
Xiao Nuan menarik tangan Liu Xingsheng keluar dari dalam air, beberapa saat lalu saat mereka terpisah karena Xiao Nuan tidak ingin di ikuti saat ingin sendiri.
Ketika ingin kembali ke aula, Xiao Nuan melihat banyak pelayan dan penjaga yang berkumpul. Mereka mengatakan jika ada seseorang yang masuk ke dalam air.
Xiao Nuan ingin pergi namun melihat ada ikat kepala Liu Xingsheng di pinggiran danau, ia langsung panik dan loncat ke dalam air yang membuat pelayan yang berkerumun langsung teriak histeris.
Xiao Nuan mencari Liu Xingsheng di dalam air, matanya terbelalak melihat Liu Xingsheng sudah lemas jauh di dalam. Mengeluarkan semua tenaga untuk menggapai Liu Xingsheng, Xiao Nuan mendapatkan tangan Liu Xingsheng dan langsung naik ke permukaan.
Tangannya berusahalah menarik tubuh Liu Xingsheng sampai ke daratan. Ia berada di sisi lain danau karena tadi mencari daratan paling dekat.
Wajah Liu Xingsheng sangat pucat membuat Xiao Nuan khawatir. Ia langsung mentransfer kekuatan pada tubuh Liu Xingsheng agar bisa bertahan sebentar lagi.
Karena semakin lemas Xiao Nuan tanpa sadar berteriak meminta tolong. Suaranya menjadi parau sampai akhirnya ada seorang penjaga yang datang menghampiri.
"Nyonya pangeran, apa yang sudah terjadi?"
"Jangan bertanya lagi, cepat panggil tabib." bentak Xiao Nuan.
Penjaga itu langsung mengangguk dan pergi dari sana, Xiao Nuan berusaha melakukan CPR untuk mengeluarkan air yang sudah masuk.
"Bodoh, kau ini pemimpin prajurit kenapa masalah renang juga tidak bisa!" maki Xiao Nuan tangannya terus melakukan CPR. Perlahan tangannya ikut lemas karena melihat Liu Xingsheng yang belum merespon.
"Bangun!" Xiao Nuan menekan dada Liu Xingsheng dengan sekuat tenaga. Melihat rambutnya putih sekali dan tanduk Yan muncul Xiao Nuan malah sibuk CPR karena hanya ini yang ia tahu dari dunianya dulu bahkan ia lupa banyak hal yang bisa di lakukan saat ini.
Beberapa saat kemudian Xiao Nuan mengeluarkan botol kecil dan memaksa meminumnya pada Liu Xingsheng. Seketika itu rambut berubah hitam kembali dan tanduk Yan menghilang.
"Sudah berapa lama dia di air?" tanya tabib yang berlari ke arah mereka. "Tidak tahu, aku hanya melihat dia sudah tenggelam." Xiao Nuan menjawab dengan panik.
Mereka ikut kebingungan karena pangeran kaisar adalah dewa perang kenapa masalah kecil seperti ini bisa sampai sekarat. "Jarum akupuntur!"
Tabib menatap Xiao Nuan bingung sebelum memberikannya pada Xiao Nuan. "Dia adalah Liu Xingsheng, renang di lautan sudah pernah ia lakukan tapi kenapa bisa tenggelam di danau sekecil ini."
Prajurit terperangah saat Xiao Nuan mengatakan kalau danau ini kecil. Jarum akupuntur milik tabib langsung Xiao Nuan di masukkan ke dalam mulut Liu Xingsheng sebagai alat tes racun.
Tidak terlalu menghitam, namun bisa di pastikan kalau Liu Xingsheng meminum racun sebelum tenggelam. Tabib terkejut karena Xiao Nuan tahu cara untuk mengetahui badan yang terkena racun.
Tabib bergantian untuk mengecek Liu Xingsheng yang pucat pasi di pinggir danau. Mereka membawa Liu Xingsheng setelah tabib mengatakan untuk membawanya ke tempat nyaman dulu.
Mereka menaruh Liu Xingsheng ke kamar, Xiao Nuan turun tangan sendiri untuk mengganti pakaian Liu Xingsheng. "Nyonya pangeran, anda tidak harus menggantinya."
"Dia suamiku, apapun yang terjadi dia butuh aku." tegas Xiao Nuan membuat beberapa Kasim tertunduk malu lalu meninggalkan kamar tersebut.
