedang tidur!"


Xiao Nuan melotot, "Kau selalu tidur, sekarang kau harus bekerja." ungkap Xiao Nuan menangkap Leng dari tanah.


"Apanya bekerja?! Selama ribuan tahun gak ada yang berani menyuruhku sekarang kau mengatakan hal itu!"


Xiao Nuan tersenyum, "Apa burung emas ini tidak mau menuruti perintah dariku?!" tanya Xiao Nuan mengeratkan cengkraman tangan.


"Hei, kau membuatku mati kehabisan nafas!" ujar Leng terus bergerak dan mengeluarkan suara.


"Burung sialan, tugasmu hanya mencari tahu putri kerajaan menikah dengan pangeran mana!"


"Itu bukan tugas burung legendaris!" tolak Leng.


"Sepertinya menjadikanmu teman makan bubur malam nanti akan menjadi lebih lezat."


Leng langsung panik dan berusaha kabur, "Aku baru tahu kalau burung legendaris bisa di masak."


"Kenapa tidak?!"


Xiao Nuan lebih keras mencengkeram kuat, Leng terus bergerak dan akhirnya menyerah. "Oke, aku membantumu tapi tolong lepaskan!"


Xiao Nuan tersenyum menang, namun belum meregangkan cengkraman. "Tapi kau ... "


"Bibi," sapa pangeran membuat Xiao Nuan terperanjat kaget. Ia berbalik dan mandapati pangeran Yun Taen sedang melihatnya dengan beberapa antek-antek setia di belakangnya.


"Hais, dia membuatku kaget setengah mati." batin Xiao Nuan.


Pangeran Yun Taen berkata, "Bibi, kau kejam bahkan seekor burung emas tidak bisa kau lepaskan." ujar Pangeran.


Xiao Nuan melepaskan burung itu sebelum terbang, Leng sempat Xiao Nuan cekik terlebih dahulu. "Pangeran, memang benar jangankan itik buruk rupa, burung emas yang cantik dan berharga pun aku berani membunuhnya jika sudah tidak menarik."


"Nona, apa maksud perkataan anda?" tanya pengawal pribadi pengeran Yun Taen. Tangan Pangeran menghalangi pengawal.


"Tenanglah, bibi hanya mengatakan pepatah." balas Pangeran Yun Taen dengan tenang.


"Jika itu nyata, aku harus berpikir membunuh dari mana dulu." semuanya langsung terdiam mendengar ucapan Xiao Nuan yang sangat dingin dan pelan.


"Jangan tegang, aku hanya bercanda. Omong-omong pangeran sedang apa berada di paviliun tamu?"


Pangeran Yun Taen menatap lain Xiao Nuan, ia tahu ada maksud dari perkataan barusan. "Paviliun ini milik paman raja sebelum akhirnya keluar dari istana."


"Benarkah, begitu banyak tempat di istana yang dimiliki oleh suami tampanku." ujar Xiao Nuan membalas ucapan pangeran Yun Taen.


Tak jauh dari sana putra mahkota melihat mereka berdua sedang berbicara, "Siapa yang akan di pilih oleh wanita ular itu?" tanya putra mahkota pada ajudan di sampingnya.


"Menjawab yang mulia, nona muda sangat netral bahkan sama seperti paman kaisar tidak memihak siapapun apalagi mengenai politik."


Putra mahkota mengangguk setuju, padahal menurutnya jika Xiao Nuan bisa berpihak dirinya adalah sekutu paling kuat di sini.


"Andai saja paman kaisar mau ikut politik,"


"Menurut hamba, paman kaisar hanya ingin melindungi diri dari kejamnya dunia politik."


"Memang betul, politik lebih kejam dari peperangan. Namun paman kaisar pasti memiliki klan kuat politik di balik diamnya."


Ajudan hanya diam, beberapa Minggu ini memang ia menyelidiki kasus ini tapi semuanya tidak ada tanda bahwa ucapan putra mahkota benar.


Mereka pun berjalan meninggalkan tempat tersebut. Kembali ke Xiao Nuan dan pangeran Yun Taen, ia sedikit mengomel karena seluasnya istana ini kenapa harus bertemu pangeran Yun Taen saja.


"Maaf pangeran, bibi-mu ini sangat sibuk." kata Xiao Nuan lalu berjalan meninggalkan pangeran Yun Taen.

__ADS_1


Setelah jauh, Xiao Nuan merasa dirinya di panggil terus menerus. "Ha... Ho Hien darimana saja kau?!" semprot Xiao Nuan.


Ho Hien berdiri ngos-ngosan dia menjelaskan kenapa seharian ini tidak nampak. "Jadi manusia itu menyuruhmu kembali ke rumah untuk hal tidak berguna."


"Tuan bilang kamu tidak suka baju dari istana walaupun bahannya sangat berkualitas." jawab Ho Hien.


'Sialan, dia bilang begitu? apa dia sendiri ya g tidak nyaman karena baju ini hadiah langsung dari putra mahkota.' batin Xiao Nuan.


Karena terdiam cukup lama Ho Hien memanggil nama tuannya tersebut, "Sudahlah, sekarang kamu sudah di sini."


"Iya, tadi tuan berpesan agar secepatnya kembali ke ruangan karena besok lusa kita pulang."


"Apa?!" kaget Xiao Nuan.


"Kenapa?" tanya balik Ho Hien.


Xiao Nuan terkejut karena acara semuanya selesai Rabu depan kenapa mereka pulang cepat? Tentunya karena Liu Xingseng tidak tahan harus melihat istrinya seperti gadis lajang.


"Lalu kemana manusia itu?"


"Tuan? Tuan tadi di panggil oleh kaisar."


"Padahal aku baru saja mau usil." keluh Xiao Nuan.


Ho Hien mengerutkan dahi, nona ini memang aneh terkadang membuat orang repot terkadang juga membuat orang lain khawatir.


****


Di ruangan tertutup Liu Xingseng sedang berbicara serius, bahkan beberapa Mentri khusus hanya menunduk karena terlalu sulit untuk menegakkan leher di situasi ini.


"Adik, aku memang selalu percaya padamu tapi untuk satu ini coba kamu beri aku alasan untuk tenang." kata kaisar.


Liu Xingseng masih bisu, dari tadi dia terus di gencar oleh pertanyaan yang sangat skeptis. "Aku harus menjawab apa? Apa aku punya jawaban yang mampu membuat yang mulia tenang?"


Pada akhirnya Liu Xingseng bersuara namun ucapannya membuat semua semakin tegang, semua orang yang berada di sini tahu bagaimana kaisar ketakutan pada Liu Xingseng tentang kekuasaan.


"Mohon yang mulia jangan khawatir, tuan besar Liu Xingseng tidak mungkin membuat anda tidak nyaman." ucap perdana menteri.


Liu Xingseng menghela nafas beberapa jam di sini hanya untuk membahas hal tidak perlu, "Yang mulia, maafkan hamba. Tapi hamba harus kembali karena ada urusan lain."


Ia juga sudah menyuruh ajudan dan pelayan untuk mempersiapkan kereta karena malam ini juga Liu Xingseng dan Xiao Nuan harus segera kembali ke rumah.


"Apa dia gila? Kemarin ini sekarang itu! Lama-lama aku ikut gila karenanya." gerutu Xiao Nuan saat tahu mereka sudah siap untuk pulang.


Ho Hien menunduk karena Liu Xingseng tiba-tiba masuk, lalu mengisyaratkan agar mereka meninggalkan dirinya berdua dengan Xiao Nuan.


"Terlalu lama di sini hanya membuat permainanmu semakin asyik." kata Liu Xingseng.


"Apaan! Mana ada aku mulai permainan." sergah Xiao Nuan membalikkan badan.


"Kamu memang tidak bermain, tapi putri mahkota tiba-tiba hilang dan di temukan di kamar putra mahkota bukankah hal yang tidak masuk akal."


"Lalu apa hubungannya denganku?"


"Kamu pasti punya jawabannya sendiri, Xiao Nuan."


Mendengar ucapan tajam Xiao Nuan mengibaskan rambutnya agak kesal. "Memang apa salahnya? Berita ini bukan aib."


"Sebelum pengangkatan status resmi, mereka dilarang bermalam bersama apalagi hubungan mereka akan di akui negara."


"Lah aku hanya mempercepat, raja di sini sangat lamban."


Liu Xingseng menggeleng pelan, ia selalu menebak tapi sayangnya tidak ada satupun yang benar. "Lebih baik menjauhkan kamu dari keluarga kerajaan secepatnya."


Sebelum bereaksi Xiao Nuan sudah lebih dulu di bawa Liu Xingseng keluar, mereka langsung menaiki kereta. "Jangan mengatakan apapun sampai di rumah."


Sesampainya mereka di rumah, Xiao Nuan langsung membombardir Liu Xingseng dengan pertanyaan dan amarah yang sejak tadi mengumpul.


"Gak ada satupun jawaban untuk pertanyaan kamu." jawab Liu Xingseng hendak pergi namun Xiao Nuan menarik kasar bahu Liu Xingseng.


"Terserah, tapi kenapa kamu mau aku cepat pergi dari sana?!"


Liu Xingseng melirik ajudan sebentar, mereka langsung mengangguk pamit meninggalkan Xiao Nuan dan Liu Xingseng yang masih berada di depan rumah.


"Kaisar sudah tahu tentang sihir kamu." kata Liu Xingseng.


"Bagus dong."

__ADS_1


Liu Xingseng ingin sekali marah, "Apanya yang bagus, ini bisa menjadi cela agar kita terhalang."


"Kita? Jadi kamu punya tujuan?"