"Yan, terimakasih telah menyelamatkan dia. Jika kau tidak muncul maka dia sudah mati 25 menit lalu." kata Xiao Nuan yang mengerti keadaan Liu Xingsheng sekarang lewat Yan.
Pelayan yang ada di kamar tersebut termenung karena Xiao Nuan berbicara sendiri bahkan mengeluarkan beberapa kata yang aneh, mereka sempat berpikir kalau Xiao Nuan gila.
"Jujur saja, aku rindu berbicara langsung tanpa harus kontak energi seperti sekarang. Bahkan pelayan lihat aku seperti orang gila bicara sendiri."
Perubahan dalam situasi ini membuat Yan dan Liu Xingsheng semakin menyatu, Kali ini Xiao tidak ingin menyembunyikan lagi identitas Liu Xingsheng yang telah bersatu dengan Yan.
Tapi Yan sendiri menolak untuk di publikasikan karena ada hal lain. "Apakah aku harus merebut kembali energi Yan?" Tadinya ia memang berniat seperti itu.
Namun jika penyatuan berhasil maka akan beresiko besar pada Liu Xingsheng. Setidaknya jika mereka bersatu maka Yan akan mengontrol kekuatan Liu Xingsheng yang tidak terkendali.
***
Keluarga kerajaan berada di kamar yang di tempati Liu Xingsheng, beberapa pelayan melaporkan kejadian tadi. Sehingga membuat semuanya datang untuk lihat apa kabar itu benar.
"Tabib bilang, suamiku baik-baik hanya kehilangan tenaga karena berusaha keluar dari air."
"Air? Adikku sangat mahir berenang. Kenapa bisa tenggelam?" tanya kaisar yang heran.
Xiao Nuan mengangguk, "Benar, suamiku sangat mahir berenang tapi kakinya tersangkut tumbuhan di dalam danau karena tidak ada persiapan apapun dan panik karena aku ikut menyelam."
"Syukurlah, aku hampir saja mati mendengar anakku tenggelam di danau." kata ibu suri datang.
Xiao Nuan mengangguk lalu memberi salam hormat. "Sudahlah nak, terimakasih karena telah menyelamatkan anakku." ujar ibu suri dengan wajah yang sulit di artikan.
Xiao Nuan menggeleng pelan. "Saya istrinya, mana ada seorang istri diam saat melihat suaminya tenggelam." Xiao Nuan secara sengaja melihat ekspresi seluruh keluarga kerajaan.
"Kalau begini jadinya siapa yang akan menjadi wanita penentu arah?" tanya pangeran Akash yang baru datang. Kaisar langsung menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" tanya kaisar.
Pangeran Akas terkejut melihat siapa yang tenggelam. "Paman kaisar kenapa?" ia tidak menghiraukan ucapan ayahnya dan bertanya balik.
"Ayahanda, barusaja Kasim memberitahu kalau wanita penentu arah untuk upacara sudah tewas di kamar. Sekarang apa yang kita lakukan?"
Kaisar terkejut mereka semua kebingungan karena puncak acaranya sekarang, "Cari pelayan yang sesuai dengan tanda lahirnya."
"Tanda lahir?" gumam Xiao Nuan.
"Benar kata kaisar, cari saja siapapun yang memiliki tanda angin." Ujar ratu ikut panik karena situasi sekarang sangat memerlukan wanita dengan tanda angin.
"Ayahanda, ibunda, bukan Yun Akash menolak tapi menemukan wanita dengan tanda lahir angin bukan waktu sebentar sedangkan upacara ini sekarang di langsungkan." tutur Pangeran Yun Akash.
Mereka terdiam karena benar apa kata pangeran Yun Akash. "Apa tanda anda angin seperti ini?" tanya Xiao Nuan mengulurkan tangannya.
Mereka semua menoleh dan sangat terkejut karena tanda angin yang sangat jelas dan berada di lengan Xiao Nuan dengan posisinya yang sangat benar.
"Keturunan keluarga Wu mempunyai tanda angin? Apa ini bukan kesalahan?" tanya Kasim sedikit kebingungan karena mengetahui fakta lain.
"Sudahlah, sekarang waktunya terlalu sedikit. Pelayan bawa bibi ke ruangan khusus." perintah pangeran Yun Akash.
Sedangkan ratu dan pangeran Yun Taen saling tatap dengan begitu tajam. Xiao Nuan melihat kejadian itu tapi ia segera mengalihkan pandangannya ke arah pangeran Yun Akash.
Xiao Nuan langsung di bawa ke sebuah paviliun yang sangat mewah, di sini pelayan tidak banyak bicara dan segera memakaikan pakaian khusus.
"Tempat apa ini?" tanya Xiao Nuan saat aksesoris di pasangkan di kepalanya.
Bahkan semua dari mulai pakaian hingga aksesoris sangat mewah dan mahal, ia kebingungan kenapa upacara memerlukan pakaian semewah ini.
__ADS_1
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Xiao Nuan, puluhan pelayan yang ada hanya terus bekerja sesuai dengan perintah. Bahkan Xiao Nuan seperti sedang sendiri.
Setelah selesai Xiao Nuan di bawa keluar, mereka mengiring Xiao Nuan seperti pengantin. Namun bedanya ini berjalan kaki, Xiao Nuan di dudukkan di atas altar yang berwana merah darah dengan suasana seram.
Puluhan masyarakat bernyanyi yang entah Xiao Nuan mengerti setelah itu di sambung dengan doa oleh para orang yang dianggap tetua oleh kerjaan.
Beberapa saat kemudian Xiao Nuan merasa pusing, ia menunduk dan perlahan tubuhnya melemas. Semua orang sangat terkejut karena tiba-tiba tubuh Xiao Nuan mengeluarkan cairan merah.
Seketika altar berubah menjadi kolam darah, semua orang yang melihat langsung berdiri karena terkejut. Bahkan para tetua pun ikut berdiri karena merasa terkejut.
"Ini adalah pertanda Dewi, setelah ratusan tahun akhirnya upacara ini kembali hidup." ucap salah satu tetua.
Liu Xingsheng datang dengan kondisi yang cukup memperhatikan, ia memegang dada yang sakit di susul oleh keluarga kerajaan yang mengejar Liu Xingsheng.
"Kenapa kalian memilih istriku?" bentak Liu Xingsheng menatap seluruh anggota kerajaan.
Liu Xingsheng terkejut saat bangun dari pingsannya melihat seluruh anggota kerajaannya berkumpul, ia bertanya-tanya kenapa mereka di sini sedangkan ini waktunya dari puncak acara.
Pangeran Yun Akash menjawab dengan polos kalau upacara sedang di laksanakan karena Xiao Nuan menjadi gadis penentunya.
Seketika itu Liu Xingsheng yang sedang merasakan sakit Yanga amat di dadanya langsung bangun, ia terkejut dan memastikan lagi mereka semua terdiam.
Dengan terhuyung-huyung ia langsung berlari ke arah tempat upacara yang di lakukan. Bahkan ia tidak menghiraukan ucapan dari ibu suri.
Beberapa kali kaisar memerintahkan Liu Xingsheng untuk berhenti namun tidak di anggap, ia terus menggunam nama Xiao Nuan.
Pikirannya kacau karena ketakutan terjadi sesuatu pada istrinya, ia melupakan rasa sakit di tubuhnya dan terus berlari ke arah upacara.
"Paman ini bukan salah kami."
"Apalagi yang kalian sembunyikan? Sudah ku katakan jangan mencari wanita dari keluarga kerajaan!"
Liu Xingsheng sangat marah apalagi saat mengetahui kalau altar yang di siapkan sudah berubah menjadi kolam darah, "Liu Xingsheng, Alcie Wang yang menawarkan diri bukan salah kami."
"Benar, kamu harusnya bahagia karena setelah ribuan tahun Dewi telah datang lagi."
"Omong kosong, di dunia ini tidak ada hal seperti ini. Cepat keluarkan istriku dari kolam itu."
"Tidak bisa, ini baru pertengahan jangan merusak acara!" bantah kaisar.
Liu Xingsheng semakin marah dan berjalan ke arah altar namun di halangi oleh kaisar, karena rubuhnya yang lemah Liu Xingsheng tidak bisa melawan kaisar. Sedangkan kaisar pribadi sangat bangga.
Karena di era pemerintahan dirinya ada keajaiban yang para kaisar terdahulu harapkan. Dengan kejadian ini maka ia akan semakin di segani oleh masyarakat dan kerajaan tetangga.