Liu Xingseng menggeleng, "Tujuanku adalah hidup tenang tanpa dihantui oleh keluarga kerajaan, sedangkan dirimu memiliki tujuan untuk menghancurkan negara ini."


"Terus kenapa kamu diam aja, udah tau tujuan diriku membuatmu harus jadi bagian rencana."


"Karena ... Karena aku ... "


"Gak bisa jawabkan, udah deh aku tau tujuan kamu untuk politikkan?" tebak Xiao Nuan tidak mau mendengar kelanjutan dari ucapan Liu Xingseng.


"Sudahlah, ini saatnya aku melakukan serangan kedua." ujar Xiao Nuan lalu pergi meninggalkan Liu Xingseng yang masih terpaku.


***


Sudah hampir pagi seluruh orang yang ada di rumah masih sibuk mencari Xiao Nuan, iya beberapa jam lalu Liu Xingseng menunggu Xiao Nuan kembali namun tidak datang juga.


"Jelas kok tadi nyonya masuk ke dalam, kenapa sekarang hilang?"


"Gak tau, lagian aneh nyonya suka sekali membuat kita semua repot dan kena marah."


"Ayo cari ke bagian lain."


Sedangkan di tempat lain, Ho Hien mengikuti Xiao Nuan ke hutan lebat. "Nona, apa anda yakin?"


Xiao Nuan tidak menjawab, "Ada jalan lain kenapa harus jalan sini?"


Itu pun Xiao Nuan tidak menjawab sama sekali, ia berjalan lebih dulu. "Nona, ... "


"Ho Hien, sekali lagi kamu bicara aku akan membuangmu ke dasar neraka!" balas Xiao Nuan membalikkan tubuh kesal.


Ho Hien hanya tersenyum kecut, walaupun dia klan serigala tapi hutan lebat ini membuatnya cukup takut. "Lihat gubuk di depan, Niu Mayleen berada di sana."


Ho Hien menghela nafas, rumah cukup nyaman dan bagus di sebut gubuk. "Woi anak setan!" panggil Xiao Nuan saat melihat Niu Mayleen sedang duduk di bangku.


"Hishhh, kenapa ada dia?!" gumam Niu Mayleen.


Xiao Nuan datang, "Kau mengumam apaan!" bentak Xiao Nuan kesal. "Tidak ada."


Niu Mayleen merasa lega karena tidak harus menuruti perkataan Xiao Nuan selama berada di istana, namun secara tiba-tiba di menjelang pagi ini makhluk yang ia doakan tidak mengganggu malah datang.


"Nona besar, bukankah anda masih ada waktu sampe lusa di istana?"


Xiao Nuan mengambil cangkir arak dan meminumnya, "Suami tampanku membawa pulang dadakan."


Niu Mayleen menebak pasti Xiao Nuan melakukan sesuatu yang membuatnya harus keluar dari sana lebih cepat. "Tidak ada, aku hanya menyuruh Ho Hien."


"Untuk?"


Xiao Nuan menggeleng pelan, Ho Hien menjawab. "Nona memintaku untuk membuat putri mahkota pingsan dan membawanya untuk bermalam di kamar putra mahkota."


Niu Mayleen langsung tersedak arak, "Dan kamu mengikuti perintah sinting itu?" tanya Niu Mayleen melotot Ho Hien hanya mengangguk.


Ia mendesak pinggang benar-benar dua wanita tak punya otak pikir Niu Mayleen, "Ada banyak cara agar kamu cepat pulang dari sana dan tidak perlu pakai cara itu."


"Salah Ho Hien, kenapa sampai ketahuan." tuduh Xiao Nuan.


"Maaf nona, tapi aku udah pastikan kalau tidak ada yang tahu hal itu." ucap Ho Hien meyakinkan.


Niu Mayleen hanya memegang pelipis walaupun tidak ada saksi tapi mereka semua tahu tidak ada yang lebih berani melakukan hal tersebut selain keluarga kerajaan. Apa dua wanita ini tidak mengerti Niu Mayleen tidak habis pikir.


"Lagian suamimu tidak mengatakan apapun, kenapa kamu yakin kaisar tahu hal ini?"


"Ya dia bilang begitu walaupun tidak ada maksud menuduh." balas Xiao Nuan.


Niu Mayleen heran kenapa wanita ini bisa secerdas kancil dan bisa sebodoh panda! Niu Mayleen memberi tahu apa yang akan di lakukannya sekarang.


"Aku harus mengambil Yan."


Niu Mayleen dan Ho Hien terkejut seketika, "Nona, bukannya kamu kemarin yang tidak ingin menyakiti tuan?"


Niu Mayleen mengangguk setuju, "Situasinya semakin parah, lihat pupil mata Liu Xingseng sudah ada perubahan Yan menolak bersatu."


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Mengambil paksa!" kata Xiao Nuan tanpa ekspresi.

__ADS_1


__ADS_2