Liu Xingsheng menatap Xiao Nuan yang tenggelam di air darah, matanya seakan ingin mengeluarkan Xiao Nuan dari kolam tersebut. Bibir Liu Xingsheng tidak henti mengatakan untuk bangun.
Tiba-tiba mata Xiao Nuan terbuka, lebih terkejut kornea matanya berubah bahkan raut wajahnya sangat tegas dan sadis. Tangannya mengelap air kental di kepalanya.
Xiao Nuan menatap tangannya yang berdarah, "Sial, ternyata pelayan-pelayan itu menusuk kuat agar membuat luka." gumam Xiao Nuan.
Secara bersamaan ada asap merah yang keluar secara banyak membuat masyarakat yang melihat berteriak heboh. Asap tersebut terbang berpencar ke seluruh istana kerajaan.
Xiao Nuan bangun lalu berjalan keluar dari kolam air darah tersebut, bau amis berada di sekitar badannya membuat Xiao Nuan menjadi kesal. "Energi tubuhku bertambah tapi ini sangat menjijikan."
"Keluarga kerajaan meneruskan tradisi yang hanya membuat orang mati!" kata Xiao Nuan menatap kaisar yang memegang Liu Xingsheng.
Istrinya baik-baik Liu Xingsheng segara bangun dan berusaha keras untuk menghampirinya. "Kamu baik-baik saja sayang? Apa kamu tidak terluka?" tanya Liu Xingsheng memeriksa seluruh tubuh istrinya.
Xiao Nuan bahkan lebih khawatir pada Liu Xingsheng, ia membangunkan suaminya yang terjatuh. "Aku baik-baik saja, kenapa kamu di sini? Apa tubuhmu terluka?"
Liu Xingsheng menggeleng ia menyentuh dahi Xiao Nuan dengan perasaan bersalah. Darah keluar mengalir bersama air dari rambut Xiao Nuan yang basah.
"Maafkan aku, aku telat menyelamatkan dirimu!" ujar Liu Xingsheng bersalah bahkan nada bicaranya terlihat sangat menyakitkan.
"Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil. Lebih baik perhatikan tubuhmu aku baru beberapa jam menyelamatkanmu dari dalam air." kata Xiao Nuan.
Liu Xingsheng langsung teringat sesuatu, Sebenarnya tadi ia berniat untuk mengejar Xiao Nuan dan menjelaskan namu kepalanya tiba-tiba terbentur sesuatu dan tidak bisa ingat apapun.
Ketika kesadarannya mulai ia dapatkan, ia melihat air dan dadanya sangat sesak bahkan badannya sulit untuk di kendalikan. Di saat Liu Xingsheng pasrah jika ini adalah akhir dari hidupnya ia melihat sesuatu yang menghampirinya.
Melihat Liu Xingsheng yang terdiam membisu Xiao Nuan memegang tangannya. "Sudah, kita bicarakan nanti." ucap Xiao Nuan.
Saat ingin pergi asap merah yang menyebar kembali lagi, namun asap itu membawa buruannya. Semua manusia yang ada terkejut karena asap merah itu membawa sepuluh gadis pelayan dengan kondisi menyeramkan.
Masyarakat yang ikut upacara hanya mampu menutup mulut. Asap merah tersebut menjatuhkan gadis pelayan dengan keadaan mati tertusuk aksesoris merah di kepalanya.
Luka yang ada di pelayan-pelayan itu sama persis seperti luka di kepala Xiao Nuan. "Mereka ... "
Xiao Nuan diam tatapannya berubah dingin, setelah melihat itu reaksi Xiao Nuan biasa saja dan membawa Liu Xingsheng pergi dari sana.
Sedangkan kaisar ternganga dengan perasaan yang kaget. Ia melihat Xiao Nuan dan Liu Xingsheng pergi hanya bisa diam tanpa bisa melarang.
Sedangkan putra-putranya menatap Xiao Nuan dengan tatapan yang sulit di artikan. Mereka sepenuhnya tahu apa yang terjadi hari ini.
...***...
Xiao Nuan membantu Liu Xingsheng berjalan menuju kamar, beberapa pelayan datang menawarkan untuk membantu namun Liu Xingsheng menolak.
Perlahan Xiao Nuan mendudukkan Liu Xingsheng, tatapan sangat lemah Xiao Nuan menduga kalau racun masih berada di dalam tubuh suaminya.
"Dadamu pasti sakit?"
Liu Xingsheng mengangguk, Xiao Nuan bergegas keluar namun di tahan oleh Liu Xingsheng. "Kemana? Aku ingin kamu di sini."
Xiao Nuan melepaskan tangannya Liu Xingsheng. "Hanya mengambil penawar racun." Jawab Xiao Nuan lalu meninggalkan Liu Xingsheng sendirian.
Xiao Nuan berlari ke arah paviliun miliknya, sampai di dalam ia langsung mengobrak-abrik tempat tidur untuk mengambil sesuatu.
Setelah mendapat apa yang di cari Xiao Nuan kembali berlari ke paviliun suaminya. Ia masih ngos-ngosan tapi langsung membuka mulut suaminya yang semakin pucat.
"Obat ini jauh lebih manjur daripada obat dari tabib kepercayaan putra mahkota." ujar Xiao Nuan menyentuh pipi Liu Xingsheng. Tiba-tiba ada perasaan hangat menyelimuti hatinya.
Xiao Nuan menarik tangannya setelah sadar, "Kenapa? Aku ingin tanganmu." ucap Liu Xingsheng menarik tangan Xiao Nuan menempelkannya kembali ke pipinya.
__ADS_1
"Dadamu masih sakit?" Liu Xingsheng menggeleng ia merasa lebih baik dan sangat nyaman. Bibirnya berkata terima kasih dengan lemah.
Tanpa di sadari sekarang Xiao Nuan sudah berada di atas ranjang dengan posisinya di peluk oleh Liu Xingsheng. "Kepalamu terluka, kenapa masih bersih keras untuk mengobati ku?"
Xiao Nuan diam ia tidak menjawab karena sedang menikmati pelukan hangat dari Liu Xingsheng. "Kenapa? Apa kamu juga sakit?" tanya Liu Xingsheng lagi.
Liu Xingsheng menjauhkan kepalanya Xiao Nuan, "Aku tidak apa-apa." jawab Xiao Nuan gugup karena di tatap Liu Xingsheng.
"Tapi aku melihat lukamu!"
"hanya tergores hiasan tadi."
Liu Xingsheng membantu Xiao Nuan bangun, sekarang tangannya yang masih gemetar melepaskan pernak-pernik dari kepala Xiao Nuan.
"Liu Xingsheng, kamu masih lemah."
Tangan Xiao Nuan menahan tangan Liu Xingsheng yang melepaskan aksesoris. "Aku sudah lebih baik, sayang." Pipi Xiao Nuan memerah mendengar panggilan yang sangat mesra.
Liu Xingsheng terkekeh pelan lalu meneruskan untuk melepaskan aksesoris di kepala Xiao Nuan. Setelah selesai Liu Xingsheng mengambil obat tabur yang selalu ada di atas meja.
"Kami bilang hanya luka kecil."
Xiao Nuan terdiam tangannya memegang erat paha Liu Xingsheng saat obat tabur itu mengenai luka di kepalanya. "Pasti sangat perih."
Liu Xingsheng menutup luka Xiao Nuan dengan kain putih lalu merapihkan rambut Xiao Nuan yang berantakan. "Lain kali, jangan jadikan dirimu sebagai apapun."
Xiao Nuan menggeleng ia tidak setuju dengan ucapan suaminya barusan. "Aku istrimu, kenapa aku tidak boleh?" tanya Xiao Nuan.
"Istri? Jangan lupa kami berniat menceraikan ku nanti." sindir Liu Xingsheng membuat Xiao Nuan langsung terdiam.
"Tapi sekarang aku masih istrimu!"
Liu Xingsheng mengangguk, ia juga tidak tega mempermainkan wanita di hadapannya. Secara refleks ia memeluk Xiao Nuan dari reaksi istrinya bisa di ketahui jika Xiao Nuan tidak menolak.
***
"Iya tadi aku melihat nyonya keluar dari kamar tuan besar."
"Sepertinya mereka telah jatuh cinta."
"Sangat baik, mereka cocok."
"Benar, tuan tampan dan pemberani lalu nyonya sangat cantik dan tidak banyak bicara walau sangat nakal."
"Semoga saja segera ada kabar baik dari mereka."
Niu Mayleen dan Ho Hien tidak sengaja mendengar gosip dari beberapa pelayan yang sedang mencuci. "Ada apa semalam?" Ho Hien menggeleng kepala.
"Eh Hoy," panggil Niu Mayleen pada pengawal pribadi Liu Xingsheng.
"Kenapa pagi-pagi sudah banyak gosip bertebaran." kata Niu Mayleen pada pengawal pribadi Liu Xingsheng yang menatapnya.
"Terus kamu ngapain kepo dengan gosip sepagi ini?" tanya balik Feng shui kesal karena di teriaki.
"Ya pengen tau soalnya masih pagi loh."
"Pagi apanya, matahari sudah mau di tengah!" sanggah Feng shui . Dirinya terasa heran kenapa Xiao Nuan bisa memilih pengawal sebodoh Niu Mayleen.
"Ada kejadian apa? Nona kami belum keluar dari paviliun tuan muda." Kali ini Ho Hien yang bicara Feng shui tersebut lalu menjawab dengan sopan.
"Semalam tuan muda kembali dengan keadaan yang basah kuyup juga pucat, semalaman Nona muda menemaninya."
Niu Mayleen mengangkat sudut bibirnya. "Tadi aku tanya kau seperti malas, kenapa yang nanya perempuan kau sangat sopan!" bentak Niu Mayleen kesal.
"Kau bertanya tentang gosip bukan tuan muda!" timpal Feng shui tidak kalah keras. "Nona Ho, saya pergi dulu." pamitnya pada Ho Hien sendiri.
"Bajingan!" maki Niu Mayleen saat Feng shui pergi meninggalkan mereka bahkan hanya pamit pada Ho Hien sendiri. Niu Mayleen pikir emang di sana hanya ada Ho Hien saja.
***
"Gila, aku sampai sekucel ini gara-gara nemenin Liu Xingsheng semalaman." gumam Xiao Nuan keluar diam-diam.
Ketika ingin pergi bahkan sampai menutup pintu dengan pelan Xiao Nuan terkejut karena sapaan seseorang. "Nona, anda kenapa diam-diam sampai seperti kucing."
Xiao Nuan terperanjat lalu menoleh dengan wajah sangat kesal. "Kalian kenapa memakai suara kencang?!" bentak Xiao Nuan menahan nada suara.
"Hah?" Niu Mayleen dan Ho Hien saling bertatapan sebelum akhirnya bertanya balik lalu kenapa Xiao Nuan melakukan hal barusan.
"Kalian belum menikah kenapa ingin tahu apa yang aku lakukan!" kata Xiao Nuan membuat mereka langsung berpikir macam-macam dan saling menatap malu.
"Baiklah, nona maaf membuatmu terkejut."
"Iya, nona apa aku perlu membantumu mandi?" tanya Ho Hien. Xiao Nuan menepuk jidatnya karena telah membuat dua orang berbeda ras ini salah paham.
"Singkirkan pikiran kalian, aku tidak melakukan seperti itu tadi."
Ho Hien menghampiri Xiao Nuan lalu membantu berjalan. "Tidak apa, kami mengerti nona." Xiao Nuan tahu mereka semakin berpikir macam-macam.
"Eh, kalian ini aku serius."
"Kami juga serius nona." serempak Niu Mayleen dan Ho Hien. Mereka berdua menahan senyum karena memikirkan nona Xiao yang telah kelelahan menemani Liu Xingsheng.
Xiao Nuan menghela nafas karena tidak bisa menghentika pemikiran mereka berdua yang sangat jauh. "Ho Hien, lebih baik siapkan air hangat."
"Tadi bilang tidak seperti yang di pikirkan tapi minta air hangat." timpal Niu Mayleen dengan menahan senyum.
"Jaga ucapanmu!" bentak Xiao Nuan karena secara tidak langsung mengiyakan pemikiran mereka berdua.
"Aku siapkan dulu." Ho Hien langsung menghilang, sedangkan Niu Mayleen masih enggan pergi dan memasang wajah yang seakan ingin membully Xiao Nuan.
"Daripada terus di sini, lebih baik cari hal berguna!" perintah Xiao Nuan.
Niu Mayleen mengangguk. "Aku tahu, tapi kalau nanti-nanti aku harap anda menjaga pakaian agar tidak berpikir kalau tuan muda sangat ganas di dalam."
__ADS_1
Mengerti ucapan Niu Mayleen kemana Xiao Nuan siap memukulnya namun dengan lincah Niu Mayleen segera pergi dari sana menghindar dengan mengeluarkan jurus bayangan.